Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Cerita Panjang.


__ADS_3

" ceritanya agak panjang.."


Shroot shrooooot. Annelyn menggunakan jas mahal suaminya untuk menampung banyaknya ingus yang keluar dari hidungnya. Reaksi Bimo pun tidak menunjukkan tanda terkejut atau apalah, seolah semuanya sudah biasa dilakukan istrinya.


" Tidak masalah aku siap mendengarkan."


Bimo membaringkan Annelyn di atas ranjang, menggunakan lengan tangannya sebagai bantal istrinya.


" Jadi.." Annelyn menarik nafas, berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin, meskipun hidungnya mampet.


" Dulu Mama dan Daddy adalah pasangan yang dijodohkan, keluarga berencana menikahkan mereka setelah kontrak kerja sama antar dua perusahaan berhasil... Baru sebulan setelah bertunangan, Daddy tiba-tiba bersujud di hadapan Granpa ( kakek dari pihak ibu) di tengah pesta yang dihadiri banyak orang. Daddy meminta restu agar diijinkan menikahi Mama secepatnya, berjanji akan setia dan selalu membuat Mama bahagia. Grandpa mengijinkan, lalu keduanya menikah dua bulan setelahnya."


Yah, Bimo sudah tahu kisah itu, kisah cinta yang membuat banyak wanita mengidamkan pria seperti Pram.


Annelyn menerawang jauh pada ingatannya, dimana kedua orang tuanya bertengkar di ruang kerja. Seharusnya pertengkaran itu tidak akan terdengar dari luar, karena ruangan itu kedap suara. Sayangnya, waktu itu Annelyn sedang mencari album masa kecilnya, dia langsung bersembunyi di dalam perpustakaan Daddy-nya. Hampir tidak percaya dia mendapati kenyataan pahit itu.


" Cerita bermula ketika Mama berlibur ke Thailand bersama dengan sahabatnya. Daddy tentu saja mengijinkannya karena Mama hamil muda, butuh merefresh pikiran dari banyaknya beban tanggung jawab." Annelyn mulai bercerita.


" Nahas, liburan itu membawa kabar buruk. Mama melihat dengan mata kepalanya sendiri, Daddy tidur dengan sahabatnya. Mama juga mendengar sendiri Daddy tidak pernah mencintai Mama. Pernikahan keduanya hanya sebatas bisnis, cinta dan kasih sayang Daddy tidak lebih dari tanggung jawab yang harus diemban. Bahkan saat Daddy bersujud memohon pada keluarga Mama agar bisa mempersunting Mama secepatnya, semua hanyalah kedok supaya Daddy bisa mewujudkan impian Oma dan Opa."

__ADS_1


Annelyn mendongak, memandang suaminya, mencoba membaca reaksi suaminya.


" Daddy hampir setiap hari tidur dengan wanita itu sebelum menikah dengan Mama. Setelah menikah, kesempatan mereka untuk bersama semakin terbatas, meskipun Daddy mencintai wanita itu, Daddy perlahan meninggalkan wanita itu. Dia tidak ingin menghianati istri sebaik Mama terus menerus." Air mata Annelyn menetes lagi. Tidak bisa dibendung.


Shroot shrooooot shrooooot. Ingusnya memenuhi jas suaminya. Padahal ada tisyu di nakas.


" Tapi, ternyata disaat Mama hamil, wanita itu juga mengaku hamil, padahal Daddy sudah tidak menyentuhnya hampir tiga bulan. Meskipun ragu, dan tidak pernah mengharapkan janin itu ada, Daddy tetap mengakui janin itu sebagai anaknya. Tapi ia tidak bisa bertanggung jawab, karena Daddy tidak ingin menghianati Mama lagi."


" Sayangnya saat di Thailand, wanita itu sengaja menjebak Daddy, mereka akhirnya tidur bersama lagi. Dan Mama melihat semuanya, bahkan mendengar semua pengakuan Daddy. Wanita itu mengancam Mama, jika tidak membiarkan Daddy menikah lagi, maka akan menyebarkan aib keduanya" Annelyn membenamkan wajahnya di dada suaminya.


Ia menangis sesenggukan. Bimo menepuk-nepuk punggung istrinya. Menguatkan dengan pelukan. Ia sendiri tidak tahu kisah ini. Tidak pernah tahu hubungan kakaknya sampai tahap perselingkuhan.


" Do you know Mama?" Annelyn bertanya. Pertanyaan yang sebenarnya sebuah alur jawaban.


" Mama tidak membiarkan wanita itu menang."


" Namun, wanita itu begitu licik, dia membuat Mama keguguran sehingga Mama tidak bisa memiliki bayi lagi karena rahimnya harus diangkat."


Bimo semakin tercengang.

__ADS_1


" Sampai akhirnya, Mama menyuruh orang untuk mengurung wanita itu di tempat yang jauh. Mama juga memutuskan tinggal di Thailand, merintis anak cabang perusahaan yang baru di sana."


Padahal semua itu hanya kamuflase. Agar tidak ada yang tahu mengenai kegugurannya.


" Daddy??" Bimo bertanya. Ia memikirkan apakah kakaknya tidak melakukan apapun??


" Daddy diam saja, perasaan bersalah membuat ia membiarkan Mama melakukan apa saja yang diinginkannya."


Annelyn melanjutkan ceritanya.


" Enam bulan berlalu, wanita itu melahirkan bayi, dan benar, setelah melakukan tes DNA, itu anak Daddy."


" Mama membawa bayi itu pulang ke Indonesia. Menyatakan pada semua orang bahwa ia sudah melahirkan anak perempuan. Memberinya nama, merawatnya seperti anak sendiri, bayi itu tidak kekurangan kasih sayang darinya sedikitpun. Bayi itu adalah aku." Tangis Annelyn semakin pecah, pelukan Bimo juga semakin erat.


Fakta ini, bukan hanya mengejutkan, tetapi juga menghempaskan rasa kagumnya ke dasar jurang.


" Aku.. tidak sanggup melihat Mama setelah tahu semua itu. Aku tidak sanggup.. aku merasa berdosa.. di sisi lain aku juga takut kalau sebenarnya rasa sayang mama selama ini hanya kamuflase. Aku takut Mama merawatku hanya karena tuntutan perannya sebagai istri. Aku takut Mama sebenarnya tidak pernah menyayangiku."


" Daddy tidak pernah menyukaiku, karena wajahku mirip sekali dengan cinta yang ingin dilupakannya, aku ibarat cermin yang membuat Daddy selalu teringat akan aib dan dosanya." Annelyn masih terisak saat mulutnya tidak berhenti meratap.

__ADS_1


" Itu sebabnya aku kabur. Aku tidak sanggup. Rumah ini seperti tali yang mencekik leherku, Bee."


" Aku harus bagaimana, Bee??" Annelyn berbisik lirih. Masih terisak.


__ADS_2