ANGGUN

ANGGUN
Bab 58. Kekacauan


__ADS_3

Ternyata Kaluna sedang hamil. Dia pingsan akibat kelelahan setelah perjalanan jauh dari tempat tinggalnya ke kediaman Anggun. Bagaskara sangat senang menerima kabar ini.


"Pak Zayn, kalau memang Anda ingin pulang, lebih baik pulang saja. Aku akan di sini. Lagi pula Anggun pasti sendirian di rumah, kan?"


Bagaskara tidak enak hati sudah merepotkan Zayn. Terlebih saat pergi ke rumah sakit, Zayn lah yang mengemudikan mobilnya.


"Iya, Pak Bagas. Aku akan pulang. Anggun memang bersama dengan pak Firhan dan istrinya. Kurasa mereka juga pasti akan pulang malam ini."


"Bapak bisa bawa mobilku. Soal aku di sini, Pak Zayn jangan khawatir."


"Tidak, Pak. Aku bisa naik taksi saja. Sekali lagi selamat atas kehamilan Kaluna. Aku turut bahagia."


"Terima kasih, Pak Zayn. Salam buat Anggun. Oh ya, kalau besok Kaluna sudah diizinkan untuk pulang, kami akan langsung pulang."


Wajar kalau Bagaskara menyampaikan demikian. Apalagi ini bukanlah hari libur yang bisa meninggalkan pekerjaan kapan pun yang dia mau. Walaupun Bagaskara adalah owner dari perusahaan itu, tetapi dia juga ikut andil dalam urusan bisnisnya itu.


"Tentu, Pak. Jangan lupa berkabar pada kami."


Zayn segera pulang. Dia tidak ingin berlama-lama meninggalkan istrinya. Namun, saat Zayn ingin naik taksi, dia merasa sedang dibuntuti seseorang. Mungkin perasaannya saja sehingga Zayn tidak memedulikan lagi sekitarnya.


Sesampainya di rumah, memang tidak seorang pun yang mengikutinya. Di sana masih ada Firhan dan juga istrinya. Mereka sedang bercengkrama di ruang tamu.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga, Mas," ujar Anggun bahagia. "Kaluna bagaimana?"


"Dia baik-baik saja. Kamu jangan khawatir. Oh ya, Pak Firhan apa mau menginap di sini saja?" Zayn mencoba menawarkan. Hari sudah larut, tidak mungkin membiarkan tamunya berada di jalanan pada malam hari.


"Tidak perlu, Pak Zayn. Kami akan menginap di hotel saja. Terima kasih atas kebaikannya," balas Firhan.


Itu pilihan yang sangat baik. Terlebih tidak baik membiarkan Jihan tinggal di rumah yang sama dengan Anggun. Jangan sampai Jihan berulah lagi. Walaupun sudah meminta maaf, lebih baik mencegah daripada menimbulkan masalah baru.

__ADS_1


"Nggun, kami pamit pulang dulu, ya," ujar Jihan.


"Iya, Jihan. Hati-hati di jalan," balas Anggun.


Malam ini merupakan hari yang sangat melelahkan. Acara syukuran kehamilan Anggun dibarengi dengan permintaan maaf Jihan. Selanjutnya adalah kabar kehamilan Kaluna.


"Aku ikut bahagia mendengar kabar Luna hamil, Mas," ujar Anggun.


"Iya, Nggun. Aku juga. Kalau besok mereka belum pulang, kita bisa jenguk sebentar. Apa kamu mau?"


Tentu saja Anggun setuju. Kaluna sudah menjadi teman baiknya. Jadi, tidak ada alasan untuk menolak ajakan suaminya.


Keesokan paginya, Anggun memekik histeris. Bunga-bunga yang ada di halaman rumahnya mendadak hancur tidak tersisa.


"Ada apa, Nggun?" tanya Zayn yang baru saja keluar saat melihat istrinya berteriak.


"Mas, lihat siapa yang tega melakukan ini sama kita? Bukannya ini adalah masalah serius?"


"Kita cek CCTV saja, Nggun. Ayo," ajak Zayn.


Anggun mengekor di belakang suaminya. Ruangan CCTV memang tidak dibuat khusus, tetapi itu langsung terhubung dengan laptop Zayn di kamarnya. Selama tinggal di rumah ini, baru pertama kalinya mereka mendapatkan teror yang mengerikan seperti itu.


Setelah melihat dengan seksama, pada dini hari memang ada dua orang yang masuk. Mereka menggunakan topeng sehingga tidak satu pun dikenalinya. Mereka merusak semua bunga. Bahkan sengaja memecahkannya. Cuma, pada jam seperti itu mengapa tidak ada seorang pun yang mengetahuinya? Ini sungguh aneh sekali. Padahal tempat tinggal Anggun biasanya cukup aman sekali.


"Mas, kira-kira siapa yang tega melakukan itu? Apa ini ada hubungannya dengan Jihan? Atau mungkin saja ada orang yang nggak suka dengan hubungan kita. Mungkin juga Anita?" Wajar kalau Anggun mencurigai banyak orang.


"Jihan nggak mungkin, Sayang. Kalau Anita, untuk apa dia melakukan itu?" Zayn masih tidak percaya kalau mantan kekasihnya berani melakukan hal sekeji itu.


"Mungkin saja, Mas. Apalagi dia kan nggak bisa menerima hubungan kita. Lebih lagi kamu sudah memutuskan untuk menjauh darinya."

__ADS_1


"Kita akan lapor polisi. Apa kamu setuju, Nggun?"


"Laporkan saja, Mas. Aku nggak mau rumah kita disatroni lagi. Apa aku perlu tanya bibi? Aku khawatir kalau mereka datang lagi di siang hari saat kamu nggak di rumah. Aku dan bibi bisa apa, Mas? Lebih baik kamu juga mempekerjakan satu orang penjaga laki-laki di rumah ini. Selain sopir panggilan, Mas."


Anggun memang terkadang memakai sopir yang sengaja disewa saat Anggun memerlukannya saja. Jika tidak, sopir itu akan kembali lagi pada pekerjaannya. Lagi pula sopir yang dipekerjakan di rumahnya juga merupakan orang baik yang kenal dengan Zayn.


"Hemmm, hari ini kita ke rumah sakit dulu, Nggun. Pesan saja sama bibi untuk meminta tolong membereskan semua kekacauan ini," jelas Zayn.


Anggun segera menemui bibi yang saat ini berada di dapur. Dia sedang menyiapkan sarapan pagi untuk tuan rumahnya.


"Bi, semalam apakah mendengar ada kekacauan di luar?" tanya Anggun.


"Iya, Bu. Cuma bibi nggak berani keluar. Dua pria berotot yang merusak taman milik Ibu. Saya takut kalau mau berteriak. Apalagi Ibu dan bapak baru saja istirahat. Maafkan bibi ya, Bu."


Wajar kalau ART-nya berkata demikian. Dia tidak berani membangunkan tuan rumahnya lantaran baru saja beristirahat.


"Lain kali Bibi panggil saja tidak apa-apa. Aku dan mas Zayn pasti akan bangun. Setidaknya kita bisa mencegah tindakannya itu," tegas Anggun.


Bibi terlihat merasa bersalah sekali. Namun, dia juga ketakutan kalau sampai membangunkan semua orang rumah. Dia juga memikirkan keselamatan tuannya. Kalau sampai semalam mereka keluar, apa jadinya dengan dua pria itu yang tertangkap basah telah melakukan hal buruk?


"Iya, Bu. Bibi minta maaf, ya."


"Iya, Bi. Nggak apa-apa. Oh ya, hari ini aku dan mas Zayn mau pergi ke rumah sakit. Bibi minta dua orang atau lebih buat atasi kekacauan di taman, ya. Nanti aku akan minta orang lain untuk menanam ulang beberapa bunga di sana. Bibi bisa kan cari orang? Nanti bayarannya menyesuaikan saja," jelas Anggun.


"Iya, Bu. Bibi akan cari."


Sementara di tempat lain, seorang wanita tampak bahagia karena berhasil membuat tempat tinggal Zayn berantakan.


"Itu baru permulaan, Anggun Maharani. Mari kita lihat, siapa yang akan memenangkan pertarungan ini?" ujar wanita itu dengan bangganya.

__ADS_1



__ADS_2