Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Sensi.


__ADS_3

Annelyn menggerutu tiada habisnya, setelah penyatuan di pagi hari, bukannya tersenyum lebar seperti Bimo, ia justru cemberut, bibirnya tidak henti komat-kamit.


Adzan Dhuhur berkumandang, dan Bimo baru melepaskan dirinya.


" Dasar Om-om tidak tahu umur. Semakin tua semakin berbahaya." Annelyn mengerucutkan bibirnya. Tubuhnya sudah duduk bersandar di kepala ranjang, rambutnya acak-acakan, pakaiannya berserakan.


" Makan apa sih Bee? Aku udah mau pingsan kamunya masih nyosor kaya entok." Lagi-lagi Annelyn menyuarakan protes.


" Hehehe, kamu makin enak Love." Bimo meraih kaos oblong untuk dipakainya. Sebelah matanya berkedip menggoda Annelyn yang asik cemberut.


" Pokoknya nanti malam aku nggak mau lagi. Daerah rawanku harus diisolasi seminggu." Annelyn mengeluarkan ultimatum.


Mendengar itu Bimo tersenyum miring. Sebuah ide untuk menjahili istrinya muncul lagi.


" Yakin seminggu? Sehari saja kamu sudah nggak tahan." Ia menggoda istrinya sambil menarik turunkan alisnya.


" Apa sih Bee? Tadi itu lain dari biasanya. Kesambet jin apa sih sampai segitu n*fs*nya?" Annelyn semakin sebal.


" Hahaha iya iya maaf, mungkin karena semalam sudah lembur, sudah tidak ada yang mau dikeluarkan jadinya terlalu lama aku keluarnya." Bimo berkata enteng.


" Itu sih bukan terlalu lama namanya, tapi emang lama banget. Ini kakiku sampai kram."


Annelyn menyodorkan kakinya yang terasa linu.


" Ya tapi enak kan???" Bimo masih asik menggoda.


" Itu sih nggak usah ditanya." Annelyn bersemu merah memalingkan wajahnya.


Hahaha. Gelak tawa Bimo memenuhi kamar.


" Ya iya maaf sayang, kamu mau mandi? Biar aku mandikan." Kedua tangan Bimo bersiap membopong tubuh istrinya.


" Nggak usah, nanti yang ada malah tambah sakit." Annelyn berkelakar. Memang biasanya suami mes*mnya akan begitu, pura-pura menolong padahal ingin menerkam.


" Nggak Love, aku janji deh pokoknya cuma mandi saja. Nggak ada yang aneh-aneh." Bimo menaikkan jari telunjuk dan jari tengah.


Melihat itu Annelyn mengangguk, ia juga akan kerepotan kalau berjalan dengan kondisi seperti ini. Daerah rawannya masih perih.


" Lagian emang kamu pikir tenaga Ultraman, aku juga capek Love, bisa encok nanti aku." Bimo membopong tubuh istrinya untuk dimandikan.

__ADS_1


Begitulah keduanya, percekcokan yang terjadi tak jarang hanya sekedar candaan saling menjahili, lalu berbaikan lagi dengan keteduhan taman surga yang mereka daki bersama.


Cinta. Begitulah sebutannya. Bimo berdamai dengan diri sendiri, menerima perasaan cintanya yang sebetulnya belum terbalaskan. Memiliki raga dan hati istrinya tapi tidak dengan jiwanya.


Apa mungkin dia egois karena berharap istrinya bisa mencintai dengan sepenuh jiwa, bukan sekedar sepenuh hati?


Annelyn menjadi istrinya, tersenyum, bersikap manis padanya, bahkan membuat setiap malamnya lebih berwarna dengan tarian gairah yang kenikmatannya belum pernah ia temui sebelumnya. Tapi cinta yang terpancar dari mata Annelyn tidak lebih dari sekedar tanggung jawab seorang istri untuk mencintai suaminya.


Begitulah. Begitu pula Annelyn.


Cinta yang dia agungkan, memporak porandakan kehidupannya. Kalau bisa memilih, ia akan memilih menjadi wanita asing yang bisa hidup saling mencintai bersama Bimo. Nyatanya takdir tidak membuat semuanya semudah itu, takdir seringkali mempermainkan jalan hidup manusia.


Ia mencintai Dimas, sekeji apapun dan sebenci apapun dia terhadap pria baj*n**n itu Tuhan masih enggan menendang pria sialan itu dari tahta hatinya.


Sebagai seorang istri yang tersakiti, seorang ibu yang anaknya dibunuh. Seharusnya, hanya ada dendam yang tersisa untuk sosok penjahat itu. Nyatanya jalan pikiran manusia dan takdir penggerak hati tidak sejalan.


Kalau ditanya harus memilih siapa diantara kedua pria itu, Annelyn mantap memilih Bimo. Om-nya yang baik hati dan mencintainya layaknya seorang wanita berharga. Ia merasa cinta Bimo tak ternilai, tak tergantikan.


Tapi, terkadang perasaan bersalah dan berdosa menghantuinya, seolah mengolok-olok dirinya yang begitu bodoh tidak bisa melupakan masa lalu.


Sepenuh hati dan raganya mencintai Bimo, sepenuh jiwanya melayang untuk pria di ujung sana. Sangat menyiksa. Ia ingin amnesia saja dan memulai semuanya dari awal.


" Doorrr." Bimo mengagetkan istri tepat di samping telinga.


" Aaaaaa." Annelyn berteriak kencang, sampai tanpa sadar membangunkan penghuni kamar sebelahnya.


" Ya Tuhan, apaan sih Bee?" Gerutunya.


" Melamun apa sayangku, lovely ku." Bimo menyangkup kedua pipi istrinya, membiarkan bibir manis itu mengerucut.


Cup cup dua kecupan dilabuhkan pada bibir mungil itu. Sebuah kilat cahaya terlihat jelas di mata Annelyn.


" Tidak ada." Annelyn berkilah.


" Kamu tidak bisa berbohong dariku Love.. aku tahu kamu memikirkan pria itu." Bimo duduk membawa istrinya dalam dekapan.


" Begitu terlihatkah?" Annelyn mendongak untuk bertanya. Sepasang mata mereka bertemu.


Ada secuil rasa kecewa yang terpancar dari mata Bimo, tapi secepat kilat menghilang. Ia tidak ingin terlalu memaksa istrinya untuk membalas cintanya.

__ADS_1


Ia bisa cemburu melihat istrinya dekat dengan pria lain, tapi dia tidak berhak cemburu bila istrinya menyimpan masa lalu, apa haknya?? Meskipun dia seorang suami, tapi masalah hati Tuhan yang menakdirkan. Annelyn sudah berusaha mencintainya dan dia bersyukur akan fakta itu.


" H.m, aku ini menghabiskan masa mudaku untuk menjadi Nanymu Lyn." Bimo sedikit mengeratkan giginya, menahan perihnya rasa cemburu. Tapi apa boleh buat? Jadi dia menjahili istrinya, agar suasana lebih santai.


" Jangan menumbalkan diriku Bee, aku memang lebih dekat denganmu daripada Daddy, tapi nggak seperti Nany juga. Masa mudamu kan habis untuk wanita-wanita penghangat ranjang." Kali ini Annelyn membela diri, dulu dia tidak sebegitu merepotkan, ada pengasuh yang menjaganya.


" Isshh aku nggak seperti itu." Bimo memencet hidung Annelyn.


" Tukang celup-celup!" Annelyn menggerutu.


Akhir-akhir ini dia sedikit sensi, apalagi membahas tentang masa lalu suaminya. Bukan berarti dia tidak menerima, hanya saja dia juga heran mengapa harus emosi dan merasa cemburu.


" Aku pilih-pilih wanita Lyn, mana ada wanita murahan yang tidur denganku. Mereka semuanya berkelas." Bimo melihat wajah Annelyn merah padam, semakin gencar menjahili.


" Berkelas atasnya, bawahnya murah banget, pasti udah pernah diobok-obok sama pria sana sini sebelum sama kamu Bee." Annelyn semakin menggerutu.


" Hei hei hei. Aku cuma pernah meniduri enam wanita saja tidak lebih. Mereka semua masih orisinil" Bimo berkelakar bangga. Kedua alisnya naik turun menggoda istrinya.


Plak plak plak. Annelyn memukul lengan Bimo.


" Enam kamu bilang cuma??? Oh ya dan apa tadi? Orisinil? Maksutnya kamu mengejek aku yang janda?" Di luar dugaan, Annelyn justru mengamuk.


" Jangan mentang-mentang kamu pria jadi kalau sudah lepas perjaka nggak ada bekas. Kamu juga duda." Annelyn mengomel, seakan semua unek-unek hatinya ditumpahkan.


Bimo yang tersadar dari rasa kaget pun berusaha merayu istrinya. Salah langkah dirinya.


" Love bukan begitu, aku hanya.."


" Hanya ingin protes karena aku janda? Sedangkan Siska dulu masih perawan?" Annelyn sedikit membentak. Luruh sudah air matanya.


" Kok Siska sih?" Bimo heran, mengapa istrinya tiba-tiba objektif?


" Iyalah, janda begini aku masih suci nggak murahan. Beda sama kamu dan Siska, belum ada hubungan apa-apa main celup-celup." Annelyn masih saja emosi, nada suaranya naik beberapa oktaf.


Iapun berjalan meninggalkan Bimo yang masih terbengong.


Blammm.


Oh God. Salah langkah. Annelyn tidak pernah sesensi ini. Bimo membatin.

__ADS_1


__ADS_2