
Maryamah dan Gian terkejut saat sebuah mobil warna hitam berhenti tepat di halaman rumahnya. Mereka tidak tahu jika Anggun pulang bersama atasannya.
Saat Anggun turun dari mobil, disusul dengan munculnya seorang pria membuat mereka semakin tidak nyaman. Pasalnya baru beberapa minggu yang lalu Anggun bercerai.
"Assalamualaikum, Bu, Pak," ucap Anggun sambil menyalami satu-persatu orang tuanya.
Maryamah menarik Anggun untuk masuk lebih dulu. Pasalnya, ibunya takut kalau Moiz akan mencari gara-gara lagi dengan keluarganya. Terlebih Anggun sudah membawa pria lain lagi.
"Nduk, apa yang kamu lakukan? Kenapa bawa pria ke rumah?" tanya Maryamah dengan nada suara yang cukup lirih, tetapi mampu dipahami oleh Anggun.
"Bu, maaf tidak mengabari lebih dulu. Dia itu Pak Firhan. Atasan Anggun di pabrik. Kedatangannya ke sini untuk menjenguk Ibu," jawab Anggun beralasan. Kalau tahu Firhan sudah melamarnya, bisa-bisa pria itu diusir secara paksa.
"Oh, begitu? Kamu yakin tidak ada tujuan lain?"
Maryamah tidak bisa langsung percaya begitu saja.
"Bu, kalaupun ada tujuan lain, nanti Pak Firhan akan menyampaikan pada Ibu."
Setelah mendengar penuturan Anggun, barulah Firhan dipersilakan masuk. Beberapa oleh-olehnya diletakkan di meja ruang tamu.
"Silakan duduk, Pak!" perintah Maryamah.
"Panggil Firhan saja, Bu. Bagaimana kondisi Ibu? Maaf, baru bisa menjenguk sekarang."
Anggun seperti biasa akan pergi ke dapur menyiapkan minuman untuk tamunya. Walaupun nanti tidak tahu apa yang dibicarakan Firhan dengan orang tuanya, Anggun pura-pura saja tidak tahu.
"Alhamdulillah sudah membaik, Pak." Ada rasa canggung Maryamah untuk memanggil Firhan saja. Dia merasa tidak sopan memanggil atasan putrinya dengan sebutan nama saja.
"Nak Firhan yang memaksa datang kemari, atau karena Anggun yang memintanya?" tanya Gian.
"Oh, ini murni kemauan saya, Pak. Oh ya, Bapak juga apa kabar? Semoga selalu sehat ya, Pak."
Firhan bingung harus bicara apalagi. Semakin ke sini, bukan seperti menjenguk atau bertemu calon mertuanya. Malah terkesan seperti sales yang menawarkan barang dagangan. Terkesan kaku dan agak aneh.
__ADS_1
Tidak lama, Anggun kembali membawa satu nampan berisi 2 cangkir kopi, 2 gelas teh, dan sepiring kue yang kebetulan sempat dibeli Anggun sebelum sampai di rumah.
"Silakan dicicipi, Pak!" ucap Anggun.
Hening sejenak karena Firhan sedang menikmati sepotong roti lalu meneguk kopinya yang kebetulan ada piring kecil di bawah cangkir tersebut. Dia mencoba tetap tenang untuk mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Kopinya sedap, Pak," puji Firhan pada sang penyeduh kopi, yaitu Anggun.
"Iya, Anggun memang pandai menyenangkan hati tamu. Kopi buatannya memang selalu sedap." Gian juga memuji putrinya.
Maryamah mencoba mencari tahu kebenaran apa yang membawa Firhan sampai datang ke rumahnya. Bukan hanya menjenguknya saja, kan? Pasti ada hal lainnya lagi.
"Nak Firhan yakin ke sini cuma mau jenguk ibu?" Perasaan seorang ibu tidak akan mudah dibohongi.
Anggun yang kebetulan duduk tidak jauh dari orang tuanya mencoba memberikan kode kepada Firhan. Dialah yang berhak mengatakan bahwa datang ke sini untuk meminta restu kepada orang tua Anggun.
"Ehm, sebenarnya kedatangan Firhan mendadak ke sini selain untuk menjenguk Ibu, memang ada hal lain yang ingin Firhan sampaikan."
Gian dan Maryamah mendengarkan dengan sangat baik tanpa mengomentari apa pun. Setidaknya yang mereka takutkan mengenai pekerjaan Anggun tidak akan terjadi apa-apa.
"Sebelumya Firhan sudah melamar Anggun, Pak, Bu. Namun, putri Ibu dan Bapak belum memberikan jawaban karena menunggu persetujuan orang tua."
Anggun tertunduk. Sebentar lagi ibunya pasti akan emosi saat tahu Anggun berbohong. Dugaannya salah saat suara Maryamah terdengar lembut saat membalas ucapan Firhan.
"Mengapa Nak Firhan ingin melamar Anggun? Bukankah Nak Firhan tahu kalau Anggun adalah seorang janda yang baru saja cerai?" tanya Maryamah.
Firhan mengangguk. "Karena saya pun duda, Bu. Jadi, status janda Anggun bukan masalah bagi saya."
Adem sekali mendengar percakapan mereka. Namun, Anggun tetap tertunduk. Dia sama sekali takut kalau orang tuanya akan marah.
Maryamah tidak tahu lagi harus berkata apa. Baru kemarin bercerai, apa iya sekarang harus menerima pria lain?
"Ehm, sebaiknya Nak Firhan bicara dulu dengan Bapak. Ibu mau bicara sebentar dengan Anggun, boleh?" Maryamah melirik Anggun. Tatapannya beradu sejenak, lalu Anggun tenggelam lagi dengan rasa takutnya.
__ADS_1
"Silakan, Bu!"
Maryamah menarik tangan Anggun. Dia membawanya menuju ke kamar. Bergegas Maryamah menutup pintu lalu mendiamkan putrinya.
"Ibu, kenapa diam? Anggun minta maaf jika kedatangan Pak Firhan membuat Ibu terkejut." Reaksi yang ditunjukkan Anggun sangatlah tidak bersemangat.
"Ibu hanya terkejut. Kenapa cepat sekali Pak Firhan melamarmu? Lalu, apa kamu setuju menerima lamarannya, Nduk?
Anggun mendongak, menatap ibunya dengan ribuan tanda tanya dari sorot matanya. Apakah ini pertanda bahwa kedua orang tuanya merestui Anggun menikah dengan Firhan?
"Anggun cuma bilang sama Pak Firhan, kalau orang tua Anggun setuju, maka tinggal Anggun yang akan memutuskan menerima lamaran itu atau menolaknya. Anggun butuh restu dari Ibu dan bapak. Kalau memang Anggun diberikan kesempatan bisa bersanding dengannya, maka Anggun akan terima lamaran itu."
Maryamah sebenarnya setuju saja. Namun, untuk menikah dalam jangka waktu yang dekat rasanya tidak mungkin. Harus menunggu sampai 2 bulan lagi. Setidaknya itu untuk menghindari ucapan buruk warga kampung yang kadang tidak tahu apa-apa, tetapi menjadi makhluk yang sok tahu segalanya.
"Ibu manut, Nduk. Asalkan kamu bahagia dengan Pak Firhan. Ibu merestuinya."
Jelas saja Maryamah merestui. Setelah mendapatkan mantu seorang montir yang tidak tahu diri, kini datang seorang atasan yang memiliki mobil bagus menurut Maryamah.
"Anggun juga tidak mau menikah seperti sebelumnya. Cukup KUA tanpa embel-embel resepsi pernikahan."
"Tentu, Nduk. Ayo, kita ke depan!" ajak Maryamah.
Wajah muram yang ditunjukkan Anggun saat keluar bersama ibunya membuat Firhan cemas. Dia merasa bahwa orang tua Anggun sama sekali tidak pernah setuju dengannya.
"Bagaimana, Bu? Bapak juga sudah bicara dengan Nak Firhan. Apakah Ibu setuju?"
Sebagai seorang ayah, Gian juga turut ambil bagian untuk menyetujui permintaan pria yang ada di hadapannya. Firhan merupakan sosok duda yang bertanggung jawab. Terlihat dari caranya menyetujui permintaan Anggun walaupun putrinya sama sekali belum memberikan lampu hijau.
"Biar Anggun saja yang jawab, Pak. Kita sebagai orang tua menurut saja apa kata anak."
Anggun semakin gugup. Seharusnya ini tidak terjadi, tetapi mau bagaimana lagi. Demi masa depannya yang cerah, tidak ada salahnya Anggun yang menjelaskan duduk perkaranya.
"Anggun terima lamaran Bapak yang belum terlalu resmi ini. Namun, lamaran resmi dan pernikahannya akan digelar 2 bulan kemudian. Jika Bapak setuju, maka aku pun siap. Jika Bapak menolak, tidak jadi masalah untukku."
__ADS_1
Waktu yang cukup bagi Firhan untuk mencari pekerjaan baru. Setidaknya sampai mereka menikah, Firhan juga harus segera menyiapkan rumah masa depan keluarganya.