
Kabar meninggal bapaknya Anggun sampai juga ke telinga Kaluna. Sebelum suaminya pergi ke kantor, Kaluna terus saja bermanja-manja pada Bagaskara.
"Mas, kamu nggak mau anter aku buat pergi ke tempat Anggun. Kasihan loh. Dia sedang berduka kehilangan orang tuanya lagi."
"Nanti sore saja. Bagaimana? Urusan di kantor sedang sibuk dan nggak bisa ditinggal, Sayang. Apalagi ini ada rapat penting dengan mantan suamimu dan juga Firhan. Mana bisa aku tinggal begitu saja," ujar Bagaskara.
"Hemm, baiklah, Mas. Oh ya, kalau begitu siang ini aku akan pergi ke dokter untuk konsultasi program kehamilan. Bagaimana menurutmu, Mas?"
"Kenapa nggak nunggu aku aja, Sayang. Kita kan bisa pergi bersama."
"Aku pengen pergi sendiri, Mas. Biar aku bisa konsultasi lebih dulu. Nanti Mas nyusul aja. Kita reschedule untuk pertemuan kedua."
"Boleh deh. Apa pun asalkan kamu senang."
Benar saja. Setelah Bagaskara pergi ke kantor, Kaluna segera menyiapkan diri. Dia tentunya tidak sendirian karena Bagaskara memberikan limpahan kasih sayang yang luar biasa. Terkadang Kaluna berpikir telah menyesal menikah dengan Witha yang sama sekali tidak pernah peduli pada istrinya.
"Kadang aku juga memikirkan Anggun. Beruntung sih kalau dia nggak mau balikan lagi sama Witha. Lagian dokter Zayn tuh 11-12 sama seperti suamiku. Bagaskara benar-benar menepati janjinya. Terima kasih, mas," gumam Kaluna saat berada di mobil untuk menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, antrean di dokter kandungan sudah lumayan banyak. Namun, ada hal yang mengganggu pandangannya, yaitu keberadaan Jihan di sana. Semula Kaluna enggan melihat ke arahnya, tetapi Jihan sepertinya sudah tahu kalau Kaluna ada di sana.
"Wah, akhirnya Nyonya Bagaskara hamil juga, ya," ujar Jihan yang menghampiri ke tempat duduk Kaluna.
"Kenapa? Kamu cemburu kalau aku dan mas Bagaskara bahagia?"
"Nggak juga. Aku cuma penasaran. Siapa sebenarnya yang mandul? Kamu atau Witha?"
__ADS_1
"Mengapa kamu sebut namanya lagi? Aku udah nggak ada hubungan apa pun dengan Witha. Oh, atau kamu memang iri dengan kebahagiaanku yang sekarang, ya. Ehm, bisa juga kamu iri atas apa yang dimiliki Anggun sekarang. Suaminya seorang dokter dan Anggun hanya diberikan kesempatan untuk membahagiakan diri sendiri," ujar Kaluna yang sengaja membalas mulut sadis Jihan.
"Aku? Iri sama Anggun? Ya enggaklah. Mas Firhan udah ada dalam genggamanku. Lagian aku juga nggak tertarik sama siapa itu dokter-dokter yang gak kukenal itu."
"Pesona pak Firhan dan dokter Zayn kebanting. Sebagai wanita normal, kalau aku disuruh milih, kayaknya mendingan dokter Zayn deh. Masih muda, tampan, berkelas, dan penyayang. Eits, aku lupa kalau dokter Zayn paling gak selera sama kamu. Apalagi kamu adalah mantan pelakor bukan sih?"
Jika bukan karena Jihan mendapatkan giliran dipanggil suster, dia pasti akan terus meladeni Kaluna sampai akhir. Bisa juga satpam akan datang untuk melerai keduanya. Pasalnya semakin lama, suara mereka semakin keras.
Sementara di perusahaan, Bagaskara bertemu kembali dengan Witha dan Firhan. Witha terlihat seperti pria yang tidak terawat. Sementara Firhan, dia terlihat sedikit lelah dari biasanya. Sepertinya Firhan sedang bekerja keras kali ini.
"Bagaimana kabarmu, Pak Witha dan Pak Firhan? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Bagaskara.
"Aku selalu baik, Pak Bagas. Cuma beberapa hari ini aku memang kurang tidur. Perusahaan memintaku untuk mengurus beberapa proyek baru. Padahal proyek lama masih belum usai dan baru berjalan sekitar 50 persen saja. Jadi, setiap malam aku lembur membuat konsep proyek baru itu. Makanya terlihat lelah, bukan?"
"Aku sedang tidak baik-baik saja. Mama masih tidak bisa terima kalau aku sudah bercerai dengan Kaluna. Kulihat kalian sangat bahagia."
Tentu saja. Bagaskara memberikan banyak cinta pada istrinya. Apalagi tujuannya sekarang untuk melakukan program kehamilan. Bagaskara semakin bersemangat. Dia tidak peduli dengan cara apa untuk mendapatkan anak bersama Kaluna. Yang pasti, Bagaskara sangat mencintainya.
"Terima kasih, Pak Witha. Aku memang mencintai Kaluna. Saat tahu Kaluna menikah, aku rasanya hampir putus asa sekali," ujar Bagaskara.
"Aku sekarang menyerah karena Anggun sudah menjadi milik orang lain," ujar Witha menunjukkan kesedihannya.
Bicara soal Anggun, Bagaskara baru ingat kalau Kaluna nanti sore minta diantar ke tempat Anggun.
"Oh ya, nanti sore aku dan Kaluna mau pergi ke tempat Anggun. Kami akan melayat karena bapaknya Anggun meninggal. Mungkin ada yang mau ikut?" tanya Bagaskara.
__ADS_1
Firhan sebagai mantan suaminya harus datang. Tidak mungkin juga memutuskan tali silaturahmi yang sudah dibangun bersama Anggun selama ini. Walaupun Firhan tidak lagi bisa memiliki Anggun, tetapi cintanya pada mantan istri juga masih ada.
"Aku ikut," ujar Firhan membuat Bagaskara dan Witha menoleh padanya.
"Pak Firhan yakin? Lebih baik libatkan istri Bapak juga. Daripada nanti kita dimaki-maki lagi. Lagi pula Anggun juga sudah bersuami. Itu hanya sekadar saran dariku, Pak. Bapak paham kan bagaimana kondisi istri Bapak saat ini?" tanya Bagaskara.
Permainan takdir seakan-akan membuat Witha menjadi sosok pria yang gagal. Dia sama sekali tidak bisa merengkuh Anggun ke dalam pelukannya. Saat kesempatan terbuka lebar, malah mamanya menjadi batu sandungan yang lumayan besar. Witha tidak mendapatkan restu sehingga melepaskan Anggun begitu saja. Saat Anggun sudah bahagia, apakah Witha masih memiliki nyali untuk mengejarnya lagi?
"Aku akan mengajak mama," ujar Witha.
Lagi-lagi keputusan sepihak Witha itu cukup mengejutkan semua orang. Membawa Jihan saja sudah menjadi ancaman untuk semua orang. Apalagi membawa mamanya Witha yang nantinya akan bertemu dengan Kaluna dan juga Anggun.
"Lo yakin?" Spontan Bagaskara mengucapkan kata-kata non formal sehingga membuat Firhan pun terkejut.
"Kenapa? Apa ada yang aneh dengan keputusanku?" tanya Witha.
"Tentu saja, Witha. Kalau kamu ajak orang tuamu, apakah Anggun merasa nyaman? Apalagi ada Kaluna dan Jihan, istriku. Pikir-pikir lagi lah mana yang perlu dibawa. Jangan bawa-bawa orang tua," ujar Firhan mulai kehilangan kesabaran.
Wajar saja kalau mereka protes. Firhan pasti sudah dipusingkan dengan Jihan. Mereka belum tahu saja jika antara Kaluna dan Jihan sudah melakukan gencatan senjata di rumah sakit. Memang Jihan yang memulai duluan, tetapi Kaluna tidak akan mau mengalah di sudutkan seperti itu.
"Baiklah. Kita bisa pergi dengan siapa pun, tetapi akan menggunakan mobil masing-masing. Tolong kondisikan pada mama Anda dan istri Anda untuk tidak berbuat gaduh di sana. Ingat, Anggun sedang berduka. Barangsiapa yang dengan sengaja membuat kegaduhan, aku tidak akan segan langsung meminta kalian keluar dari rumah itu," ujar Bagaskara.
Bagaskara merasa bertanggung jawab atas apa yang menjadi ajakan istrinya. Jangan sampai hubungan Anggun dan Kaluna hancur begitu saja gara-gara ulah dari salah satu teman dekatnya.
__ADS_1