Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Bimo Bagaskoro.


__ADS_3

Hallo semuanya...


Terimakasih atas dukungan dan kunjungan yang kalian berikan..


Oh ya, khusus bab ini, author menggunakan sudut pandang Bimo. Biar kita tahu bagaimana sih perasaan Bimo yang sebenarnya. Dia meskipun seorang lulusan casanova tapi bukan pria romantis ya.. jadi jangan terlalu berharap dia bisa menjadi suami yang bucin. Itu bukan passionya. Hehe


Bimo POV.


Ternyata banting tulang yang sesungguhnya bisa ku rasakan dari kehidupan baruku bersama Annelyn. Banting tulang yang menurutku bukan kaleng-kaleng, rutinitas sehari-hari yang semakin lama semakin membosankan. Lelah fisik dan juga pikiran.


Dulu, aku tidak seperti ini, kehidupanku walaupun tidak mudah juga tidak sesulit ini. Aku sering mengeluh pada mendiang orang tuaku yang selalu menekankan belajar dan belajar, lalu kerja dan kerja.


Begitu pula aku membangkang pada kakakku, yang sekarang menjadi ayah mertuaku, aku selalu merasa tidak beruntung hidup di keluarga konglomerat.


Tuntutan untuk selalu menjaga nama baik, membuat diriku hidup dalam bayangan. Sehari-hari duduk di kursi kebesaran yang sebenarnya tidak ku minati. Menghitung angka-angka, bermain dengan insting peluang, salah sedikit saja bisa kena omelan panjang kali lebar.


Tapi, setiap malam dan akhir pekan, aku bisa menikmati jerih payahku, wanita dan liburan. Yah meskipun sekarang aku sudah tidak tertarik lagi dengan wanita selain istriku.


Sedangkan kini. Rutinitas harian ku selalu sama, mulai bangun tidur sampai tidur lagi, semuanya sama. Hanya Annelyn yang membuat semuanya berwarna. Bahkan hobbyku memasak seakan tidak ku rindukan seperti dulu. Bisnis catering yang ku geluti meskipun untungnya lumayan tapi tidak bisa dibandingkan kehidupan lamaku.


Aku bahkan tidak bisa honeymoon ke luar negeri seperti impianku dan juga impian Annelyn. Aku tahu dia memimpikan China, Korea dan Jepang sebagai tempat wisata. Tapi dia tidak pernah mengutarakan keinginannya. Dia cukup dewasa, berfikir kehidupan kita yang dulu dan sekarang sudah berbeda.


Uang yang ku bawa sebelum kabur memang lebih dari cukup untuk biaya hidup dan modal usaha, tapi pastinya kurang jika aku hidup berfoya-foya dan mewah seperti dulu. Bukan aku tidak bisa hidup sederhana, hanya saja membahagiakan istri pasti butuh uang.


Bukannya berdoa, tapi hidup selalu penuh dengan misteri kemungkinan yang akan terjadi. Andaikan aku bangkrut, aku hanya punya modal tabungan yang tidak seberapa. Belum lagi istriku yang selalu mengharapkan anak, bukankah harus memulai dari awal untuk segala pengobatan dan program kehamilan.


Ditambah lagi, Risya. Adik dari masa laluku yang tidak bisa ku abaikan. Ada andil kesalahanku pada tragedi yang menimpanya, bagaimana mungkin aku tega membiarkan dirinya begitu saja.


Memikirkan semuanya membuat kepalaku terasa pening. Aku teringat perkataan Annelyn sebelum menikah.


' Aku siap hidup dalam pelarian bersamamu Om. Aku .. aku siap menjalani pahit manis kehidupan bersamamu.'


Perkataan Annelyn waktu itu, sedikit memberi kelegaan pada suatu perasaan yang menghimpit kepalaku.

__ADS_1


Ku langkahkan kakiku menuju kamar, hari sudah malam, ingin rasanya aku mencurahkan rasa lelahku dengan melakukan aksi terhadap istri manisku.


Saat aku membuka pintu kamar, pemandangan yang kutemui pertama kali adalah selimut tebal yang membungkus tubuh istriku. Tak ingin berfikir panjang, akupun melangkahkan kakiku menuju kamar mandi.


Setelah selesai buang air kecil, aku mengganti baju dengan kaos pendek dan celana kolor yang sepertinya sudah disediakan Annelyn di kamar mandi.


Ceklek.


Degh.


Hal pertama yang ku lihat saat membuka pintu adalah sesuatu yang bersinar menyilaukan mataku.


Istriku yang aduhai dengan pakaian yang mempesona sedang berdiri menyambutku. Setidaknya itulah yang terpikirkan oleh otak kotorku.


" Hai Bee." Istri manisku menyapa dengan kikuk, sebelah tangannya reflek melambai, sedang tangan satunya lagi menutupi bagian pahanya yang terekspos.


" Hahaha Hahaha." Aku tidak bisa membendung rasa geli yang menggelitik di perutku. Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkah menggodanya yang teramat lucu.


What? Dia tidak ngambek dan merengek seperti biasanya. Mengapa tiba-tiba istriku menjadi sedewasa ini dalam menggodaku?? Apa karena terlalu lama ngobrol dengan duo julid si pakar iya-iya?


Tanpa pikir panjang, aku langsung saja melahap apa yang ada di depanku. Toh dia istriku sendiri. Lagipula mungkin dia sudah bisa menerimaku seutuhnya, sehingga dia dengan berani menggoda suami sepertiku.


Dan entah sudah berapa lama, yang tersisa hanya istriku yang tergolek tidak berdaya. Benar-benar luar biasa, tidak seperti biasanya, malam ini dia berbeda, dia mampu mengimbangi permainanku, selain itu dia juga tidak segan meminta lebih.


" Bee.." Ia memanggilku dengan suara mendayu.


Ia yang tidur di lenganku, memperjelas raut kelelahan bahkan sisa keringat sebesar biji jagung masih tampak jelas di dahinya.


" Ada apa Love?"


" Bee.." Lagi-lagi dia memanggilku, kali ini lebih disertai *******.


" Iya."

__ADS_1


" Bee.." Aku mengerutkan keningku. Tidak biasanya dia manja begini. Dan ini sangat menggemaskan.


" Iya sayang."


" Aku ingin berbicara sesuatu, tapi please jangan marah ya?" Ekspresi wajahnya seperti seorang balita tanpa doa yang merayu untuk dibelikan mainan.


" Haha, apa aku begitu menakutkan?" Aku tertawa sangking gemasnya.


" H.m." Jawabnya manja.


Matanya yang berkilau, bibirnya yang sedikit berkerut. Ingin sekali ku terkam lagi.


" Yasudah maaf, aku tidak akan marah tidak akan menakutimu." Ku usap lembut pipinya yang lengket karena keringat.


" Bee? Apa tidak sebaiknya kita .." Ucapannya menggantung, seolah menimbang sesuatu.


Apa aku terlalu keras padanya? Bukankah selama ini aku memanjakannya? Ataukah pertengkaran terakhir kali membuat dia memandangku diriku seperti singa??


" Ah tidak jadi, aku takut kamu marah seperti biasanya. Nanti ujung-ujungnya aku yang terluka." Dia menunduk sedih. Sebegitu takutnya ia padaku.


Jujur hatiku tercubit. Aku ingin membuat dia menerima diriku dengan penuh cinta, tapi nyatanya emosiku membuat dia tertekan.


" Love?? I'm sorry, aku tidak akan mengulangi lagi. Tapi please jangan sembunyikan apapun yang ingin kamu sampaikan. Aku mencintaimu." Ucapku lembut.


" Aku takut kamu marah." Bisiknya parau.


" No. Aku tidak akan marah."


" Janji?" Dia menjulurkan jari kelingkingnya.


" Iya janji." Aku menyambut jarinya dengan jariku.


" Emmm apa tidak sebaiknya kita beri tahu Kak Siska tentang Risya? Walau bagaimanapun, Kak Siska adalah orang baik, aku tidak ingin dia terus dibohongi suaminya, Bee, lagipula kasihan Risya hidup tanpa keluarganya."

__ADS_1


__ADS_2