
Saat ia sampai rumah, ia melihat suaminya sudah sibuk dengan pekerjaan. Tidak ingin mengganggu, Annelyn memutuskan segera ke kamar mandi untuk menguji alat tes kehamilan yang baru saja dibelinya dengan harga sepuluh ribu dapat empat. Murah meriah. Dia akan menggunakan keempatnya secara bersamaan.
Satu menit, dua menit, sampai lima menit, tangan wanita muda itu masih menggenggam, berdoa dengan khusyuk di kamar mandi setelah menyelupkan empat test pack ke dalam wadah berisi air seni.
Ia, dengan ****** ***** masih menggantung, belum terpasang rapi di tempatnya, duduk di WC duduk sambil berdoa.
Sebelah matanya mengintip.
" Aaaaaaaaaaaaaa."
Teriakannya menggelegar, mengagetkan Bimo yang sedang menumis sayur. Pria matang itu langsung berlari menuju kamar, tak lupa mematikan kompor.
" Love.. apa yang terjadi?" Bimo membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci.
Arah matanya menatap Annelyn, ****** ***** wanita itu melorot ke bawah saat ia berdiri. Lalu, pandangan matanya mengarah pada wadah kecil berisi empat test pack.
Dua garis merah.
Jantung Bimo bertalu-talu. Annelyn hamil?? Bagaimana bisa? Selama ini mereka berhubungan badan, tapi ia sudah berusaha mencegah kehamilan istrinya.
Seketika, ia teringat percakapannya dengan Annelyn di rumah sakit dua bulan lalu. Apa mungkin??
" Love.."
" Bee .."
__ADS_1
Keduanya saling memanggil, saling menatap. Lalu, pelukan hangat penuh haru itupun terjadi.
Kedua anak Adam yang memendam harapan dalam diam. Setiap tarikan nafasnya selalu percaya Tuhan selalu menyertai hambanya yang beriman.
" Bee, aku hamil.." Dengan suara serak parau Annelyn mengungkapkan kebahagiaannya. Tidak terlukiskan betapa ia sangat bahagia, betapa Tuhan tidak Maha segalanya. Dia yang divonis sulit hamil, bahkan dikatai mandul, kini benar telah hamil.
" Iya Love, maafkan aku maaf maaf maaf selama ini belum menjadi suami yang baik." Bimo semakin erat memeluk istrinya.
Bukankah selama ini dia menuntut cinta dari istrinya? Dengan tidak tahu malu, hatinya masih menuntut cinta sepenuh jiwa itu. Bahkan tanpa berfikir dan introspeksi diri, dia belum menjadi suami yang baik, egois, arogan dan tidak peka dengan apa yang diinginkan istrinya.
" H.m maaf juga Bee." Annelyn bergumam lirih. Ia mencintai Bimo, sangat. Tapi cinta itu tidak sama seperti cintanya pada sosok diujung sana. Yang entah mengapa Tuhan tidak pernah mencabut perasaan bodoh itu dari hatinya.
Sekuat apapun dia mencoba, rasa benci yang mengakar tidak bisa menepis cinta yang membumi pada sosok itu.
Keduanya sangat bersyukur, setidaknya kehamilan Annelyn adalah pintu pembuka untuk kelancaran hubungan mereka setelah ini. Karena, sejatinya keduanya juga merasa takut akan terpisahkan oleh kehendak keluarga. Tinggal menunggu waktu, Pram akan menemukan mereka.
Kabur?? Tidak selamanya bisa. Kekuatan dan koneksi Bimo tidak sekuat dulu, sisi finansialnya yang meskipun bagi orang biasa bisa dianggap kaya, tapi belum cukup mendukung. Perhiasan dan barang berharga milik Annelyn bisa dijual untuk menghasilkan banyak uang, hanya saja satu barang langka itu terjual, keberadaannya semakin mudah dilacak.
" Kita kuat. Kita pasti bisa Love." Bimo berjongkok, menarik lepas ****** ***** istrinya yang sudah sedikit basah terkena lantai kamar mandi.
Dengan pipi bersemu merah karena malu, Annelyn mengangguk.
" Iya Bee, jangan tinggalkan aku."
***
__ADS_1
" Huuuhhhh lelah sekali.." Bimo menghela
nafas lelah.
Biasanya ada Risya yang membantu, kini dia serba sendiri.
" Biarkan aku membantumu Bee, aku tidak apa-apa." Annelyn bersiap membantu suaminya.
" Eits eits.. No. Tuan putri duduk saja dulu, biarkan aku membersihkan sisa kegiatan memasak ini." Bimo tersenyum melihat istrinya dengan wajah ditekuk sedang duduk malas dengan bibir mengerucut.
" Tapi Bee, ini sudah mau gelap."
" Biar saja. Nyonya manisku harus duduk manis. Besok kita berobat. Oke?" Bimo membuat suasana menjadi lebih tenang dengan caranya menjahili istrinya.
" Okeee." Annelyn dengan semangat menjawab, ia tidak sabar ingin melihat gumpalan kecil yang berada di rahimnya.
Tengah malam, saat Annelyn tidur dalam pelukan suaminya, ia mendengar suara dari luar kamar. Instingnya mengatakan ada seorang penyusup.
"Bee.." lirih Annelyn.
" Hmmm"
" Ada penyusup." Bisik lirih Annelyn hampir tidak terdengar.
" Kaya di film Hollywood saja." Jawaban Bimo seperti santai, dia sangat mengantuk, bahkan tidak sempat menyadari ada mengintai keberadaan mereka.
__ADS_1