
Tiga bulan berlalu tanpa rintangan, hubungan Bimo Bagaskoro dan Annelyn Bagaskoro semakin lengket. Rumah tangga mereka berjalan lancar, selancar bisnis catering Bimo. Ia bahkan merekrut dua karyawan untuk membantunya memasak dan mengirim pesanan. Ia punya pelanggan tetap, 250 porsi setiap harinya untuk makan siang, 70 porsi perharinya untuk makan malam antara jam 8 malam. Belum lagi jika ada pesanan sana sini.
Peran Annelyn tidak luput dari maju pesatnya usaha Bimo, dia adalah bendahara terhandal yang pernah Bimo temui. Annelyn pandai mengkalkulasi keuangan. Teknik pemasarannya juga cukup unik, dia berteman dengan musuhnya dua julid, ya meskipun sama julidnya, tapi dia mendapat banyak keuntungan. Selain karena ia punya teman untuk melawan duo julid yang selalu mencibir dirinya, dia juga punya bestie yang dengan bibir lamisnya mampu menarik minat masyarakat sekitar.
" Akhirnya selesai juga". Annelyn menggeliat, merenggangkan otot tangan dan punggungnya. Pukul 09.15, dua ratus pesanan makan siang dan lima puluh jajanan snak Bu RT sudah dikirimkan. Istirahat sejenak, nanti sore mulai bekerja untuk pesanan malam.
Lelah? Tidak terlalu. Risya, asisten memasak yang direkrut Bimo sangat handal dan cekatan. Ia bisa membantu hampir 70% pekerjaan memasak Bimo. Sehingga Annelyn hanya perlu membantu mengemas saja. Risya adalah wanita berusia dua puluh lima tahun yang tinggal di kontrakan milik Bu Tejo, salah satu sobat julidnya Annelyn.
" Hah Bu, capek ya?" Risya bertanya pada Annelyn, ia menyodorkan sepiring2 brownies kukus bertoping keju parut.
" Nggak juga Ris" Annelyn menyomot satu irisan brownies, dengan senang hati melahapnya.
Belum selesai menelan brownies manis tersebut ketika tiba-tiba.
Huek huek.
" Kamu kenapa, Ris?" Annelyn bertanya heran, takut kalau Risya kecapean membantunya.
" Nggak tahu Bu, kepala saya kok tiba-tiba pusing ya, mencium bau brownies" Risya menutupi hidungnya berjalan menuju kamar mandi dekat dapur.
Huuweekk huuweekk. Uhk uhk.
Annelyn bergegas mengikuti Risya ke kamar mandi.
" Ris? Kamu baik-baik saja?" Annelyn memastikan setelah Risya keluar dari kamar mandi sambil mengelap bibir dan menyeka air mata.
" Nggak apa-apa, Bu. Cuma gara-gara bau brownies saja kok Bu." Risya mencoba tersenyum lebih ramah.
" Perasaan nggak bau deh, Ris." Annelyn terlihat berfikir.
__ADS_1
" Jangan-jangan kamu bunting, Ris. Eh tapi kamu kan gadis." Annelyn tersadar akan ucapannya dan berlalu meninggalkan Risya.
" Hamil?" Sepeninggal Annelyn, Risya bertanya pada dirinya sendiri. Secara reflek tangannya mengelus perut yang masih rata.
***
Annelyn POV.
Annelyn terbayang raut wajah Risya, dia merasa ada yang disembunyikan oleh pekerjannya itu, tapi apa mungkin gadis baik-baik seperti Risya hamil? Kalau iya, lalu dengan siapa?
Sesosok pria gempal melintas dalam pikirannya.
Hanif? Bukankah hanya Hanif yang selama ini dekat dengan Risya. Mereka sering mengantar catering bersama. Hanif pria 27 tahun yang menjadi peternak sapi dibanding bekerja sebagai buruh bangunan ataupun buruh pabrik seperti mayoritas masyarakat sekitar.
Tapi apa mungkin? Hanif lelaki paling sopan yang pernah Annelyn temui. Selain itu ilmu agamanya juga tidak bisa diragukan lagi, dia jebolan pondok pesantren yang bukan kaleng-kaleng sejarahnya di kota ini.
" Apa yang kamu pikirkan, Lyn?" Suara hangat menyapa lamunanku, sehangat kedua tangan si empunya suara yang tengah mendekapku dari belakang.
" Aku memikirkan Risya dan Hanif." Lanjutku, mataku menerawang jauh. Entah mengapa perasaanku tidak enak, seperti akan terjadi masalah. Dan selama ini naluriku belum pernah salah.
" Tadi pagi Riska muntah, katanya karena mencium bau brownies, padahal tidak berbau. Aku curiga dia hamil, Sayang." Aku menjelaskan kecemasan yang ku rasakan.
" Dan kamu berpikir pria itu Hanif? Jangan gila, Lyn." Om Bimo terkekeh, dieratkanya pelukan yang membelit pinggang rampingku.
" Hissh, aku nggak gila, cuma menerka saja." Aku membantah sebal, akhir-akhir ini moodku sangat buruk. Apa mungkin karena aku terlalu lelah dan banyak pikiran ya?
" Belum tentu juga Risya hamil, dan kalaupun hamil bukan Hanif orangnya." Om Bimo mencium puncak rambutku. Harum pastinya. Lotion rambut aroma sakura white kesukaannya.
" Meski baru sebentar, aku cukup yakin Hanif tidak mungkin melakukan itu, dia pria baik-baik yang tekun terhadap agamanya." Om Bimo menjelaskan alasannya. Benar juga sih, Hanif terlalu baik untuk berbuat mes*m
__ADS_1
" Beda sama yang dibelakangku ini." Aku dengan jahil menyikut Om Bimo.
" Hehe, aku sudah tobat Love, lagipula itu kan duluuuuuu sekali, sebelum aku tahu perasaanku padamu." Semakin erat saja Om Bimo memeluk tubuhku, dikiranya aku nggak sesak nafas apa ya.
" Yuk, tidur sudah malam, belum lagi ada ritual pasutri yang wajib ku penuhi." Om Bimo tersenyum smirk.
" Apa sih, Sayang? dari sejak pertama sampai sekarang aku belum pernah istirahat." Dengan cemberut aku memprotes Om Bimo yang terlalu menggebu. Aku berjalan meninggalkan Bimo menuju ranjang. Sebal juga lama-lama sama Om. Minta jatah terus.
" Ya nggak apa-apa dong, nanti kalau sudah waktunya kamu boleh hamil juga aku nggak bisa sering-sering." Om Bimo menyusulku. Ngikutin terus sih Om
Degh .. Pernyataan Om Bimo lantas menumbuhkan rasa insecure di hatiku. Bahkan akhir-akhir ini selama berhubungan, Om Bimo selalu mencegah kehamilanku dengan menumpahkan isinya di luar. Rahimku belum kuat untuk hamil lagi katanya.
***
Satu minggu berlalu.
Aku semakin curiga dengan Risya, sejak hari itu, dia terlihat sangat tertekan, belum lagi raut wajahnya yang pucat, membuat naluriku sebagai perempuan amat peka dengan apa yang terjadi.
Terlebih, sejak hari itu, dia selalu bekerja dengan pakaian dan riasan tidak selayaknya. Terkadang dia bahkan memakai celana jeans pendek di atas paha, dan blouse tipis yang lebih tepatnya agak tembus pandang.
Entahlah, pikiranku terlalu mengembara, tidak sadar DVD senam yang ku setel sudah selesai.
Aku membuka ponselku, ada notifikasi di medsos. Berita. Aku membuat akun fake untuk tetap berhubungan dengan dunia luar.
' Baru-baru ini, publik digegerkan dengan berita kehamilan seorang putri konglomerat dengan Presdir muda, Bimo Bagaskoro yang beberapa waktu lalu meninggal dunia karena kecelakaan.'
' Pebisnis muda yang juga putri konglomerat hamil tanpa suami. Diduga calon suaminya adalah korban kecelakaan, Presdir muda keluarga konglomerat paling misterius seantero jagad. Bimo Bagaskoro'
' Putri konglomerat hamil dengan pria yang bahkan publik saja masih ambigu dengan wajah aslinya. Bagaimana tanggapan keluarga Bagaskoro? Masih menjadi misteri.'
__ADS_1
'Akankah Calysta, pebisnis muda cantik berbakat, mendapat keadilan dari keluarga Bagaskoro?'