Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Kemelut


__ADS_3

Annelyn POV.


Dua hari ini Risya tinggal bersamaku, rasanya darahku selalu mendidih setiap hari. Dia dengan santainya keluar kamar mandi hanya memakai handuk, di dalam rumah memakai celana pendek dan tang top. Dipikirnya suamiku lelaki jadi-jadian? Dikiranya suamiku imp*t*n


Perilakunya pada suamiku juga sedikit aneh, meskipun aku tahu suamiku biasa saja, tapi aku tidak bisa tinggal diam. Aku adalah Nyonya rumah ini, tinggal di sini harus mengikuti aturanku. Apalagi dua hari ini dia tidak diijinkan kerja dulu oleh suamiku, kelakuannya semakin ngelunjak.


" Jaman sekarang banyak sekali tipu muslihat Ris, jangan kegenitan sama orang, takutnya nanti hamil di luar nikah, ya kalau ada orang baik seperti saya dan suami saya, kalau tidak ada? Kan repot."


Kataku pada Risya yang tengah asyik memainkan ponselnya. Aku sendiri sibuk merapikan riasan wajahku, biasanya aku berhias di kamar, tapi kali ini sengaja ku lakukan di depan Risya. Sekalian mencoba menggertaknya.


" Maaf Bu, saya tidak pernah meminta Pak Bimo untuk menolong saya. Mungkin Pak Bimo berharap banyak pada bayi dalam kandungan saya, karena istrinya ternyata mandul." Risa tersenyum mengejek.


Untung suamiku di luar, coba kalau suamiku mendengar perkataannya, bisa dicincang lidahnya. Sialan Risya, muka temboknya sama seperti Tante Kuntilanak Puspa. Kalau bukan karena Kak Siska, orang seperti ini sudah ditenggelamkan suamiku.


" Hahaha, Ada banyak kisah yang bahkan secuil saja kamu tidak tahu tentang saya dan suami saya." Aku tertawa sumbang menanggapi ejekannya.


Memang sedikit mengena di hati, kata mandul yang ia disematkan benar adanya. Dulu, setelah setahun menikah dengan Dimas aku baru bisa hamil, apalagi sekarang setelah kejadian buruk itu menimpaku?


" Saya tahu Bu, saya tahu semuanya, pak Bimo masih berharap pada cinta pertamanya." Papar Risya penuh percaya diri. Sombong sekali dia.


" Cinta yang sesungguhnya lahir dari keluarga, Ris. Suamiku meninggalkan cinta pertamanya demi keluarganya." Tuturku lembut, tapi senyum penuh ejekan dan penekanan merekah menghiasi wajahku.


Ia hanya diam menatapku dengan pandangan nyalang, saat aku merapikan peralatan makeup milikku.


Ku pandang wajahnya yang cantik. Lalu ku tampilkan ekspresi seolah teringat sesuatu yang sangat penting.


" Oh ya. Siska Maharani mempunyai adik tiri yang wajahnya mirip dengannya, tapi hati dan karakternya berbeda." Kataku dengan senyum devil sedangkan dia hanya ternganga, seolah tidak percaya.


" Wajar jika suaminya lebih tertarik pada Siska Maharani daripada Risya Mardani."


Ku saksikan wajahnya yang semakin syok pucat seperti kapas. Rasakan.


Aku keluar rumah, menjahili suamiku yang baru saja mengurus peliharaannya.


Saat perhatian suamiku teralihkan, kucium bibirnya tepat di depan mata jelalatan Risya.

__ADS_1


Aku tahu Risya berusaha mengikuti langkahku, mungkin dia penasaran aku tahu dari mana tentang kisah Siska dan suaminya. Maka ku tambah lagi kemesraanku dengan suamiku. Ku kalungkan lenganku di lehernya, dan tentu saja suamiku sangat menyambut sisi manjaku.


Emang enak cuma ngiler doang. Hahaha. Tawaku dalam hati.


Suamiku tipe lelaki yang tidak pernah malu mencium istrinya dimanapun dan kapanpun. Bahkan di depan Bu Tejo dan Bu Dah sekalipun. Jadi saat ku cium, dia langsung nyosor saja.


***


Bimo POV.


Malam ini aku harus lembur dengan tumpukan catatan belanja, belum lagi besok sebelum pukul 03.00, harus sudah sampai pasar untuk belanja. Pak Hartopo, ayahnya Hanif memesan catering makanan dan jajan dari kami untuk acara pernikahan putri bungsunya.


Masalahnya, beliau memesan catering secara mendadak, karena juru rewang langganan keluarganya tiba-tiba terserang demam berdarah.


Seharusnya ini menjadi tugas Risya, berhubung dia hamil dan sering mengeluh perutnya kram, jadi mau tidak mau aku dan Annelyn harus mengurus semuanya.


" Tahu begini kita sewa orang lain saja Bee. Aku juga butuh istirahat, aku masih telat haid lho Bee, kalau aku beneran hamil. Apa kamu nggak kasihan?" Annelyn mengomel, lagi-lagi tentang kehamilan. Hampir setiap hari, selama dia belum datang bulan, dia selalu seperti ini.


" Love, ku mohon jangan menyiksa batinmu dengan berpura-pura tidak tahu bahwa kamu tidak hamil." Keluhku.


" Bagaimana kalau aku beneran hamil?"


" Itu tidak mungkin, Love." Sanggahku.


Ku pijit pelipisku, kepalaku semakin berdenyut setiap kali perdebatan ini muncul.


" Bagaimana kalau mungkin?" Dia masih ngeyel.


"Love berhenti! Jangan gila hanya karena bayi. Aku tidak butuh anak, aku tidak butuh keturunan!!"


Habis sudah kesabaranku. Untuk pertama kalinya seumur hidupku aku membentaknya. Dan sayangnya aku tidak tahu, inilah hal yang nantinya akan ku sesali.


Degh.


Ku lihat wajahnya memucat, tatapan matanya penuh keputusasaan. Aku menghela nafas sedalam-dalamnya, menetralkan amarah yang menguasai jiwa. Meluaskan rasa sabar untuk kesekian kalinya. Aku mencintainya, sampai aku tidak sanggup melihat dirinya selalu berada dalam lingkaran harapan semu.

__ADS_1


" Aku hanya ingin kamu menjadi Annelynku. Keponakan dan juga istriku yang selalu ceria, yang senyumnya tidak terbebani harapan memiliki anak." Tuturku lembut, penyesalan merayapi hatiku. Belum genap setengah tahun rumah tanggaku, aku sudah membuat istriku menangis.


" Aku tidak ingin Risya tinggal bersama kita, Bee." Ia berjalan menuju ranjang melewati tubuhku.


" Pembahasan kita tidak ada hubungannya dengan Risya Love."


" Alasanmu menampung dia karena dia hamil. Bukankah istrimu tidak bisa hamil?" Todongnya.


Lagi, lagi, dan lagi. Permasalahannya selalu berputar pada kehamilan.


" Bukan tidak bisa Love, kamu hanya belum hamil." Jelasku, meluruskan inti permasalahan yang akhir-akhir ini memicu kemelut rumah tanggaku.


" Pilih aku atau Risya?" Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba dia memberiku pilihan yang tidak masuk akal.


" Love jangan kekanakan! Ini tidak ada hubungannya dengan Risya." Aku tidak sanggup melihat dia semakin menggila.


Mungkinkah trauma dikhianati dan keguguran yang dialaminya sefatal ini akibatnya? Mungkinkah keputusanku menikahi dia secepat ini juga keliru? Mungkinkah dia belum siap membangun hubungan lagi? Ataukah luka hatinya belum sembuh?


" Dia adiknya Kak Siska. Kamu membawanya ke dalam kereta rumah tangga kita! Kamu menyimpan cinta pertamamu dalam perjalanan hidup kita, Bee!"


Tubuhnya merosot ke lantai, kedua tangannya menutupi wajahnya yang ku yakin sudah bersimbah air mata.


" Katakan dimana letak kesalahanku memintamu mengusir dia?? Aku pernah dikhianati dan aku tidak ingin masuk dalam lubang yang sama." Bisiknya parau.


" Aku bukan Dimas. Aku tidak akan mengkhianatimu." Kataku dengan begitu bodohnya tidak mau mengalah.


" Tapi kamu sudah menghianati diriku." Lagi-lagi hanya bisikan lirih yang dia lontarkan.


Seperti ada ribuan paku yang menusuk hatiku. Melihatnya hancur adalah mimpi terburuk sepanjang hidup.


Aku bersimpuh di depannya, ku peluk tubuhnya.


" Maaf Lyn."


Hanya satu kalimat itu yang mampu ku ucapkan. Satu kalimat yang malam ini menyelamatkan rumah tanggaku. Malam ini air mataku ikut luruh, selama ini aku bahkan tidak berhasil menyembuhkan trauma yang dibuat mantan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2