
Wajah Bimo sedikit cemberut saat keluar dari butik, menyebalkan, dia terus menerus mengumpat pelayan wanita itu dalam hati. Sedangkan Annelyn tadi dengan wajah tampak tidak berdosa, terus memanggilnya Om dengan embel-embel ngidam hanya untuk menentukan warna baju sesuai seleranya.
" Om aku mau ice cream di tempat itu!". Sebelah tangan Annelyn yang tidak mengapit Tangi Bimo, menunjuk kedai bertuliskan Delicious.
Kaki rampingnya berjalan cepat sedikit menyeret Bimo. Bimo yang sudah hafal di luar kepala langsung memesan rasa strawberry untuk Annelyn. Dia sendiri tidak menyukai cream beku dengan berbagai macam varian rasa itu.
" Om kok cuma satu?" Annelyn bertanya saat Bimo menyerahkan cup ice cream.
Belum sempat Bimo duduk, Annelyn kembali berseru." Anakku juga mau, Om".
Bola mata Bimo menyipit heran, maksudnya??? Ternyata Annelyn ingin makan ice cream dua cup?. Menaruh cup itu di meja, Bimo berjalan untuk mengantre lagi. Sedangkan Annelyn hanya terkikik geli.
" Belum lahir juga sudah diajari rakus sama Mak-nya" Bimo mendumel meletakkan cup ice cream di atas meja, lalu duduk mengamati Annelyn yang dengan lahap menikmati ice cream-nya.
Menanggapi protes Bimo, Annelyn hanya meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Mereka kembali diam terserap dalam kegiatan masing-masing. Yah kegiatan makan ice cream dan mengamati pujaan hati menikmati ice cream.
" Om, Minggu depan jadwal kontrol, kalau merepotkan aku bisa datang sendiri." Annelyn masih asik menikmati ice cream saat bibir mungilnya tiba-tiba memberi informasi.
" Aku sudah jadi suamimu di depan dokter. Hehehe" Tangan Bimo terulur mengacak rambut Annelyn.
Si gadis hanya cemberut melihat tatanan rambutnya sedikit acak adul.
Yah apa mau dikata? Kejadian tempo hari dimana Annelyn menerima pelecehan dari mantan suami yang saat itu masih berstatus suami, Bimo-lah orang yang membawanya ke rumah sakit, serta mengaku sebagai suaminya, entah karena implusif atau karena memang berharap.
Di acara pesta yang akan datang, Bimo akan berperan sebagai kekasih Annelyn begitu juga sebaliknya. Saling menguntungkan bukan? Dia lelaki matang yang selalu ditanya rekan-rekannya kapan nikah, bisa mengenalkan Annelyn sebagai kekasih. Sedangkan Annelyn bisa datang ke pesta sesuai keinginannya. Lagipula media juga tidak bisa menyorot kegiatan di dalam hotel berbintang itu.
Keesokan harinya di rumah sakit, Annelyn dan Bimo duduk menunggu giliran untuk pemeriksaan kandungan. Saat namanya dipanggil, Annelyn melirik Bimo yang sudah bersiap masuk menuju ruangan.
" Silahkan duduk Pak, Bu." Dokter perempuan bernama Henny berdiri mempersilahkan keduanya.
Mulai membuka map bertuliskan nama Annelyn, lalu meminta buku kehamilan.
" Mari silahkan berbaring, Bu, biar saya periksa." Dokter Henny berdiri diikuti Annelyn menuju kasur.
__ADS_1
Bimo ikut berdiri disamping Annelyn, memperhatikan dengan seksama pemeriksaan detak jantung dan USG.
Annelyn mendengarkan penjelasan Dokter Henny tentang detail hasil USG dengan seksama, meskipun wajahnya menunjukkan kebingungan yang begitu kentara. Mungkin dia bisa bertanya pada Bimo setelah pemeriksaan selesai, sepertinya pria matang itu sangat faham.
" Om, maksutnya dokter tadi bagaimana ya? Aku kok bingung dengan tulisan-tulisan ini" Annelyn bersandar pada jok mobil, sebelah tanganya memegang kertas printer hasil USG.
" Aku mana faham, Lyn" Bimo masih fokus menyetir.
Plak, Annelyn memukul ringan lengan Bimo.
" Hah?? Kok tadi Om kelihatan sok faham banget sih".
" Hehe, biar nggak kelihatan oon banget kaya kamu, Lyn". Bimo terkekeh, masih fokus menyetir, tapi ekor matanya berhasil melirik raut cemberut ponakannya.
Huh. Annelyn mendengus, setidaknya dia tahu baby-nya baik-baik saja.
***
Pesta ulang tahun perusahaan dimana Dimas, mantan suami Annelyn bekerja, mengundang banyak kalangan pebisnis. Dimas juga turut hadir, karena menurut yang Annelyn dengar promosi jabatannya berhasil, sekarang dia bukan lagi Dimas dengan gaji 8 juta sebulan. Melainkan seorang kepala manager di perusahaannya.
Untung Puspa tidak merasakan hidup seperti dirinya dulu, serba harus mencukupi kebutuhan keluarga dengan pemasukan dan pengeluaran yang tidak sebanding.
Annelyn tersenyum manis, saat Bimo membawanya menemui beberapa koleganya. Sebenarnya Bagaskoro Group sangat terkenal, tapi Om Bimo tidak mau melanjutkan bisnis keluarga, alasannya sederhana, karena dia cinta cita rasa masakan. Dia membuka restoran Chinese food dan Lidah Nusantara yang memiliki banyak cabang di beberapa daerah. Di tempat ini tidak ada yang tahu bahwa pria yang dipanggil pebisnis muda adalah seorang Bagaskoro.
" Wah, Annelyn juga bisa hadir diacara ini ya". Suara dedemit bernama Puspa itu membuat sepotong roti yang akan masuk ke mulut mungil Annelyn terhenti, Annelynmembalikkan badan menghadap tubuh yang sedikit lebih berisi dibagian perutnya.
" Oh, hai Tante apa kabar?" Annelyn menyapa tanpa mau bersalaman.
"Sayang.." suara berat itu menggantung saat tatapan matanya bertemu dengan mata sendu Annelyn.
Mereka berdua, sepasang komplotan yang memporak porandakan Annelyn berdiri di depannya setelah beberapa waktu tidak terlihat batang hidungnya.
" Emh, kabarku baik, baby kami juga baik" jelas Puspa, sebelah tangannya bergelayut di lengan suaminya. Wajah ayunya menampilkan senyum mengejek.
__ADS_1
Dulu, sebelum ada janin tumbuh di rahimnya, Annelyn bisa berbangga menjadi wanita kuat, dia bisa bersikap seolah dirinya bukan wanita yang bisa diinjak harga dirinya. Namun semuanya berubah sesaat setelah ada kehidupan di dalam perutnya.
" Honey, kamu disini rupanya, maaf tadi aku agak lama ke toiletnya" Bimo merangkul pinggang Annelyn, sambil berbisik tapi masih bisa didengar oleh sepasang orang yang menatap keduanya.
" Oh, dia mantan suamimu itu kan?"
" Perkenalkan namaku Bimo, kita pernah bertemu sebelumnya, tapi belum sempat kenalan." Dengan gagah Bimo mengulurkan tangannya.
Dimas menjabat tangan kekar itu
" Dimas"
" Oh ya sayang, pak gubernur ingin bertemu denganmu, dia ingin berkenalan dengan gadis cantikku yang piawai ini" Bimo berbicara, tangannya tidak berpindah dari pinggang Annelyn saat ia berjalan menuju pak gubernur.
" Mas, itu siapa sih kok kenal gubernur?"
Puspa menghentakkan kakinya, dia benar-benar cemburu dengan Annelyn, janda sekali langsung dapat pria mapan, tampanya sudah seperti blasteran ala-ala Eropa China. Dia harus menjanda berkali-kali baru dapat yang layak seperti Dimas.
Dimas tidak menjawab pertanyaan istrinya, sepasang matanya masih fokus menatap punggung yang semakin menjauh. Annelyn semakin cantik, tubuhnya semakin indah dan jangan lupakan kulitnya yang semakin bersinar.
Apa dia menyesal? Entahlah, dia sudah terbiasa hidup berkecukupan bersama Annelyn yang selalu menerima apa adanya, juga dengan ibunya yang selalu membanggakannya karena tidak pernah tahu seperti apa keuangannya yang sebenarnya. Berbeda dengan Puspa yang meskipun memuaskan kebutuhan biologisnya, tapi sedikit-sedikit protes, uang kuranglah, ini itu kepinginlah.
Annelyn merasakan tatapan Dimas mengikutinya, sebisa mungkin dia berusaha seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapan itu membuat hatinya lemah, dia takut, dia tidak ingin terluka lagi. Terlalu larut dalam pikirannya, Annelyn tersadar saat seorang wanita berusia 25 tahunan datang menyapa Bimo.
" Hai Bim, lama nggak ketemu ya?"
" Hai, Luna."
" Emh.. sorry ya waktu itu aku hanya implusif sesaat kok, aku nggak akan minta menikah lagi, hehe gapapa kalau harus jadi teman tidur aja". Ucapan wanita itu begitu frontal, yang entah mengapa menimbulkan sedikit rasa sensi di hati Annelyn. Tidak tahu malu, batin Annelyn.
Om Bimo terlihat salah tingkah, tuh kan, dasar lelaki buaya.
Jangan lupa vote like dan komen gaeeessds
__ADS_1