Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Siasat Risya.


__ADS_3

Dua hari berlalu, Bimo sama sekali tidak membahas kejadian tempo hari. Pria dewasa itu lagi-lagi berkunjung ke rumah Pak RT, tempo hari belum sempat bertemu.


Annelyn memandang kalung pemberian Mama yang saat ini dikenakannya. Ada banyak rasa yang berkecamuk dalam hati, tapi, perasaan takut dan merasa bersalah lebih mendominasi. Dia terlalu pengecut untuk menerima kenyataan pahit itu.


" Apa aku memang harus kembali? Tapi bagaimana jika Daddy memintaku untuk bercerai?" Annelyn berbisik lirih pada dirinya sendiri.


Publik hanya tahu mereka Om dan keponakan kandung. Jika mereka menikah, bukankah sama halnya mencoreng nama baik keluarga. Lalu, bisakah dia hidup dalam persembunyian dengan banyak rahasia yang sebenarnya ingin dia lepas?


Akhirnya, setelah sekian banyak polah tingkahnya yang seenak jidat, Annelyn paham dengan apa yang dirasakan oleh Mamanya. Berjuang dan bertahan demi nama baik keluarga, disaat cinta dan impiannya membawa aib. Mamanya sekuat hati dan tenaga menjaga semuanya agar terlihat baik-baik saja.


Cukup lama termenung, Annelyn memutuskan untuk berendam dengan aroma terapi. Sepulang Bimo dari rumah Pak RT, ia akan menyambut suaminya dengan penampilan yang lebih fresh. Rumahnya yang sekarang, meskipun kamar mandinya dilengkapi jacuzzi tetap tidak selengkap dulu.


Sebuah ide melintas di kepalanya, ia dengan semangat memakai earphone. Akan lebih baik berendam sambil mendengarkan musik. Saking nyamannya, Annelyn menguap mengantuk, sesekali kepalanya terantuk.


Setelah luluran dan berendam hampir setengah jam lamanya, Annelyn merasa lebih segar. Iapun segera menyelesaikan acara mandinya.


Saat ia keluar dari kamar mandi, yang memang berada di kamarnya.


" Aaaaaaaa!!!!!" Teriakannya menggema bersamaan dengan teriakan Bimo.


***


Disisi lain, Bimo menuju rumah Pak RT dengan berjalan kaki. Secara kebetulan, ia bertemu dengan Hanif dan jagoan Scoopy coklatnya. Ia pun memberhentikan Hanif untuk berbincang sebentar.


" Oh ya Hanif, kemaren kata Pak Subroto kamu bisa melukis tembok?" Bimo memakai celana denim selutut dan kaos biru dongker berkerah.


" Iya Pak, biasanya saya membuat kaligrafi." Hanif menjawab santun.


Dalam hati, Bimo juga mengakui kesantunan dan kebajikan dalam diri pemuda di depannya. Pemuda dengan wajah berseri, tampan menawan. Bimo tidak menyangkal, Hanif adalah impian para wanita.


Pernah cemburu buta pada Hanif adalah hal paling bodoh yang pernah dilakukannya, Hanif pria paling sopan yang pernah ditemuinya, tidak akan berfikir kotor tentang istrinya. Paling tidak, berbicara dengan Hanif lebih aman, daripada Annelyn harus berbicara dengan pria lain yang mata keranjang dan pandai menggoda.


" Emm kalau membuat gambar, sebuah lukisan?"


" Insyaallah bisa Pak." Hanif tersenyum.


" Oke, sebenarnya saya ingin memintamu membuat lukisan istri saya, lihat ini!" Bimo menyodorkan sebuah foto.

__ADS_1


Foto Annelyn. Saat itu,adalah saat dimana dia pertama kali memandang Annelyn sebagai seorang wanita dan bukan anak kecil yang imut.


" Oh ini, iya Pak, saya bisa." Hanif menjawab mantap.


" Kapan?" Bimo to the poin.


" Bagaimana kalau hari ini? Kemungkinan malam nanti sudah selesai." Hanif juga yakin. Menjawab dengan percaya diri.


" Yasudah kamu datang saja ke rumah saya, di sana sudah ada perlengkapan alat dan cat. Kamu bisa bertanya pada istriku. Aku permisi dulu." Bimo menepuk pundak Hanif, sebelum melanjutkan langkahnya.


" Baik Pak." Hanif mengendarai Scoopy coklatnya menuju rumah Bimo.


Bimo melanjutkan langkahnya menuju rumah Pak RT yang sudah terlihat, ada sebuah motor keluaran terbaru yang bertengger di halaman rumahnya.


Saat kakinya melangkah memasuki halaman rumah Pak RT, tiba-tiba perasaannya tidak enak. Entahlah, seperti ada firasat buruk yang akan terjadi.


Sudah kepalang basah, akhirnya ia bertamu sebentar, membahas rencana pernikahan seperlunya.


***


" Waalaikum salam, Hanif??" Risya membuka pintu.


" Astaghfirullahaladzim.. Risya!! Pakaian apa yang kamu gunakan?" Hanif syok, tidak habis pikir pada wanita yang pernah berusaha menggodanya.


Wanita yang pernah dia lihat sedang digerayangi oleh suami Bu Usli dan kedua temannya.


" Udah deh nggak usah ceramah. Kamu kesini disuruh Pak Bimo kan? Ya sudah masuk, aku tunjukkan tempatnya." Risya melenggang masuk menuju taman di dekat dapur.


" Ini.. taman belakang??" Hanif heran, ia mengira akan melukis di ruang tengah.


" Iya Pak Bimo ingin kamu melukis wajah Nyonya manja itu di sini." Risya menjawab dengan acuh.


" Ris!! Jaga bicaramu!" Hanif menegur. Setahunya Annelyn adalah wanita yang ekspresif, tapi dari sorot matanya dia tidak manja. Hanya saja saking cintanya Pak Bimo pada istrinya, akhirnya dia dimanjakan.


" Hiishh apaan sih jangan berisik nanti Nyonya manja bangun! aku buatkan minum dulu!" Risya sebal setiap kali Hanif membela Annelyn. Apa bagusnya wanita manja itu??


" Ini cat-nya di mana?" Hanif bertanya.

__ADS_1


" Entah.. nanti aku tanyakan."


Risya menaruh minuman yang dihidangkan untuk Hanif di atas meja. Obat yang dimasukkan ke dalam secangkir wedang itu mulanya diperuntukkan untuk Bimo. Sayangnya dia tidak pernah berhasil. Entah itu obat perangsang ataupun obat tidur, semuanya tidak mempan.


Tapi kali ini Hanif, pria alim yang pastinya akan terpengaruh dengan obat pemberiannya.


Rasain kamu Nif, sebentar lagi kamu menjadi korban dari tontonan menarik.


Kita lihat seberapa pandai Si Manja, dan Si Sok Alim. Risya tersenyum devil_Risya membatin.


" Nif??" Risya memanggil Hanif, setelah pria muda itu meminum wedang jahe buatannya


" Hmm?"


"Tolong anterin aku ke kamar Nyonya yuk .. aku mana berani membangunkan Nyonya. Bisa kena damprat aku!" Bujuk Risya.


" Aku nggak berani masuk kamar orang."


" Catnya ada di loteng, jalan satu-satunya ya lewat kamar Nyonya. Kamu nemenin aja kok, biar Nyonya nggak marah.. please" Risya membujuk dengan sangat meyakinkan.


Dengan kepala yang sedikit terasa pusing, tanpa pikir panjang Hanif pun menuruti. Berharap pekerjaannya cepat selesai.


" Hmm yaudah."


Hanif berjalan di belakang Risya.


Ceklek.


Pintu kamar tidak terkunci, hening tidak ada suara apapun. Dengan kelicikannya, Risya tahu Annelyn sedang mandi, dia hafal betul kebiasaan wanita itu. Risya sengaja berbohong pada Hanif, mengatakan Annelyn mungkin sedang menikmati bunga di balkon.


Dengan alasan kehamilannya, dia menyuruh Hanif yang kepalanya mulai pusing, untuk naik ke balkon melalui akses tangga yang ada di kamar.


" Nanti ada pintu di atas sana, ketuk saja pintunya." Risya menasihati, seolah dia tidak tahu apa-apa tentang kepala Hanif yang mulai terasa berat berangsur-angsur.


###


seharusnya kemaren udah up, tapi author ketiduran.. huhhuuhhuuu nasib author amatiran yaa, mikir satu bab sampai berjam-jam.

__ADS_1


__ADS_2