
Tanpa harus menunggu berita dari dokter, Bimo tahu betul bayi itu tidak selamat, darah yang menggenang bahkan bercecer sepanjang perjalan adalah saksinya. Tapi, dia masih mengharapkan adanya keajaiban dari Tuhan. Dan memang hanya keajaiban yang bisa menolong bayi itu, bayi Annelyn, bayinya.
Ia sudah mempersiapkan nama yang indah, bahkan bersiap membangun rumah di pegunungan. Ia sudah memantapkan hati, membawa Annelyn pergi dari dunia Bagaskoro. Melepas semua warisan peninggalan orang tuanya.
Ia hanya ingin membina rumah tangga yang indah bersama Annelyn dan bayi mereka, dia bahkan tidak peduli dengan siapa ayah anak itu. Dia sangat mencintai bayi yang bahkan belum pernah melihat dunia. Hah, rasanya dia benar-benar memiliki ikatan batin seorang ayah pada anak orang lain.
Dokter dan satu orang suster keluar dari UGD.
" Bapak, dengan suami ibu Annelyn?"
" Iya dokter, saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya?". Lancar sekali Bimo menyebut Annelyn sebagai istrinya.
" Kami, belum bisa memastikan keadaan beliau. Untuk itu, bapak ikut saya ke ruangan saya, mari"
***
Bimo termenung di ruang tunggu. Dia menghubungi Lim, asistenya yang membantu mengurus cabang Bagaskoro Group di Jakarta, lebih tepatnya memang Lim yang mengurus. Bimo hampir tidak pernah mengikuti rapat perusahaan, semua orang mengenal Lim sebagai adik dari Pram, presdir Bagaskoro Group.
Ia mengabari Lim, agar segera mencarikan asisten pribadi untuk mengelola usaha kulinernya sementara waktu. Pembicaraannya dengan dokter barusan, menguras pikiran dan batinnya.
Bayi itu tidak selamat, Annelyn pun harus dioperasi. Dokter meminta ia menandatangani surat-suratnya, dokter menyarankan demikian untuk menyelamatkan nyawa dan rahimnya. Operasi pengangkatan sel telur bagian kanan, dan kemungkinan Annelyn hamil setelah ini akan sangat sulit. Tapi, apa boleh buat?
Dokter juga mengatakan kasus keguguran ini tidak seperti keguguran pada umumnya, kerusakan pada sel telur dan dinding rahim sangat parah, seperti halnya Annelyn melakukan aborsi. Dan Bimo tahu itu tidak mungkin.
Jadi, untuk mengetahui lebih lanjut, dokter mengambil sampel darah Annelyn, supaya bisa mengetahui adakah kandungan obat yang dapat menyebabkan keguguran dalam darahnya.
Tentu saja Bimo tidak tahu siapa dalangnya. Air matanya menetes lagi. Dia tidak peduli dibilang cengeng, pada kenyataanya dia rapuh mengetahui kondisi Annelyn.
Annelyn, adalah wanita yang ia cintai, lebih dari itu Annelyn adalah bayinya, Bimo yang membantu kakak ipar dan Mamanya merawat Annelyn bayi. Dialah yang antusias menyambut lahirnya keponakan cantik itu.
Disaat genting dan kacau seperti ini, ia tetap tidak bisa mengabari kakaknya tentang Annelyn, yang mana lelaki tua itu tidak peduli dengan darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
Tuhan apakah ini mimpi?.. Setega itukah takdir langit??. Dia sudah hancur dengan jalan cintanya, mengapa Kau hancurkan lagi impiannya? Kau ambil bayinya, kau ambil semangatnya!
Mengapa dia yang orang baik harus tersiksa sedemikian pedihnya?? Banyak orang jahat di luar sana. Apa Kau tidak punya keinginan membasmi mereka? Alih-alih menyiksa orang sebaik dia. Hati Bimo menjerit.
Bimo berjalan keluar dari rumah sakit, kaki panjangnya melangkah menuju parkiran. Mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, mobil keluaran terbaru itu berhenti di depan bangunan tempat peribadatan. Ia masuk menghadap Tuhan.
" Tuhan, kau mengambil bayinya! Jika kau berani mengambil nyawanya, aku tidak sudi mengakui diri-Mu lagi. Ingat itu!!" Urat lehernya menegang.
" Om, kata omaku, memohon pada Tuhan harus dengan cara sopan." Anak laki-laki dengan gigi ompong menyapa Bimo.
" Om kalau sedih tulis saja surat untuk Tuhan. Aku juga begitu, aku selalu mengirim surat agar Tuhan membolehkan mama dan papaku pulang." Anak kecil berusia 6 itu menggenggam tangan Bimo yang mengepal.
" Ayo Om, minta maaf pada Tuhan, dan memohon sepertiku" anak kecil itu memperagakan orang yang sedang memuji Tuhan.
Perasaan hangat menjalari hati Bimo. Anak ini menghantarkan getaran yang begitu kuat di dada. Dia merasa seperti melihat mendiang Ayahnya yang selalu mengajarkan ini dan itu.
" Hei boy, siapa namamu?"
" Namaku, Abimanyu Permadi. Om bisa memanggilku Bima".
Bimo terkekeh, anak ini memiliki nama sepertinya.
" Apa yang kamu lakukan disini sendirian?" Bimo bertanya setelah melihat hanya ada mereka berdua di ruangan ini.
"Seperti biasa, aku baru saja mengirim surat untuk Tuhan, tapi kali ini aku tidak mau lagi mama dan papaku pulang. Mereka sepertinya bahagia di surga".
Bimo terkejut mendengar pernyataan anak laki-laki di sampingnya. "kenapa?" Bimo berkata.
" Aku tidak mau mereka pulang karena Tuhan lebih menyayangi mereka, biarkan mama dan papa bahagia di surga".
Oh Tuhan.. Anak kecil ini lebih tau hakikat mencintai. Lebih faham di sisimu adalah tempat paling bahagia.
__ADS_1
***
*Annelyn P**OV* .
Aku terdampar di hamparan padang rumput hijau, ini seperti tempat impianku. Dari kejauhan aku melihat seorang wanita, dia seperti mama. Aku berlarian mengejarnya, aku tersandung, tersungkur tapi langkahku masih di tempat semula, sedangkan mama semakin menjauh, aku ingin bertemu Mama. Aku ingin memeluknya tapi tidak bisa, aku berusaha memanggilnya namun suaraku terhenti di tenggorokan.
Aku seperti terdampar di tempat impian seorang diri, aku hanya bisa menangis saat wanita itu tak lagi terlihat.
Degh..
Aku ingat! Bukankah aku hamil, ku raba perutku yang terasa hampa, bayiku??? Apakah selamat? Om Bimo, di mana dia? Bukankah dia bilang mencintaiku? Lantas mengapa aku ditinggal sendiri.
God.
Apakah ini kematian? Ini berbeda dari sebelumnya. Tempat ini hening, bahkan di padang rumput ini seperti tidak ada tanda kehidupan hewan sekalipun.
Aku benar mati?Dimas sialan itu meracuniku? Apa dia setega itu padaku dan bayia?.
Aku mati di tangan Dimas?? No!!
Ini aku yang bodoh, atau dia yang baj*ngan?
Aku menangis sesenggukan, tapi tetap tidak ada suara yang keluar dari mulutku.
Tuhan, apa jasadku sudah dikremasi?
Kalau belum, bolehkah aku menawar? aku masih ingin hidup, ambil saja hartaku, aku tidak butuh. Tapi kembalikan aku pada tubuhku, aku ingin memeluk Mama, Om Bimo dan Daddy. Emmm juga Meylan. Oh satu lagi aku ingin menonjok hidung mancung Dimas setidaknya sampai bengkok.
Tuhaaaan.. Please.. Aku tahu meski ini hanya suara hati, Kau pasti mendengarnya.
Om Bimo, negosiasikan dengan Tuhan, aku belum mau mati!
__ADS_1
Tubuhku terpeleset, terguling dan terkapar di tengah ladang bunga, yang aku sendiri bingung ini bunga apa. Baunya wangi dan menenangkan.
Oh God, jangan bilang ini surga? Masa iya amalku kurang banyak? surgaku cuma padang rumput dan bunga cantik ini. Tidak ada teman, tidak ada makanan. Tidak ada rumah juga. Surga bisa hujan gak ya?