
Berniat kabur di pagi hari, malah Anggun bangun terlambat kali ini. Kepalanya tiba-tiba pusing sehingga membuatnya tidak bisa berdiri sendiri. Dia mencoba meminta bantuan housekeeping untuk membelikannya minyak angin dan beberapa obat pereda sakit kepala.
Setelah sarapan pagi di antar ke kamarnya, housekeeping yang diminta tolong pun telah kembali.
"Ini, Bu. Semua obatnya ada di dalam."
Anggun memeriksa isinya. Masih ada kembalian yang lumayan karena dia memberikan uang ratusan ribu 2 lembar.
"Ini kembaliannya buatmu saja. Terima kasih sudah membantuku."
"Nggak, Bu. Terima kasih."
"Tolong, jangan tolak. Sama mau minta tolong juga, kalau ada tamu atau siapa pun yang mencari saya, sampaikan kalau saya tidak ingin diganggu," ujar Anggun.
Housekeeping tersebut menerimanya. Dia langsung keluar, tetapi baru saja keluar. Seorang pria sudah berada di hadapannya.
"Bu Anggun ada?" tanya pria itu.
"Ada, Pak. Cuma, saya minta maaf. Beliau tidak bisa diganggu sekarang."
"Loh, kenapa?" tanya pria itu lagi.
"Beliau sedang sakit, Pak. Jadi, lebih baik Bapak pergi saja. Saya jadi nggak enak kalau tidak menyampaikan pesan beliau," ujar housekeeping.
Pria itu lantas menerobos masuk tanpa memedulikan larangan housekeeping. Anggun yang baru saja turun dari ranjang kemudian berniat untuk sarapan menjadi terkejut.
"Witha?"
"Kamu sakit? Maaf, aku langsung menerobos masuk. Housekeeping sebenarnya sudah memperingatkan aku agar tidak masuk. Aku minta maaf."
"Sorry, aku baik-baik saja, kok. Lebih baik kamu pulang saja. Nggak baik kamu berada di sini, sementara istrimu ada di rumah." Anggun sengaja mengusir Witha agar pria itu pergi.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu seharian ini. Aku sudah minta izin sama Kaluna. Kamu jangan khawatir," ujar Witha.
"Tetap saja nggak baik pria dan wanita berada di dalam kamar, berduaan. Lebih baik kamu keluar sekarang. Kumohon."
Witha sebenarnya ingin menolong Anggun, tetapi ditepis oleh wanita itu. Dia malah mendorong Witha supaya keluar dari kamar itu.
"Nggun, ada hal serius yang ingin kubicarakan denganmu. Tolong, beri aku kesempatan."
"Kesempatan apa? Aku sedang tidak mau diganggu. Tolong pergilah!"
"Setidaknya dengarkan ucapanku! Kaluna sudah menyetujui hubungan kita."
Anggun tertegun. Witha pasti sudah tidak waras sampai mengatakan hal seperti itu.
"Apa maksudmu? Kita nggak ada hubungan apa pun. Jadi, tolong jangan halusinasi berlebihan!"
"Nggak, bukan itu. Kaluna setuju kalau aku akan menikahimu."
Anggun mendorong Witha sampai keluar kamar lalu menguncinya. Dia terduduk lemas di balik pintu dengan tangisannya.
"Aku nggak seburuk itu, Witha. Aku nggak mungkin jadi orang ketiga dalam pernikahanmu. Kamu gila karena ingin memiliki aku. Maaf, aku nggak bisa!"
Tidak ada cara lain yang Witha lakukan selain itu. Kaluna memang benar karena mereka terikat secara bisnis. Namun, hati Witha sudah terikat dengan Anggun. Daripada memutuskan pulang, Witha memilih duduk di restoran hotel. Mungkin saja Anggun akan turun lalu makan di sana.
Sementara itu, Firhan bersiap untuk pergi ke kantor. Hari ini tidak ada pertemuan dengan Bagaskara, Witha, atau siapa pun. Sejak kejadian semalam, pikiran Firhan terus tertuju pada Anggun. Bagaimana kabarnya pagi ini? Apa dia sudah makan? Atau apa pun yang dilakukan Anggun hari ini, Firhan rasanya ingin tahu.
"Mas, kamu sarapannya yang bener dong. Aku capek-capek masak biar kamu bisa sarapan. Itu kuahnya dihabiskan!" ujar Jihan.
Pagi ini Jihan sengaja menyiapkan soto ayam. Sebenarnya Firhan memang tidak terlalu suka, tetapi itu yang lebih gampang. Jihan tinggal masukkan ayam, direbus, kasih bumbu, diambil ayamnya lalu digoreng setengah garing. Bumbunya pun pakai yang instan. Definisi istri sibuk. Setelah itu, dia bikin sambal kecap. Seenggaknya bukan sambalnya saja yang pedas, kehidupannya pun terancam akan kepedasan yang ditimbulkan Anggun sebentar lagi.
"Kalau kamu terus ngoceh pagi-pagi, bagaimana aku bisa mengunyah makanan? Besok-besok nggak perlulah buat makanan seperti ini. Buatkan dadar telor pedas. Itu aja cukup."
__ADS_1
Jihan yang malas. Moodnya kan masak sesuka hati. Mau makan, ya silakan. Tidak mau, terserah.
Firhan menyisakan kuahnya saja. Dia pun segera minum segelas air, lalu setengah cangkir kopi.
"Aku pergi dulu," pamit Firhan.
"Mas nggak mampir ke tempat Anggun, kan?"
"Jihan, sudah kukatakan kalau aku mau ke kantor. Kalau kamu tidak percaya, terserah saja. Lagi pula Anggun juga pasti sudah pulang. Kamu lebih lama mengenalnya, tetapi sampai saat ini pun kamu nggak paham sikapnya. Pantas saja persahabatan kalian bubar!"
"Aku nggak percaya! Semalam Mas janjian, kan? Ngaku aja deh!"
"Terserah!"
Firhan memang sebenarnya ingin ke sana dari semalam. Namun, dia tidak mau menghancurkan Anggun karena kedatangannya pasti akan dibuntuti oleh Jihan. Biarkan saja Witha yang akan ke sana. Nanti saat bertemu dengannya, Firhan bisa bertanya. Setidaknya meminimalisir keributan dengan Jihan.
Benar dugaan Firhan, Jihan mengikutinya dengan menggunakan taksi. Dia yang saat ini berada di dalam mobil pun merasa geleng-geleng kepala.
"Seburuk itu penilaianmu pada Anggun, Jihan. Padahal dia sudah rela melepaskanku demi dirimu, tetapi kamu sama sekali tidak pernah percaya padaku," gumam Firhan sambil terus mengemudikan mobilnya menuju ke kantor.
Saat Firhan sudah sampai di tempat parkir mobil, Jihan pun kembali. Dia masih menggunakan taksi yang sama karena menggunakan taksi online. Tidak ada taksi yang masuk ke kompleks perumahannya, kecuali pesan.
Sementara di sebuah kamar hotel, Anggun baru saja sarapan pagi. Dia pun meminum obat yang dibelinya tadi. Setelah itu, dia akan beristirahat sejenak sampai sakitnya menghilang. Kalau tidak siang ini, kemungkinan besok pagi Anggun akan check out dari hotel.
"Ah, semoga para pria itu tidak ada di sini. Kepalaku semakin pusing saja. Sementara Bagaskara, mengapa dia memperlakukan aku seperti ini? Atau dia sudah tahu semuanya tentang aku? Sebenarnya apa tujuan Bagaskara?"
Anggun memikirkannya sampai tertidur karena pengaruh obat yang diminumnya. Witha yang sedari tadi menunggu di restoran sudah mulai lelah. Dia memutuskan untuk pergi ke kantor kemudian mengurus beberapa pekerjaannya. Jangan sampai keberadaannya diketahui oleh Kaluna sehingga membuat rumit lagi hubungan keduanya.
Kaluna saat ini berada di kantor. Saat tahu suaminya tidak berada di tempat, dia pun siap menunggu kapan saja kedatangannya. Dia ingin menagih janji Witha untuk pergi ke rumah sakit.
"Kamu pasti sedang pergi ke tempat wanita itu kan, mas? Sebenarnya apa yang kamu lihat darinya? Mama dan papamu saja tidak menyetujui hubungan kalian? Apa yang akan terjadi kalau aku benar-benar punya madu? Apa aku sanggup menjalani pernikahan ini? Aku tidak ingin berpisah darimu, mas. Hanya saja, tolong lihat aku sekali saja. Aku mencintaimu, mas. Sampai kapan pun aku cinta!" ungkap Kaluna dengan suara lirih dan mata yang berkaca-kaca. Dia ingin menangis, tetapi tidak sanggup. Tak seharusnya menangisi hubungan seperti ini. Kaluna harus kuat dan berjuang untuk mendapatkan hati suaminya.
__ADS_1