
Risya POV.
Aku merasakan ada yang aneh dengan keluarga Bimo. Entahlah, sepertinya aku salah perhitungan. Memanfaatkan kakakku untuk menarik simpati tuan rumah, lalu perlahan lahan menggodanya agar berpaling dari bocah ingusan seperti istrinya yang manja.
Apa baiknya Annelyn? Memasak saja kalah jauh dariku, bisanya cuma berjoget-joget senam, ongkang-ongkang kaki, berbenah rumah pun masih harus dibantu. Selain wajah dan tubuhnya yang cantik, sepertinya tidak ada bakat apapun dalam dirinya.
Setiap hari hampir saja aku mendengar ia merajuk, mengomeli Bimo. Wanita yang belum genap dua puluh tahun itu juga dulunya seorang janda. Aku tidak sengaja mendengar pembahasan mereka tempo hari. Ternyata ia diceraikan karena cinta pertama suaminya juga karena kemampuan memasaknya dibawah rata-rata.
Andai Bimo tampan rupawan itu menjadi suamiku, akan ku hubungi keluarga Bagaskoro kalau Bimo ada di sini. Aku juga tidak sabar ingin menikmati indahnya menjadi nyonya Bagaskoro. Semakin gencar aku menggoda Bimo, tak jarang aku memakai pakaian yang sedikit terbuka pada bagian paha dan dada, namun tetap saja dia tidak melirik.
Aku semakin insecure saat perutku mulai tampak lebih besar, tapi lagi-lagi angin segar menerpaku. Ternyata Annelyn mandul, setidaknya kehamilanku selain membuat Bimo merasa bersalah juga bisa membuat Bimo berpaling. Aku masih mencuri peluang agar pria matang itu dengan suka cita menanam benihnya di rahimku.
Pernah suatu ketika wanita manja itu pergi merumpi di rumah dua teman kampungannya, aku berjalan keluar kamar memakai hotpant dan kaos ketat yang memperlihatkan sedikit perutku. Waktu itu perutku masih rata, jadi aku dengan percaya diri tampil di depan Bimo.
Aku sempat melihat kilat terkejut di matanya, hanya saja secepat itu juga dia berpaling. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar, beberapa saat kemudian Annelyn pulang, bergegas menyusul suaminya di kamar. Dia hanya menatap penampilan ku dengan matanya yang tajam.
Dan lagi-lagi aku harus melihat penampilan Annelyn keluar kamar layaknya seorang yang baru saja berkelahi dengan binatang buas. Hampir seluruh lehernya menampakkan bekas percintaan.
__ADS_1
" Sorry ya kamu bukan tipe suamiku. Masih sexy dan kencang milikku, Ris. Kamu mau berusaha t*l*njang sekalipun nggak akan mempan." Annelyn anak manja itu mengibaskan rambutnya yang agak berbau karena keringat.
" Melihat dirimu t*l*njang yang ada membuat suamiku memikirkan andai yang menggodanya adalah aku. Kamu cuma babu, jangan belagu. Ups sorry.." Dia berjalan lenggak-lenggok meninggalkanku yang masih terpaku.
Aku geram melihat senyumnya yang sombong itu. Dia lebih sombong dari Kak Siska, dan lebih tebal muka dari wanita-wanita yang suaminya pernah ku kencani.
Seenaknya saja dia memanggilku babu, kalau ku sebarkan keberadaan suaminya, aku sudah yakin keluarga Bimo tidak akan merestui pernikahan mereka. Yang ada dia akan menjanda dua kali, tapi...itu kurang menantang bagiku. Aku ingin Bimo yang dengan gagahnya berpaling padaku.
Mulanya semua berjalan lancar, Bimo sangat menjaga dan membelaku. Tapi, semakin lama ada yang hambar, perlakuan Bimo tidak setulus dulu. Perasaanku semakin tidak enak saja. Mungkinkah Bimo serigala berbulu domba? Dia menutupi rasa tidak sukanya dengan rasa bersalah? Ataukah ternyata istri manjanya itu begitu kuat pengaruhnya?
" Ah sayang jangan begini, ada Risya.. kita ke kamar saja yuk." Annelyn merengek manja saat Bimo menggerayangi tubuhnya. Tanpa rasa canggung Annelyn langsung mengalungkan tangannya.
" Aku belum pernah melakukannya di sini Love." Bisikan Bimo masih bisa terdengar samar oleh telingaku
" Hahaha, turuti dulu apa mauku. Akan ku layani kamu dimanapun dan kapanpun. Asal jangan di depan umum. Hahahaha."
Dengan centilnya Annelyn bicara manja sambil meninggalkan suaminya menuju kamar. Tapi dia tidak masuk, melainkan bersandar pada kusen. Senyum mengejeknya mengarah padaku.
__ADS_1
" Aku menantikan saat-saat kamu berjalan ke dapur tanpa memakai apa-apa." Bimo masih di dapur. Suaranya terdengar jelas dan nyata.
Mereka mengabaikan keberadaanku di ruang tengah. Menjengkelkan.
" Jangan mesuummm!" Annelyn seolah menolak, tapi aku tahu betul dia sedang memancing sisi lain dari seorang Bimo.
" Hahaha bagaimana melon bulatmu yang keras itu memantul begitu menantang. Hahaha." Benar saja, Bimo berkata dengan sangat vulgar.
Ia berjalan mendekati istri manjanya, melewati keberadaanku di ruang tengah. Bahkan mengabaikan suara televisi yang menyala.
" Jangan begitu Bee." Aku tahu Annelyn pura-pura tersipu malu. Dasar muka dua!
" Belum lagi bongkahan berlian yang kenyal itu." Kali ini mataku melotot, Bimo dengan tanpa tahu malu menepuk bagian belakang istrinya di depan mataku. Atau mungkin pesona Annelyn membuat dia tidak melihat diriku yang sebesar ini?
Mereka lantas masuk dan menutup pintu kamar. Meninggalkan diriku yang semakin hari semakin dibuat jengkel.
Harus ku akui, untuk ukuran wanita muda, Annelyn memang sangat menggoda, lalu apa artinya kecantikan dan bodynya bila dia manja dan tidak bisa apa-apa. Menyusahkan saja.
__ADS_1