ANGGUN

ANGGUN
Bab 39. Saling Memaafkan


__ADS_3

Zayn bukan sekadar bermain teka-teki. Namun, dia sudah menjelaskan maksud dan tujuannya untuk menikah dengan Anggun. Sayang, Anggun tidak semudah itu bisa menerima lamaran yang dilakukan Zayn saat ini.


"Zayn, ini terlalu cepat. Aku butuh waktu untuk melupakan luka lama lalu membangun komitmen baru dengan pernikahan. Aku sudah gagal 2 kali, Zayn. Kamu pasti tahu itu, kan?"


"Iya, Nggun. Aku bahkan tahu semuanya. Aku berharap kehadiranku di dalam hidupmu kali ini menjadi penawar dari segala kesakitanmu di masa lalu. Walaupun aku tidak tahu ini takdir atau persinggahan sebentar. Sejujurnya, aku tidak ingin membuatmu kecewa atau sakit hati. Aku mengutarakannya lebih awal agar kamu bisa mendapatkan kesempatan lebih banyak bersamaku. Jangan tolak apa pun ajakanku, ya?"


Tentu saja Anggun harus mengucap banyak syukur. Pasalnya, selain dokter Zayn itu tampan. Dia memang sangat perhatian dan tidak pernah membedakan siapa pun. Dia sanggup menjadi sosok yang paling sabar selama hidupnya. Makanya akan ada wanita beruntung bila mendapatkan dokter Zayn. Apalagi sampai menikahinya.


"Tentu, Zayn."


Malam ini Zayn sengaja membawa Anggun untuk menginap di hotel yang lumayan mewah. Tentunya Zayn memesan 2 kamar. Salah satunya untuk Anggun.


"Kita bermalam di sini dulu. Ini kunci kamarmu. Aku ada di kamar sebelah. Kalau kamu memerlukan sesuatu, jangan sungkan untuk bangunkan aku," ujar Zayn sebelum masuk ke kamar masing-masing.


"Sekali lagi terima kasih untuk kebaikanmu, Zayn. Hari ini kamu sudah sangat menghibur. Bahkan kamu sanggup membuatku tersenyum kembali. Terima kasih."


"Jangan seperti itu. Simpan ucapan terima kasihmu itu untuk mencoba move on. Percayalah, akan ada pelangi setelah hujan. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan setelah apa pun yang kamu lalui. Aku siap menjadi sumber kebahagiaanmu jika kamu mau."


"Akan aku pikirkan," ujar Anggun kemudian masuk ke kamarnya.


Sementara Zayn, dia baru masuk setelah Anggun menutup pintu kamarnya. Harusnya Zayn datang lebih awal, tetapi seakan takdir menghalanginya. Sebagai dokter umum yang kemudian melanjutkan pendidikan menjadi spesialis bedah jantung tentunya butuh waktu yang lama lagi. Hal itu yang membuat Zayn terlambat kembali pada orang yang dicintainya.


"Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Aku sudah seringkali kehilangan dirinya. Aku akan membuat kehidupanmu jauh lebih berharga daripada masa lalumu yang buruk," ujar Zayn setelah berada di dalam kamar.

__ADS_1


Keesokan paginya, Zayn sudah menunggu Anggun di restoran hotel. Mereka memang sepakat akan bertemu di sana.


"Assalamualaikum, Nggun. Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?" tanya Zayn setelah Anggun baru saja duduk di hadapannya.


"Waalaikumsalam, Zayn. Alhamdulillah aku bisa tidur dengan nyenyak. Mungkin aku membutuhkan me time untuk merilekskan pikiran dan tubuhku. Terima kasih sudah membawaku ke sini," ujar Anggun.


Sebenarnya Anggun sudah terlihat bahagia, tetapi saat melihat Bagaskara dan Kaluna yang ternyata makan berdua di restoran itu membuat hatinya sedih. Dia teringat akan ibunya yang sudah tiada gara-gara kelakuan Kaluna.


"Nggun, ada apa?" tanya Zayn saat melihat Anggun berniat meninggalkannya.


"Ada orang yang sudah membuat ibu tiada, Zayn."


Saat Anggun berdiri, Bagaskara dan Kaluna melihat ke arahnya. Sebenarnya kedua orang itu cukup terkejut sekali dengan keberadaan Anggun. Terlebih dia datang dengan pria yang diketahui Bagaskara saat di pemakaman ibunya beberapa waktu lalu.


Bersamaan dengan itu, Zayn berniat untuk menghentikan langkah Anggun dengan datangnya kedua orang yang membuat Anggun merasa tidak nyaman.


"Nggun, jangan lari dari kenyataan. Hadapi saja. Kalau kamu lari terus, pikiranmu akan terus terpusat pada masalah ini. Lepaskan dengan ikhlas dan hiduplah dengan damai. Aku yakin kalau kamu adalah wanita baik yang bisa memaafkan segalanya," ujar Zayn.


Terkadang membalas rasa sakit hati yang ditorehkan oleh orang lain adalah dari melupakan dan mengikhlaskan. Walaupun terkadang itu sulit. Namun, semakin pikiran kita tertuju pada orang itu. Maka hati kita pun pasti akan semakin sakit.


Anggun kembali duduk. Zayn tahu karena mengenal pria yang bernama wanita itu. Namun, yang katanya wanita penyebab kematian ibunya Anggun, Zayn sama sekali tidak tahu.


"Boleh kami duduk di sini?" tanya Bagaskara.

__ADS_1


"Silakan," balas Zayn.


Bagaskara dan Kaluna duduk. Sempat hening sejenak kemudian Bagaskara memulai pembicaraan.


"Nggun, kami tidak sengaja bertemu denganmu di sini. Aku mau minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu baik itu yang dengan sengaja ataupun tidak kusengaja. Apakah kamu mau memaafkan aku?" tanya Bagaskara.


Anggun sebenarnya enggan menanggapi. Namun, Zayn mencoba memberikannya kode supaya mau memaafkan kesalahan orang lain. Zayn berharap Anggun bisa hidup tanpa rasa sakit yang dipendam atas orang-orang yang pernah menyakitinya.


"Ya," jawab Anggun singkat.


"Nggun, aku juga mau minta maaf padamu. Jujur, kesalahanku padamu itu memang fatal. Walaupun aku tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula, tetapi aku janji sama kamu akan mengembalikan mas Witha untukmu. Selama ini aku sadar kalau akulah yang menjadi orang ketiga di dalam hubungan kalian. Pernikahan kami tidak bahagia seperti yang orang lain lihat. Setelah aku pikir-pikir, hubungan kami memang harus segera diakhiri. Seperti yang kamu lihat, aku dan Mas Bagaskara akan melanjutkan kehidupan setelah perceraianku dengan mas Witha. Apakah kamu mau memaafkan aku?" tanya Kaluna dengan suara parau. Sejujurnya dia belum berani berhadapan langsung dengan Anggun, tetapi Bagaskara memaksa.


"Lupakan soal Witha. Aku sudah memaafkanmu. Aku juga minta maaf padamu jika selama kita bertemu, kita selalu berada di dalam masalah yang tiada akhir."


Kaluna langsung memeluk Anggun. Betapa beruntungnya Anggun yang selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Seperti pria yang saat ini bersamanya. Cukup teduh dan membuat hati menjadi tenang. Walaupun Kaluna sudah berniat melepaskan Witha, Anggun belum tahu bisa kembali lagi padanya atau tidak. Terlebih mamanya Witha yang tidak akan bisa menerima wanita biasa seperti Anggun. Apalagi status jandanya. Hal itu akan menjadi masalah di kemudian hari.


"Nggun, terima kasih. Kamu orang baik. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu. Apakah kamu mau berteman denganku?" tanya Kaluna setelah melepaskan pelukannya.


"Tentu saja, Lun. Kita bisa berteman sampai kapan pun, tetapi tolong jangan libatkan aku dalam perceraian kalian. Maaf, bukan maksud apa-apa. Aku tidak mau mamanya mas Witha menganggap demikian," jelas Anggun.


"Itu tidak akan terjadi, Nggun. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk hidup tanpa beban. Terima kasih, Anggun." Kaluna terus saja mengucap terima kasih.


"Hai, aku Zayn. Temannya Anggun. Karena kalian sudah ada di sini, bagaimana kalau kita sarapan bersama?" tanya Zayn yang sejak tadi melihat interaksi Anggun dan seorang wanita bernama Kaluna.

__ADS_1


Tentu saja mereka setuju. Apalagi suasana pagi ini sudah sangat kondusif. Sayang kalau dilewatkan begitu saja.


__ADS_2