ANGGUN

ANGGUN
Bab 47. Zayn Marah


__ADS_3

Zayn sangat senang mendapati kabar kalau Anggun sedang hamil. Dia selalu memberikan tempat ternyaman untuk istrinya. Dia bahkan tidak membiarkan istrinya untuk bekerja keras seorang diri. Dia menyewa ART untuk mengurus rumah dan sesekali menemani istrinya.


"Bi, jangan lupa hari ini buatkan makanan yang sehat untuk bu Anggun, ya," ujar Zayn sebelum dia pergi ke rumah sakit.


Kehamilan Anggun di trimester pertama ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Hanya sesekali mual dan muntah. Zayn cukup menikmati kehamilan yang tidak terlalu merepotkan ini.


"Baik, Pak. Bapak juga memerlukan sesuatu, kah?"


"Tidak, Bi. Cuma nanti bapak mertuaku seperti biasa Bibi siapkan makanan juga, ya? Jangan sampai lupa. Makanan dan camilan seperti biasa," ujar Zayn.


"Siap, Pak."


Zayn kemudian pergi ke rumah sakit. Pagi ini dia mendadak mendapatkan jadwal untuk operasi karena kondisi darurat.


Sementara Anggun yang baru saja bangun. Dia melihat ranjang sebelahnya kosong. Aroma parfum Zayn juga masih tertinggal di sana.


"Hemm, Zayn selalu begitu. Pergi nggak pernah pamit."


Anggun turun dari ranjang berniat masuk ke kamar mandi lebih dulu. Setelah mencuci muka, dia menggosok gigi. Pagi hari adalah waktu di mana dia sangat malas sekali untuk mandi. Setelah selesai mencuci muka, dia hanya mengganti pakaiannya dengan yang baru. Setelah itu pergi ke meja makan.


Zayn sangat memanjakan dirinya. Terlebih saat tahu dia hamil. Di sana, bibi yang menjadi ART di rumahnya sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Bi, mas Zayn ada pesan buat Bibi, nggak?"


"Ada, Bu. Cuma disuruh nyiapin makanan buat Ibu dan juga bapak mertua."


"Oh, bapakku belum kelihatan bangun, Bi?"


"Belum keluar dari tadi, Bu. Mungkin masih ketiduran."


Sebenarnya tidak biasa bapaknya itu tidur di jam seperti ini. Apalagi ini sudah waktunya sarapan pagi.


"Aku akan lihat ke kamarnya, Bi. Bibi buatin kopi, ya."


"Baik, Bu."

__ADS_1


Sesampainya Anggun di depan kamar bapaknya, dia mengetuk pintu. Berharap bapaknya segera membuka ataupun merespon.


"Pak, buka pintunya. Bapak masih tidur, kah?" tanya Anggun dengan suara yang agak keras.


Tidak ada respon. Bapaknya pun tidak menjawab. Anggun berinisiatif untuk membuka pintu kamar itu dan betapa terkejutnya saat melihat bapaknya terbaring di lantai.


"Bapak!" teriak Anggun histeris.


Bibi yang berada di dapur terpaksa mematikan kompornya lebih dulu. Dia lalu berlari menuju ke sumber suara di mana majikannya berteriak.


"Ada apa, Bu?" tanya bibi khawatir.


"Bi, tolong panggilkan ambulans! Atau Bibi hubungi mas Zayn," perintah Anggun.


"Bapak ada operasi pagi ini, Bu. Saya panggil ambulans saja."


Bibi bergegas keluar kamar untuk menelepon ambulans. Sementara Anggun merasa kalau bapaknya sudah tidak bernyawa karena tubuhnya sangat dingin. Detak jantungnya pun sudah tidak ada lagi. Apalagi denyut nadinya.


"Pak, jangan tinggalkan Anggun. Bapak ingin lihat anak Anggun, kan? Cucu Bapak beberapa bulan lagi akan lahir. Tolong jangan tinggalkan Anggun, Pak," ujar Anggun dengan air mata berderai dan suara tangisan yang menyesakkan dada.


"Bu, maaf. Bapak sudah meninggal," ujar salah satu tenaga medis.


"Tolong bawa saja ke rumah sakit. Bapakku baik-baik saja. Dia masih hidup. Tolong selamatkan nyawanya," ujar Anggun.


Mereka pun segera membawa Gian ke rumah sakit. Ingin menolak, tetapi karena Anggun adalah istri dari Zayn, dokter jantung di rumah sakitnya sehingga mereka pun menurut saja.


Anggun juga ikut di dalam mobil ambulans tersebut. Dia terus saja menggenggam erat tangan bapaknya yang sudah dianggap meninggal oleh orang-orang.


Sesampainya di rumah sakit, Gian langsung dibawa masuk ke ruang IGD. Bersamaan dengan Zayn baru saja keluar dari ruang operasi dan melihat istrinya menangis di depan IGD.


Zayn menghampirinya. Dia yakin kalau Anggun ada di sana. Namun, dia belum tahu Gian lah yang masuk ke ruang IGD.


"Sayang, kenapa di sini?" tanya Zayn.


"Mas, bapak, Mas." Anggun menghambur ke pelukan suaminya.

__ADS_1


"Iya. Bapak kenapa?"


"Bapak tubuhnya dingin, detak jantungnya tidak ada, dan nadinya juga tidak berdenyut. Aku takut bapak benar-benar meninggalkan aku sendiri."


Semua tanda itu menunjukkan bahwa bapak mertua Zayn sudah tiada. Namun, mungkin Anggun masih mengharapkan sebuah keajaiban.


"Sabar, Sayang. Kamu nggak akan sendirian. Ada suamimu, bibi, dan calon anak kita. Kalau bapak tiada, mungkin sudah takdirnya. Kamu sabar, ya. Aku akan masuk ke dalam sebentar untuk melihat kondisinya."


Zayn melepaskan pelukan sang istri. Dia masuk ke ruang IGD untuk melihat kondisi mertuanya. Sesampainya di sana, tim medis sudah menyatakan kalau Gian meninggal sebelum perjalanan ke rumah sakit.


"Serangan jantung mendadak, Dokter," ujar rekan kerja Zayn sesama dokter yang menangani bapak mertuanya.


"Jantung? Bapak mertuaku malah terlihat sehat dan tidak memiliki keluhan," ujar Zayn terkejut.


"Kita memang gak bisa mengira takdir manusia, Dok. Ya, mungkin sudah garis takdirnya seperti ini."


"Kalau begitu segera bereskan supaya aku bisa segera mengurus pemakaman beliau," ujar Zayn. Walaupun dia tidak menangis, tetapi melihat kondisi istrinya seperti itu membuat Zayn prihatin.


Zayn keluar menemui istrinya. Anggun sedang duduk di kursi tunggu. Lalu, Zayn duduk berjongkok di hadapannya. Dia menggenggam erat kedua tangan istrinya.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Bapak sudah tiada, Sayang. Kamu sabar dan ikhlas, ya. Jangan sampai karena kepergian bapak, berpengaruh pada kehamilanmu. Kamu nggak ingin bapak kecewa, kan? Maka dari itu, aku pesan padamu. Jaga kandunganmu dengan baik. Mungkin takdir bapak memang harus seperti ini. Kita juga nggak tahu ternyata bapak kena serangan jantung."


"Bapak nggak pernah ngeluh, Mas. Apa aku yang kurang perhatian padanya? Salahku jarang datang ke rumahnya. Sekarang, aku sangat menyesal sekali harus ditinggal seperti ini. Bagaimana dengan anakku nanti? Dia tidak sempat melihat kakek dan neneknya." Tangis Anggun pecah.


"Aku akan mengurus pemakamannya. Aku juga akan minta dokter kandungan selalu menjaga kondisimu. Ingat, jangan sampai pikiranmu memengaruhi janin dalam kandunganmu. Aku tahu kehilangan ini berat, tetapi ada nyawa yang harus kamu jaga."


Zayn cemas. Jangan sampai karena kehilangan bapaknya, Anggun menjadi setres dan lupa diri bahwa dia sedang mengandung.


Hari ini benar-benar menjadi hari yang menyesakkan untuk Anggun. Saat pemakaman berlangsung, Anggun cuma bisa menangis. Sejak pagi dia bahkan tidak makan sama sekali.


Zayn terus saja memaksanya untuk makan walaupun hanya sedikit. Anggun sebenarnya memaksa ingin bertahan di pemakaman, tetapi Zayn malah memarahinya. Ini pertama kalinya Zayn marah padanya.


"Nggun, tolong mengertilah kondisimu saat ini. Kamu nggak ingin kan kehilangan lagi untuk yang ketiga kalinya? Tolong nurut sama aku. Ayo, pulang! Setelah itu, kamu harus makan. Jangan sampai kamu sedih berlarut-larut. Aku tahu ini berat, tetapi kamu harus ingat kalau ada anak kita di dalam kandunganmu. Aku mohon ikuti semua permintaanku. Aku juga menyayangi bapak, tetapi aku sadar karena memiliki tanggung jawab terhadapmu dan anak kita," tegas Zayn.


__ADS_1


__ADS_2