ANGGUN

ANGGUN
Bab 22. Menyusul Anggun


__ADS_3

Witha memutuskan untuk merencanakan keluar kota dengan dalih pekerjaan. Dia bisa berpamitan pada Kaluna.


"Tumben kamu berkemas sebanyak ini, Mas? Mau ke mana kamu?" tanya Kaluna yang baru saja masuk ke kamar.


"Ada pekerjaan di luar kota. Tadinya aku mau meminta izin padamu," jelas Witha tanpa memperhatikan istrinya.


Ya, beberapa bulan lalu memang Kaluna sempat pulang ke rumah orang tuanya. Namun, berkat orang tua Witha, akhirnya dia kembali ke rumah suaminya.


"Kamu tidak sedang membohongi aku kan, Mas? Jangan sampai kamu membuat ulah di luaran sana sehingga akan mempermalukan dirimu dan orang-orang terdekatmu."


Sebenarnya ucapan Kaluna itu benar. Namun, tidak ada cara lain untuk masa depannya sendiri. Witha tidak mau terjebak dalam drama rumah tangga yang berkepanjangan seperti ini.


"Kamu ini, giliran suami pamit bener, dicurigai negatif terus. Kalau beneran kejadian, baru tau rasa kamu!"


Ancaman Witha, bukan hanya sekadar ancaman. Dia akan membuktikan kebenarannya untuk bisa memiliki wanita lain, yaitu Anggun. Wanita di masa lalunya.


Setelah memasukkan satu koper besar, Witha menonaktifkan ponsel sekaligus GPS mobilnya. Setidaknya bisa menuju ke rumah Anggun dengan aman.


Sementara Anggun sedang berada di rumah sakit menunggu ibunya. Wanita itu lebih sering jatuh sakit setelah putrinya berniat untuk bercerai untuk yang kedua kalinya.


"Jadi, apa yang akan kamu katakan pada ibu?" tanya Maryamah yang sedang terbaring di brankar.


"Tidak ada, Bu. Ibu sembuh dulu, baru kita bicara."


Anggun benar-benar menjaga sikap untuk tidak keceplosan berbicara pada ibunya. Dia tidak ingin menambah luka hatinya walaupun sudah terluka.


"Ibu tidak akan sembuh kalau kamu tidak mau bicara, Nduk. Di mana Firhan? Apa dia sudah membuangmu begitu saja demi wanita itu?"


Anggun terkejut. Bagaimana ibunya bisa tahu sedetail itu? Apa mungkin insting orang tua tidak pernah salah?


"Bukan, Bu. Mas Firhan tidak salah. Anggun yang memutuskan untuk melepaskannya. Lagi pula, Mas Firhan masih butuh pekerjaan itu untuk menghidupi seluruh anggota keluarga yang lain. Sementara Anggun—"

__ADS_1


"Kamu malah mengalah dan merasakan penderitaan seorang diri. Itu tidak adil!" Maryamah membenarkan.


Memang tidak adil bagi Anggun dan Firhan, tetapi melanjutkan kehidupan dengan adanya Jihan akan semakin rumit. Kalau memang Allah akan mempersatukan mereka kembali, berarti memang Anggun dan Firhan berjodoh. Jika tidak, maka keduanya harus menerima pertarungan takdir yang sungguh rumit itu.


"Adil atau tidak, kami sama-sama menderita, Ibu. Ibu tolong bisa mengerti Anggun, ya?" Anggun memohon agar kedua orang tuanya selalu menguatkan dan memberikan semangat untuk tetap hidup.


Kehidupannya sungguh dramatis. Awal mulanya kehilangan Witha, Moiz, dan yang terakhir Firhan. Bagi Anggun, dari ketiga pria itu yang paling berkesan di dalam kehidupannya adalah Firhan. Witha yang sebenarnya adalah kekasih masa lalunya masih kalah dengan pria berkharisma itu.


Di sisi lain, Witha baru saja memasuki wilayah kampung Anggun. Untuk mencapai rumah wanita itu, Witha harus bertanya pada warga sekitar.


Sialnya, Witha malah bertemu dengan pria yang mengaku pernah menjadi suami Anggun, yaitu Moiz.


"Mas, kenapa nyari mantan istriku? Memangnya kamu siapa? Oh, atau kamu adalah pria kaya yang diporotin Anggun untuk mendapatkan semua uangnya," jelas Moiz.


Ya, Moiz masih dendam dengan perlakuan Anggun di masa lalu. Dia sama sekali tidak mendapatkan maaf apalagi kesempatan untuk memperbaiki hubungan. Gara-gara keputusan Anggun sepihak itu telah mengubah seluruh kehidupan Moiz.


Moiz dipecat dari bengkel tempatnya bekerja. Dia pun mencoba mengadu nasib ke kota. Sayangnya, pengalaman yang dia miliki tidak seperti saat di kampung.


Dulu, saat menjadi kekasih Anggun, Witha hanya beberapa kali datang ke kampung. Itulah mengapa banyak orang yang tidak mengenal dirinya. Walaupun memiliki alasan seperti itu, bukan masalah bagi Witha.


"Oh, bukannya dia sedang di kota?" tanya Moiz.


Moiz memang belum tahu kabar kepulangan Anggun yang sebenarnya sudah memutuskan untuk bercerai dari suaminya yang sekarang. Jika sampai dia tahu, semua akan semakin runyam. Dia akan menuduh Anggun sebagai wanita yang tidak tahu bersyukur dan mudah sekali kawin cerai.


"Dia izin beberapa hari untuk pulang ke kampung. Ya, walaupun aku tahu kalau kamu adalah mantan suaminya, tetapi masalah pekerjaan tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi."


"Wah, bukan begitu, Bro! Maksudku, Anggun yang kamu cari itu benar mantan istriku atau bukan?"


Moiz sekadar ingin tahu dan hanya ingin memastikan kebenarannya. Kalaupun benar, setidaknya dia memiliki bahan untuk membalas kelakuan Anggun di masa lalu.


"Memangnya Anggun di kampung ini ada berapa banyak? Bukannya yang bekerja di kota hanya satu, yaitu Anggun Maharani?"

__ADS_1


"Hemm, benar, Bro. Dia memang mantan istriku. Kalau dia ada di rumah, jangan lupa kabari aku, ya? Urusanku dengannya belum berakhir," jelas Moiz.


"Ya sudah, cepat tunjukkan jalannya!" Witha mengibaskan uang lembaran seratus ribuan sebanyak 2 lembar untuk membuat pria itu mau berbicara.


"Wah, apa ini ada upahnya? Atau, kamu mau menyuap aku?"


Witha mencoba menahan kecemburuan dan kecemasannya. "Kamu pasti butuh uang, kan? Kalau begitu anggap saja kalau kamu bekerja untukku."


"Kamu jalan lurus saja ikuti jalan besar ini sampai menemukan pertigaan ketiga. Dari situ, belok ke kanan lurus saja. Rumah paling ujung karena gangnya tidak terlalu rumit," jelas Moiz.


Setelah menyerahkan uang dua ratus ribu, Witha segera melajukan mobilnya menuju arah yang dimaksud. Memang tidak jauh dari tempatnya sekarang, tetapi saat sampai di depan rumah yang dimaksud, keadaannya sepi.


"Ke mana Anggun pergi? Bukankah seharusnya dia berada di rumah sekarang? Apalagi kata teman-temannya dia sudah resign," gumam Witha sambil mengamati rumahnya. Siapa tahu ada orang yang keluar dari sana.


Sekitar 15 menit berlalu, dari rumah itu tidak kunjung keluar satu orang pun. Witha memutuskan untuk turun lalu mencari tahu.


"Ehm, Bu, maaf. Boleh tahu ke mana Anggun dan keluarganya?"


Kebetulan seorang ibu lewat dekat mobilnya. Ibu itu pun berhenti saat mendapati seorang pria tampan yang mencari Anggun dengan menggunakan mobil.


"Oh, Mas kukira suaminya Anggun yang biasanya pakai mobil hitam. Ini beda lagi warna merah. Memangnya Mas siapanya Anggun?"


Definisi tetangga julid kan seperti ini. Bukannya menjawab pertanyaan, malah menambah pertanyaan baru untuk pembendaharaan divisi ghibah.


"Bukan, Bu. Saya atasannya," jawab Witha. Untuk kedua kalinya dia berbohong demi menyelamatkan reputasinya sendiri.


"Oh, atasannya. Mbak Anggun sedang di rumah sakit soalnya Bu Maryamah sedang sakit."


Witha sedikit lega saat tahu bukan Anggun yang sakit. Setelah mendapatkan informasi tambahan, Witha lekas menyusul Anggun ke rumah sakit.


__ADS_1


__ADS_2