Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Ngidam


__ADS_3

Memasang wajah datar, Annelyn merangkul lengan Bimo. Berbisik manja seolah wanita cantik itu hanya bayangan.


" Sayang .." Suara merdu mendayu yang hinggap di telinga Bimo membuat jantungnya berdetak kencang.


Annelyn memanggilnya sayang? Tidak peduli bahwa semuanya hanya akting, yang jelas hatinya berbunga-bunga mendapat sapaan manis dari wanita termanis dalam hidupnya.


" Ini siapa, Bim?" Wanita cantik dengan kulit kuning langsat menatap heran Annelyn.


" Oh hai.. Annelyn, calon istrinya Mas Bimo". Annelyn mengulurkan tangannya.


Wanita itu terlihat syok, seperti tidak percaya, Bimo seorang pria yang menolak berkomitmen memiliki calon istri? Seperti mimpi saja.


Tersadar dari lamunannya, wanita itu menyambut uluran tangan Annelyn.


" Clara, aku minta maaf untuk ucapanku tadi, aku.."


" No problem Clara, i'm fine. Semua orang punya masa lalu. Dan kamu hanya masa lalu Mas Bimo kan? Jadi untuk apa minta maaf. Atau.. kamu berniat menjadi masa depannya??" Annelyn bertanya main-main, bahkan sebelum Clara menyelesaikan penjelasannya.


Bimo sudah sepucat hantu, entah mengapa dia merasakan aura negatif yang akan menyambutnya nanti. Biasanya dia tidak pernah peduli pikiran orang lain, tapi jika orang itu adalah Annelyn,dia seperti tidak berdaya apalagi saat gadis nakalnya beraksi.


Clara hampir tersedak air liurnya sendiri, Annelyn bahkan tidak memberinya muka dengan cara yang elegan.


Hahaha, menutup mulutnya dengan sapu tangan, tawa renyah Annelyn yang tidak keras, mengagetkan dua sosok dihadapannya.


" Aku cuma bercanda Clara, kamu kok pucat gitu? Sorry"


Belum sempat Clara menanggapi, Bimo lebih dulu membawa Annelyn pergi. Dia tidak ingin Annelyn mengenal masa lalunya yang buruk. Tentu saja Bimo tahu itu buruk, tapi gejolak jiwa mudanya tidak bisa dihentikan, rasa penasaran yang berakhir pada ketergantungan.


"Apa sih Om, aku masih ingin bermain dengan teman ranjang buaya darat!" Annelyn mencibir, kedua tangannya terlipat di bawah dada, membuat sesuatu yang sudah membengkak terlihat lebih bengkak.


Mata Bimo melotot, bukan karena ucapan ceplos-ceplos Annelyn, melainkan sesuatu yang tumpah ruah di depan mata. Anak kecil ini tidak cocok disebut anak lagi.


Terkadang Bimo merasa susah sendiri, harus menahan perasaan cinta juga perasaan lainnya, apalagi di apartemen, Annelyn selalu tampil seolah Bimo bukan laki-laki. Celana pendek atau rok pendek yang selalu di padukan dengan kaos longgar, yang longgarnya tetap memperlihatkan sesuatu yang besar.


"Itu hanya masa lalu, Lyn. " Bimo menunduk, menatap lekat mata Annelyn. Gadis kecilnya memiliki tinggi rata-rata, 157 cm.


" Huh, masa lalumu tidak jauh dari iya-iya"


" Aku lelaki dewasa, Lyn" Suara Bimo terdengar parau. Dia sekuat tenaga memandang mata Annelyn tanpa melirik sesuatu yang mengintip.


Sial. Sepertinya nanti malam dia tidak bisa tidur nyenyak setelah melihat pemandangan menggiurkan itu.


" Tau begitu, kenapa tidak menikah saja Om?". Jemari lentiknya menyomot cake mini bertabur keju.

__ADS_1


" Aku .."


" Tidak bisa move on?" Annelyn menyela, kemudian menggigit kecil cake yang terasa lumer di mulut.


Bimo masih memandang lekat mata indah Annelyn, berharap bisa mengungkapkan betapa ia sangat mencintainya, bahkan rela melajang seumur hidup untuk menjaga Annelyn. Demi menemukan seorang pria yang bisa mencintai Annelyn tanpa batas, tanpa syarat.


" Aku tidak bisa move on dari seorang wanita yang bahkan tidak pernah tahu perasaanku" Satu tangannya membelai rambut Annelyn.


Demi apa coba. Melihat tatapan mata Bimo, ada perasaan aneh yang muncul di hati Annelyn. Sedikit canggung, beda dari biasanya, atmosfernya tidak cocok untuk seorang ponakan dan Omnya.


***


Satu minggu berlalu, hidup Annelyn dan Bimo berjalan lancar, mereka tidak layak disebut Om dan ponakan, mereka lebih cocok disebut sepasang kekasih. Sayang disayang perasaan cinta sepihak serta status hubungan mereka seolah tidak memungkinkan.


Tok tok tok


" Om, buka pintunya"


Tok tok tok


Hening.


"Om.." Suara Annelyn menggantung saat Bimo membuka pintu kamarnya. Pukul satu dini hari, tengah malam buta, Bimo terbangun dengan suara berisik anak manjanya.


" Kan masih ada sisa makan malam, Lyn"


Setengah nyawa Bimo masih melayang bersama mimpi indahnya bermesraan dengan pujaan hatinya, yang ternyata sekarang berdiri di depannya.


Hanya mengenakan piyama tidur pendek dengan belahan dada rendah. Itu pasti baju tempurnya saat bersama Dimas dulu.


" Aku ngidam pengen sate Padang, Om"


Pinta Annelyn setengah merengek.


" Besok pagi saja, kita ke restoran, di sana ada sate Padang." Bimo bahkan tidak mau memandang pemandangan menakjubkan di depannya.


"Aku pengennya yang gerobakan, Om. Dimakan di depan gerobaknya, teruuuss asepnya mengepul, enak Om"


Tidak. Bimo tidak bisa lagi berdiri di depan Annelyn, mimpi menyebalkan tadi membuat hawa nafsunya tidak terkontrol saat melihat penampilan Annelyn. Tubuhnya menegang di waktu yang tidak tepat.


Terbesit dalam hati kotornya untuk menuntaskan mimpi yang tertunda dengan tindakan nyata. Huh dia perlu bergelung dalam selimut, tidak mungkin kan tengah malam harus berendam untuk meredakan hasrat. Dia bisa gila.


" Ooommm.. ayolah " Annelyn merengek mengayunkan lengan Bimo maju mundur.

__ADS_1


Bimo takut, tidak bisa bertahan.


" Aduh Lyn, bisa tidak malam-malam jangan menyusahkan?? Aku baru saja tidur, Lyn. Seharian ini kamu tidak memberiku waktu istirahat. Besok pagi aku harus kerja."


Degh.


Perlahan Annelyn melepaskan lengan Bimo. Perkataan tegas Bimo mengalir dengan pelan tanpa niat memarahi. Hanya saja mood wanita hamil yang mengalami broken home, dengan hati yang masih kacau, menanggapinya sebagai bentuk ketidaksukaan.


Annelyn masih mematung di depan pintu saat Bimo menutup pintu kamarnya. Air matanya menetes, membasahi pipi mulusnya.


Aku kuat, aku bisa, dimana Annelyn yang dulu dewasa dan mandiri????


Hidup bersama Bimo, dengan berbagai perlakuan manisnya yang memanjakan, membuat Annelyn terlena, bahkan melupakan jati dirinya yang kuat dan tidak mudah merengek.


Berjalan meninggalkan kamar Bimo, Annelyn masuk ke dalam kamarnya. Hanya sebentar, kemudian keluar lagi, kali ini memakai jaket dan membawa dompet keluar dari apartemen Bimo.


Seminggu yang lalu, pukul sebelas malam, saat pulang dari pesta, Annelyn melihat gerobak sate Padang di taman kota. Berjejer rapi dengan gerobak-gerobak lainnya yang menyajikan beraneka ragam makam berat dan ringan.


Annelyn berjalan menyusuri trotoar, taman kota hanya berjarak 100 meter dari Apartemen. Tidak terlalu jauh.


Malam yang dingin, Annelyn memeluk dirinya sendiri. Ia tidak khawatir diculik, dicopet atau diganggu preman. Apartemen Omnya termasuk dalam lingkungan elit.


Jalan menuju taman kota juga sangat ramai walaupun di tengah malam. Banyak pasangan muda mudi yang juga begadang di taman kota, selain tempatnya bagus, jajanannya juga enak dan murah meriah. Dulu dia sering makan sate Padang di taman kota bersama Dimas.


Tidak lama, Annelyn sampai di depan gerobak sate Padang, ada sekitar tujuh orang yang antre, Annelyn duduk lesehan seperti orang-orang lainnya.


" Anne". Suara serak seseorang yang ingin dihindari Annelyn.


Annelyn merasa tenggorokannya tercekat, tidak ada yang bisa keluar dari mulutnya untuk menjawab sapaan Dimas. Bahkan tubuhnya menegang tidak mampu menoleh ke belakang sekalipun.


Dimas melangkah menghampiri Annelyn, kini dua sosok itu sudah berhadapan, Dimas menunduk menatap Annelyn, sedang Annelyn mendongak menatap pria yang begitu dicintainya.


" Apa kabar, Lyn? Kamu ngapain di sini?" Dimas bertanya setelah duduk berhadapan dengan Annelyn.


" Kabarku? Kabarku baik, Mas. Aku ngidam sate Padang"


Degh.


Annelyn keceplosan, tanganya refleks memegang perutnya yang rata.


Dimas? Dia lebih dari syok. Matanya berkaca-kaca.


Hai reader tercinta jangan lupa vote komen dan like.

__ADS_1


salam coretan amatiran.


__ADS_2