ANGGUN

ANGGUN
Bab 30. Jadi Yang Kedua


__ADS_3

Firhan mengantar Anggun sampai ke depan resepsionis hotel. Dia pun yang membayar biaya penginapan untuk dua hari ke depan.


"Mas, harusnya semalam saja," tolak Anggun.


"Berliburlah di sini untuk sementara waktu. Kalau dalam waktu 2 hari kamu merasa masih kurang, kabari aku. Akan kutransfer biayanya," jelas Firhan.


"Terima kasih, Mas. Ini sudah cukup. Takut Jihan akan marah sama kamu. Lebih baik kamu pulang sekarang."


"Ya, Nggun. Sampai jumpa lagi," pamit Firhan.


"Hati-hati di jalan, Mas." Anggun berlalu menuju ke kamarnya.


Firhan kembali ke mobil dengan perasaan kacau. Sebentar lagi saat dirinya sampai di rumah, Jihan akan memakinya habis-habisan. Inilah yang tidak disukai dari Jihan. Rasa cemburunya yang terlalu tinggi karena takut suaminya dimiliki wanita lain.


Jihan yang sedari tadi mondar-mandir di ruang tamu rumahnya merasa tidak tenang. Dia selalu berpikir bahwa Firhan akan menginap bersama Anggun. Lalu keduanya akan melakukan hubungan terlarang. Rasanya Jihan ingin menjerit membayangkan semua itu. Namun, auranya kembali cerah saat mendengar suara mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah. Dia bergegas keluar untuk membuka gerbang agar mobil suaminya bisa masuk.


Firhan turun dari mobil lalu melangkah masuk ke kamarnya. Jihan buru-buru menutup pintu lalu mengikuti suaminya.


"Mas, kamu dari mana? Kamu tidak melakukan apa pun padanya, kan?"


Firhan tidak menjawab. Dia melepaskan jas, melonggarkan dasi, lalu duduk di sofa kamar. Jihan pun mengikutinya.


"Mas, jawab aku!" pinta Jihan memohon. "Kalau kamu nggak mau jawab aku, aku bisa pastikan hidup Anggun tidak akan pernah tenang!"


"Stop, Jihan! Stop menyalahkan orang lain atas apa yang tidak pernah mereka buat. Apalagi yang kamu inginkan dari Anggun? Kamu sudah mengambil segalanya, bukan? Kalau kau terus tamak seperti itu, maka jangan salahkan aku jika suatu hari nanti aku akan membalas perbuatanmu!" geram Firhan. Dia lelah dan ingin beristirahat.


"Apa? Kamu mau apa, Firhan? Mau kabur dariku? Enggak! Aku gak bisa terima itu. Anggun pasti sudah membuatmu menjadi seperti ini, kan? Dia pasti sudah mencuci otakmu, bukan?"

__ADS_1


"Cukup, Jihan! Aku mau istirahat!"


Beginilah suasana hati Jihan yang takut kehilangan suaminya. Dia takut kalau Anggun akan merebut Firhan kembali.


Sementara Witha baru saja turun dari mobil. Dia berniat masuk ke kamar disusul istrinya. Kaluna merasa syok, setres, dan kacau sekali. Gara-gara ulah Bagaskara, Witha bertemu lagi dengan mantan kekasihnya.


Kaluna dengan susah payah meyakinkan Witha untuk segera memiliki momongan agar keduanya saling terikat. Namun, agaknya itu kembali sulit saat pertemuannya dengan Anggun.


"Kamu bawa ke mana wanita itu?" tanya Kaluna setelah melihat Witha memilih duduk di sofa.


"Dia punya nama, Kaluna. Anggun menginap di hotel. Kenapa? Kamu mau menyusulnya ke sana lalu memakinya? Iya?" Witha meradang.


"Ya, jika itu perlu. Jangan sampai dia masuk ke dalam rumah tangga kita dan menjadi orang ketiga yang akan menghancurkan hidup kita, Witha. Tidak hanya kamu yang hancur, tetapi kita semua. Mama, papa, dan seluruh keluarga besar. Termasuk perusahaan. Ingat, kita terikat dari berbagai aspek, Witha."


Inilah yang tidak disukai Witha dari pernikahan bisnisnya. Kaluna akan terus mengungkit dan membuatnya tetap bertahan walaupun dia ingin lari.


Sesak dada Kaluna mendengar penuturan yang sangat menyakiti itu. Sebenarnya tidak hanya kali ini saja, tetapi seringkali Witha mengungkapkan rasa cintanya pada Anggun di hadapan Kaluna. Terkadang Kaluna ingin sekali menemui wanita itu dan mengatakan, apa sebenarnya kelebihan Anggun sehingga suaminya tidak bisa melupakan?


"Kalau begitu, jadikan Anggun maduku. Setidaknya aku memberikanmu kesempatan untuk bersatu dengan wanita pujaanmu itu, tetapi aku memiliki syarat yang harus kamu penuhi, Mas."


Sejenak Witha merasa senang, tetapi di sisi lain Kaluna akan memberikan syarat yang sangat memberatkan. Mungkin saja ini tentang dirinya ataupun keluarga besar.


"Apa syaratnya?"


"Kita lakukan program kehamilan. Setelah itu, kamu bisa bebas bersama Anggun. Namun, kamu tidak berhak menunjukkan Anggun kepada siapa pun kalau dia istrimu. Bagaimana?"


"Akan kupikirkan lagi, Kaluna." Witha beranjak menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Kaluna yang sedari tadi merasakan sesak di dada akhirnya bisa menangis juga. Dia tidak tahan dengan pernikahannya, tetapi tidak ingin melepaskan Witha karena rasa cinta yang dimiliki Kaluna sangatlah besar.


Aku tidak yakin cara ini akan berhasil, Mas. Namun, aku akan tetap berusaha sekuat tenaga agar kamu tetap menjadi milikku. Kalau aku hamil, kamu pasti akan memiliki banyak waktu denganku daripada memikirkan wanita itu.


Sementara Anggun sedang menerima beberapa barang yang ketinggalan di tempat Bagaskara. Rumah yang sedianya akan menjadi tempat tinggalnya selama bekerja nyatanya hanya tempat singgah sejenak.


"Pak Rahman, semua paper bag ini tolong kembalikan pada pak Bagas. Anggun juga minta maaf sama Bapak karena sudah repot-repot mengantarnya ke sini."


"Oh, tidak masalah, Mbak. Sebenarnya saya juga bingung harus ngapain? Akhirnya pak Witha ketemu saya. Beliau yang meminta saya untuk mengirimkan barang-barang Mbak ke hotel ini."


Witha? Mengapa kamu melakukan itu? Kamu semakin membuatku kehilangan arah, Witha. Kita tidak bisa terus seperti ini. Kalau kamu yang mengejarku, maka aku akan lari menjauh dari kehidupanmu.


"Mbak Anggun tidak apa-apa?" Rahman membuyarkan lamunannya.


"Oh, maaf, Pak. Sekali lagi terima kasih. Bapak silakan kembali."


Anggun ingin segera istirahat di kamar. Besok pagi-pagi sekali dia harus segera pergi. Mumpung Witha dan Firhan belum mengejarnya. Dia yakin kalau kedua pria itu pasti akan datang untuk menemuinya.


Sebenarnya sayang sekali karena Firhan sudah membayarkan hotel ini untuk 2 malam. Anggun yang tidak mau berada di posisi seperti ini.


Anggun mengambil ponselnya. Dia masih memblokir 3 nomor orang-orang yang pernah ada di dekatnya. Witha, Firhan, dan Jihan. Sebenarnya pada 2 pria itu, Anggun tidak tega untuk memutuskan hubungan silaturahmi. Namun, karena dia tidak mau masuk ke dalam rumah tangga mereka, Anggun lah yang mengalah.


"Barangku tidak terlalu banyak. Setelah fajar, aku harus bergegas pergi sebelum mereka datang. Aku akan pulang dan melanjutkan hidupku di kampung. Aku akan membuka usaha kecil-kecilan supaya aku tidak kembali lagi ke kota ini."


Keenam orang itu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hubungan yang terjalin di antara mereka begitu rumit. Permainan takdir seakan membawa mereka pada hubungan yang begitu rumit. Namun, ada satu keyakinan seorang pria untuk membuat kehidupan baru dan semakin berwarna.


"Aku akan menemui Anggun dan mengajaknya menikah. Walaupun dia akan menjadi yang kedua di hidupku, tetapi akan selalu menjadi yang pertama di hatiku," gumam Witha sebelum memejamkan mata untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2