
Anggun sudah memutuskan membuka usaha di rumah. Dia memiliki laptop sehingga bisa menerima jasa pengetikan. Mungkin dari hal sekecil itu bisa mendapatkan hal besar lainnya. Dia juga sudah mencoba melupakan Firhan dan Witha yang sudah menjadi pria paling istimewa di masa lalunya.
Sayang, kabar perceraian Anggun yang kedua kalinya sampai juga ke telinga Moiz. Beberapa teman kerjanya di tempat lama saat ini sedang bertemu.
"Eh, kamu gak mau balikan sama mbak Anggun? Udah cerai, loh!" ujar temannya.
"Ck, janda 1 itu. Mana mau aku. Lagian dia tipikal wanita perhitungan banget. Ogah aku," balas Moiz.
"Ck, yaelah, Iz. Mbak Anggun dapat kamu itu musibah, bukannya berkah!" cibir temannya yang lain.
"Ck, siapa bilang? Buktinya dia sekarang bagaimana? Janda lagi, kan? Itu karena kutukanku. Sekarang dia bekerja di rumah saja. Siapa yang mau? Untung gak seberapa, tetapi ruginya pun iya," ujar Moiz. Sejujurnya dia masih sangat dendam pada Anggun.
Saat sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya, sebuah mobil sedan bagus berhenti tepat di hadapan mereka. Lebih tepatnya Toyota Corolla Altis Hybrid, sedan mewah itu sudah menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang kaya. Modelan macam Moiz, mana mampu membeli mobil sebagus itu? Jangankan beli, buat beli motor butut saja perlu ambil jalur pintas, yaitu kredit.
Seorang wanita dengan penampilan anggun, cantik, dan sangat menarik baru saja turun. Wanita itu menggunakan kacamata hitam, sepatu high heels, dan tas bermerek LV. Sudah bisa dipastikan kalau wanita itu memang sangat berkelas dan berasal dari keluarga kaya.
"Permisi, apakah aku bisa numpang tanya?" ujar wanita itu.
"Eh, iya, Mbak. Tentu saja," sahut salah satu teman Moiz.
"Rumah Anggun di mana, ya?"
Sontak mereka berpandangan. Sejak Anggun tidak lagi bekerja di kota, banyak sekali orang-orang yang bertanya alamat rumahnya. Mereka pun seringkali menggunakan mobil bagus untuk mencapai rumah janda 2 kali itu.
Ya, dia adalah Kaluna. Walaupun sudah mendapatkan alamat dari Jihan, untuk mencapai tempat yang dimaksud perlu tahu dari warga sekitar. Bukan apa-apa. Hanya saja untuk mengantisipasi daripada muter-muter tidak jelas.
"Mbak mau saya antar?" ujar Moiz. Dia penasaran, mengapa ada wanita yang mencari Anggun? Mungkinkah dia berbuat hal yang tidak benar di kota sana? Setidaknya Moiz punya senjata untuk menyerang Anggun di kemudian hari.
"Boleh," balas Kaluna.
Kaluna kembali ke mobil. Dia meminta sopirnya untuk mengikuti motor yang ada di depannya. Ternyata jalan menuju rumah Anggun masih lumayan jauh juga dari tempatnya berhenti. Hingga motor itu berhenti tepat di depan pintu masuk halaman sebuah rumah. Lelaki itu pun turun lalu mengetuk kaca mobilnya.
__ADS_1
"Mbak, itu rumahnya. Mbak bisa langsung parkir mobil di halamannya saja."
"Oke, terima kasih."
Tidak lama, mobil Kaluna pun sudah terparkir rapi di halaman tersebut. Empunya rumah, Maryamah segera keluar melihat kedatangan orang asing yang sama sekali belum pernah ditemuinya.
"Maaf, mau cari siapa, ya?" tanya Maryamah.
"Anggun, Bu."
"Memangnya Mbak siapa?" tanya Maryamah lagi.
"Saya temannya Anggun," ujar Kaluna berbohong. Kalau dia mengaku istri dari mantan Anggun, pasti wanita itu tidak akan mengizinkannya.
"Oh, kalau begitu silakan masuk. Anggun baru saja keluar untuk membeli kertas. Mungkin beberapa menit lagi pulang," ujar Maryamah.
Anggun pergi diantarkan oleh bapaknya, Gian. Namun, bukan berarti dia tidak berani pergi sendiri. Hari ini Anggun sedang kurang sehat, tetapi ada pekerjaan yang menuntutnya untuk tidak bisa istirahat.
Maryamah benar. Baru saja Kaluna duduk, suara motor masuk ke halaman sudah terdengar begitu jelas.
"Entahlah, Nduk. Lebih baik kamu masuk saja dulu. Biar bapak benerin motor dulu. Lagian ini juga waktunya servis."
Anggun melangkah masuk dengan hati yang tidak menentu. Mobil sedan mewah di depan sama sekali bukan kenalannya. Mungkinkah Bagaskara yang datang ke rumahnya? Setelah puas mempermainkan pekerjaan sekaligus kehidupannya.
Ketika mencapai ruang tamu, tatapan mata Anggun langsung tertuju pada Kaluna yang kebetulan juga melihatnya.
"Nggun, ada yang nyari kamu, Nduk. Ayo, duduk sini!" perintah Maryamah.
Perasaan Anggun benar-benar tidak menentu. Kedatangan Kaluna ke sini pasti ada hubungannya dengan Witha. Dia pasti tahu perihal rencana Witha untuk menjadikan Anggun yang kedua.
"Ibu, bisa siapkan minuman sebentar?" ujar Anggun untuk mengusir ibunya secara halus.
__ADS_1
"Iya, Nggun. Akan ibu siapkan. Oh ya, mau minum apa?"
"Teh hangat saja, Bu. Kalau es, takutnya nggak terbiasa," sahut Anggun.
Setidaknya Maryamah akan berada di dapur selama beberapa menit. Selama itu pula, Anggun akan bebas mengobrol dengan Kaluna.
"Jadi, kenapa kamu datang ke sini? Bukankah kita nggak ada urusan apa pun," ujar Anggun dengan suara pelan.
"Justru aku datang ke sini karena ingin meminta bantuanmu."
"Apa lagi? Tolong jangan libatkan aku dengan Witha. Aku sudah menolak permintaan konyolnya itu. Dia pikir aku siapa, hah? Yang mau menjadi wanita kedua dan dimadu dengan wanita lain. Yang benar saja! Pikiranku nggak serendah itu," ujar Anggun kesal.
"Aku minta maaf atas nama suamiku, Nggun. Tapi mau bagaimana lagi? Dia meminta syarat itu dariku agar aku bisa hamil anaknya. Sayang, dia malah meminta aku untuk melakukan inseminasi buatan. Sebagai istrinya, jujur aku merasa tertekan sekali. Tolong bantu aku yakinkan mas Witha. Aku butuh itu karena mama mertuaku sudah menuntutku untuk lekas memiliki anak," ucap Kaluna berbohong.
Mama mertuanya sudah rela menerima apa pun dengan nasib pernikahan Kaluna dan Witha. Walaupun mereka tidak memiliki anak sekali pun, asalkan keduanya tetap bersama hingga akhir hayat.
"Maaf, itu urusan rumah tangga kalian. Jangan libatkan aku lagi. Aku nggak ada hubungannya dengan Witha atau siapa pun. Biarkan aku hidup tenang dan damai seperti ini. Lebih baik kamu pulang sekarang dan urus suamimu!" pinta Anggun.
"Nggun, dia mencintaimu. Mungkin kalau kamu yang menjelaskannya, dia pasti akan mengerti dan membuatku bisa memiliki anak," ujar Kaluna memohon.
"Lebih baik kamu pergi sekarang!" Anggun tidak mau ada hubungan atau terlibat apa pun dengan Kaluna dan suaminya.
"Bagaimana kalau aku merelakan diriku dimadu asalkan denganmu?" tanya Kaluna membuat Maryamah yang baru masuk membawa nampan tertegun dan menjatuhkan gelas-gelas itu.
"Ibu!" seru Anggun. Dia kemudian mendekati ibunya lalu meminta Maryamah untuk mundur.
"Nggun, apa ini? Kamu merebut suami orang?" tanya Maryamah salah paham.
"Enggak, Bu. Ibu salah dengar. Kaluna hanya meminta aku untuk meyakinkan suaminya, bukan berarti harus dimadu. Ibu salah dengar. Tolong, lebih baik Ibu masuk ke kamar. Anggun akan menyelesaikan semuanya," ungkap Anggun. Jangan sampai Maryamah memikirkannya lalu salah paham. Imbasnya pasti sakit dan dirawat di rumah sakit.
"Lebih baik kamu pulang, Lun," imbuh Anggun.
__ADS_1
"Enggak! Sebelum kamu setuju dengan pernyataanku barusan!" Kaluna keras kepala. Dia ingin mendapatkan cinta Witha seutuhnya, tetapi melibatkan wanita lain.
Maryamah tetap mengira kalau Anggun sudah menjadi pelakor di dalam rumah tangga orang lain. Tiba-tiba wanita itu pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit.