Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Obrolan Nasihat


__ADS_3

Siang itu, Annelyn dan duo julid sedang menikmati bakso pentol di teras belakang rumah Annelyn, ada banyak tanaman yang menyegarkan mata. Mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan dan bunga-bunga yang bermekaran.


Bimo sibuk dengan peliharaan, sedangkan Risya memilih istirahat di kamar, dia tidak sanggup menghadapi duo julid yang bibirnya lamis. Siap menyindir dan meledakkan emosinya.


" Lyn, gimana itu kasusnya Risya?" Bu Tejo memulai pembicaraan di teras belakang rumah Annelyn. Kepalanya celingak-celinguk memastikan tidak adanya sosok Sakarin.


" Tinggal tunggu tanggal mainnya saja Bu." Annelyn menjawab santai, tangannya kembali menusukkan garpu pada puluhan bakso pentol yang diberi topping saus tomat.


" Gayamu!" Bu Tejo tersenyum mengejek. Ia pun ikut menikmati bakso pentol gratis yang disediakan tuan rumah. Seperti temanya Bu Dah yang sedari tadi sibuk mengunyah seperti selepan beras.


" Oh ya, kamu jadi istri kok sabar ya Lyn." Bu Dah bertanya, dengan mulut penuh makanan.


" Kalau aku jadi kamu, langsung aku usir si Risya, kalau Bimo marah ya tinggal nggak usah kasih jatah." Lanjut Bu Dah setelah menelan bakso pentol.


" Ho'oh, mas bojoku juga kalau nggak tak kasih jatah langsung berubah jadi kucing penurut." Sahut Bu Tejo tak mau kalah.


" Ya masalahnya suamiku nggak seperti itu Bu. Arogansinya tinggi." Annelyn cemberut, ia berhenti menikmati bakso pentol dan mulai fokus pada pembicaraan.


" Masa sih, kelihatannya suamimu lembut gitu." Bu Dah masih ragu. Pasalnya selama ini Bimo sangat menyayangi Annelyn. Bahkan tidak pernah malu mencium dan memeluk istrinya di tempat umum.


" Ya kan ibu nggak tahu. Setiap keinginannya selalu tercapai Bu, mau saya nolak ngasih jatah, ujung-ujungnya juga saya klepek-klepek. Kan uuwenak." Jelas Annelyn polos seolah tidak berdosa.


Wkwkwkwk. Hahaha. Bu Dah dan Bu Tejo tertawa terbahak-bahak, bahkan Bu Dah sampai tersedak sedang Bu Tejo isi mulutnya yang penuh bakso pentol pun keluar berhamburan.


Annelyn memandang kedua temannya dengan pandangan heran. Kok bisa ya, kedua ibu-ibu di depannya begitu apa adanya. Nggak ada rasa jaim.


" Kepalamu kok lancar jaya kalau membahas enak-enak?" Tanya Bu Tejo setelah membersihkan serpihan muncratan yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


" Kan emang mantul Bu." Annelyn menjawab santai.


" Suamimu tetep kalah sama mas bojoku. Mamasku lebih uhuy lebih pengalaman." Jawab Bu Tejo.


" Iyalah siapa dulu suhunya, Mas Bojomu kan muridnya suamiku." Sahut Bu Dah, tangan kanannya memegang kerah baju untuk diajukan, berlagak sombong.


" Ya iya percaya, suami kalian mah emang suhu." Annelyn memilih mengalah. Toh tidak ada gunanya memamerkan betapa hebat suaminya. Jebolan akademi casanova seperti Bimo, yang sudah pernah merasakan berbagai model, bentuk dan warna, Annelyn yakin jika kedua temannya tahu, pasti syok berat.


" Hati-hati lho ya nanti direbut pelakor." Annelyn sok bijak menasihati sahabatnya. Padahal dalam hati dia sendiri yang was-was dengan keberadaan Risya.


" Pelakor mah milih yang kaya atuh Lyn, kere kaya suamiku buat apa?" Timpal Bu Dah, lupa sudah pembicaraan serius yang awalnya mereka bahas.


" Kan tadi katanya suami Bu Dah paling hebat, suhunya para suhu, eyangnya para pakar." Annelyn menjawab, tubuhnya bersandar pada sofa empuk yang memang disediakan di teras belakang.


" Sudah-sudah, ayo fokus lagi sama pembahasan awal." Bu Tejo tidak sabar, setiap kali membahas sesuatu pasti tidak bisa serius.


Kedua ibu-ibu yang sama-sama sudah beranak tiga itu memandang Annelyn. Meminta wanita muda yang sebentar lagi berusia 20 tahun untuk menjelaskan.


" Jadi begini Bu, aku harus bisa sabar dan bermain cantik. Bukan hanya wajahku saja yang cantik, isi kepalaku juga tidak boleh kalah cantik." Annelyn menjawab dengan sedikit tersenyum main-main. Sudahlah, mereka tidak bisa selalu serius, pasti ada saja yang menjadi bahan candaan ketiganya.


" Keburu diserobot sama pelakor bojomu."


Bu Tejo berkata serius, enggan menanggapi candaan Annelyn.


" Aku percaya suamiku Bu." Annelyn membela suami tercintanya, meskipun was-was, tapi dia percaya, Om Bimo yang sudah seperti Daddy-nya tidak akan berkhianat.


" Berapa persen?" Tanya Bu Tejo, alisnya berkerut, seperti tidak setuju dengan pemikiran Annelyn.

__ADS_1


" Ah Bu Tejo mah, emang lebaran pakai persenan." Melihat kedua sahabatnya yang serius, Annelyn memilih untuk mencairkan suasana.


" Ya maksutnya kan kamu berapa persen percaya sama suamimu?" Bu Dah yang tadinya hanya menyimak, ikut komentar.


" 100% lah." Annelyn menjawab bangga.


" Huh, jangan samakan suami sama Tuhan Lyn!" Bu Dah sedikit mengomel, tidak habis pikir dengan wanita muda di depannya.


"Percayai cukup 75%, supaya kamu tetap waras, bucinnya nggak lebay." Bu Tejo juga ikut menasihati. Meskipun mulutnya penuh dengan bakso pentol.


" Suamimu kelihatan baik dan nggak nafsu sama Risya, bukan berarti kamu bebas menunda-nunda tanggal eksekusi Lyn. Bisa jadi hari H yang kamu persiapkan justru menjadi peluang bagi Risya. Makanya harus gercep." Nasihat Bu Dah.


" Iya Bu aku tahu, tapi kan rencananya harus matang Bu." Jiwa sok pintar Annelyn enggan menerima masukan kedua temannya. Dia masih percaya suaminya, selain itu masih banyak yang harus dipertimbangkan.


" Ya kalau mau matang, dikarbit lah Lyn, kalau nunggu matang pohon, bisa keburu dimakan codot." Bu Tejo menyahuti dengan sedikit sarkasme.


" Ih emang Bu Tejo kira suamiku buah mangga apa?" Annelyn yang tahu maksut perkataan Bu Tejo, pura-pura tidak tahu.


" Oonnya orang sekampung kok kamu borong sendiri sih Lyn." Ejek Bu Tejo.


" Makanya, kalau ada pembagian IQ datang nomor satu Lyn, kalau datangnya belakangan ya IQnya lemot kaya situ." Bu Dah pun ikut mengejek.


" Apaan si Bu, Alyn kan lagi susah, nggak usah diejek lah Bu."


" Maksutnya tadi tuh perumpamaan, supaya kamu bisa berpikir dan bertindak cepat." Bu Dah lagi-lagi menjelaskan dengan bijak.


" Ooohhh."

__ADS_1


Annelyn memikirkan perkataan dua sahabatnya, benar juga sih. Tapi dia masih ragu, ada banyak hal yang harus siap dia korbankan jika ingin mengungkap semuanya. Salah satunya, identitas aslinya rawan bocor. Atau malah bisa jadi Daddy menemukan tempat persembunyian mereka.


Annelyn belum siap pulang, dan mungkin tidak akan pernah siap. Senyuman mama Karina yang teramat ia rindukan juga takutkan perlahan membayang memenuhi kepalanya. Dia benar-benar tidak siap.


__ADS_2