
Annelyn POV.
Pukul 04.20, aku sampai di depan rumah baru Om Bimo. Rumah satu lantai dengan halaman dan pekarangan yang terlihat luas, entahlah suasana gelap membuat mata lelahku tidak jelas melihat objek.
" Akhirnyaaaaaa, lelahku terbayar juga" Aku menguap sambil ngolet, uuhh rasanya tubuhku remuk seremuk remuknya. Untung punggung buatan Tuhan, kalau buatan pabrik bisa patah tulang, rekemek-krekemek.
" Eits eits suaranya jangan seperti nenek lampir! ini desa Lyn, jam segini biasanya ibu-ibu sudah bangun. Mana ada adzan subuh lagi. Diem jangan berisik."
Om Bimo menatapku dengan bawel ala emak-emak, ya benar juga sih, tapi masa iya harus disamain nenek lampir.
" Hehe. Sini aku bantuin bawa Om, nanti biar cepat istirahat, Om capek juga kan?"
Daripada protes, aku memilih membantunya membawa barang. Supaya cepat selesai, dan aku bisa berjumpa dengan kasur empuk.
" Capekku dobel Lyn, nyetir sama nggendong depan belakang. Mana yang belakang berat. Untung motorku nggak sledding". Om Bimo membuka pintu rumah dengan kunci yang sudah dirogoh dari sakunya. Masih sempat jahil usil mulutnya.
" Hiih" Aku berjalan menjatuhkan barang bawaan ku, melewati Om Bimo yang baru saja mau masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Blamm. Ku banting pintu rumah. Hahaha, emang enak. Nyebelin sih Om.
"Untung bangunannya kokoh, kalau rempu bisa ambrol dalam seminggu. Ck ck ck" Apaan sih Om, lebay, masa begitu saja rumah baru ini bisa roboh. Huh, tidak pernah berubah, masih menyebalkan.
" Nggak usah kaya cicak si Om. Telingaku masih normal ya. Jangan dikira aku budeg" Omelku. Hihihi. Si Om Om ini, meskipun menyebalkan dari zaman Nusantara kenal kerja rodi, tapi masalah baik hatinya beuuhhh tidak perlu diragukan lagi. Buktinya aku cuma bisa manja sama Om, kenapa? Ya karena ngomelnya hanya sebatas di bibir, Om Bimo masih sayang tiga ratus enam puluh derajat. Benar kan? Tuh si Om diam saja malah buka pintu sendiri sambil sempoyongan bawa tas.
~••••~
Rumah Bagaskoro 2
Brak.
" Keterlaluan. Anak kurang ajar, mati-matian aku mendidiknya, tapi lihat!"
Braakkk. Lagi, Pram menendang kursi kayu jati dengan ukuran naga hingga jatuh terbalik.
" Anak tidak tahu diri. Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Aaarrgghhhh". Semua rencana yang disusun Pram untuk membahagiakan ayah angkatnya, seiring berjalannya waktu kian melangkah menjauhi dirinya.
__ADS_1
" Jangan keterlaluan kamu Ko! Selama dia menghilang, kamu bahkan tidak peduli. Aku harap otakmu masih berfungsi untuk mengingat darah daging siapa Annelyn." Muak dengan kegilaan pria tua yang berstatus suaminya, Karina meluapkan emosinya yang selama ini terpendam, dua puluh lima tahun usia pernikahannya, dia tidak pernah sekalipun membantah suaminya.
" Arin ak..." Pram menoleh menatap mata gelap nan tajam istrinya. Ia tidak bisa berkutik.
" Stop!!! Kamu memaksa menghabiskan hidupmu bersamaku, Ko. Kamu yang berjanji, sampai rela berlutut dibawah kakiku. Jangan lupakan janji ilusimu yang membawaku pada titik ini Ko. Kamu tidak berhak mengatakannya di depanku!" Karina mengatakan luapan perasaan terpendamnya dengan berlinang air mata.
Hening. Pram dibuat bingung dengan keadaan yang ada.
" Rin. Kita sepakat untuk melupakan semuanya!" Pram berkata lirih, berjongkok di depan Karina.
" Tapi aku tidak membenarkan perlakuanmu pada Annelyn Ko. Setidaknya dia tetap putriku." Karina dengan nada satu oktaf lebih rendah, menekankan posisi Annelyn dalam hidupnya.
" Aku tahu kamu kecewa pada Bimo. Tapi jangan salahkan putriku. Alih-alih mengumpat adikmu, kenapa malah melampiaskan semua umpatanmu pada putriku?" Karina kembali tersedu.
" Rin"
"Apa?? Aku selama ini menjaga reputasi keluargamu dengan baik, setidaknya jika kamu tidak mencintaiku, hargai rasa sayangku pada putriku atas jasaku pada keluargamu" Dengan kedua tangan terkatup memohon pada Pram, air matanya tidak berniat berhenti mengalir.
__ADS_1
" Maaf"
" Please pergi dari hadapanku. Dia putriku. Sampai kiamat dia putriku. Jangan memakinya jika kamu masih menghargai ku sebagai istrimu"