
Tidak sulit untuk mengurus jenazah Maryamah. Berkat dokter Zayn, jenazah ibunya Anggun bisa lekas dibawa ke pemakaman. Itu pun sudah melalui beberapa proses sehingga sampai di sana.
Kaluna tiba-tiba menghilang dari rumah sakit. Dia tidak berani menunjukkan diri lantaran merasa bersalah atas kematian ibunya Anggun. Dia tidak juga pulang ke rumah suaminya, melainkan kembali ke rumah orang tuanya.
Sementara trio pria yang semula menjalani meeting kemudian beralih menuju ke kediaman Anggun. Bagaskara yang mengusulkan kalau mereka akan pergi menggunakan satu mobil dengan dirinya yang mengemudikan.
"Kurasa kita perlu tanya pada tetangga sekitar di mana pemakaman itu berlangsung," usul Witha. Kecemasannya pada kondisi Anggun terlihat nyata. Cintanya pun sama sekali tidak pernah pudar walaupun sudah menikah dengan Kaluna.
Sementara Firhan terus saja menerima panggilan dari istrinya, Jihan. Terlebih Firhan memang tidak pamit hendak pergi ke mana ataupun sedang melakukan apa. Bagaskara yang merasa terganggu dengan bunyi ponsel Firhan yang tidak pernah terjeda.
"Witha, kamu bisa turun lalu bertanya. Sementara Firhan, angkat segera teleponmu itu sebelum meledak di dalam mobilku. Kalau kau kesulitan beralasan, katakan saja sedang pergi denganku ke luar kota. Kalau istrimu yang bar-bar itu masih tidak percaya, aku siap kamu sambungkan dengannya," ujar Bagaskara kesal. Dia seolah menjadi bodyguard dari kedua pria patah hati yang tak pernah berujung itu.
Setelah Witha turun, Firhan lekas mengangkat ponselnya. Dia pun lantas mengatur agar bisa didengar oleh semua orang.
"Halo, Jihan. Ada apa?" tanya Firhan dengan suara khasnya yang pelan.
"Mas ini bagaimana, sih? Bukannya jemput aku ke tempat kerja, malah ditelepon ratusan kali nggak diangkat. Jangan bilang kalau mas lagi sama Anggun. Iya?" Setiap Firhan menghindar, tuduhannya selalu saja ke Anggun. Sebenarnya Firhan sudah lelah, tetapi mau bagaimana lagi.
"Jihan, tolong jangan marah-marah. Firhan pergi bersamaku ke luar kota. Kami ada bisnis yang harus diselesaikan. Aku minta maaf," sahut Bagaskara. Dia sama sekali pusing mendengar ocehan wanita itu.
"Pak Bagas?" Jihan mulai mereda.
"Iya. Aku, suamimu, dan Witha sedang ada urusan. Jadi, tolong jangan berpikiran macam-macam. Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan pada suami, bisa tutup teleponnya sekarang," ujar Bagaskara.
"Oh, iya, pak. Maaf. Titip suamiku, ya," ujar Jihan sebelum mengakhiri sambungan telepon.
__ADS_1
"Iya," balas Bagaskara kemudian telepon diakhiri.
Firhan memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Terima kasih, Bagas. Kalau bukan karenamu, sungguh aku tidak tahu menggunakan alasan apalagi."
"Sabar, ya. Kehidupanmu sedang diuji. Sama seperti aku yang tak kunjung menikah," ujar Bagaskara. Harapannya hanya pada Kaluna. Bahkan dia rela menjadi pebinor secara terang-terangan di hadapan Witha, suami Kaluna.
Tidak lama, Witha pun kembali. Sebenarnya ini sudah menjelang petang. Kemungkinan pemakaman telah usai, tetapi mereka tetap pergi ke makam.
"Pemakamannya nggak jauh dari sini, kok. Ayo, segera kemudikan mobilnya. Kita langsung ke sana," ujar Witha.
Bagaskara segera melakukan apa yang diucapkan Witha. Sementara kedua pria itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Bagaimana saat keduanya bertemu dengan Anggun dalam keadaan seperti ini? Terlebih posisi keduanya sudah menikah dan memiliki istri. Mungkin akan kesulitan bisa dekat dengan Anggun lagi, tetapi Bagaskara yang singel akan dengan mudah mendekati wanita itu.
Bayangan Witha dan Firhan sudah ke mana-mana. Pikirannya tertuju pada kesempatan dalam kesempitan yang akan dilakukan Bagaskara pada Anggun. Mereka tidak tahu jika Anggun sudah ditemani dokter ganteng, yaitu Zayn Mahendra.
"Bagas, jangan sampai kamu ambil kesempatan ini untuk mendekati Anggun," ujar Witha mengingatkan.
Witha memang ingin bercerai, tetapi Kaluna dan orang tua mereka sama sekali tidak memberikan izin. Apalagi keinginan Kaluna untuk segera memiliki anak membuat Witha semakin pusing. Hingga persyaratan pernikahan kedua Witha dengan Anggun disetujui Kaluna, tetapi ditolak oleh Anggun.
"Andaikan aku bisa, Bagas. Sudah dari kemarin-kemarin aku lepaskan Kaluna," ujar Witha sedih.
"Sudahlah, jangan seperti itu. Takdir akan menemukan jalannya kembali," sahut Firhan. Dia pun ingin kembali pada Anggun, tetapi permainan takdir membuat Firhan terjebak dalam pernikahan neraka bersama Jihan.
Mereka sampai di pemakaman. Ketiga pria itu segera turun lalu mencari keberadaan Anggun. Terlihat dari jauh terdapat 3 orang tersisa di pemakaman itu. Baik Firhan maupun Witha jelas tahu dua orang saja dari ketiga orang tersebut. Salah satunya adalah Gian, bapaknya Anggun. Sementara satunya, mereka sama sekali tidak mengenalnya.
"Jangan-jangan itu calon suami Anggun. Aku sama sekali nggak pernah tau kalau Anggun memiliki kerabat laki-laki," ujar Firhan.
__ADS_1
Witha merasa kedudukannya sudah terancam. Dia benar-benar sulit untuk masuk ke dalam kehidupan Anggun kembali, kecuali Kaluna yang melepaskan hubungan itu.
Dokter Zayn memang tidak menggunakan jas kedokterannya. Dia menggunakan pakaian biasa layaknya pelayat pada umumnya.
"Nggun, lebih baik kamu pulang. Ibumu sudah tenang di sana. Sebentar lagi malam. Tidak baik kamu terus berada di sini," ucap Zayn.
"Anggun ingin menemani ibu dulu. Kalau kamu mau pergi, duluan saja."
Gian menggelengkan kepala. Dia tahu kalau Anggun pasti akan menolaknya, tetapi saat mendapati kehadiran ketiga pria yang sempat membuat kehidupan Anggun porak poranda. Hal itu membuat Anggun berubah pikiran.
"Nggun, maaf kami tiba-tiba datang ke sini. Kami mendapatkan kabar kalau ibumu meninggal dunia. Kami turut berdukacita, ya," ujar Witha yang memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.
"Mas Zayn, kita pulang sekarang," ajak Anggun pada Zayn dan bapaknya.
Alasan Anggun menghindari Witha karena teringat akan Kaluna. Gara-gara dia datang ke rumah sehingga membuat ibunya terkejut, syok, dan harus berakhir seperti ini.
"Nggun, kamu mau ke mana? Kami baru saja datang," ucap Witha lagi.
Sementara Firhan tampak melihat kilatan kebencian di mata Anggun terhadap Witha. Itu bisa dirasakan jelas oleh Firhan. Selama ini Firhan paham betul siapa Anggun dan cinta wanita itu untuk siapa.
"Lebih baik kamu urus istrimu. Jangan biarkan dia membuat duka lagi di keluarga orang lain untuk kepentingannya sendiri," ujar Anggun.
Hal itu sontak membuat Bagaskara dan Witha terkejut. Mengapa Anggun menghubungkan kejadian ini dengan Kaluna? Bagaskara sempat mengerti dengan ucapan Kaluna melalui telepon, tetapi tidak tahu kejadian yang sesungguhnya.
"Apa maksudmu? Kaluna tidak ada hubungannya dengan ini semua." Witha membela Kaluna.
__ADS_1
"Tanya saja sama istrimu. Apa yang dia perbuat hingga ibuku meregang nyawa?" ujar Kaluna kemudian berlalu dari hadapan ketiga pria itu.
Zayn terus membimbingnya karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Anggun. Sementara Witha masih dalam rasa keterkejutannya dengan mengepalkan tangan. Apa sebenarnya yang dilakukan Kaluna? Apa dia datang menemui Anggun? Sungguh ini membuat Witha semakin pusing.