ANGGUN

ANGGUN
Bab 53. Pelukan Wanita


__ADS_3

Rombongan Kaluna sudah sampai di rumah sakit. Namun, tidak satu pun dari mereka yang melihat Anggun. Padahal Kaluna yakin kalau sepakat menunggu di depan kamar rawat mamanya Witha.


"Kamu cari siapa, Sayang?" tanya Bagaskara.


"Anggun, Mas. Seharusnya dia ada di sini."


"Tanyakan saja di mana dia berada sekarang. Mungkin juga dia memiliki urusan lain."


"Kurasa dia sadar diri untuk tidak menemui mantan suaminya," sahut Jihan.


"Anggun bukan orang yang seperti itu, Jihan. Ini rumah sakit. Jadi, tolong jaga bicaramu!" tegur Kaluna.


"Jangan bertengkar! Lebih baik kita langsung masuk ke ruang rawat Witha," ajak Bagaskara.


Sementara Anggun sendiri memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Dia tidak akan lagi berbuat baik pada Witha maupun mamanya. Dia sudah dipandang rendah oleh wanita yang dipanggilnya tante itu.


"Lebih baik aku ke rumah sakit sekarang. Aku akan kontrol kehamilan. Walaupun masih beberapa hari lagi, tidak ada salahnya kalau aku ke sana."


Sesampainya di rumah sakit, Anggun segera mengambil nomor antrean. Walaupun beberapa orang sudah tahu kalau Anggun adalah istri dokter Zayn, tetapi Anggun sendiri tidak mau diistimewakan. Dia tetap mengambil nomor antrean sesuai urutan.


Sambil menunggu giliran, Anggun melihat ke segala arah. Siapa tahu menemukan keberadaan suaminya yang baru saja keluar dari ruang operasi atau ruang kerjanya.


Saat gilirannya tiba, ternyata Anggun tidak melihat keberadaan Zayn. Menurut beberapa kenalan Anggun di rumah sakit, dokter Zayn sedang melakukan operasi sampai beberapa jam ke depan.


"Selamat pagi, Bu Anggun. Tumben datang lebih cepat dari jadwal?"


"Tidak apa-apa, Dokter. Saya hanya menyempatkan diri."


"Ah, iya. Tidak masalah. Apa dokter Zayn tahu kalau Anda datang lebih awal?"


"Nggak, Dokter. Apakah ini akan menjadi masalah?"


Dokter yang menangani Anggun memang sangat dekat dengan Zayn. Namun, bukan berarti dia melarang Anggun untuk kontrol tanpa ditemani suaminya.


Sementara di tempat lain, Witha sedang terbaring lemah. Padahal pagi ini dia berharap bisa bertemu dengan Anggun, tetapi malah rombongan mantan istrinya yang datang.


"Bagaimana kabarmu, Witha?" tanya Kaluna.


"Aku sudah lebih baik. Kalian tidak melihat Anggun di depan?" tanya Witha.

__ADS_1


"Tidak ada. Sebenarnya aku sudah janjian sama dia. Kurasa dia tidak datang. Dia juga tidak mengabari aku alasannya tidak datang," ujar Kaluna.


"Bagaimana bisa kecelakaan, Pak Witha?" tanya Firhan.


"Ceritanya panjang, Pak. Ini hanyalah kecelakaan tunggal. Mamaku juga ada di kamar sebelah. Aku memang meminta dokter untuk tinggal di kamar terpisah. Kami bertengkar," ujar Witha.


"Pasti gara-gara Anggun," celetuk Jihan.


Firhan dan Kaluna lantas menatap kesal pada Jihan. Seharusnya wanita toxic itu tidak perlu diajak karena selalu membuat rusuh di mana pun berada.


"Bu Jihan yang terhormat, tolong dijaga mulutnya, ya! Kalaupun Mas Witha bertengkar dengan tante Martha karena Anggun itu wajar. Anggun memang baik kepada semua orang. Dia bahkan tidak memandang Anda sebagai wanita yang sudah merebut suaminya," balas Kaluna sengit.


"Sudah cukup. Tolong jangan bertengkar di kamarku!" ujar Witha yang merasa pusing.


"Jihan, lebih baik kita keluar," ajak Firhan.


"Nggak mau! Biar Kaluna saja yang keluar," tolak Jihan.


"Maaf, Pak Witha," ujar Firhan malu.


Mereka pun akhirnya bisa bersikap baik tanpa harus bertengkar lagi. Witha juga menceritakan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Beruntung dia masih diberikan kesempatan untuk hidup seperti ini.


Sementara Anggun yang baru saja keluar dari klinik dokter kandungan, dia dikejutkan oleh suaminya yang sedang bersama wanita lain. Anggun hapal betul kalau itu adalah Zayn.


"Siapa wanita yang bersama Zayn itu? Kenapa terlihat sekali kalau dia menangis?" gumam Anggun.


Hal yang paling mengejutkan lagi kalau wanita itu tiba-tiba memeluk Zayn. Anggun cuma bisa melihatnya dari jauh. Jangan sampai dia membuat kegaduhan di sana. Tidak mungkin Zayn selingkuh dengan wanita itu.


Saat Anggun berniat menghampiri mereka, wanita itu rupanya sudah meninggalkan Zayn lebih dulu. Daripada Anggun bertanya-tanya, dia segera menghampiri suaminya.


"Mas Zayn," sapa Anggun.


Zayn terkejut mendengar suara istrinya. Dia pun segera menoleh ke sumber suara dan menahan dirinya agar tetap tenang.


"Apakah Anggun melihatku barusan?" gumam Zayn.


"Mas sibuk banget, nggak?" tanya Anggun seperti biasa.


"Nggak, Nggun. Aku baru saja keluar dari ruang operasi. Kenapa?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Mas. Kalau memang kamu nggak sibuk, kita bisa makan siang nanti. Bagaimana?"


"Iya, boleh. Oh ya, kenapa kamu ada di sini? Bukannya tadi ke rumah sakit menjenguk Witha?"


"Nggak. Aku cuma mampir ke kamar mamanya saja. Aku baru ingat kalau harus melakukan kontrol lebih awal. Lagian Witha juga bukan siapa-siapa untukku. Kan Mas sendiri yang bilang nggak boleh dekat-dekat dengan mantan. Mas takut aku CLBK, kan?"


Zayn mengangguk seolah tidak terjadi sesuatu. Padahal dirinya sendiri merasa cemas kalau sampai Anggun tahu kejadian yang menimpanya barusan.


Anggun memutuskan menunggu Zayn di sebuah warung bakso yang tidak jauh dari rumah sakit. Warung itu cukup besar dan ramai. Jadi, Zayn pun bisa bersantai di sana.


"Maaf, apakah kamu bosan menunggu di sini?" tanya Zayn.


"Nggak, Mas. Aku malah senang bisa cuci mata. Mas mau aku pesanin bakso atau bagaimana?"


"Minumnya saja, Nggun. Aku tadi baru saja makan di rumah sakit."


"Makan? Bukannya hari ini aku nggak bawain Mas bekal?"


Zayn panik. Dia tidak mungkin mengatakan kalau mendapatkan makanan dari wanita yang sempat memeluknya tadi.


"Oh, tadi dikasih keluarga pasien," ujar Zayn.


"Wanita yang meluk Mas tadi, kan?"


Sontak Zayn pun terkejut. "Kamu melihatnya?"


"Iya. Kenapa Mas gugup begitu? Kalau itu kerabat pasien ya gak apa-apa, Mas. Mungkin mau ngucap terima kasih dengan caranya sendiri."


Zayn terlihat sedikit lega. "Kamu nggak marah?"


"Nggaklah, Mas. Justru malah aku bahagia sekali karena suamiku bermanfaat untuk orang lain."


Zayn pun berterima kasih pada Anggun karena tidak cemburu atau salah paham. Padahal dari dalam lubuk hati Anggun, ribuan pertanyaan bergelayut manja di sana.


Anggun masih berpikir positif. Mungkin saja wanita itu benar keluarga pasien. Kalaupun Zayn memiliki hubungan lain di belakangnya, Anggun mungkin akan mempertimbangkan status pernikahannya. Apalagi saat ini dia sedang mengandung. Paling penting baginya adalah anak yang sedang tumbuh di rahimnya.


"Terima kasih sudah menjadi istri yang baik untukku, Nggun. Aku nggak tahu lagi harus bagaimana tanpa wanita sebaik dirimu," puji Zayn pada Anggun.


Anggun tidak tahu itu merupakan pujian atau ungkapan betapa bodoh dirinya. Selama tidak ada bukti yang mengarah pada perselingkuhan, Anggun akan tetap menghormati Zayn seperti sebelumnya.

__ADS_1



__ADS_2