Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Siapa Vin??


__ADS_3

" Bukan salahmu Love.." Bimo menghapus air mata istrinya. Tidak tega, tidak menyangka, wanita muda yang selalu manja itu begitu mengenaskan.


" Wanita itu melahirkanku Bee! Andai aku bisa memilih, aku lebih ingin dilahirkan Mama." Annelyn berteriak. Ia meraung.


" Jalan hidupku selama ini mungkin hukum karma wanita itu dari Tuhan." Annelyn berkata lirih. Sesekali mengusap air matanya.


" Apa maksutmu?" Bimo terbelalak mendengar ucapan Annelyn.


" Tidakkah kamu mempercayai Tuhan?" Bimo mencerca.


" Selama ini aku tidak peduli siapa Tuhanku, Love. Yang aku tahu hanyalah hukum tanam tuai, musibah dan ujian kehidupan. Apa yang kamu alami adalah tempaan kehidupan, bukan karma. Karma hanya untuk mereka yang berbuat dosa. Dan kamu hanya korban di sini. Merekalah yang berdosa, bukan kamu Love!" Bimo menyangkup kedua pipi istrinya. Mengecup bibir mungil itu.


" Apa Mama mencintaiku?" Sebuah pertanyaan meluncur polos dari mulut Annelyn.


" Pertanyaan macam apa itu? Sekarang aku bertanya, apa ada alasan bagi Mama untuk tidak mencintaimu? Kalian senasib sepenanggungan, sama-sama korban dari dosa orang lain." Bimo membangun kepercayaan diri istrinya.


" Mama bukan tipe orang yang akan menyalakan orang lain karena kesalahan yang tidak dilakukannya. Mama juga tahu kamu hanya korban, sekeras apapun sifat Mama, bukankah selama ini dia menyayangimu? Tidakkah kamu bisa merasakan betapa ia mencintai putri kesayangannya??"


Kalimat manis sok puitis yang sayangnya sangat benar itu membuat Annelyn terharu, ia memeluk erat suaminya. Bersyukur Tuhan memberikan anugerah berupa suami yang terkadang over protective tapi pengertian.


" Oouuuhhh Bee.. makasih.."


" Harusnya aku curhat denganmu sejak dahulu kala. Bukan main kabur saja." Celetuk Annelyn.


" Hahaha.. aku bersyukur kamu kabur Love, jalan Tuhan memang unik. Kita bisa menikah sekarang. Kalau kamu tidak kabur, bagaimana mungkin wanita manis nan cantik aduhai ini jadi istriku??" Bimo menaik turunkan alisnya.


" Oohhh Bee, sejak kapan kamu bisa romantis? Biasanya juga cuek, jutek, arogan, mana tengil lagi." Annelyn mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.


" Sudah, ayo mandi bersama, aku ingin menjenguk anakku. Dia pasti merindukan ayahnya."


Bimo berdiri menarik tangan istrinya.


" Mana bisa begitu." Annelyn menyuarakan protes. Perasaan suaminya tidak pernah absen meminta jatah. Apa tidak kadaluarsa jagung bakar miliknya itu? Dia kan sudah tua. Pikir Annelyn sebal.


" Tentu saja, aku menanam jagung di ladang Love, harus rajin disiram biar subur." Bimo berkata sombong.

__ADS_1


" Tapi bayiku bukan jagung Bee, kata Mbah Google, tidak boleh penetrasi di dalam, bisa berbahaya." Annelyn merasa menang berdebat dengan suaminya.


" Benarkah??"


" Kalau begitu, ayah akan menjengukmu Nak, tapi tidak bisa memandikanmu dulu. Yang sabar ya.." Bimo berjongkok, mengelus perut istrinya, menciumnya bertubi-tubi.


Hahaha... Keduanya tergelak bersama.


###


Pram menatap rimbunnya pepohonan. Dulu, ayah angkatnya memilih membuat rumah di pegunungan. Menikmati udara yang masih bersih, tenang dan cocok untuk menikmati masa tua.


Andai, waktu bisa terulang kembali, ia tidak ingin kehidupan ini. Harta yang saat ini dinikmatinya, tidak lebih berarti dari semua yang sudah ia korbankan. Ia terjerat rasa terima kasih pada orang tuanya, sebagaimana ia terjerat rasa bersalah pada dua wanita.


Penderitaan ini, ia simpan seorang diri. Harga dirinya sebagai laki-laki, tidak lebih dari berkorban untuk keluarga yang sudah berbaik hati mengulurkan tangan untuk merawatnya.


Vin. Sesingkat itu namanya, sesingkat itu pula perjalanan hidupnya. Wanita yang teramat sangat ia cintai, cinta yang begitu tulus dan murni. Cinta pertama dan terakhir. Wanita yang mencoba melawan kerasnya kehidupan, andai ia bisa memilih dengan tegas, wanita itu pasti bisa bahagia sekarang.


Atau, andai dia tidak berani mencintai, mungkin dia tidak akan terperangkap oleh rasa bersalah.


Vin, dia anak yatim-piatu, sama seperti Pram. Bedanya, Pram beruntung diadopsi oleh orang kaya yang baik, sedangkan Vin beruntung karena dia cerdas.


Awalnya, ia penasaran pada sosok itu, lama-lama ia tidak bisa membendung perasaan suka yang berakhir menjadi cinta. Seharusnya ia tahu, hidupnya hanyalah untuk keluarga Bagaskoro, ia tidak boleh mencintai jika tidak ingin menahan perihnya patah hati.


Mereka berpacaran, diam-diam. Vin, yang pada akhirnya menjadi sekretaris Pram, ia yang cerdas cekatan membantu Pram mencapai puncak kesuksesan. Hingga pada suatu ketika, Pram dijodohkan dengan Karina, yang tidak lain adalah sahabat dari Vin sendiri.


Kisah cinta Pram dan Vin, sudah diendus oleh ayahnya. Pram harus memilih menikahi Karina secepatnya, atau Vin harus kehilangan segalanya.


Ia bisa apa selain memilih menikahi Karina? Saat itu dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan, ada banyak hal yang harus dikorbankan. Demi citra nama baik keluarga yang sudah berbaik hati memberinya kehidupan.


Lalu Vin bisa apa? Dia hanya bisa menangis diam-diam, merelakan pria yang selama ini menjadi kekasihnya harus menikah dengan sahabatnya sendiri. Dan dengan berat hati menanggung derita menjadi wanita simpanan.


Pram mengingat wajah pucat Vin, sesaat setelah ia melahirkan putri yang sangat mirip dengan Vin.


' Maafkan aku Vin.. Dunia ini memang kejam.' Pram menaruh secangkir minuman di atas meja kecil, di depan tempat Vin tidur.

__ADS_1


Vin tersenyum sumbang. Ia tidak pernah mengutuk langit, bahkan saat kehidupan ini menghancurkan semangatnya, ia tetap bangkit, berbekal kecerdasan anugerah Tuhan.


'Dunia ini tidak kejam Han, dunia ini teramat sangat baik, hanya saja dia menampung manusia serakah dan tidak berperasaan.'


'Mengapa kamu membunuh anakku?'


Pram masih belum bisa percaya, Vin wanita yang selama ini baik dan mencintainya, bisa tega membunuh janin tidak berdosa, apalagi janin sahabatnya sendiri.


'Untuk memberikan kehidupan yang layak untuk anakku, anakmu yang lain.' Vin tersenyum misterius.


Ada banyak rahasia yang disembunyikannya dari Pram.


'Bagaimana ..' Pram tidak bisa melanjutkan kalimatnya, saat Vin memegang cangkir kecil berisi racun dengan kedua tangannya.


' Aku tidak masalah Karina membunuhku dengan secangkir racun ini. Tapi putriku akan dicintai olehnya. Benar bukan? Dia wanita yang baik bukan? Sayang sekali dia menjadi menantu di keluargamu.'


Vin menatap nanar cangkir yang dipegangnya. Benar kata ibu panti, hidupnya sudah dikutuk saat dia masih dalam kandungan. Orang yang dicintainya, harapannya untuk janji kehidupan yang lebih baik, tega membawa secangkir racun untuk membunuhnya.


'Aku belajar seni menyakiti orang dari keluargamu. Indah bukan mahakarya yang ku lukis dalam perjalanan hidupmu? Wanita yang kamu cintai mati dengan secangkir racun yang kamu berikan.'


Dengan tangannya, Vin menarik tangan Pram yang sudah lemas, agar meminumkan secangkir racun itu untuknya. Pram hanya bisa menangis pasrah. Tindakannya salah, begitu juga dengan Vin telah membunuh bayi Karina.


' Mengapa menangis Han? Ini demi keluarga dan istrimu itu. Demi proyek besar keluarga Bagaskoro yang terhormat.' Vin berbisik lirih, racun itu mulai membuat nafasnya sesak.


' Putriku, akan membuatmu ingat betapa kamu pernah menjadi bajingan demi keluargamu. Aku bersumpah nama baik keluargamu akan dihancurkan olehnya!'


Vin mengutuk keluarganya sebelum menutup mata dengan penuh senyuman.


Vin memang cerdas, dia tahu betul bagaimana Karina. Istrinya itu bersikukuh merawat Annelyn sampai sekarang. Baginya Annelyn adalah bayi yang tidak berdosa. Ia tidak tahu, Vin telah menitipkan kutukan pada putrinya.


Vin, wanita itu selalu hadir dalam mimpinya dengan menggandeng tangan Annelyn. Mereka sama-sama penentang. Mereka memiliki kepribadian yang sama-sama ingin bebas dan tidak terima ditindas.


###


Holla aku kembali....

__ADS_1


__ADS_2