
Bimo POV.
" Lin, aku ingin bicara berdua denganmu." Aku mendekati istriku yang tampak pucat.
Ia memakai dress di bawah lutut berwarna glory, dengan lengan transparan membentuk kesan lembut. Ditambah rambut panjangnya terurai dengan bandana senada, semakin menambah aura kerapuhan.
Aku menyukai semua yang ada pada dirinya, termasuk cara dia berpakaian. Disaat tertentu, dia bisa terlihat seperti wanita muda penuh semangat dan tekad. Terkadang juga gadis kecil yang manja, dan sekarang dia memancarkan aura kerapuhan yang membuatmu ingin melindunginya.
" Ada apa, Bee?" Dia mengikuti langkah kakiku keluar ruang rawat inap.
Aku memintanya duduk di kursi sebelahku, andai tidak ada siapapun di sini, akan ku dudukkan dia di pangkuanku. Aku sangat merindukan aroma bunga yang tersebar di tubuhnya.
" Kamu tahu dia diper.." Aku memulai pembicaraan.
"Hmm begitulah katanya." Dia memotong pertanyaanku.
" Aku berencana menanggung biaya perawatannya,Lyn. Apa kamu keberatan?"
" Lebih baik begitu, dia juga bekerja dengan kita, gajinya tidak seberapa pula, kasihan bayinya." Istriku memang sangat baik, dan manis tentunya. Dia mewarisi kebaikan hati Kak Karina, ups maksutku Mama mertua.
Aku merangkul pinggangnya, melihat dia tidak bereaksi, aku memilih mengecup pipinya.
Cup. Muach.
Maaf Lyn, aku merahasiakan semuanya darimu, aku tidak ingin kamu terbebani masa laluku dengan Siska. Batinku merasa sangat berdosa.
Melihat Risya terbaring lemah, hatiku sedikit tercubit, dia adiknya Siska secara tidak langsung dia juga adikku. Andai dulu aku tidak merebut kesucian Siska, suaminya tidak akan marah dan melampiaskan semuanya pada Risya.
Semua kesalahan yang ku lakukan seolah terpatri kuat dalam ingatanku. Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku, setidaknya dengan membiayai hidup Risya, toh penghasilanku lebih dari cukup. Belum lagi sebelum kabur bersama Annelyn, aku sudah mencairkan uang ratusan juta. Cukuplah buat jaga-jaga.
Ku pandangi lagi wajah istriku. Dia semakin terlihat pucat, apa dia sakit?
" Kamu kelihatan pucat Lyn. Apa yang kamu rasakan sayang?" Ku belai lembut pipinya yang lembut seperti tomat.
" Aku hanya lelah Bee, masih syok juga." Dia sama sekali tidak mau menatapku.
" Mau ku antar pulang? Aku masih menunggu Bu Tejo sama Bu Dah, mereka berencana menginap di sini." Aku menjelaskan alasan mengapa aku tidak bisa pulang sekarang.
" Aku menunggumu saja Bee." Dia tersenyum memandangku, tapi senyumnya yang tidak biasa, menambah rasa was-was di hatiku.
" Kamu sudah makan Lyn?"
" Belum."
" Mau makan apa?" Aku bertanya selembut mungkin.
Matanya memandang lekat kedalam bola mataku. Entahlah rasanya aku seperti sedang diadili.
Hehe.
Dia terkekeh. Aneh sekali istriku hari ini.
" Emmm mie bakso tulang rusuk Bee. Di dekat pertigaan samping rumah sakit ada lho. Enak Bee katanya." Dia berkata dengan antusias. Ekspresi wajahnya yang tadi serius langsung berubah ceria.
" Ya sudah, yok kita jalan kaki saja." Aku menggandeng tangannya.
Sepanjang kami berjalan, banyak pasang mata laki-laki menatap istriku, apa karena aku terlalu tua? Atau istriku yang terlihat kecil seperti anakku? Sehingga mereka tidak tahu sudah jelalatan di depan suaminya sendiri. Menyebalkan!
Sepanjang perjalanan, dia terus berceloteh, cerita ini itu, tapi dia sama sekali tidak menceritakan kejadian yang terjadi di kontrakan Risya. Aku pun enggan bertanya. Tidak ingin merusak suasana tentram dengan mengingat kejadian mengerikan itu.
" Bee, aku terlambat datang bulan." Tiba-tiba dia bicara serius.
" Apa mungkin aku hamil?" Pertanyaan ini yang ku takutkan akan keluar dari mulutnya.
__ADS_1
" Sebaiknya jangan dulu, kondisi rahimmu belum cukup sehat. Takutnya nanti kamu kenapa-kenapa." Aku menelan ludah dengan pahit sambil membelai lembut rambutnya.
" Kalau misalnya memang hamil?" Dia masih kekuh rupanya.
" Ya disyukuri, kamu harus bed rest dan tidak boleh ngapa-ngapain. Aku akan melayani dua puluh empat jam nonstop!" Kataku sambil menepuk dadaku dengan bangga.
" Emang telat berapa hari?" Aku bertanya.
" Baru dua hari. Hehe." Dia tersenyum malu. Aku tahu dia sangat berharap bisa hamil lagi meskipun kemungkinannya kecil.
Terkadang dia sedikit insecure. Bahkan aku juga terkadang sampai berkata tidak ingin memiliki anak asal bisa hidup dengannya, tapi tetap tidak mampu membuat rasa percaya dirinya kembali seperti semula.
Pernikahan kita yang baru beberapa bulan, seperti bertahun-tahun lamanya jika sudah membahas mengenai anak.
Sesampainya di warung bakso yang kami tuju, aku memesan bakso sendiri, membiarkan Annelyn memilih tempat duduk. Lumayan ramai pengunjung, ada deretan mas ojol yang mengantre, kemungkinan sampai sepuluh orang.
" Pak, mie bakso dua porsi, yang satu baksonya dua kali lipat ya. Minumnya es sirup dua." Kataku memesan makanan, selepas itu aku menghampiri istriku yang duduk di pojok.
" Tahu dari mana kamu Lyn kalau di sini ada warung bakso tulang rusuk?" Aku sedikit heran, selama ini dia tidak pernah jalan-jalan selain ke pasar.
" Oh, dari anaknya Bu Tejo, katanya pernah di ajak kesini sama pacarnya, biar so sweet gitu." Kedua tangannya memangku kepala dengan malas.
" Biasa saja tempatnya." Celetukku. Memang sih tempatnya bagus dan bersih, panataannya juga rapi, tapi apa romantisnya?
" Yang so sweet itu nama warungnya Bee, tulang rusuk. Seperti halnya aku adalah tulang rusukmu. Berarti aku adalah jodohmu."
Annelyn menjelaskan dengan antusias. Ini juga yang ku suka dari dia, sangat ekspresif. Sebentar murung, sebentar malas dan langsung ceria.
" Kenapa nggak tulang kepala, tulang belakang atau tulang ekor? Hahaha." Godaku seperti biasa.
" Nggak sekalian tulang gigi? Dasar lelaki tua nggak romantis." Ekspresi wajahnya berubah sebal. Lucu juga.
" Hehehe, tua begini kamu K.O, hahaha." Ku lanjutkan sesi menggoda.
" Monggo." Seorang pelayan menghidangkan pesanan kami.
Ku lihat wajah istriku yang duduk di depanku, matanya berbinar-binar seperti menemukan sebongkah berlian saja. Kalau ibarat kartun Upin Ipin ya dia seperti Ehsan, air liurnya sudah menetes membayangkan akan menyantap mie bakso.
Annelyn menambahkan enam sendok sambal ,tujuh sendok acar, cuka dan kecap. Mangkuknya seperti tidak muat, saat dia mengaduk mie baksonya, ada beberapa yang sampai tercecer. Kalau semua pelanggan seperti istriku, pemilik warung pasti tepuk jidat. Hehe
Baru saja dia menyeruput kuah baksonya.
" Bee?" Dia memandangku, matanya membulat sempurna, berbinar-binar lebih terang.
" Rasanya enak Bee, aku mau seminggu sekali kesini Bee."
" Jangan kebanyakan makan mie Lyn!" Aku mencegah keinginannya, kalau dituruti, seminggu sekali bisa jadi setiap hari.
" Tapi ini enak Bee, andai aku hamil, pasti sudah jadi list makanan harian. Hehe." Tuh kan, dia mulai lagi.
" Sudah-sudah, aku belum berencana membuatmu hamil. Buktinya sudah satu minggu ini keluar di luar." Aku geleng-geleng kepala. Istriku ini terobsesi dengan kehamilan.
" Tapi sebelumnya kan di dalam Bee, mana sekarang telat dua hari." Dia masih kekuh membahas kehamilan.
Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku tidak siap melihat dia bertambah insecure jika ternyata tidak bisa hamil lagi.
" Ya kan kelupaan terus Lyn. Maklumlah luar biasa." Rasanya susah sekali menelan mie bakso ini.
Ada rasa sesak mengganjal di hatiku setiap kali Annelyn terlambat datang bulan, entah sehari atau seminggu. Bulan sebelumnya pun ia terus berharap hamil. Oleh sebab itu aku tidak ingin menghamilinya dulu, aku belum siap harus menerima pertanyaan seperti ini setiap bulan.
" Bee, bungkus dua porsi ya, buat Bu Tejo sama Bu Dah. Biar nanti bekalnya dimakan pak Tejo saja."
***
__ADS_1
Author POV.
Dua hari opname di rumah sakit, kondisi Risya semakin membaik, dia diijinkan pulang. Bimo ditemani duo julid menyempatkan diri menjemput Risya, sedangkan Annelyn di rumah menunggu Pak Kades mengambil pesanannya.
Annelyn termenung di ruang tamu, setelah anak gadis Pak Kades mengambil pesanannya. Dia merasa ada yang tidak beres. Selama ini, Bimo sangat menghargai privasi, ada beberapa ruangan di rumahnya yang tidak boleh dimasuki orang asing, lantas mengapa sekarang dia kekuh mengijinkan Risya tinggal di sini.
Ada tujuh ruangan di rumahnya, tiga kamar tidur, satu ruang olahraga, dapur menyatu dengan ruang makan, ruang tengah, dan ruang tamu. Mengijinkan Risya tinggal serumah dengan mereka, pasti membatasi ruang gerak mereka sebagai pasangan suami istri. Annelyn sama sekali tidak menyukai usulan tersebut, tapi mau bagaimana lagi, Om Bimonya kekuh.
' Aku tahu Risya dan Siska bersaudara, tapi tidak mungkin Om Bimo masih menyimpan rasa.'
Dari mana Annelyn tahu? Tentu bukan dari status yang diupload Risya di aplikasi hijau. Karena hanya Bimo yang bisa melihat statusnya.
Annelyn tahu dari foto yang dipajang Risya di kamar kontrakannya. Bertahun-tahun lamanya, ia masih mengingat wajah teduh wanita muda yang dulu setiap bertemu selalu membawakan Annelyn gulali.
Suara mobil memasuki pekarangan rumah, Annelyn buru-buru keluar membukakan pintu. Matanya membulat sempurna melihat Bimo memapah Risya, padahal ada Bu Tejo dan Bu Dah. Seketika rasa tidak suka merayapi hatinya. Lebih dari sekedar takut suaminya diambil orang, ia juga takut Om Bimonya berpaling.
" Hati-hati ya Lyn, bukanya ikut campur, takutnya suamimu kecantol pelakor." Bisik Bu Dah saat Annelyn mengambil minuman dingin di kulkas, dia sengaja menghampiri Annelyn.
Annelyn memandang Bu Dah penuh curiga, tidak mungkin Bu Dah asal bicara, dia pasti tahu sesuatu.
" Heh, malah melongo! Ati-ati, aku kurang percaya sama si Risya. Korban kaya gitu biasanya trauma, lha dia kok malah nggateli." Bu Dah benar juga, Annelyn pun berpikiran sama.
" Benar kan omonganku? Dia itu bunting, bisa jadi dia sugar baby." Bu Tejo tiba-tiba nimbrung, menambahkan minyak tanah pada kompor yang siap meleduk.
" Apa itu sugar baby?" Tanya Bu Dah yang sedikit kurang gaul daripada Bu Tejo.
Maklumlah diantara mereka berdua, hanya Bu Tejo yang mengenal smart phone dan medsos.
" Oohh itu lhoo gula manisnya Daddy tua." Jawaban Bu Tejo membuat Annelyn geleng kepala. Istilah penyebutan yang disematkan itu lho. Sama sekali tidak masuk PUEBEI.
" Maksute iku si Risya jadi wanita yang sok gula-gulaan gitu ya, Bu Tejo?" Ini lagi pertanyaan Bu Dah, serasa jungkir balik kepala Annelyn.
Kali ini Annelyn menepuk jidat, tidak habis berpikir, kedua ibu-ibu di depannya bisa membuat ketegangan yang baru saja dibangun luntur seketika.
" Iyain aja deh Bu Tejo." Sahut Annelyn, yang dibalas anggukan berkali-kali oleh Bu Tejo.
" Padahal mah dia bukan sugar baby." Celetuk Bu Dah sok tahu.
" Emang Bu Dah tahu?" Serempak Bu Tejo dan Annelyn bertanya, penasaran dengan perkataan Bu Dah.
" Ya tahulah, dia kan Sakarin Baby. Hahaha." Bu Dah terbahak-bahak.
Bu Tejo ikut tertawa.
Uhk uhk uhk. Sampai terbatuk pula.
Sedangkan Annelyn dengan pandangan heran, menggaruk kepala masih tidak mengerti arah pembicaraan kedua temannya.
" Bentar Bu, ini maksutnya bagaimana?" Annelyn bertanya bingung.
" Dia masih kurang pintar Bu. Masih oon pantesan dulu diceraikan suaminya." Kata Bu Dah sambil tertawa.
Dulu candaan seperti itu membuat hatinya sedih, tapi sekarang candaan Bu Dah seperti halnya angin lalu, tidak berbekas.
" Hisshh apaan sih Bu. Penasaran nih aku." Annelyn kepo badai.
" Sugar artinya gula, kalau orangnya beneran manis ya sugar baby. Lha kalau manisnya bohongan ya sakarin baby." Jelas Bu Dah.
" Gitu saja kok Lola. Kalah sama kita-kita yang cuma lulusan Diniyah." Kata Bu Tejo, sedikit pedas, tapi sudah biasa. Sebatas bercanda walaupun terkadang benar adanya.
" Ooo baru tahu aku Bu. Tapi sugar baby itu tidak ada hubungannya antara gula sama sakarin Bu." Annelyn mencoba menjelaskan agar keduanya tidak salah paham.
" Halah Ra penting, sing penting kuwi suamimu dijaga. Hati-hati! belajar dari pengalaman Lyn." Nasihat Bu Dah melekat erat dalam hati Annelyn yang sebelumnya dipenuhi trauma penghianatan.
__ADS_1
Dan tanpa diketahui ketiganya, ada sepasang mata memandang mereka bertiga dengan nyalang.