Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Kalung dari Mama.


__ADS_3

Setelah kejadian dimana Bimo berlutut memohon ampun pada istri kecilnya. Annelyn semakin berani memancing gairah Bimo untuk bermesraan di depan Risya. Kurang sopan memang, tapi apa boleh buat, pelakor harus dibasmi dengan cara yang memalukan.


" Hallo.. benar ini dengan Nona Siska?" Annelyn menghubungi nomor seseorang.


Sambil berbaring di atas ranjang, ia menghitung jumlah bintang kecil yang ditempel suaminya di atas plafon.


" Iya benar, ini dengan siapa?". Suara orang di ujung sana.


" Saya istri dari seorang suami yang direpotkan oleh adik anda, Risya." Annelyn dengan santainya to the poin.


" Maksudnya?"


" Adik anda Risya ada di rumah kami, dia bilang kalau dia hamil karena diperkosa kakak iparnya... Awalnya, kami percaya, dan menaruh simpati, tapi ternyata dia malah gencar merayu suami saya, dan membuat hubungan kami menjadi rumit."


Suara Annelyn melembut, tidak tergesa-gesa dan tiba-tiba agak serak, bergetar.


" Astaga.." Dari ujung sana, Siska tidak dapat menyembunyikan perasaan syok.


" Jadi, saya mohon pada Mbak untuk datang kemari, saya mohon... tapi tolong jangan memberi tahu Risya. Saya akan mengirimkan lokasi beserta bukti keberadaannya.. saya mohon.."


Siska yang mendengarkan suara Annelyn yang bersedih lewat telepon, mau tidak mau harus percaya, apalagi dia tahu betul bagaimana watak buruk adiknya.


" Iya,,, iya nanti anda kirimkan saja bukti dan lokasinya."


" Iya, saya mohon dengan sangat yaa Mbak.." Annelyn memelas.


Tuts. Panggilan berakhir.


Annelyn tersenyum puas, ia tahu suaminya masih ragu untuk menghubungi Siska, ada banyak yang dipertimbangkan oleh pria tua yang sangat mencintainya itu. Maka dari itu Annelyn berinisiatif menghubungi Siska sendiri.


Selepas menelfon, ia berjalan menuju dapur, dimana Risya sedang menyiapkan bahan sayuran untuk catering nanti sore. Kesempatan, mumpung Bimo mengurusi peliharaan, dia akan memanas-manasi Risya.


" Ris, kamu tahu nggak? Anaknya Bu RT mau menikah lho." Annelyn sengaja memancing Risya.


Kekanakan? Bodo amat. Dia ingin sekali meninju wajah pelakor muka dinding di depannya. Annelyn mengenakan kaos putih tanpa lengan, lebih terbuka dari pakaian Risya. Emang Risya berani tampil seperti dia? Ya enggak lah.. perutnya kan sudah membesar.

__ADS_1




" Iya Bu." Risya hanya menjawab cuek. Untuk ukuran pelakor dia memang cantik.


Mana lagi pakaiannya masih kategori kurang bahan. Tapi tidak berani seseksi dulu.




" Hmm huuhh, beruntung ya padahal masih cantikan kamu lho, sayang kamu hamil tanpa calon." Annelyn mengompori. Ia tersenyum devil melihat Risya.


" Maksut kamu apa?" Risya nyolot.


" Ya maksutku kasihan bayi dalam kandunganmu, lahir tanpa ayah." Annelyn masih acuh tak acuh. Menampilkan ekspresi apatis yang terlihat nyata.


" Lalu gunanya suamimu apa? Aku yakin dia akan mengadopsi bayiku, karena istrinya mandul." Risya tersenyum, seolah dia memenangkan lotre.


Bola mata Risya melotot tidak percaya, bagaimana mungkin wanita manja di depannya bisa hamil?


Hatinya tercubit, sekuat tenaga menahan luapan emosi. Mengingat betapa gencarnya mereka melakukan hubungan suami istri, bukan tidak mungkin Annelyn akhirnya hamil juga. Ia sangat iri dengan keberuntungan Annelyn, wanita manja yang dinikahi pria tampan rupawan seperti Bimo. Apalagi asal usul Bimo dari keluarga yang tidak bisa diremehkan.


" Kaget?? Harusnya jangan kaget, toh setiap hari matamu tidak buta untuk melihat apa yang kami lakukan." Annelyn tersenyum puas, lalu berbalik. Ia berjalan menuju kamar.


Annelyn bergegas meninggalkan Risya, ia berjalan cepat menuju kamar. Apa tadi? Hamil? Sepertinya itu hanya sebuah impian yang entah bisa terwujud atau tidak. Ia sengaja berbohong untuk memukul mundur Risya, toh pada akhirnya Risya akan check out dari rumah dan tidak akan tahu kebenaran tentang kehamilannya.


Pengecut? Tidak! Ia akan lebih pengecut lagi jika tidak berani memukul mundur Risya dengan kebohongan itu. Dia berani melukai hatinya sendiri, sebagai seorang wanita yang dicap mandul ia berpura-pura hamil agar pelakor itu mundur.


" Ma.. aku harap ini bukan karmaku sebagai seorang anak.." Lirih Annelyn berkaca-kaca.


Ada banyak rahasia, keluarga Bagaskoro tidak pernah menerima pernikahan kecuali bibit bebet bobot yang seimbang. Mereka keturunan China, berpendidikan tinggi dan ber uang tentunya. Nama baik mereka sudah abadi sepanjang sejarah, sehingga sedikit banyak memberi kesombongan pada tetua mereka, tidak jarang pula harus mengorbankan kebahagiaan generasi muda mereka.


Annelyn sadar, dia hanya memiliki Mama dan Om Bimo yang tulus menyayangi dirinya. Tapi tidak menutup kemungkinan keduanya akan berubah jahat suatu hari nanti. Reputasi baik dan semua prestasi yang diperoleh keduanya, tidak lepas dari perjuangan untuk mempertahankan kedudukan di keluarga besar. Perjuangan itu, tidak semuanya mulus, adakalanya nyawa tidak orang berdosa menjadi korbannya.

__ADS_1


Annelyn membuka lemari, ia memandang sebuah kotak perhiasan berwarna biru tua. Dibukanya kotak perhiasan tersebut, kalung emas putih berbandul inisial huruf A. Kalung pemberian Mama.


Awalnya Annelyn menganggap kalung ini sebagai bentuk cinta dari Mama, nyatanya tidak begitu, ada kisah kelam dibalik kalung yang saat ini ditatapnya dengan nanar.


" Love?" Bimo masuk ke dalam kamar, ia membuka lemarinya mengganti kaos rumahan dengan kaos berkerah.


" Iya Bee." Annelyn dengan santai menjawab Bimo.


" Apa itu?" Mata Bimo menyipit.


" Ini .. hadiah ulang tahun dari Mama."


" Benarkah?" Bimo merasa heran, sedikit tidak percaya. Merk yang tertera di kotak perhiasan tersebut sangat berbeda dengan selera Kakak iparnya atau lebih tepatnya ibu mertuanya.


" Iya, memangnya kenapa?" Annelyn masih belum mengerti.


" Tidak apa-apa. Oh ya aku akan ke rumah Pak RT sebentar." Bimo tersenyum.


" Iya Bee."


Bimo melangkah keluar, tapi saat membuka pintu, ia berbalik.


" Oh ya Love.. Sebagai suamimu, aku berharap kamu bisa terbuka." Senyumnya masih sama menghangatkan.


" Maksutnya?" Annelyn bingung.


" Kalung itu bukan pemberian Mama, aku tahu betul seleranya, dan kalung itu keluaran dari merk yang paling tidak disukai Mama." Bimo menjelaskan sebelum berlalu.


Degh.


Hati Annelyn berdenyut. Mengapa setiap kali ingin bahagia dengan bebas, masa lalu yang kelam itu selalu menghantui.


Ceklek. Pintu kamar tertutup. Meninggalkan Annelyn seorang diri terpaku. Tidak menyangka, Om Bimo sudah mencium bau yang tidak beres.


###

__ADS_1


holla kalian yang merindukan dan mendambakan karyaku. aku dataaaaaang.. love you all.. jangan pada bosen ya


__ADS_2