ANGGUN

ANGGUN
Bab 51. Tatapan Berbeda


__ADS_3

Sepanjang jalan kembali ke kota, Martha terus saja mengomel pada Witha. Dia merasa direndahkan di hadapan Anggun yang menurutnya tidak level dengan keluarganya.


"Ma, kenapa Mama terus saja bersikap seperti itu?" tanya Witha yang fokus mengemudikan mobilnya.


"Mama tidak suka karena Anggun sombong."


Satu kalimat itu membuat Witha terkejut. Itu dikarenakan mamanya belum kenal dekat dengan Anggun. Dia tidak seperti yang mamanya pikirkan.


"Mama keterlaluan! Aku tidak akan menikah lagi jika bukan dengan Anggun. Ingat itu, Ma!" ujar Witha yakin.


"Apa katamu? Kamu pikir wanita di dunia ini cuma Anggun saja? Banyak wanita yang bisa kamu pilih. Apalagi kamu memiliki segalanya. Jangan bicara seperti itu! Sampai kapan pun mama nggak akan restui kamu sama Anggun."


"Terserah Mama. Cintaku pada Anggun akan tetap ada sampai kapan pun. Kami tidak akan pernah terpisahkan lagi, Ma."


Gara-gara pertengkaran itu, mobil yang dikemudikan Witha oleng dan menabrak pembatas jalan. Beruntung itu kecelakaan tunggal, tetapi bagaimanapun Witha dan Martha dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang kebetulan berada dekat lokasi kecelakaan. Mereka memanggil ambulans dan beberapa polisi di tempat kejadian.


Saat berita itu diturunkan, kebetulan Zayn sedang menonton live di ponselnya. Dia ingat mobil yang dikemudikan Witha.


"Zayn, ada apa?" tanya Anggun saat melihat suaminya terpaku dengan berita di ponselnya.


"Nggun, ini seperti mobil yang dikemudikan Witha. Dia mengalami kecelakaan," ujar Zayn.


"Apa? Witha kecelakaan? Di mana? Kapan?"


Terlihat raut kecemasan di wajah Anggun. Tentu saja itu bisa dirasakan Zayn karena baru kali ini reaksi Anggun terlihat natural dan tidak dibuat-buat.


"Kamu cemas sekali, Sayang. Kenapa? Kamu masih cinta sama Witha?"


"A-aku? Enggak, Zayn. Kamu salah paham. Kamu tahu kan kalau Witha itu baru dari rumah kita untuk melayat bapak. Jadi, wajar kalau aku ketakutan bila terjadi sesuatu padanya. Apakah kita bisa menyusul ke rumah sakit sekarang?"


Zayn tidak salah lagi. Wajah Anggun menyiratkan kalau dia masih mencintai mantan kekasihnya itu. Walaupun tanpa penjelasan, Zayn bisa merasakannya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, apakah ini hanya kecemasanku belaka atau memang kamu masih mencintainya, Nggun?" gumam Zayn yang kemudian beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Anggun terdiam. Dia mencoba mencerna setiap ucapan Zayn barusan. Apa benar dia masih cinta dengan Witha setelah apa yang terjadi selama ini? Kalau ditilik ke belakang, harusnya Anggun lebih khawatir pada Firhan. Apalagi pria itu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Pria yang mampu membuat Anggun tertawa di setiap hembusan napasnya. Mengapa Zayn malah menuduhnya memiliki perasaan pada Witha?


"Nggak! Ini bukan perasaan cinta, tetapi karena aku peduli dengan Witha. Bagaimanapun dia adalah tamuku hari ini. Zayn salah paham. Ini tidak boleh terjadi," gumam Anggun sambil menunggu Zayn keluar dari kamar mandi.


"Sa–yang," panggil Anggun terbata pada Zayn.


"Ya?" Zayn memandang ke arahnya. "Apa tadi? Aku kurang fokus."


"Sayang, kamu salah paham padaku. Aku tidak memiliki perasaan apa pun pada Witha. Tolong jangan tuduh aku seperti itu. Kumohon," ujar Anggun merajuk.


"Bagaimana aku bisa percaya kalau wajahmu menunjukkan hal lain, Nggun. Butuh waktu dan bukti untuk meyakinkan aku bahwa kamu memang benar-benar tidak menyukainya lagi."


"Aku harus apa, Zayn? Apakah aku harus bersimpuh di hadapanmu dan meyakinkan kalau kami tidak memiliki hubungan apa-apa?"


"Mungkin saja." Zayn segera keluar menyiapkan mobil untuk menuju ke rumah sakit. Hari ini dia memang tidak bekerja karena pihak rumah sakit sudah mengizinkan Zayn yang sedang berduka.


Tidak lama, Kaluna menghubungi Anggun. Dia pun segera mengangkat panggilan dari Kaluna.


"Assalamualaikum, Lun. Iya, aku barusan dapat kabar dari Mas Zayn dari live di ponselnya. Kamu di mana sekarang?" tanya Anggun.


"Aku baru mau masuk ke jalan menuju rumah, Nggun. Aku pasti gak bisa datang malam ini. Apalagi besok pagi kan mas Bagas harus meeting. Aku akan coba sampaikan padanya mengenai kabar ini."


"Iya, Lun. Terima kasih sudah peduli sama Witha. Apalagi kamu adalah mantan istrinya."


"Iya, Nggun. Sama-sama. Kabari saja kondisi Witha padaku," ujar Kaluna sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


Setelah itu, Anggun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas yang dibawanya saat ini. Dia pun menoleh ke arah Zayn yang seolah tidak menganggap dirinya ada.


"Zayn, Sayang. Tolong berhentilah mendiamkan aku seperti ini. Jujur, hatiku rasanya sakit sekali saat suami sendiri menuduhku macam-macam. Demi apa pun di muka bumi ini, aku sudah tidak memiliki perasaan pada Witha. Ini hanya sebatas peduli karena kemanusiaan, Sayang. Nggak lebih dari itu. Kamu percaya padaku, kan?"

__ADS_1


Ternyata kesalahpahaman itu masih berlangsung sepanjang jalan menuju rumah sakit. Ternyata tidak mudah meyakinkan Zayn kalau dirinya benar-benar tidak memiliki perasaan pada Witha.


"Aku percaya padamu, tapi aku butuh pembuktian."


"Katakan aku harus apa? Tolong jangan buat aku semakin kepikiran seperti ini, Sayang. Percayalah! Tidak ada yang perlu kubuktikan lagi. Seharusnya kamu juga tahu kalau saat ini aku sedang hamil anakmu. Kalau aku masih mencintai Witha, seharusnya aku hamil dengannya. Apa itu belum cukup bukti bahwa aku menerimamu seutuhnya?"


Sebenarnya ucapan Anggun benar. Semesta malah menyatukan mereka dalam bentuk pernikahan dan sebentar lagi akan menjadi orang tua. Kecemburuan Zayn pada Anggun sangatlah tidak masuk akal. Terlebih Anggun selalu sibuk di rumah dan sesekali keluar rumah hanya untuk berbelanja.


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke IGD. Menurut orang-orang yang membawa mereka, yang paling parah adalah Martha. Dia sepertinya mendapatkan benturan yang luar biasa akibat kecelakaan itu.


Beruntung Zayn adalah seorang dokter yang dikenal baik oleh rumah sakit tersebut. Sehingga dia segera mendapatkan kabar bahwa Witha baik-baik saja. Namun, kalau mereka ingin melihat kondisi Witha harus masuk ke ruang IGD. Kemungkinan besar baru esok hari dipindahkan ke ruang rawat.


"Witha baik-baik saja, Nggun. Apa kamu mau melihatnya?"


"Aku mau, tetapi harus masuk bersamamu. Setidaknya agar kamu tidak salah paham lagi padaku."


"Baiklah. Ayo!"


Witha masih menahan kesakitan saat Anggun dan Zayn masuk. Saat tahu orang yang dicintainya datang, Witha mencoba menguatkan diri.


"Kenapa bisa kecelakaan?" tanya Anggun.


"Aku bertengkar dengan mama, Nggun. Oh ya, bagaimana kabar mama? Apa dia baik-baik saja?" Witha cemas.


"Dokter masih melakukan pemeriksaan padanya. Agak serius, cuma aku belum tahu jelasnya seperti apa," jawab Zayn.


"Kenapa harus bertengkar? Tidak bisakah kalian lebih hati-hati lagi dalam mengemudikan mobil? Apalagi ini malam hari, Witha. Mengapa kamu ceroboh sekali?" ujar Anggun yang terlihat kesal dengan sikap Witha pada mamanya.


"Karena mama terus menyudutkanmu dan aku tidak terima."


Sontak hal itu membuat Anggun terkejut. Dia melihat Zayn dan tatapan suaminya itu sungguh berbeda.

__ADS_1



__ADS_2