ANGGUN

ANGGUN
Bab 56. Anggun Terkejut


__ADS_3

Ternyata mengurus semua persiapan tasyakuran kehamilan bersama bibi adalah hal yang paling menyenangkan. Bibi juga punya teman-teman yang bisa membantunya di saat harus menyiapkan makan besar seperti ini.


"Bi, semua persiapan sudah lengkap, ya? Nggak ada belanjaan yang perlu dibeli lagi?"


"Nggak ada, Bu. Ibu lebih baik istirahat saja. Biar bibi dan teman-teman yang menyelesaikan pekerjaan ini. Lagi pula acaranya kan masih nanti malam. Jadi, masih sempat untuk menyiapkan segalanya dengan baik."


"Terima kasih, Bi. Aku nggak tahu lagi harus seperti apa kalau nggak ada Bibi."


Nasi box dan makanan untuk menjamu tamu memang disiapkan sendiri. Sementara untuk snack box dan printilan khas syukuran kehamilan dipesan dari toko kue langganan Anggun.


Kedekatan Anggun dan Kaluna patut diacungi jempol. Salah satu adalah mantan istri Witha dan satunya lagi mantan kekasih. Malam ini dia juga mengundang Kaluna dan wanita itu sudah menyanggupi akan datang.


Anggun hanya mengundang Kaluna, tidak dengan Jihan. Bisa-bisa acara yang sudah disusun dengan baik ini bakalan hancur berantakan.


Zayn juga sudah menuruti permintaan Anggun. Dia akan bicara pada Anita agar mantan kekasihnya itu tidak berharap banyak.


"Nit, bisa kita bicara sebentar?" tanya Zayn saat jam makan siang sedang berlangsung.


"Ada apa, Zayn? Apa kamu juga akan mengarang cerita seperti wanita yang kutemui di supermarket tempo hari?"


"Itu bukan karangan, Nit. Aku memang sudah menikah dengannya. Kami akan segera memiliki seorang bayi. Jadi, aku mohon sama kamu agar tidak berharap lebih sama aku."


Anita terlihat berkaca-kaca. Dia kembali untuk menyembuhkan ibu sekaligus mengejar masa lalunya. Namun, sepertinya ucapan Anggun dan Zayn tidak ada apa-apanya dibandingkan keinginan Anita yang begitu tinggi.


"Zayn, ibuku sakit jantung. Dia sudah berjanji padaku kalau bisa sembuh akan menuruti semua keinginanku. Termasuk menikah denganmu. Kalau ibuku memintamu untuk menikahiku, apa kamu akan menolaknya? Apakah kamu tega menyakiti hati wanita penyakitan itu? Dia hanya tinggal menunggu dua pilihan, Zayn. Pergi untuk selamanya atau sembuh."


"Kamu ini ngomong apa, Nit? Ya nggak mungkin lah kalau aku nikah sama kamu. Aku sudah punya istri dan satu-satunya wanita yang paling kucintai sepanjang hidupku. Kamu jangan asal bicara!"


Sepertinya saran Anggun benar. Zayn harus menjauhi Anita. Wanita itu mungkin sudah mulai kehilangan akal sehatnya. Mungkin juga memiliki obsesi tinggi pada Zayn.


"Kamu pun demikian, Zayn. Kamulah satu-satunya pria yang ingin aku nikahi. Selama ini aku pergi dari kehidupanmu karena banyak yang harus aku urus, termasuk ibuku."


"Nit, ini pertemuan terakhir kita. Jangan harapkan lebih sama aku. Sebagai dokter yang menangani ibumu, aku berharap ibumu segera sembuh."


Zayn segera meninggalkan Anita yang saat ini terduduk lemas di lantai rumah sakit. Harapannya untuk mendapatkan pria sebaik Zayn pupus sudah. Zayn telah menikah dan tidak mungkin lagi bisa digapai.

__ADS_1


Sementara persiapan di rumah sudah hampir beres. Apalagi ini sudah menjelang sore dan Kaluna datang lebih awal. Dia membawa bingkisan untuk tuan rumah. Tentunya Kaluna tidak datang sendiri, melainkan bersama suaminya.


"Assalamualaikum, Anggun."


"Waalaikumsalam, Luna. Apa kabar?"


"Alhamdulillah, aku baik. Duh senangnya bisa ngadain syukuran kek gini."


"Mari silakan masuk," ujar Anggun.


"Terima kasih," jawab pasangan itu kompak.


"Nggak nyangka kita bisa ketemu lagi." Kaluna sangat senang.


"Kapan acarnya akan dimulai?" tanya Bagaskara.


"Setelah Magrib, Pak. Oh ya, sambil ngobrol dan nunggu mas Zayn pulang, kalian mau minum apa? Maaf ya, aku harus nawarin. Kalian kan habis perjalanan jauh."


"Air putih saja, Nggun. Kami lagi ngurangin minuman manis."


"Iya, dong. Masak aku terlihat bercanda seperti itu, sih?"


Anggun menggeleng. Dia pun segera mengambil nampan kecil kemudian mengisinya dengan air mineral botol kemasan 330ml beberapa biji. Tidak hanya itu, Anggun juga meletakkan beberapa kue basah dan kering sebagai suguhan.


"Ayo, silakan dinikmati," ujar Anggun.


"Terima kasih. Oh ya, kapan hari waktu bayi Jihan meninggal, kamu nggak ke sana, ya? Aku sebenarnya mau ngabarin kamu, tapi Mas Bagas nggak kasih izin."


"Iya, Nggun. Maaf, ya," sahut Bagaskara.


"Nggak apa-apa, Pak. Lagi pula aku memang sengaja tidak datang. Aku takut kalau Jihan akan salah paham padaku. Kalian juga sudah tahu kan kelakuannya seperti apa?"


Kaluna teringat teriakan dan tawa Jihan yang tidak biasa. Dia pasti setres berat kehilangan cahaya hidupnya. Terlebih itu adalah buah cintanya dengan Firhan, pria yang ternyata amat sangat dicintai Jihan.


"Aku nggak tega lihatnya, Nggun. Dia sesekali histeris dan terkadang ketawa tanpa sebab," ujar Kaluna menggambarkan kondisi Jihan kala itu.

__ADS_1


"Mungkin dia ... ah, entahlah. Lebih baik nggak usah bahas dia. Biarkan saja dengan kehidupannya yang sekarang."


Anggun tidak ingin tahu. Biarkan itu menjadi urusan keluarganya saja. Kalaupun Jihan mengalami hal yang membuatnya setres berkepanjangan, itu bukan urusannya lagi.


Tidak lama, Zayn akhirnya sampai juga di rumah. Setelah mengucapkan salam dan mengetahui kalau ada Bagaskara, Zayn segera masuk untuk menemui mereka sebentar.


"Wah, sudah datang rupanya. Bagaimana jalannya? Lancar atau ada kendala?" tanya Zayn.


"Lancar, Pak. Kami senang menjadi bagian dari acara yang luar biasa ini. Kami juga berharap segera menyusul Anggun untuk memiliki momongan," ujar Bagaskara.


"Tentu. Kami akan selalu mendoakan Pak Bagas dan Kaluna segera memiliki momongan. Aku pamit ke kamar dulu untuk mengganti pakaian. Silakan dilanjut."


"Terima kasih."


Anggun segera mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar. Di sana Zayn terlihat biasa saja. Seperti tidak ada masalah apa pun.


"Mas, kamu udah ngomong sama Anita, kan? Bagaimana tanggapannya?" Anggun mencoba setenang mungkin untuk tidak cemburu saat menyebut nama itu.


"Udah. Mas minta supaya dia jauhi aku dan aku juga udah jelasin kalau kita sudah menikah."


"Terima kasih, Mas. Aku mencintaimu," ujar Anggun kemudian memeluk suaminya.


"Nggun, aku belum mandi loh. Badanku berkeringat."


"Mas, sebentar saja," pinta Anggun.


Setelah semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, waktu yang ditunggu pun tiba. Para tamu undangan sudah banyak yang datang. Begitu juga dengan tuan rumah, yaitu Anggun dan Zayn. Terlihat cantik dan ganteng dengan pakaian senada.


Doa-doa dipanjatkan. Selain itu, mereka juga mendoakan kelancaran kehamilan sampai proses persalinan. Itu tidak berlangsung lama. Setelah itu, mereka menikmati hidangan yang sudah disediakan.


"Suasananya sakral sekali ya, Nggun. Rasanya aku ingin segera hamil. Aku masih berjuang untuk mendapatkan garis dua. Doakan aku, ya?" ujar Kaluna.


"Tentu, Luna. Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu."


Saat semua orang sedang menikmati hidangan, tiba-tiba Anggun dikejutkan dengan kedatangan seorang perempuan. Anggun benar-benar terkejut karena dia juga tidak mengharapkan kehadiran wanita itu.

__ADS_1



__ADS_2