
" Nah itu tahu." Sahut Annelyn.
" Waah rumit juga ya." Bu Tejo dan Bu Dah kompak lagi.
Ketiganya diam merenung dalam pikirannya masing-masing. Mungkin juga bingung harus bagaimana.
Suara langkah kaki menyita perhatian mereka, Bimo datang dengan membawa tiga mangkuk berisi pempek kapal selam.
" Untuk istriku tercinta, silahkan sayang." Bimo menaruh semangkuk kapal selam di meja.
" Nah untuk Bu Tejo dan Bu Dah." Bimo juga menyajikan milik Bu Dah dan Bu Tejo.
" Wah Pak Bimo ini so sweet ya, model begini harus hati-hati Lyn, jangan sampai direbut pelakor." Bu Tejo bercanda, senyumnya manis sekali, tapi sorot matanya memandang sosok yang mengintip dengan pandangan devil. Siapa lagi kalau bukan Risya.
" Hah aku nggak minat sama wanita selain istriku Bu. Dia segalanya." Bimo menjawabi Bu Tejo sambil mengelus rambut Annelyn.
" Haduh Annelyn yang digombalin, akunya yang deg-deg serrr." Bu Dah memegang dadanya pura-pura melting.
Hahaha. Mereka berempat tertawa bersama.
" Oh ya Risya, kamu sudah bangun? Tadi aku beli pempek kapal selam, punyamu ada di dapur." Bimo melihat Risya yang berdiri tidak jauh dari pintu.
" Iya Pak, makasih." Risya langsung saja masuk tanpa niat untuk bergabung.
Sebenarnya, Bimo sedikit kurang suka dengan sifatnya Risya, tapi mengingat wanita itu sedang hamil dan dia adiknya Siska yang mengalami tragedi karena kesalahannya dulu, Bimo pun berusaha memakluminya.
" Kamu nggak makan Bee?" Annelyn bertanya pada suaminya.
" Aku sudah kenyang, aku ada urusan sebentar sama Pak Kades." Bimo mendekati Annelyn lantas mencium istrinya.
Mmuuuach mmuach mmuach.
" Love you Honey."
" Love you to." Jawab Annelyn dengan manja. Memanas-manasi kedua ibu-ibu disampingnya.
Uhk uhk uhk uhk. Bu Tejo tersedak beneran.
__ADS_1
Ehm ehm ehm. Bu Dah pura-pura tersedak.
" Serak Bu Tejo, pempeknya nyangkut di tenggorokan." Keluh Bu Dah.
" Iya ya Bu Dah, ini punya saya nggak bisa ketelan."
" Udah deh Bu, kaya langsung tua saja nggak pernah muda." Ledek Bimo lantas meninggalkan ketiganya.
Setelah Bimo menghilang dari pandangan, Annelyn memulai kembali pembicaraan pentingnya.
" Lanjut lagi ke topik awal!" Seru Annelyn berbisik.
" Terus gimana rencanamu?"
" Ya rencanaku sih pingin mempertemukan Kak Siska sama suamiku. Dengan perjanjian kalau dia tetap merahasiakan keberadaanku sama suamiku." Annelyn menjelaskan dengan ragu. Suaranya masih sepelan tadi.
" Cuma.. kemungkinan besar Risya yang akan membocorkan semuanya. Selama ini suamiku tidak tahu kalau Risya sudah tahu siapa dia sebenarnya. Untung Risya tidak tahu aku siapa." Lanjut Annelyn, dari nada bicaranya ia terlihat putus asa.
" Kalau saranku.." Bu Dah mendekatkan bibirnya ke telinga Annelyn.
Annelyn hanya manggut-manggut, mengiyakan semua saran Bu Dah. Ada benarnya juga mengikuti kegilaan emak-emak.
Setelah dirasa pembahasan cukup dimengerti, Bu Dah dan Annelyn sepakat melancarkan eksekusi secepatnya. Sedangkan Bu Tejo sedari tadi bingung dan hanya garuk-garuk kepala. Sikunya menyenggol lengan Bu Dah, berharap sahabatnya mau memberi penjelasan.
" Sudah nanti saja." Bisik Bu Dah.
Mereka celingak-celinguk mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Risya si Sakarin.
**
Malam harinya, Annelyn dag dig dug dengan rencana yang disusunnya. Masih teringat jelas bisikan Bu Dah tadi siang.
Flashback on.
' kamu harus memulai rencana dengan berbaikan sama suamimu. Maksutnya, selama ini pembahasan tentang Risya dan Siska selalu gagal karena emosi yang kalian unggulkan, jadi kamu harus mencoba cara yang lebih cerdas.' Bu Dah memulai nasihatnya.
' Apa itu Bu?' Annelyn ikut berbisik di telinga Bu Dah, membiarkan Bu Tejo dilanda kepo.
__ADS_1
' Bisikan di atas bantal. Kamu harus bisa membuat suamimu terpukau dengan permainan ranjangmu. Kalau perlu kamu belajar banyak gaya, jangan monoton. Setelah itu dengan wajah lelah dan suara mendayu manja, kamu keluarkan uneg-unegmu dengan penyampaian yang cerdas pula.' Bu Dah dengan semangat berapi-api menjelaskan ini itu pada Annelyn. Tentunya dengan suara berbisik.
' Satu yang harus kamu ingat, dia marah bukan berarti tidak mencintaimu, tapi karena dia merasa bersalah. Jadi, kamu harus bisa memilih kata-kata yang pas dan tidak menyudutkan.' Bu Dah lagi-lagi menginginkan.
Flashback off.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, menampakkan sosok Bimo yang baru selesai menyiapkan bahan masakan untuk catering besok pagi. Pria tampan itu tersenyum melihat istrinya hilang ditelan selimut. Pemandangan yang jarang terjadi selama mereka menikah, biasanya istri manisnya akan duduk bersandar di kepala ranjang sambil menikmati koleksi novelnya.
Bimo masuk lalu menguncinya pintu kamarnya, ia pun berlalu ke kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Merasa suaminya berada di kamar mandi, Annelyn mengintip dari balik selimut, ia bernafas lega untuk sementara waktu. Dia pernah belajar etika, menjadi wanita anggun berkelas bahkan wanita rendah hati yang polos. Tapi dia tidak pernah tahu bagaimana caranya terlihat menggoda.
Dilihatnya pakaian yang melekat di tubuhnya. Pakaian pemberian Bu Dah sore tadi, lingerie seksi yang bahkan tidak bisa menutupi sesuatu yang tabu untuk diumbar, berwarna kuning menyala, membuat kulit putih mulusnya semakin bersinar.
Melihat ponselnya menyala di atas meja suaminya, ia pun bergegas turun dari ranjang untuk menjawab panggilan telepon itu. Ia yakin kalau bukan Bu Dah pasti Bu Tejo yang menelepon.
Belum sempat ia menjawab telepon, pintu kamar mandi terbuka. Kamar yang tidak terlalu luas, membuat arah pandang Bimo langsung tertuju pada sosok cantik seksi yang teramat menggoda.
" Hai Bee." Annelyn menyapa dengan kikuk, sebelah tangannya reflek melambai, sedang tangan satunya lagi menutupi bagian pahanya yang terekspos.
" Hahaha Hahaha." Bimo tertawa terbahak-bahak setelah tersadar dari rasa terkejutnya.
Istrinya yang biasanya polos di ranjang tiba-tiba beraksi seperti wanita penggoda. Sangat tidak cocok sekali dan terlihat wagu.
" Ada yang lucu?" Annelyn menaikan satu alisnya. Menampakkan ekspresi bertanya yang provokatif. Padahal hatinya lemes, dag dig dug tidak karuan.
Bimo menaikkan kedua alisnya. Annelyn yang biasanya, akan cemberut menghentakkan kaki dan merajuk, tapi ini malah tersenyum manis sekali. Langkah kakinya lembut dan mantap, tubuhnya yang indah nampak meliuk berlenggak lenggok seiring langkahnya yang semakin mendekati Bimo.
**
Thank you all. Vote, komen dan like yang kalian berikan sangat mengisi amunisi semangat dalam jiwa author.
ada yang nanya kenapa Om Bimo kok gak peka? Sebenarnya peka, tapi terkadang rasa bersalah dan kasihan mengalahkan segalanya, termasuk logika.
Annelyn sebenarnya bagaimana sih? kadang manja kadang dewasa? ya memang itulah sifat manusia, ada sisi manja dan dewasa. Apalagi sama seseorang yang membuat nyaman pasti manjanya minta ampun.
__ADS_1