Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Hamil


__ADS_3

Bimo POV


Aku pernah jatuh cinta, menjatuhkan perasaan paling dalam kepada seseorang, ya seseorang yang pada akhirnya menjungkirbalikkan kehidupanku. Setelahnya pun aku tetap tidak bisa membendung harapan. Dan berpikir Selamanya aku akan mencintainya.


Hingga suatu hari aku menyadari perasaan cinta itu tak lebih dari sekadar obsesi yang berlebihan. Keegoisan padanya adalah perasaan yang tak terelakkan. Padahal cinta bukanlah suatu hal yang bisa disusupi keegoisan.


Dan aku menemukannya, menemukan perasaan yang lain dari lainya, perasaan yang hanya ingin melindungi, mencurahkan cinta tanpa pamrih,


dalam diri Annelyn Bagaskoro, putri yang tidak diharapkan dari kakak angkatku.


POV end.


**


Author POV.


Puspa memasak sarapan dengan wajah memberengut, dia belum cukup istirahat tapi harus cepat bangun membuat sarapan, belum lagi harus belanja untuk hari ini dan besok.


" Menyebalkan. Putri manja itu melimpahkan semuanya padaku." Puspa bergumam tidak jelas, sedangkan ibu mertuanya duduk santai menonton TV.


" Puspa, maafkan mas ya, nanti mas akan menegur sikap Anne. Dan untuk sementara ini uang buat belanja. " Sambil menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu.


" Keuangan masih diatur Anne, mas belum sempat meminta karu ATM." Dimas memberi penjelasan.


" Iya mas". Puspa menjawab lirih penuh keengganan.


" Puspa, nanti beli daging ayam kampung super ya, ibu lagi pingin makan ayam bakar ". Suara Bu Rukana menginterupsi keduanya,


Ibu mertua selalu begitu, selalu menuntut agar segala sesuatu sesuai dengan keinginannya. Terlalu bangga berlebihan pada putra semata wayangnya, sehingga tidak mampu melihat betapa banyak kekurangan yang dimiliki putranya.


Dimas menghela nafas lelah, menuntun ibunya duduk di kursi ruang makan. Lekas membantu Puspa menata makanan di atas meja, hal yang selama ini tidak pernah dilakukannya pada Annelyn.


Hari Minggu, biasanya Dimas akan membawa Annelyn belanja mingguan, tapi sepertinya Minggu ini tidak bisa. Dia masih ingin menikmati harinya bersama Puspa, karena besok pagi-pagi sekali harus berangkat ke luar kota.


Untuk pertama kali Annelyn bangun tidur saat matahari sudah setinggi kepala, pusing di kepalanya sudah mereda, bahkan setelah berendam tubuhnya menjadi lebih rileks dan bugar.


Saat kaki indahnya berjalan menuruni anak tangga, telinganya mendengar Isak tangis dari ruang tamu. Seperti suara tangisan Puspa.


Annelyn berjalan mendekati dan melihat Puspa duduk di kursi ruang tamu sambil membenamkan wajah di pelukan Bu Rukana, yang ternyata juga terisak. Sedangkan suaminya, Dimas, duduk disamping istri tercintanya dengan wajah pias.


" Tante? Kenapa nangis?"


Keenam mata itu menatap Annelyn penuh emosi.


" Kamu urus istrimu yang keterlaluan Dimas". Tegas Bu Rukana, mengalihkan pandangannya dari mata polos Annelyn.


Dengan sentakan kuat Dimas menarik lengan Annelyn, dan membawanya ke kamar.


Plak

__ADS_1


Hari belum berganti siang, tapi Annelyn sudah mendapat dua kali tamparan.


" Keterlaluan kamu, Anne!"


" Kenapa kamu mengadu ke semua tetangga? Kenapa ha??". Emosi Dimas meluap tanganya mengguncang kedua lengan Annelyn.


Rasa perih itu nyata, tidak hanya di pipi tapi menusuk sampai hati, lebih menyakitkan dari tamparan ibu mertuanya. Mengerjapkan mata beberapa kali, tersenyum manis memandang Dimas.


" Aku tidak mengerti maksutmu, Mas?". Annelyn berkata lembut. Padahal amarah dalam hatinya tengah berkobar.


" Semua tetangga mengatai Puspa pelakor, darimana mereka tahu kalau bukan dari mu?" Tuding Dimas.


" Mas, bukankah merebut suami orang disebut pelakor? Apa salahnya coba? Kenyataan kan? Lagipula ya, mas, hanya orang bod*h yang tidak tahu kalau Tante Puspa pelakor".


" Suami pertamanya meninggal, suami keduanya minta cerai, tapi mulanya kan juga suami orang. Dasar kuntilanak gatal". Annelyn tersenyum mengejek.


Melihat Annelyn yang selalu bersikap santai, cuek dan tidak peduli membuat emosi Dimas semakin menjadi. Sebagai suami dia merasa tidak dihargai, namun dia lupa, jika semua perlakuan itu berawal dari dirinya.


Sret.


Suara pakaian koyak.


" Apa yang kamu lakukan, Mas." Teriak Annelyn, dia bisa menahan emosi saat ditampar tapi dia benar-benar jijik disentuh secara intim oleh suaminya.


Dimas yang sudah kalap hanya bungkam sambil terus menumpahkan luapan kemarahannya. Annelyn terus berteriak dan memberontak, tapi tenaganya tidak sebanding dengan Dimas.


Penyatuan itu berakhir saat matahari sudah merangkak naik di atas kepala.


" Anne, maaf.." Dimas berucap lirih sambil memeluk tubuh ringkih yang tak berdaya.


**


Annelyn terbangun ketika Dimas buru-buru berpakaian, ibu mertuanya berteriak tidak jelas, Annelyn hanya menangkap suara bahwa Puspa pingsan.


Saat suara mobil menjauh dari pekarangan rumah, mungkin Tante Puspa dibawa ke rumah sakit.


Annelyn merasakan sakit di sekujur tubuhnya, kepalanya nyut-nyutan, dan tubuhnya serasa mengambang. Tapi lengket keringat dan bau pelecehan yang menyengat memaksanya bangkit, ia harus ke kamar mandi.


Ketika kaki indah yang terdapat sedikit memar itu menopang tubuhnya, dia mengaduh.


" Ah sakit."


Bukan hanya kaki, nyeri tak tertahankan terasa sampai bagian intim dan juga perutnya.


Tubuhnya tidak bisa berdiri, ia duduk ditepi ranjang, lantas menyeret selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.


" Hallo, Mey"


...

__ADS_1


" Tolong ke rumahku sekarang, Mey."


...


"I'm ok, tapi please, langsung ke kamarku saja."


...


Klik. Annelyn mematikan ponselnya.


Lima belas menit berlalu tapi tidak ada tanda-tanda Meylan datang. Annelyn yang sudah lelah, menyerah dan pasrah saat kegelapan datang mendekap.


**


Dimas POV


Aku kalang kabut mendengar teriakkan ibuku, yang mengatakan Puspa pingsan. Pikiranku langsung tertuju pada Puspa, aku melupakan istriku Annelyn yang tergolek lemas, mungkin tubuhnya juga dipenuhi luka.


Aku tidak bermaksut menciptakan memar ditubuhnya, semua itu terjadi karena aku memaksanya melayaniku. Atau lebih tepatnya aku melakukan pelecehan sebab dia tidak menyambutku dengan hangat seperti biasanya.


Pikiranku bercabang, aku ingin segera pulang memastikan keadaan Annelyn, saat dokter memintaku untuk ke ruangannya.


" Silahkan duduk, Pak."


Aku duduk dengan kekhawatiran, memikirkan apakah Puspa sakit serius, juga Annelyn yang aku sendiri masih ragu mengatakan dia tidak apa-apa.


" Selamat ya, pak. Setelah memastikan keadaan Bu Puspa dengan dokter kandungan, saya dapat menyimpulkan, bahwa ibu Puspa sedang hamil, usia kandungannya sekitar satu bulan."


" Benarkah, Dok?" Aku syok sampai suaraku sedikit berteriak. Hilang sudah Annelyn dari pikiranku.


" iya, Pak. Tapi karena usia Bu Puspa sudah lebih dari 30 tahun, dan menganalisa cerita dari Bu Puspa, sebelumnya juga sudah pernah melahirkan 3 kali, keguguran 2 kali, jadi untuk sementara waktu, kami menyarankan agar Bu Puspa dirawat di sini terlebih dahulu."


Bahuku melemas, tapi tidak masalah, aku akan menjadi seorang Ayah. Ibuku pasti senang.


**


Bimo POV.


Dering ponsel mengganggu rapat yang baru saja ku mulai setelah makan siang. Pertama, kedua, aku terus mengabaikannya. Sampai ekor mataku menangkap nama Meylan di layar ponsel.


" Lim, kamu lanjutkan meeting-nya!"


Aku keluar untuk mengangkat panggilan yang sudah membuatku was-was, Meylan tidak akan menelfon jika tidak ada hubungannya dengan Annelyn.


"Oomm cepat kesini!!ke rumah Alyn!! Alyn di KDRT!".


Suara cempreng Meylan mengagetkanku, detak jantungku serasa berhenti seketika.


Tuhan, harusnya ku bawa pergi dia saat aku tahu suaminya selingkuh. Tidak, harusnya ku culik saja dia saat mau menikah diam-diam. Oh tidak-tidak, harusnya tidak ku rahasiakan keberadaannya dari kakakku, agar dia tetap terlindungi di istana Bagaskoro.

__ADS_1


Setidaknya selama ini, aku pasti bisa duduk bercanda tawa bersamanya. Bukan pura-pura tidak tahu keberadaannya.


__ADS_2