ANGGUN

ANGGUN
Bab 12. Jodoh untuk Jihan


__ADS_3

Kesibukan pun dimulai. Mereka menyiapkan tumpeng kecil sebagai syarat memasuki rumah dan beberapa jenis bubur. Selain itu, Anggun sengaja menyiapkan makanan berkuah. Beberapa teman suaminya tidak menyukai makanan kering seperti tumpeng itu. Jadi, solusinya Anggun menyiapkan kuah rawon dengan empalnya.


Setelah Maghrib, Anggun dan semuanya sedang menunggu kedatangan tamu-tamu. Jihan sebenarnya tidak nyaman menggunakan pakaian Anggun. Walaupun pakaian itu bagus, tetap saja tidak senyaman pakaian miliknya sendiri.


"Huft, tahu gitu aku pulang dulu ke kost. Kalau kayak gini kan tidak nyaman. Apalagi pandangan ibunya Anggun kayak gak suka gitu," gumam Jihan.


Teman-teman Anggun sangat terkejut saat melihat keberadaan Firhan di rumahnya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin mereka tanyakan langsung. Tanpa ragu, beberapa orang akhirnya buka suara.


"Nggun, ini gak salah, kan? Ehm, maksudku, kamu yang ngundang kita, nih. Lah kok di sini ada Pak Firhan segala? Bagaimana ceritanya?" tanya Dedi, karyawan pabrik yang paling tinggi rasa ingin tahunya.


Anggun tersenyum. "Mas Firhan ini suamiku, Ded! Mau kenalan lagi?"


Sontak Dedi dan Johan tertawa mendengar penuturan rekan kerjanya.


"Seg ta, aku masih ngga ngerti, Nggun. Kan Pak Firhan udah resign. Lah kok bisa?" tanya Johan.


"Panjang ceritanya. Nanti kalian tanya sama Mas Firhan aja deh. Ayo, masuk! Mas, ajak Dedi dan Johan masuk ke dalam!" pinta Anggun pada suaminya.


Tak lama, teman kerja Firhan juga datang. Jika yang pertama lebih kocak bin humoris, lain halnya dengan teman suaminya.


"Malam Bu Anggun," sapa Pak Didit. Dia rekan kerja Firhan yang paling kalem kalau menurut ceritanya.


"Malam, Pak Didit! Ayo, masuk!" perintah Anggun.


"Tunggu Pak Anton dulu, Bu. Beliau masih memarkirkan mobilnya," balas Didit.


Semua tamu sudah berkumpul. Tidak banyak karena Anggun dan Firhan hanya mengundang perwakilan saja.


Doa-doa dibacakan, kemudian setelah selesai, Anggun dan keluarga menyiapkan hidangan yang sudah disiapkan. Seperti sebelumnya, Dedi dan Johan masih belum puas dengan teka-teki yang diberikan Anggun padanya.


"Pak Firhan!" Dedi mengangkat tangan. "Kok bisa Bapak menikah dengan Mbak Anggun? Konspirasi macam apa ini?"


"Yaelah, Ded, ini bukan kejahatan. Tapi, kebaikan Allah padaku. Lihat, aku resign kemudian menikah dengan atasan kalian, kan?" jawab Firhan.

__ADS_1


Masih belum bisa dimengerti. Kenyataannya Firhan memang atasan Anggun di kantor. Sementara Anggun dengan bagian produksi adalah atasannya. Karena beberapa orang juga melaporkan hasil kerjanya kepada Anggun untuk direkap lalu diberikan kepada atasannya.


Kecemburuan Jihan tiba-tiba bertambah saat tahu Anggun yang begitu disayang orang tuanya, kemudian suami, dan sekarang teman-temannya. Tidak hanya memuji kecerdasan Anggun dalam memilih suami, tetapi masakan yang dihidangkan pun tidak ada yang tidak enak. Semua enak walaupun dimasak menggunakan tangannya.


"Pak Firhan nggak rugi dapat Mbak Anggun!" seru Johan.


Didit dan Anton yang sedari tadi menikmati makanan itu pun tidak tahan untuk tidak berbicara. Pasalnya, Firhan sebagai teman baru selalu berbuat baik. Dia juga yang membuat Didit dan Anton yang sebenarnya berniat untuk resign karena tidak tahan lagi dengan bosnya. Mereka tetap bertahan karena Firhan yang menguatkan.


"Mbak Anggun juga beruntung dapat Pak Firhan. Iya, nggak, Pak?" tanya Didit pada Firhan.


"Kalian ini bicara apa? Semuanya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Kita tinggal menjalaninya," jawab Firhan tenang.


Benar juga. Garis takdir yang dimiliki Firhan, tidak akan semua orang bisa menjalankan dengan baik. Dia juga pernah berada di titik terendah saat kehilangan istrinya kala itu. Makanya, Anggun adalah oase kehidupannya yang baru. Dia tidak akan sampai hati untuk mengecewakan istrinya.


Acara pun berakhir begitu cepat. Mereka pamit pada pemilik rumah. Walaupun masih ingin di sana, tetapi karena besok harus bekerja.


"Pak, Bu, kami pamit. Terima kasih jamuannya. Oh ya, semoga pernikahan kalian langgeng, ya," ucap Pak Anton sebelum meninggalkan halaman rumah itu.


Satu-persatu akhirnya berpamitan. Tinggallah Jihan yang masih ada di sana. Ini memang sudah malam. Tidak baik membiarkan Jihan pulang sendirian.


"Jihan, menginaplah di sini!" pinta Anggun setelah membereskan piring-piring dan gelas di ruang tamu.


"Nak Jihan lebih baik pulang saja sekarang. Nggak perlu bantu Anggun. Biar ibu yang selesaikan," ucap Maryamah. Dia sebisa mungkin harus mengusir Jihan dari rumah putrinya.


Jihan ragu. Sebenarnya dia lelah, tetapi untuk pulang ke kostnya masih harus naik motor beberapa menit dari tempat Anggun.


"Anggun, aku istirahat dulu. Kalau Jihan mau menginap, biarkan saja. Ini sudah malam," pesan Firhan sebelum masuk ke kamarnya.


Kalaupun menginap, tidak sulit karena di atas masih ada kamar kosong. Sementara di bawah, orang tua Anggun tidur di sana.


"Iya, Mas. Ini aku masih tanya sama Jihan dulu. Mau ya nginep di sini? Mas Firhan juga nggak bisa anterin kamu pulang, kan?"


Maksud Anggun di sini, kalau Jihan tetap ingin pulang, Firhan tidak bisa mengiringinya untuk sampai di kost. Opsi yang paling baik, yaitu menginap.

__ADS_1


Saat Jihan memutuskan setuju, Maryamah bergegas masuk ke kamarnya kemudian menutup pintu dengan keras. Dia kesal. Naik putri ataupun menantunya sama-sama tidak bisa memahami hadirnya orang ketiga.


"Bu, ada apa?" tanya Gian.


Gian sedang merebahkan diri di kasur setelah menerima beberapa tamu anaknya. Dia masuk lebih dulu karena lelah seharian di perjalanan ditambah dengan acara yang barusan berakhir.


"Anggun dan Firhan itu keterlaluan, Pak. Masak mereka membiarkan Jihan menginap di sini? Mana mata wanita itu suka jelalatan lagi. Ibu ngga suka, Pak!"


Saat Maryamah mencurahkan segala kekesalannya pada sang suami, Anggun mengantarkan Jihan ke kamar yang tidak jauh dari kamarnya sendiri.


"Istirahatlah! Di dalam ada baju tidur. Kalau kamu mau, pakai saja. Maaf, aku sudah merepotkanmu hari ini," ucap Anggun sebelum masuk ke kamarnya sendiri.


"Aku yang makasih, Nggun."


Setelah Jihan menutup pintu, Anggun masuk ke kamar. Dia mendengar dengkuran halus dari suaminya menandakan bahwa pria itu sudah terlelap. Anggun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sejenak lalu mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.


Anggun naik ke ranjang dengan sangat hati-hati. Dia takut membangunkan suaminya yang sangat lelap dan menenangkan. Saat memandangi wajah suaminya secara intens, perlahan Firhan membuka matanya.


"Loh, Mas? Belum tidur?"


Bagaimana Firhan bisa tidur nyenyak jika aroma wangi sang istri menyeruak masuk ke hidungnya. Jelas kepekaannya sungguh tinggi saat tahu belahan jiwanya berada tepat di sampingnya.


"Kamu seperti alarm buatku, Nggun. Aroma wangimu saja bisa buat aku terbangun. Oh ya, Jihan jadi menginap di sini? Maaf, ya. Aku nggak bisa antar."


"Gak papa, Mas. Dia udah kuminta masuk ke kamar sebelah, kok. Oh ya, di kantor Mas ada teman yang belum nikah, gak?"


Firhan tidak tahu. Hanya beberapa saja yang dia tahu, tetapi mengapa Anggun menanyakan hal seperti itu?


"Untuk apa, Nggun?" Firhan meraih pinggang istrinya kemudian memeluknya dengan cukup erat.


"Carikan jodoh buat Jihan, Mas. Kasihan dia. Selama ini sudah baik sama aku, tetapi aku belum pernah sekali pun membalas kebaikannya."


Itu sangat tidak mudah sekali. Mencarikan jodoh untuk orang lain yang menurut kita cocok, belum tentu menurut orang lain. Firhan tidak bisa menyanggupi apa pun, tetapi dia akan berusaha untuk menuruti permintaan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2