Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Rahasia Om


__ADS_3

Annelyn tersentak, niat hati ingin memberi kejutan perceraian, dia justru dikejutkan fakta Puspa hamil. Ia tidak siap, tidak sanggup, suaminya juga mengharapkan anak dari wanita lain.


Tangannya refleks memegang perutnya, seolah saling memberi kekuatan untuk bisa bersabar.


" Iya, Mas. Kamu kan bilangnya cuma cinta sama aku." Imbuh Puspa. Dia sudah tidak sabar menjadi nyonya utama di rumah mewah Dimas, dan memegang otoritas keuangan seperti Annelyn.


Dimas yang kalap melihat pria tampan itu merangkul pinggang ramping istrinya. Membuka map di atas meja lalu membubuhkan tanda tangan di surat perceraian.


" Tidak ada harta gono-gini. Jangan menuntut macam-macam". Serobot ibu Dimas.


" Mama teknang saja, aku tidak butuh uang anamu" Annelyn tersenyum manis, yang mana senyumnya justru menimbulkan setitik penyesalan di hati Dimas.


Annelyn, gadis manja yang belum cukup dewasa, tapi siap menerima Dimas apa adanya. Belajar banyak hal dalam rumah tangga, dia bisa bersikap dewasa terhadap ibu Dimas yang selalu menguras kesabaran.


Dia belajar memasak dengan baik, meskipun hasilnya tetap saja tidak layak. Dia mengurus semua keperluan rumah tangga dengan bijak.


Annelyn meminta ijin ke kamar, mengemasi beberapa barang, sekalian mengambil ATM dan surat-surat penting lainnya.


Masalah ATM, setelah dipikir-pikir, tidak ada untungnya mengambil uang gajian suaminya, eh mantan suami. Ia berusaha ikhlas melupakan masalah dendam, bagaimanapun dia tidak boleh sekejam itu.


Saat Annelyn turun dari tangga sambil membawa tas kecil dan koper, di lantai bawah semuanya sudah berkumpul di ruang tamu.


" Ini kartu ATM mu mas, Ini sertifikat rumah, surat-surat mobil, motor". Annelyn melihat wajah sumringah ibu mertua dan madunya.


" Yang ini..." Jeda sejenak.


" Oh iya, dulu rumah ini masih kecil, aku menguras tabunganku untuk merenovasinya, tapi karena masih kurang jadi Mas Dimas meminjam uang di Bank. Rumah ini masih tahap menyicil."


" Yang ini, surat cicilan mobil dan motor"


" Tante Puspa siap-siap ya, pendapatan Mas Dimas nggak sebanding sama pengeluarannya yang mewah".


Wajah ibu mertua berubah pias, sedangkan Puspa?? Sangking pucatnya, dia sudah mirip kuntilanak sungguhan.


Bimo membawa Annelyn pergi dari rumah itu, tanpa memberi tahukan kehamilannya, untuk apa? Dia hanya ingin Annelyn membuka lembaran baru. Melanjutkan pendidikan, mewujudkan impiannya.


" Om, aku tidak mau pulang." Pinta Annelyn saat Bimo melajukan mobilnya.


Hening tidak ada jawaban.


" Om??"


" Mau apa lagi? Mau membuat kekacauan seperti apa lagi?"


Giliran Annelyn yang menunduk, tidak berani menjawab, bahkan mengeluarkan suara, Om Bimo tidak berubah. Annelyn merasa dirinya seperti seorang tersangka yang diintrogasi polisi.

__ADS_1


" Ada masalah apa sebenarnya? Kamu tidak tahu Mamamu jatuh sakit saat ku beri tahu kamu menikah??"


Annelyn mendongak, sepasang mata bolanya bertemu dengan lirikan tajam Bimo.


" Aku tahu semuanya Lyn, Se Mu Anya!"


" Aku hanya ingin kamu belajar, untuk menggunakan otakmu saat membuat keputusan, beberapa hari ini aku diam, karena kamu masih istrinya Dimas, tapi sekarang kamu adalah ponakanku."


Om Bimo benar, apa yang dia dapat dari pelariannya? Pernikahan yang gagal? Status janda? Calon ibu single? Apa dia siap?. Mau pulang pun tidak mungkin, dia tidak berani bertemu Daddy, atau melihat wajah Mama.


" Aku tidak mau pulang, aku bisa tinggal bersamamu, Om." Annelyn memberi usulan.


Bimo menghela nafas berat, dia tidak siap, Annelyn bukan lagi gadis kecilnya, dia adalah seorang wanita di mata Bimo.


Wanita yang begitu dicintainya, dia tidak sanggup menahan gejolak hati jika harus tinggal satu atap dengannya.


Perasaannya terhadap Annelyn tidak bisa ditepis, juga tidak bisa diterima oleh pandangan orang lain. Mana ada Om mencintai ponakannya.


Melihat keraguan di wajah Bimo, Annelyn berfikir bagaimana caranya mempersuasi Om Bimo kesayangannya.


" Aku tidak akan merepotkanmu Om? Aku bisa membersihkan apartemenmu"


Bimo masih diam. Enggan menanggapi permintaan Annelyn. Kalau menuruti kata hati, tentu saja dia ingin menculik anak nakal disampingnya, menyembunyikannya dari dunia.


" Aku akan bekerja agar tidak numpang hidup denganmu, Om. Lagipula ATM ku masih banyak isinya"


"Aku juga bisa memasak untukmu, Om"


Bimo tergelak, sejak kapan Annelyn bisa memasak?


" Masakanku lebih manusiawi" . Sanggah Bimo.


Huh. Annelyn mendengus, malas. Otaknya mulai memikirkan beberapa kemungkinan.


"Atau jangan-jangan.." Kedua tangan Annelyn menutup mulut, syok. Lalu tersenyum jahil.


"Ehm.. Om tenang saja, aku akan tutup mulut, tutup mata, tutup telinga. Aku tidak akan mengganggu kencan Om dengan berbagai wanita penghang.."


Aaaauuuu


Bimo menarik telinga Annelyn bahkan sebelum gadis nakal itu selesai bicara, bagaimana bisa anak nakal itu berfikir yang tidak-tidak.


" Apaan sih Om, telingaku bisa panjang sebelah. Lagian Om kan pria normal, yang sudah tahu rasanya iya-iya" . Annelyn memprotes, mencebikkan bibirnya.


Ciiiiitttttt

__ADS_1


Suara mobil direm mendadak. Untung saja tangan kiri Bimo reflek menghalangi kepala Annelyn dari benturan. Bimo mengendurkan dasinya, mengurut dahi yang mendadak pening.


" Opamu memang keterlaluan, sayang, cucunya baru hadir di rahim mommy, sudah diajak senam jantung" Cibir Annelyn mengelus perutnya.


Bola mata Bimo melotot, dirinya dipanggil Opa?? Bibirnya berkedut tanpa bisa berkata-kata.


Hening sesaat, Annelyn menghadap jendela.


" Darimana kamu tahu iya-iya?"


Hah? Jelas tahu lah kan Annelyn sudah menikah, dia bukan bocah polos.


"Ya tahu lah Om, aku kan pernah menikah. Iya-iyaku sah di mata hukum dan agama. Bukan seperti Om dan Kak Siska."


Memasang wajah cemberut khasnya, Annelyn memberengut sambil bersedekap dada, lagi-lagi memalingkan wajahnya keluar jendela.


" Om nggak usah bertanya aku tahu dari mana, salah siapa iya-iya pintunya tidak ditutup, huh memalukan sekali, menodai mata dan pikiran anak dibawah umur" Protes Annelyn tanpa mengalihkan pandangan.


Annelyn saat itu baru berusia 11 tahun, harus menonton live adegan tidak senonoh akibat kecerobohan Omnya. Dia menangis mengadu pada mendiang Oma yang saat itu masih hidup.


Oma, Om jahat, tadi kak Siska disakiti Om Bimo, kak Siska berteriak kesakitan di ruang kerjanya Om.


Hal itulah yang memicu putusnya hubungan mereka berdua, sebab Oma tidak mengijinkan Bimo menikah dengan wanita beda agama.


Bugh.


Mata Bimo terpejam, memukul dasbor mobil. Dia tidak menyangka Annelyn melihat semuanya. MEMALUKAN. Gadis yang kamu cintai melihat perbuatan hinamu. Dia menyugar rambutnya ke belakang, menarik nafas dalam, lalu mulai menyetir mobilnya.


Annelyn POV.


Pukulan keras itu mengagetkanku, jantungku bertalu-talu, aku sangat ketakutan, aku tidak lupa bagaimana dulu Om Bimo pernah memukul anak-anak yang membuliku dengan membabi buta.


Aku juga tidak bisa lupa, bagaimana Om Bimo menembak mati orang yang menghianatinya.


Bagaimana aku tahu? Tentu saja karena kenakalanku, aku tersesat di dalam paviliun yang tidak boleh ku masuki, di tempat itu aku melihat Om Bimo dengan tangannya sendiri menembak mati 3 orang tahanan.


Meski begitu, Om Bimo adalah Om kesayanganku, dia adalah orang yang menyayaiku seperti Mama. Hmm aku merindukan Mama.


Om Bimo marah, mungkin dia tidak ingin aku tinggal di apartemennya. Kesalahanku kabur dari rumah memang fatal, apalagi menikah tanpa ijin, dan sekarang aku hamil. Aku tidak bisa berharap Om benar-benar memaafkanku seperti ucapannya tempo hari.


" Turun, Lyn". Ternyata sudah sampai, Om Bimo membukakan pintu untukku.


" Sebaiknya carikan aku apartemen untuk tinggal, Om. Nanti kalau aku sudah membanggakan orang tua aku pasti pulang kok, Om nggak usah khawatir, aku bukan bocah nakal seperti dulu". Cerocos Annelyn.


Aaaaaa

__ADS_1


Tubuhku melayang dalam gendongan Om Bimo. " Cerewet!" Cibir Bimo.


Jangan lupa jempolnya gaeeesss, vote and komen


__ADS_2