Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
kenyataan Pahit


__ADS_3

Gila. Bimo merasa dirinya sudah gila. Ia berjalan keluar ruangan, berada di dalam sana bersama Annelyn bukan pilihan bijak, apalagi sesuatu dalam dirinya masih belum terkontrol. Melihat Annelyn tersenyum lemah, mengingatkan dirinya pada mimpi tidak beradab yang menjengkelkan.


Dan ya, dia hampir lupa dengan surat hasil laboratorium, yang menyatakan adanya kandungan obat aborsi yang kemungkinan diminum Annelyn. Bukankah tadi Annelyn menanyakan bayinya? Tidak mungkin dia sengaja menggugurkannya. Selama ini, Bimo berfikir bahwa Annelyn lelah berjuang untuk terlihat tegar, sehingga dia tanpa berpikir panjang meminum obat aborsi.


Tapi ternyata??


**


" Aku mau pulang Om" Annelyn merengek. Sudah dua hari sejak ia terbangun dari koma, pamannya yang super cerewet itu melarangnya ini itu. Kalau ia tidak butuh ke kamar mandi, mungkin dia tidak boleh turun dari ranjang.


" Nanti, tunggu keputusan dari dokter" Bimo berkata ringan, sambil menyuapi sarapan pada Annelyn.


" Hmmm, tapi aku ngidam pengen pulang Om, bayiku rindu kasurku". Annelyn masih saja merengek, setelah menelan bubur ayam yang disuapkan Bimo.


Degh.


Tenggorokan Bimo tercekat, ia hanya mampu menggambarkan kesedihan itu di matanya yang menunduk.


" Iya, nanti Om bicara dengan dokter" Bimo masih berusaha sabar.


" Om, baby ku kok gak pernah gerak ya?"


Annelyn mengelus perutnya yang rata.


" Emang sebelumnya pernah gerak?"


" Enggak si, tapi kan usianya semakin bertambah Om." Suaranya sedikit menunjukkan nada protes.


Annelyn tidak amnesia, dia hanya tidak mengingat kejadian beberapa menit sebelum tidak sadar, bahkan alam mimpinya saja dia tidak ingat seperti apa, yang dia ingat hanya pernyataan cinta Bimo. Hanya itu.


" Nanti kalau sudah waktunya juga gerak sendiri dedeknya". Bimo mencium perut Annelyn menyembunyikan matanya yang memanas.


Akhirnya, sore hari mereka sampai di apartemen, Annelyn berjalan tertatih menuju kamar, dia sangat merindukan kasur empuk dan nyaman miliknya.

__ADS_1


Sedangkan Bimo, hanya tersenyum pedih melihat tingkah Annelyn, dia tidak tahu apa nanti Annelyn sanggup mengetahui kebenaran tentang bayinya.


Bersandar pada bingkai pintu kamar ponakannya, Bimo mendapat pesan dari orang suruhannya, ia membaca beberapa laporan yang dikirimkan. Kecurigaannya mengarah pada sosok paling pecundang yang pernah dia temui.


Oh ya, mengapa Bimo mendapat infonya lama, bisa sampai dua hari lebih, ya karena walaupun dia adik seorang Presdir, dia juga seorang pewaris, semua tetap butuh proses, apalagi dia tidak punya asisten serba bisa dan serba tahu.


Lama Bimo berfikir di tempat, sesekali ia memerhatikan gerakan santai ponakannya, benar-benar santai tanpa beban. Sedangkan dia? Kepalanya sudah ingin meledak, amarah dan cemburu berbaur menjadi satu.


Sudah saatnya.


"Lyn?"


" Ya Om"


" Temui aku di ruang kerja." Bimo berjalan meninggalkan kamar Annelyn, membuat si gadis kebingungan, ruang kerja? Ada hal penting apa?


Tok tok tok


" Masuk" Suara serak Bimo membuat bulu kuduk merinding, MENAKUTKAN. Annelyn sudah seperti tersangka saja.


" Kamu bertemu siapa sebelum .."


"Dimas" Annelyn menjawab sebelum Bimo melanjutkan pertanyaannya, ia sudah tahu kemana arah perbicaraan ini.


"Dia tahu kamu hamil?" Bimo bertanya pelan, menekan Annelyn disetiap kata-katanya.


" I iya" Gugup? Sudah pasti.


" Kenapa kamu memberitahunya?"


Hening, Annelyn tidak tahu harus menjawab apa, setelah bangun dari koma, pikiranya masih kacau, jiwanya terasa kosong, tapi dia tidak tahu kenapa,


"Do you love he?" Bimo memerhatikan raut wajah Annelyn.

__ADS_1


" Yes" Annelyn menjawab mantap, tentu ia tidak akan bohong tentang perasaanya.


" Why?" Bimo masih enggan menghentikan pertanyaanya.


" Aku tidak tahu. Dia suamiku" Annelyn asal menjawab, dia sudah bosan berdiri diintrogasi. Seperti maling saja.


" Lebih tepatnya mantan" Tegas Bimo, memandang tajam Annelyn


Annelyn tersentak mendengar jawaban Bimo, dia tahu Dimas mantan suaminya, tapi tidak perlu dijelaskan juga.


Menarik nafas dalam, Bimo menatap tajam Annelyn.


" Lyn? Kamu tidak bertanya bagaimana kandunganmu masih bisa selamat setelah kehilangan banyak darah?" Bimo mendesis, matanya penuh ancaman.


Hening. Kening Annelyn berkerut bingung, dua hari ini dia bahkan tidak bisa berjalan dengan lancar, apalagi mengingat? Otaknya masih belum terpasang sempurna.


" Jangan pura-pura bodoh, aku tahu kamu sadar bayimu sudah tiada!"


Annelyn masih membisu, dia enggan percaya ungkapan Bimo.


" Andai kamu tidak menemui Dimas, semua tidak akan terjadi Lyn. Mengapa kamu menemuinya? Mengapa kamu ceritakan kehamilanmu? Kamu ingin kembali dengannya? Jawab Lyn jangan diam saja!!"


Degh


Degh


Degh.


Nyeri di ulu hati Annelyn tidak tertahankan, sejenak nafasnya sesak, dia tidak bisa mengambil oksigen, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Terlebih, beberapa ingatannya membayang pada banyaknya genangan darah yang mengalir lewat selangkangannya, segelas jus jeruk, pertemuannya dengan Dimas.


Bahkan mimpi-mimpi saat dia terbaring koma juga hadir melengkapi semua praduganya. Dalam mimpi dia ingin menonjok hidung mancung Dimas, dia ingin balas dendam, karena Dimas telah memberinya minuman sialan.


Brugh .

__ADS_1


Tubuh mungil itu ambruk di lantai, Bimo yang pikirannya sedang kalut antara menyesal dan cemburu tidak sempat menangkap tubuh Annelyn.


__ADS_2