
Holla ini aku nulis part yaaa, tapi maaf kalau tidak memuaskan. itu aku nyusun kerangkanya sambil sesekali menguap sayy....ngantuk gilaaa. ini demi kaliaaan.
###
Siska menatap Bimo dengan sorot mata yang sulit diartikan, ketika pria itu berunding dengan suaminya.
Bruk. Koper hitam milik Risya dilempar oleh Annelyn. Dia pernah menjadi baik, dan akhirnya ditusuk dari belakang. Biarkan Risya membayar kebohongannya. Siapa suruh jadi pelakor. Setelah urusan Risya selesai, Annelyn masih punya urusan untuk menghukum suaminya.
'Seenaknya saja memukul Hanif sampai wajah tampannya tak berbentuk. Dan, percaya pada tipu muslihat Risya. Dasar pria tua.' Batin Annelyn.
Annelyn masuk ke dalam rumah, membiarkan Bimo mengantar kepergian Risya dan kakaknya di teras rumah. Ia masih tidak habis pikir, suami Kak Siska bisa berbicara dengan santai saat bertemu dengan mantan kekasih dari istrinya. Andai itu Om Bimo suaminya, pasti sudah dihajar semua masa lalu Annelyn.
Sejenak wanita muda itu berfikir keras.
Kecurigaannya terhadap kasus Risya terbukti. Kalau bukan Rama yang menghamili Risya, lalu siapa?
Dari mana Annelyn tahu bukan Rama?
Poin pertama, ia melihat Rama yang begitu mencintai Siska.
Poin kedua, usia kehamilan Risya yang agak janggal. Wanita muda itu sudah tinggal di desa ini kurang lebih tujuh bulan, bagaimana kandungannya masih terlihat seperti empat bulan lebih.
Awal dia tahu kehamilan Risya, dimulai dari wanita itu mencoba bunuh diri, di awal bulan wanita muda itu bekerja dengannya. Selama dua bulan lamanya Risya tinggal bersama di rumahnya. Sedangkan saat itu, dokter mengatakan Risya hamil sepuluh Minggu. Berarti kehamilan Risya baru menginjak empat setengah bulan.
Ataukah Risya hamil dengan salah satu warga di sini? Tapi siapa? Di desa ini pria paling ganjen dan genit adalah suaminya Bu Usli. Tapi, apa mungkin??
" Tidak usah dipikirkan, biarkan saja. Mau hamil sama tikus sekalipun bukan urusan kita." Bimo duduk, menyelonjorkan kakinya di sofa. Lelah fisiknya tidak sebanding dengan lelah pikiran.
" Nggak usah sok deh Bee, siapa dulu yang ngotot belain si Sakarin wanita ular itu??" Melihat wajah sok cool suaminya membuat Annelyn semakin geram.
__ADS_1
" Itu kan sebelum dia menampakkan wujud aslinya." Bimo menyanggah santai. Ia masih ngotot.
" Hah.. jangan kamu pikir aku anak SMA yang bisa dikibulin Bee! Selama ini kamu tahu dia bukan wanita baik-baik, tapi kamu melawan logikamu untuk memenangkan rasa bersalahmu." Todong Annelyn yang sayangnya sangat tepat dan benar. Membuat lelaki tua itu tidak berkukik
" Bukan begitu.."
" Lalu bagaimana? Kamu membiarkan karena tergoda? Begitu maksutmu?" Annelyn semakin tersulut emosi.
" Aduh Love.. bukan begitu sayang..."
" Ngakunya lulusan luar negeri, bicara dari tadi cuma begitu-begitu mulu." Cibur Annelyn.
" Gara-gara dia kamu mukulin anak orang sampai babak belur. Ingat kita bukan Bagaskoro yang dulu. Sekarang kita hanya remahan rengginang. Paku karatan di pinggir jalan." Annelyn masih bersungut-sungut memarahi Bimo.
Sedangkan yang dimarahi hanya menanggapi dengan bercanda. Jujur saja itu membuat hati Annelyn kecewa.
" Hiihhh nggak usah sok bercanda. Aku serius. Aku tidak suka sikapmu yang arogan Bee! Selama ini aku yang selalu mengalah, mengorbankan perasaanku demi egomu. Kamu pikir aku bisa cinta kalau kamu terus seperti itu." Tandas Annelyn berapi-api. Dia muak.
Degh ..
Degh ..
" Mulai sekarang, gua Maharani di lock down satu bulan penuh!" Annelyn beranjak dari ruang tengah.
" Haaa??? Jangan Love.. ampun.. nanti penghuninya mati kedinginan.." Bimo tanpa tahu malu bersimpuh.
" Biar saja." Jawab Annelyn singkat.
Blammm..
__ADS_1
Kembang kempis nafasnya, dengan dada naik turun, Annelyn meloncat menjatuhkan dirinya di atas kasur yang sudah berserakan seperti kapal pecah. Bodo amat, biarkan saja berantakan.
Sesekali dia mengernyitkan dahi, merasakan ada sedikit kram di bagian perut. Mungkin mau menstruasi pikirnya.
Tapi??
Bukankah selama Risya tinggal di sini aku tidak pernah menstruasi. Ya Tuhan, sibuk memikirkan wanita murahan itu sampai aku lupa kapan seharusnya menstruasi. Bukankah aku sudah telat dua bulan lebih.
Pikir Annelyn.
Buru-buru ia mengambil dompet, tidak lupa dengan kunci motor yang selalu digantung suaminya di dekat lemari.
Ceklek. Pintu kamar terbuka, Bimo menatap Annelyn yang seperti buru-buru hendak keluar rumah.
" Mau kemana Love. Maafkan aku selama ini sudah sangat egois, aku belum bisa membahagiakan dirimu." Bimo yang masih menggunakan apron, mengejar Annelyn yang sudah sampai di pintu.
" Apaan sih Bee. Sudah sana masak. Bisnis catering mu sekarang tidak ada yang membantu." Annelyn mulai menaiki motor matic milik Bimo.
"Love tunggu Love .. Love!!!!" Bimo berusaha menghalang-halangi tapi tidak kesampaian.
Annelyn melajukan motornya dengan sangat cepat
" Haaaahhhh anak itu. Masih saja seperti bocah."
***
Setelah Annelyn membeli test pack, ia mengendarai motornya menuju rumah tercinta. Ia sudah sangat penasaran ingin mengetahui kabar bahagia.
Saat ia sampai rumah, ia melihat suaminya sudah sibuk dengan pekerjaan. Tidak ingin mengganggu, Annelyn memutuskan segera ke kamar mandi untuk menguji alat tes kehamilan yang baru saja dibelinya dengan harga sepuluh ribu dapat empat. Murah meriah. Dia akan menggunakan keempatnya secara bersamaan.
__ADS_1