Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Buka Puasa


__ADS_3

" Hiihhss.. Sudahlah, berapa kang ini belanjaannya?" Aku menyerahkan selembar uang seratus ribuan.


" Awas ya ibu-ibu, kalau suami saya masak enak-enak nggak saya bagi" Aku melengos meninggalkan mereka yang masih asik berkasak kusuk.


Meladeni mereka hanya semakin membuat diriku hilang kendali. Emosional dan sombong, belum pernah ada dalam kamus perjalanan hidupku, tapi kali ini mau tidak mau aku harus sombong pada mereka, biar tahu rasa. Hidup kok nyinyir terus, apa tidak ada kerjaan lain.


**


Pukul 22.45, Annelyn terbangun dari tidurnya, biasa tidur dengan sosok hangat disampingnya, membuat malam dingin terasa hampa, tatkala ia tidak menemukan suaminya.


Ia berjalan menuju dapur, feeling-nya mengatakan suaminya masih berkutat dengan bahan masakan. Dan benar saja, dia menemukan suaminya baru selesai menata beberapa sayuran yang sudah dipotong ke dalam kulkas.


" Om kok belum tidur?" Annelyn duduk di kursi meja makan, tangannya meraih gelas lalu mengisinya dengan air putih. Meminumnya dengan sekali tegukan.


" Aku baru selesai mempersiapkan bahan untuk catering besok, kenapa bangun Lyn?" Bimo duduk di samping Annelyn setelah mencuci bersih tangannya. Ia memerhatikan raut wajah mengantuk istri kecilnya.


" Nggak bisa tidur, Om" Dengan malas Annelyn menyomot sisa ayam katsu dalam tudung saji, mencolekannya ke mangkuk berisi mayonaise.


" Hayo nggak bisa tidur tanpa pelukanku yaa" Om Bimo meledek, tersenyum jahil.


" Iya" Blushhh pipi Annelyn sudah semerah tomat.


Bimo menepuk kakinya, mengisyaratkan Annelyn untuk duduk di atas pangkuannya.


Menuruti suaminya, Annelyn beranjak duduk di atas pangkuan Bimo. Tangannya bergelayut manja di leher Bimo sedang kepalanya bersandar di dada bidang sang suami.


" Mau sampai kapan aku digantung Lyn?"Bisik Bimo lirih. Tangan kanan Bimo mengelus pipi Annelyn, memegang lembut dagu istrinya, membuat wajah rapuh Annelyn bertatap dengan sepasang mata elang Bimo yang menyorot penuh harap.


" Aku lelaki normal sayang" Bimo lantas mendekap erat Annelyn dengan kedua tangannya.


" Emmm" Annelyn ragu-ragu menjawab.


" Bagaimana kalau dicicil dulu?" Sebuah jawaban menggelikan terlontar dari bibir mungil Annelyn.

__ADS_1


" Haa??" Seketika Bimo menatap bingung.


" Ya dicicil mulai dari peluk cium gitu Om"


Jelas Annelyn menunduk, rupanya dia teramat malu.


" Hahaha ternyata istri juga ada yang cicilan ya, emang kamu pikir motor?" Bimo tergelak, bertanya usil pada Annelyn, menambah raut wajah semerah tomat itu semakin merah saja.


" Hihhss"


" Pejamkan matamu Lyn! Kita harus mencobanya, kalau kamu terlena berarti harus cash." Lagi-lagi Bimo menggoda istrinya, wajah malu merona itu teramat menggemaskan. Lagipula kalau Annelyn setuju, dia menang banyak juga kan? Siapa yang tidak terlena dengan sentuhan seorang mantan casanova seperti dirinya.


" Mana boleh begitu!"


" Boleh dong, kalau kamu tidak yakin dengan dirimu sendiri ya tidak apa-apa, ayo tidur saja" Bimo tertawa meremehkan.


"Aku tahu kamu sebenarnya sudah tidak sabar". Bimo memasang umpan lagi.


"Kalau begitu tidak ada alasan untuk menolak Lyn, aku janji akan berhenti jika kamu memang belum siap dan tidak terlena" Suami tidak tahu malu itu masih mempersuasi istrinya.


"Okelah okelah" Annelyn mengalah pasrah. Buat apa menolak terus-terusan, toh Bimo adalah istrinya.


' Yes, akhirnya buka puasa juga'


***


Hoooaaammmm.


Annelyn menguap, menggeliat. Masih tidak sadar dengan apa yang terjadi semalam, ia duduk bersandar di kepala ranjang.


Mata indahnya memandang jam dinding, sudah jam delapan lebih seperempat.


" Ya Tuhan... Mau ditaruh mana mukaku?" Kedua tangannya menutupi wajahnya bantalnya. Malu bercampur canggung melingkupi perasaannya tatkala kejadian semalam berputar indah dalam otaknya, seperti memori film iya-iya.

__ADS_1


" Aku balik tidur saja lah" Annelyn bersiap mengambil posisi tidur cantik. Tapi sebuah senyum manis mengingatkan dirinya, hari ini pertama kali Bimo dapat pesanan catering.


" Tapi ini kan hari pertama Om bekerja. Huhhh, malu aku tuh". Ia bergegas menuju kamar mandi, rasanya ingin berendam sejenak untuk melunturkan rasa grogi, tapi apalah daya, hatinya tidak tega membiarkan Om Bimo bekerja sendiri.


Dengan handuk melilit tubuh indahnya, ia berjalan menuju lemari kayu tiga pintu. Memilih dress berwarna peach, ikat rambut pita putih. Memoles wajah ayunya dengan make up yang dipelajarinya dari guru les yang pernah disewa Daddy-nya.




" Hai princes cantik yang suaranya begitu merdu, sampai membuat suaminya ini melayang ke langit tujuh" Suara Om Bimo semakin membuat Annelyn tersipu malu, dengan pipi semerah kepiting rebus.


" Apa sih Om" Annelyn duduk di samping Bimo, ia menyelonjorkan kakinya, sofa ruang tamu yang panjang memberi kenyamanan saat duduk santai berselonjor kaki.


" Ini udah selesai Om?" Melihat banyaknya makanan yang sudah dikemas rapi dalam sterofoam.


" Iya, nanti jam sembilan di ambil" Om Bimo menjawab sambil membaca koran di ponselnya.


Ohhh


" Hahaha, lebih bugar kan?" Om Bimo meletakkan ponselnya di meja ruang tamu.


" Itulah fungsinya olahraga malam Lyn. Nanti malam kita ulangi, harus rutin agar hasilnya maksimal" Bimo semakin gencar menggoda, lebih tepatnya melancarkan aksi negosiasi.


" Maksimal apanya? Tubuhku rasanya remuk Om. Udah dibilangin aku capek, istirahat dulu, eh Om malah lanjut teroosss". Giliran Annelyn mengomel,


" Tapi enakkan?" Bimo menggoda lagi.


Blushhh. Ah lagi-lagi Annelyn tersipu malu.


" Hahaha" Bimo tergelak, mengacak lembut rambut Annelyn.


Like like like like, and komen. Love you all

__ADS_1


__ADS_2