Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Rencana yang Rumit.


__ADS_3

"Haaaa??" Aku masih bingung dengan jawaban penuh misteri Om Bimo.


Bisa-bisanya di saat seperti ini masih sok cool.


Kulihat Om Bimo tersenyum simpul, masa bodo lah, yang penting aku aman, nyaman dan damai.


Mungkin keheningan di dalam taxi membuat jiwa mesum Om Bimo meronta. Awalnya tangan jahilnya hanya merangkul pinggangku, lama-lama meraba yang tidak-tidak. Huh.


Pletak. Ku pukul jari nakalnya yang dengan tidak tahu malu, bergerilya ditempat yang tidak seharusnya.


" Aduh, belum genap dua puluh empat jam menikah kok ya udah kena KDRT" Om Bimo pura-pura merengek, memasang wajah melas lengkap dengan pups eyes.


Sangat tidak cocok dengan mukanya, biasanya saja terlihat garang.


" Bodo amat" . Ketusku. Enak saja Om Bimo, apa tidak malu dengan supir taksi di depan? Sudah senyum-senyum sendiri, pasti supir taksi itu menertawakan lelaki tua mesum di sampingku.


" Hehehe" Mana Om Bimo hanya terkekeh. Menyebalkan. Aku menoleh keluar jendela, membiarkan tangan nakal itu beraksi sesuka hatinya. Malas juga meladeni Om Bimo, tidak akan menang akunya.


" Kita di Yogyakarta hanya numpang lewat. Cukup meninggalkan jejak saja". Om Bimo menyandarkan kepalanya di pundakku. Tubuhnya yang kebesaran memaksanya ikut melengkung.


" Susah amat sih Om". Hanya kalimat itu yang terlintas di otakku, saat hembusan nafas Om Bimo menerpa telingaku. Menghadirkan rasa yang ingin ku lupakan.


" Aku sudah mengontrak rumah di sana, juga sudah membayar orang untuk sementara waktu mengurus bisnis kecil-kecilan. Daddy pasti terkecoh mengobrak-abrik Yogyakarta. Hahaha" Masih sempat tertawa si Om.


" Tau begitu buat apa tiket Jayapura dan Bali?" Aku menggerutu, Om mah ribet, mau kabur saja harus seperti ******* lah, dikira kita buronan negara.


" Daddy adalah orang hebat, ku harap kamu tidak lupa, kalau dia sudah berkeinginan untuk mencari, satu pengecoh saja tidak cukup Lyn" Om Bimo menjelaskan dengan sok cool andalannya. Sudah seperti bidan saja. Andalan.


" Hebat apanya, aku saja lolos dengan mudah" Cibirku.


" Itu karena Daddy tidak berniat mencarimu." Om Bimo mengejek. Ini yang selalu bilang cinta??


Degh. Tapi Om Bimo benar adanya. Daddy tidak mencarimu, bahkan menutup akses Mama, sampai-sampai kemanapun Mama pergi harus ada orang suruhan Daddy yang mengawal, memastikan Mama tidak mencariku.


Huh. Andai aku tidak pernah ada di dunia ini, Daddy dan Mama pasti bisa hidup dengan harmonis. Menciptakan pernikahan cinta dalam keluarga Bagaskoro.


Entah berapa lama, akhirnya kami sampai di stasiun kereta. Selama perjalanan menaiki kereta dari Jakarta ke Yogyakarta aku menghabiskan waktuku dengan tidur, sesekali terbangun melihat berita di televisi.

__ADS_1


Samar-samar aku menangkap berita di televisi, menyiarkan kecelakaan yang menewaskan putra bungsu keluarga Bagaskoro dari pihak Opa.


Degh.


Bukankah itu Om Bimo. Mataku terbelalak, menatap layar LED yang bersuara nyaring.


" Pukul 10.13 telah terjadi kecelakaan di Jembatan xx, yang menewaskan putra bungsu mendiang konglomerat keluarga Bagaskoro II. Kecelakaan tunggal tersebut mengakibatkan kemacetan padat, pasalnya mobil sport yang ditumpangi oleh pengusaha muda Bimo Bagaskoro meledak di tempat. Bahkan sebelum korban berhasil dievakuasi."


Reflek, kepalaku menoleh ke samping, jantungku bertalu-talu melihat senyum menawan dari pria yang sangat ku sayang. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku, begitu juga mulutnya. Dia hanya menyunggingkan senyum lantas mengencangkan pelukannya di pinggangku.


***


Bimo POV.


Perjalanan panjang yang menyiksa, perjalanan menuju Yogyakarta menaiki kereta, aku hanya bisa memeluk tanpa berbuat lebih. Padahal dia sudah saah secara agama dan negara sebagai istriku. Kapan aku meresmikan pernikahan? Baru tadi.


Berita kecelakaanku ternyata sudah terendus media. Stasiun televisi berlomba menyajikan berita kecelakaanku, sedikit membumbui, tak jarang melebihkan. Sayangnya tidak satupun media yang tahu satu saja wajah keturunan Bagaskoro.


Bisa ku bayangkan bagaimana murkanya kakak sekaligus mertuaku, dia cukup cerdas untuk tahu ini semua, terlebih terhadap sikap menentang yang ku tunjukkan saat dia akan menjadikan ku Presdir, bahkan saat mencomblangkan diriku dengan Calysta. Apalagi jika dia sampai tahu tujuan ku merekayasa kecelakaan demi hidup bersama putrinya.


Annelyn yang terusik tidurnya karena berita di televisi-pun menoleh menatapku. Aku hanya bisa mempersembahkan senyuman tanpa kata, bibirku kelu melihat sorot matanya yang tajam. Benarkah cinta membuat lelaki gagah seperti ku merasa ciut?


Aku mengalungkan tanganku di bahunya, sepatu kets yang dipakainya membuat dia terlihat mungil di mataku. Padahal tubuhnya sudah standar nasional Indonesia, apa aku yang melebihi standar? No, tubuhku sangat perfect.


Sebenarnya aku dan Annelyn sedikit terusik dengan beberapa pasang mata yang menatap kami dengan pandangan awkward. Mungkin karena penampilanku, di Jakarta penampilan ku terlihat biasa, tapi Yogyakarta? Daerah yang masih kental adat istiadat, budaya dan tata Kramanya membuatku terkesan aneh. Pria K-Popers.


Untung saja aku merangkul bidadari secantik Annelyn, mungkin jika yang ku gandeng adalah Lim, orang-orang bisa menganggap diriku gay. Ya,meskipun orang Korea tidak semua gay, tapi pandangan kaum Adam Indonesia sudah terpatri sedemikan. Kurang macho lah katanya. Beda dengan kaum hawa Indonesia yang menganggap aktor Korea bak dewa Yunani.


Kami berhenti di warung makan pak Jamur, memesan dua porsi Gudeg Tewel. Annelyn duduk di depanku, jemari lentiknya terulur menyomot kue monyos.


Disini bukan lagi aku yang jadi incaran mata kepo orang-orang, melainkan Annelyn, wajah cantik dan postur tubuhnya yang cetar membahana, menghipnotis para pembeli yang mayoritas laki-laki muda.


Seorang pelayan muda tampan dengan tato melingkar di lengannya, menyajikan pesanan kami, berikut es jeruk kesukaan Annelyn dan teh hangat pesananku.


" Nyesel aku makan di sini" Ucapku setelah menelan sesuap nasi.


" Kenapa Om? Nggak enak?" Annelyn yang baru akan menyuap nasi pun bertanya, urung memakan sebelum aku menjawab.

__ADS_1


" Enak sih, tapi tuh liat mereka! Belum pernah dicolok matanya ya. Gak sopan ngelihatin istri orang" Gerutuanku membuat kedua bola matanya yang menggemaskan melotot tajam.


" Om cemburu?"


Jujur, adakah laki-laki di posisiku yang tidak merasakan cemburu? Kalau ada pasti tidak cinta.


" Kalo iya kenapa?" Dengan PD aku mengatakan cemburu. Nggak perlu jaim sama istri sendiri. Lebih baik saling terbuka. Toh terbuka sesama pasutri memang diwajibkan, selain menghindari pertikaian di kemudian hari, bukankah terbuka juga bisa menciptakan generasi penerus bangsa?


" Hahaha, Om Bimo lucu" Annelyn kok tertawa? Apa dia bisa mendengar suara hatiku ya.


" Udah lah Om, ini rencananya kita mau nginep dimana?" Dia balik bertanya.


" Aku udah pesen kontrakan. Tapi kita nggak bisa nginep di sini, kita akan secepatnya ke Kudus" Aku menyeruput teh pesananku.


Sedangkan Annelyn melongo bingung.


" Suamimu yang tampan ini sudah membeli motor baru. Var*o" Imbuhku.


" Udah jangan kebanyakan bengong. Kita harus secepatnya sampai. Lewat jalur tikus saja nantinya biar tambah aman". Aku menepuk pipinya, menyadarkan dirinya dari kebingungan.


" Oh ya nanti ponselmu berikan sama yang punya kontrakan, suruh menghidupkan setelah 3 hari"


Kedua alisku naik turun menggodanya, rencananya memang mampir dulu ke rumah kontrakan.


" Emang mau?" Annelyn menjawab lesu. Rumitnya rencana kabur yang ku susun membuat semangat 45nya berubah menjadi semangat abad 21.


" Udah, nanti aku bayar orangnya" Putusku.


" Handphone ku juga akan aktif setelah empat hari, udah aku serahin sama orang Bogor. Hahaha" Aku tertawa, melihat wajahnya yang kembali bengong lucu juga, apalagi mertua ku.


Membayangkan wajah mertuaku yang merah padam, membuat suasana hatiku cerah. Bukan maksutku durhaka, hanya saja aku masih tidak terima dengan perjodohan yang dilakukannya. Enak saja aku ditumbalkan pada wanita seperti Calysta.


Pukul 22.15 aku mengendarai sepeda motor baruku, masih mengkilap new. Dua koper milikku dan Annelyn, ku tumpuk di belakang Annelyn yang membonceng, aku meminta bantuan orang untuk mengikatnya. Satu koper lagi ku pindahkan isinya ke dalam tas gendong, ku gendong di depan perutku. Hehe ribet? Itulah perjuangan yang harus aku dan tuan Puteri Annelyn lakukan.


Melalui jalan tikus, kendaraan milikku tidak bisa ngebut seperti biasanya. 'Berbahaya, banyak anak-anak berlalu lalang di jalan.'


*-*-*

__ADS_1


Sorry ya readers, author baru sembuh dari sakit, baby author juga. Badan meriang hatchih2 terus, kepala dibuat mikir tambah nyut-nyutan.. sorry bgt yaaa. love you


__ADS_2