
Beberapa jam sebelumnya. Anggun dibekap oleh seseorang yang dikenalnya, yaitu Witha. Saat tahu mantan kekasihnya berada di sebuah restoran, Witha mencoba memastikan bahwa apa yang dilihatnya benar.
Saat ini Witha sedang berlibur seorang diri ke sebuah vila milik keluarganya. Setelah mendapatkan kesempatan bagus, Witha seolah menculik Anggun hingga wanita itu merasa kesal padanya.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Anggun.
Tidak hanya menculiknya dari toilet restoran, tetapi Witha juga membawanya pergi agak jauh agar keduanya bisa berbincang dengan tenang.
"Aku merindukanmu, Anggun. Nggak ada wanita yang sanggup meluluhkan hatiku selain kamu. Tolong tenanglah! Kita bicara sebentar. Setelah itu, aku akan mengembalikanmu ke vila."
Anggun cemas. Dia pergi tidak membawa ponselnya. Bagaimana bisa dia mengabari suaminya kalau sudah seperti ini? Pasti Firhan sangat cemas sekarang.
"Witha, kamu sudah menikah. Kamu yang meninggalkan aku. Harusnya kamu tidak datang untuk menganggu pernikahanku!"
Dari jauh Witha melihat seorang pria berwajah tampan yang bersama Anggun. Dia yakin kalau itu suaminya. Memang terlihat jelas kalau keduanya diliputi kebahagiaan, tetapi Witha sendiri tersiksa di dalam pernikahannya.
"Aku tidak bahagia dengan Kaluna, Nggun. Pernikahan kami hanyalah pernikahan bisnis. Bukan murni membawa cinta."
Saat Witha berniat menggenggam tangan Anggun, dia menepisnya langsung.
"Maaf, aku sudah bersuami!" tegas Anggun.
Witha menarik mundur tangannya, memasukkan ke saku celana, lalu menatap Anggun dengan sangat intens.
"Pernikahan kita nggak akan pernah bahagia, Nggun. Maksudku kamu dan aku. Jauh di lubuk hatimu yang paling dalam, kamu masih memiliki cinta kepadaku, bukan? Sama halnya denganku. Aku masih mencintaimu seperti dulu. Jadi, sekuat apa pun Kaluna mencoba meruntuhkan cintaku, itu tidak akan pernah bisa terjadi."
"Pulangkan aku ke vila! Sekarang!" pinta Anggun.
__ADS_1
Setelah menurunkan Anggun di depan gerbang vila, Witha meninggalkannya begitu saja. Sampai sebuah kejadian buruk menimpa Anggun dan Witha sama sekali tidak tahu.
Anggun berada di sebuah bus yang tidak menuju ke rumahnya maupun keluarganya. Dia ingin menenangkan dirinya sejenak baru mengambil keputusan. Walaupun dia harus meninggalkan pekerjaannya untuk beberapa hari ke depan, dia tidak peduli.
Beberapa kali ponselnya berdering. Panggilan dari suaminya, Firhan. Buru-buru Anggun menonaktifkan ponselnya sebelum panggilan lain masuk. Dimasukkan kembali ponselnya ke tas kecil yang dibawa dari vila. Entah, baju atau apa pun mungkin ada yang ketinggalan di vila, Anggun sudah tidak peduli lagi.
Ingatannya kembali pada Jihan dan Firhan yang keluar dari kamar secara bersamaan. Seperti sepasang kekasih yang ketahuan oleh istri sah suaminya. Apalagi kamar itu dikunci dari dalam. Ah, ya, dikunci.
"Mengapa kalian tega melakukan itu padaku? Apakah ini rencana liburan kalian yang mengejutkan aku? Harusnya aku menolak ajakan Mas Firhan kalau nyatanya ingin berduaan di belakangku," gumam Anggun.
"Mbak, mau ke mana?" tanya kondektur bus.
"Kota S, Pak." Anggun memberikan satu lembar uang seratus ribu.
Hanya kembali beberapa lembar saja karena memang bus kelas ekonomi tidak terlalu mahal walaupun keluar kota.
Sialnya semua bukti memberatkan untuk Firhan. Saat koper dan beberapa barangnya masuk, di gantungan baju terdapat satu jaket kesayangan istrinya. Diambilnya jaket itu kemudian dihirup dalam-dalam wanginya yang masih tertinggal di sana.
"Kamu salah paham, Sayang," gumam Firhan.
Saat keluar vila, rupanya Jihan sudah menunggunya di dekat mobil. Seperti tidak terjadi sesuatu, wanita itu tersenyum memandangnya.
"Kita pulang sekarang, Mas?" tanya Jihan.
Firhan sama sekali tidak ingin menanggapinya. Dia terus memasukkan koper kemudian disusul oleh Jihan. Bahkan Firhan pun tidak peduli dengan Jihan yang langsung masuk ke mobil dan duduk di depan.
"Mas, jangan diam saja! Aku juga manusia," ucap Jihan.
__ADS_1
Firhan tetap diam. Dia tidak menanggapi apa pun ucapannya. Sepanjang jalan kembali, Jihan terus memaksanya. Namun, Firhan tetap tidak bergeming. Pikirannya menerawang jauh pada kondisi Anggun sekarang.
"Anggun, di mana kamu? Jangan buat pernikahan kita hancur seperti ini? Ini hanyalah sebuah kesalahpahaman saja, Sayang. Tolong dengarkan penjelasanku!" sesal Firhan dalam hati.
Setelah menurunkan Jihan di depan kostnya, Firhan tidak turun atau mampir ke sana. Dia lebih memilih pulang ke rumah lalu mencari keberadaan Anggun.
Sayang, ponsel Anggun tetap tidak aktif saat Firhan mencobanya lagi. Hampir saja Firhan kehilangan kendali, tetapi dia langsung menangis sejadinya. Hanya kesalahpahaman yang rumit ini membuat Anggun sama sekali tidak mendengarkannya.
"Mungkinkah dia pulang ke rumah orang tuanya? Apa yang akan aku katakan pada mereka? Haruskah mengatakan bahwa istriku memergoki aku bersama wanita lain di dalam kamar? Padahal itu bukanlah kebenaran yang sesungguhnya. Bagaimana kalau mereka juga menuduhku berselingkuh? Ah, pusing!" Firhan menyugar rambutnya dengan kasar.
Tidak hanya itu. Pikiran Firhan juga melayang pada ucapan Jihan yang mengatakan bahwa Anggun adalah wanita mandul. Sepertinya ada yang janggal dengan semua ucapan wanita itu.
"Sejak kapan Jihan memiliki rencana buruk ini? Apa sebenarnya yang diperbuat Jihan pada Anggun? Oh, ya ampun, bahkan sahabat dekatnya sudah menyakiti istriku terlalu jauh. Bagaimana kalau Anggun meminta bercerai padaku? Sekuat tenaga aku berusaha, dia pasti akan lelah dan menyerah."
Sementara di tempat lain, Anggun baru saja turun dari bus. Hari sudah larut malam sehingga Anggun memutuskan untuk mencari hotel terdekat. Dia mencoba mencari hotel yang tidak mahal untuk ditinggali selama beberapa hari ke depan.
Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Anggun masuk dengan gontai. Setelah mengunci pintu, dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang lalu memejamkan mata sejenak.
"Apa benar kalau aku mandul? Lalu, mengapa Jihan sangat yakin jika aku seperti itu? Apa dia tahu sesuatu yang sama sekali tidak aku ketahui?"
Anggun bingung. Hubungannya dengan Firhan tidak akan seperti dulu setelah apa yang diketahuinya saat ini. Kalaupun memilih bercerai, Anggun akan menjanda sebanyak dua kali. Itu artinya dia gagal berumah tangga. Setelah itu, orang-orang pasti akan mengucilkan karena semua kegagalannya.
Anggun membuka mata. Dia berniat untuk masuk ke kamar mandi sebentar. Saat tangannya berniat menghidupkan ponsel, Anggun ragu. Tasnya jatuh berantakan lalu sebuah botol kecil berisi vitamin pemberian Jihan beberapa waktu lalu.
"Kalau kau ingin cepat hamil, jangan lupa konsumsi vitamin ini pasca berhubungan intim," ucap Jihan kala itu. "Ini obat penyubur kandungan," lanjut Jihan.
Netra Anggun berair, membanjiri pipinya. Anggun harus pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan diri serta obat pemberian Jihan kala itu.
__ADS_1
"Apa ini memang rencanamu, Jihan? Jahat sekali kamu!"