
" Semuanya harus ku akhiri."
Klik.
Artikel panjang yang ditulis Annelyn di laman instagramnya, segera dikirim agar seluruh dunia tahu kisah keluarga Bagaskoro. Dia tidak peduli lagi dengan nama baik dan lain sebagainya. Yang dia inginkan adalah kebebasan, setelah ini ia tidak perlu menjalani hidup yang mencekik.
Suaminya tidak perlu memilih antara menjaga nama baik orang tua atau perasaannya. Sekarang semuanya adil, semuanya terungkap. Ia bahkan tidak repot berpikir jika keluarga besar Bagaskoro akan memutuskan tali hubungan, entah pekerjaan atau darah. Ia sama sekali tidak peduli lagi.
Ia akhirnya bernafas lega, meskipun banyak orang memandangnya dengan tatapan aneh, dia tidak peduli. Toh dia tidak meminta biaya hidup dari mereka.
Tidak menunggu lama, banyak orang berkomentar statusnya. Bahkan ada banyak yang mengcopy.
" Hmmmhhhh rasanya udara pegunungan ini benar-benar sejuk.. sudah lama aku tidak menghirup udara segar seperti ini."
Tidak berselang lama, Annelyn mendengar berbagai macam keributan di luar kamarnya. Ia tahu, suara pria yang mengumpat itu sudah pasti Daddy-nya. Ada juga suara lemah lembut Mamanya dan Om Bimo. Dia tidak peduli.
Annelyn membuka kotak makeup, ia mengeluarkan sebuah kutek kuku. Ia akan merubah warnanya menjadi lebih indah. Kesan dewasa dan matang.
***
" Love.." Bimo menutup kembali pintu kamar. Ia memandang istrinya lekat, tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.
Disaat Karina dan Pram disibukkan dengan berbagai polemik yang ada, berusaha menekan berbagai macam isu dan gosip yang membludak, Bimo justru sebaliknya, ia memilih menghampiri istrinya.
" Ada apa?" Annelyn masih sibuk membaca berbagai komentar.
" Kita akan ke dokter kandungan." Ujar Bimo.
" Benarkah? Bagaimana dengan Daddy?"
Pasalnya, Annelyn mendengar sendiri Daddy-nya mengumpat, melarang siapapun, keluar dari rumah.
" Aku tidak peduli, biarkan semua orang tahu kita menikah. Aku tidak peduli dengan semuanya, biarkan mereka sibuk sendiri." Bimo tersenyum memandang istrinya.
Awalnya dia tidak ingin membuka aib tentang siapa istrinya, takut gunjingan orang melukai hatinya, tapi apa yang dikhawatirkan ternyata malah sebaliknya.
" Ohhh Bee aku mencintaimu." Annelyn bergegas menghambur dalam pelukan suaminya.
" Ayo kita pergi!" Bimo masih menampilkan sebuah senyum kelegaan.
__ADS_1
Mereka berdua pergi meninggalkan rumah, mengabaikan tatapan aneh dan penuh pertanyaan dari beberapa pelayan.
" Hidup seperti ini yang ku inginkan Bee, bebas melakukan apapun tanpa peduli penilaian orang."
" Daddy pasti memarahimu setelah ini."
" Apa gunanya marah? Setelah ini semuanya akan sangat kacau, dia tidak punya waktu untuk mengomeliku."
Bimo menyunggingkan senyuman, aneh rasanya, tahu ada masalah besar, tapi dia malah bahagia.
Sesampainya di rumah sakit, hari sudah menjelang malam. Annelyn dan Bimo tidak perlu mengantre, Bimo sudah menyuruh seseorang untuk mendaftarkan istrinya.
" Anne!!" Seorang pria menyapa keduanya di lorong koridor rumah sakit.
" Mas Dimas." Tanpa menoleh pun Annelyn tahu siapa yang memanggilnya.
" Ternyata benar kamu."
" Mau apa lagi kamu??" Bimo bertanya ketus melihat tatapan mata Dimas terhadap istrinya.
" Mas Dimas ngapain di sini?" Sebaliknya, Annelyn justru merasa khawatir. Menghilang beberapa bulan membuat ia lupa akan kejahatan yang pernah Dimas lalukan.
" Dasar lelaki mesum!!" Bimo berkata acuh tak acuh.
" Kok bisa??" Lagi-lagi Annelyn menyuarakan kekhawatiran.
" Dia sering selingkuh ternyata.." Belum sempat Dimas melanjutkan, Bimo sudah lebih dulu menyela.
" Syukurin!"
" Bee!!" Annelyn menyenggol lengan suaminya.
" Tidak apa-apa, mungkin sudah karmaku." Dimas berkata merendah. Ia takjub, melihat penampilan Annelyn yang jauh lebih segar.
" Boleh kapan-kapan aku menjenguk anakku?" Sebuah pertanyaan implusif keluar dari mulutnya.
Bugh.
Bogem mentah melayang tepat di wajah tampan Dimas yang mulai kurus.
__ADS_1
" Dasar lelaki tidak tahu malu. Kamu sendiri yang membunuh anakmu." Bimo geram terhadap pria sok tidak berdosa di depannya.
" Maaf An, aku hanya ingin meminta maaf, aku menyesal." Dimas memandang Annelyn memelas.
Sedangkan Bimo, mata tajamnya menyorot memperingati Annelyn agar tidak gegabah.
Tapi, Annelyn tetaplah Annelyn, perasaan yang masih tersimpan rapat di hatinya, membuat ia tidak mampu melawan kehendak logikanya.
" Iya.." Ia menjawab pelan, sedikit ragu-ragu.
Bimo segera menyeret Annelyn, menjauh dari Dimas. Enak saja, setelah berbuat salah, tiba-tiba datang meminta maaf. Kalau saja Puspa tidak selingkuh dan dia tidak penyakitan, pasti tidak akan memasang wajah menyesal begitu.
Semenjak bertemu dengan Dimas, Bimo bisa merasakan perubahan di wajah Annelyn yang semakin lama semakin kentara. Ia sebisa mungkin menjaga emosinya agar tidak meledak sembarangan.
Setelah sampai di depan ruang dokter spesialis kandungan, tidak berselang lama suster memanggil nama Annelyn untuk segera diperiksa.
Di dalam ruangan, Annelyn hanya diam sesekali tersenyum, berbeda dengan Bimo yang terus menerus bertanya ini itu.
Mereka keluar setelah dokter memberikan resep untuk ditebus di apotek rumah sakit. Sejak keluar dari ruangan dokter, sikap Bimo berubah, ia menjadi cuek dan irit bicara.
Bahkan saat di dalam mobil pun dia masih enggan memulai percakapan dengan istrinya.
" Kenapa diam terus Bee." Annelyn yang merasa tidak nyaman dengan sikap suaminya pun bertanya.
" Malas." Bimo menjawab cuek.
" Kamu cemburu sama Dimas?"
" Aku harap kamu cukup dewasa untuk paham." Bimo menjeda kalimatnya.
" Tapi ternyata kamu terlalu dibodohkan oleh cinta." Dia tidak menutupi sarkasme yang dilontarkannya.
" Bee!!" Annelyn menegur dengan suara sedikit lebih tinggi.
" Apa? Kamu masih menyimpan dia di hatimu Love? Keluarkan dia. Itu tempatku dan anak-anakku." Bimo masih saja fokus menyetir mobil.
Annelyn yang merasa tertohok hatinya dengan perkataan Bimo yang tujuh puluh persen benar pun hanya diam tidak berani bicara.
" Jangan egois Love!"
__ADS_1
" Jangan sampai kamu seperti Daddy." Bimo menasihati istrinya.