
" Maaf"
" Please pergi dari hadapanku. Dia putriku. Sampai kiamat dia putriku. Jangan memakinya jika kamu masih menghargai ku sebagai istrimu" Karina membelakangi Pram, suami yang amat dia cintai.
Pram memilih pergi, membiarkan Karina menenangkan diri.
Seumur hidup Karina, hanya diisi pengabdian, sebuah peraturan tentang etika dan bakat yang membelenggu kebebasan jiwa mudanya kala itu. Menjadi anak untuk mengabdi, menikah pun untuk mengabdi. Sayangnya, toxic relationship melekat erat dalam sejarah keluarganya, bahkan begitu kental lagi di keluarga suaminya.
Yang bisa dia lakukan hanya, tersenyum mengangkat kepala, memandang dunia lalu menggenggamnya. Tidak adil jika dia hanya menjadi wanita lemah yang menangis tersedu-sedu, setelah banyak hal yang dia korbankan.
Dan, Annelyn adalah satu-satunya harta berharga, teman seperjuangannya, bahkan ketika Annelyn masih menjadi bayi merah yang digendongnya, Annelyn sudah menjadi tempat curhatnya.
Membesarkan bayi merah kesayangannya dengan aturan keluarga yang begitu mencekik, apalagi bagi jiwa petualang seperti dirinya, lagi-lagi dia menyesal. Andai bisa memutar waktu, ia pasti memilih memberi kelonggaran pada Annelyn.
Saat Annelyn memilih kabur, dia tidak pernah risau pada suaminya yang menutup segala akses pencarian, mencekal separuh pengaruhnya. Bisa saja dia melangkah di depan suaminya, tapi dia tidak pernah mencari Annelyn. Dia dengan penuh doa hanya berharap putrinya bisa hidup bebas, bahagia tanpa kekangan.
" Mama hanya berharap Bimo bisa memberikan cinta padamu Nak, cinta yang tidak pernah Mama rasakan dari Daddy".
Tok tok tok .
" Masuk" Karina menghapus sisa air mata di pipinya, menampilkan senyuman terbaik.
" Nyonya, Tuan besar dari keluarga pertama datang, Tuan Pram sudah di bawah menyambut beliau" Srimartani, kepala pelayan wanita berusia lima puluh tahun itu menunduk, menyampaikan tugasnya.
" Ehm ..Dengan siapa?" Suara Nyonya Karina serak. Sisa tangisannya masih membekas di tenggorokan, menyesakkan.
__ADS_1
" Bersama Nyonya besar, Nyonya" Pembantu yang sudah menjaga Annelyn sejak bayi merah menjawab takzim.
" Sebentar lagi aku turun, kamu urus saja pelayan dapur. Oh ya, Tuan dan Nyonya besar menyukai teh bunga Krisan. Hidangkan juga pastry, jiaozy dan lun pia, semua itu makanan kesukaan mereka" Dengan pandangan lembut dan welas asih, Nyonya Karina menyembunyikan sedih sekaligus was-was. Kedatangan adik dari ayah mertuanya jauh lebih menegangkan daripada sidang pengadilan.
" Baik Nyonya, saya permisi"
___
" Paman Bibi, Ni Hao Ma?" Nyonya Karina menyapa Paman dan Bibinya, ia menghampiri suaminya yang sedang menjamu kedua lansia keluarga Bagaskoro.
" Baik" Paman menjawab tanpa memandang Nyonya Karina. Tongkat berukir kepala harimau miliknya, disandarkan di kursi begitu saja. Tongkat yang terbuat dari kayu gaharu hitam, dengan bau wangi, tidak diragukan lagi harganya.
Seorang pelayan datang menghidangkan minum dan beberapa camilan.
" Silahkan Paman, Bibi, jiaozy ini, aku sendiri yang membuatnya" Nyonya Karina mempersilahkan kedua tamu angkuhnya.
" Tidak perlu basa-basi, dimana Bimo?" Dengan suara khawatir yang sengaja dibuat-buat, ia sepertinya memang ingin memancing kemeluk api.
" Bimo mas.."
Belum sempat Pram menjawab, adik dari ayahnya terlebih dahulu menginterupsi.
" Putrimu yang kuliah di luar negeri saja tidak ada dari kami yang tahu kabarnya. Sekarang adikmu sengaja kabur."
Pram dan Karina hanya menunduk menerima omelan pamannya. Walau bagaimanapun, mereka adalah tetua yang masih diberi panjang umur. Mungkin malaikat maut terlalu enggan berurusan dengan orang seperti mereka.
__ADS_1
" Kalian selain tidak becus menjadi orang tua, juga tidak becus menjadi kakak." Ini lagi, Bibi Subadra, mulutnya lemes, seenak jidat bilang tidak becus.
" Paman, maaf kami.." Pram mencoba menjelaskan.
Brak. Paman tua menggebrak meja, meja bergoyang mengguncang cangkir teh, menumpahkan isinya.
" Aku belum selesai bicara, Pram." Geram pamannya.
" Putri dan adikmu mungkin sudah terkena kutukan darah kotor."
" Cukup paman!" Pram menyela.
Muak, habis sudah kesabarannya.
"Paman maki saja aku, ini salahku tidak bisa mendidik putri dan adikku. Jangan menghina ibuku, dia adalah wanita terhebat yang pernah ada di dunia ini" Ucap Pram dengan penuh penekanan.
" Ayahmu menikahi ibumu yang berdarah kotor itu. Anak hasil perselingkuhan seorang jaksa dan narapidana." Bibi Subadra lagi-lagi seperti netizen nyinyir.
" Andai ayahmu tidak membutuhkan prestasi ibumu, dia tidak akan menikahi wanita berkulit gelap yang bahkan tidak punya asal usul jelas itu." Kompak sekali paman dan bibi, saling melengkapi saat menghina, mengumbar aib orang.
" Paman jangan keterlaluan!" Kali ini Nyonya Karina yang membela suaminya.
" Kamu pikir kenapa Bagaskoro Group terpecah? Seharusnya mertuamu adalah pimpinan tertinggi di perusahaan Eyangmu. Tapi demi membuktikan pilihannya dia mendirikan Bagaskoro Group ll, cuihh" Keterlaluan, Paman meludah di lantai.
" Bukankah seharusnya Paman berterima kasih pada ibuku? Tanpa ibuku perusahaan yang Paman dan anak-anak paman nikmati akan menjadi milikku." Bimo membalas pamannya. Apa yang dikatakannya adalah real, andai saja ayahnya tidak menikahi ibunya, pamannya pasti tidak kebagian harta. Karena pewaris utama adalah ayahnya.
__ADS_1
" Paman adalah tetua pengganti ayah ibuku. Tapi bukanya tua bertuah, paman lebih cocok disebut tua bertuas" Pram mencibir. Emang enak digituin.
hai readers, jangan lupa like, vote dan komen. author butuh semangat muuuuu