
Hai hai haiiii... Bertemu lagi dengan author amatiran. Banyak yang bertanya nih tentang Dimas kenapa tidak mendapat karma. Sebenarnya sudah, tapi belum bisa author jabarkan sekarang. Karena apa? Sekarang Author ingin fokus pada tumbuhnya perasaan cintanya Annelyn untuk Om Bimo. Kalau ada Dimas nyempil di sini, gagal move on dong Annelyn nantinya, dia kan bucin akut.
Author POV.
" Emmm apa tidak sebaiknya kita beri tahu Kak Siska tentang Risya? Walau bagaimanapun, Kak Siska adalah orang baik, aku tidak ingin dia terus dibohongi suaminya, Bee, lagipula kasihan Risya hidup tanpa keluarganya." Annelyn memainkan bulu halus di dada suaminya.
Bimo menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan penuturan Annelyn. Tapi ia tidak bisa menampik, toh apa yang diutarakan istrinya benar.
Bimo juga pernah beberapa kali berfikir demikian. Hanya saja, keraguan dan perasaan takut dalam hatinya begitu membelenggu.
" Maaf sebelumnya Bee, aku tahu posisimu tidak memungkinkan untuk itu, tapi bisakah kita mencobanya? Setidaknya untuk menegakkan keadilan bagi Risya dan Kak Siska."
Annelyn tersenyum hangat, sangat manis sampai Bimo tidak mengetahui rencana licik yang tersusun di otak istrinya.
Apanya yang untuk kebaikan Risya? Dia bahkan sudah menyiapkan langkah berikutnya untuk membongkar kedok Risya.
" Aku.. juga berfikir begitu, tapi jalan kita ke depannya akan sangat sulit Love." Bimo masih ragu meskipun dia juga sebenarnya setuju.
" Bagaimana kalau ada korban lagi?" Annelyn mengeluarkan jurus jitu. Suaminya merasa bersalah kan? Dengan adanya korban lagi, bukankah akan menambah rasa bersalahnya.
" Lagipula ini juga bukan salahmu, Bee. Setiap cinta pasti bisa menerima pasangannya, seperti halnya kamu menerima janda seperti ku. Suami Kak Siska juga sepatutnya menerima kekurangan Kak Siska, begitu juga aku yang menerima masa lalumu."
Annelyn bertutur lembut, matanya menenangkan begitu pula ungkapannya yang terdengar romantis dan melankolis.
" Kalau suaminya Kak Siska minta ganti rugi kep*r*w*n*n sama Risya ya bukan cinta namanya. Bukankah seharusnya cinta bisa membuat seseorang raja menurunkan egonya?"
Lagi-lagi Annelyn mengeluarkan kecerdasannya. Bagi Bimo cinta tidak pernah egois. Jadi, Annelyn yakin Bimo akan mengikuti langkahnya.
Tidak selamanya Bimo bisa menutup mata akan rasa tidak nyaman yang dirasakan Annelyn dengan kehadiran Risya. Dia tidak bisa egois jika memang mencintai Annelyn. Begitulah maksut tersembunyi yang tersirat dalam kalimat Annelyn.
" Nanti akan ku pikirkan cara baiknya. Semoga saja tidak ada kendala apapun."
Bimo mengalah, memilih mengistirahatkan pikirannya.
" Sudah malam Love, ayo tidur, mmuuuach."
__ADS_1
**
Bimo POV.
Aku memasak sambil sesekali menguap, semalam tidak bisa tidur, pembicaraanku dengan Annelyn mengganggu pikiranku. Kalau aku orang biasa, kehidupanku biasa-biasa saja, aku pasti akan memulangkan Risya pada keluarganya, bahkan sebelum diminta oleh istriku sekalipun.
Kalau memilih menjadi Bimo yang dulu, tentu saja sudah ku tembak mati Risya. Kehadirannya selain membahayakan hidup baruku, ia juga berpotensi merusak nama baik keluarga Bagaskoro.
Memilih membiarkan dirinya tinggal serumah denganku beserta istriku, adalah cara menebus rasa bersalah paling aman yang bisa ku lakukan saat ini. Setidaknya keberadaanku dan nama baik keluarga masih aman.
Kalau sampai aku bertemu Siska, Risya akan tahu siapa diriku. Kemungkinan dia juga akan menyebarkan aibku dan Siska, yang pasti berimbas pada nama baik keluarga.
Keluarga Bagaskoro, dikenal sebagai keluarga yang bersih dari berbagai macam kasus. Sejak jaman penjajahan, sampai era modern, keluarga Bagaskoro selalu bisa menjaga nama baiknya dikalangan pebisnis dan publik.
Bukankah sangat tidak etis jika nama baik keluarga yang sudah dijaga turun temurun harus tercoreng karena aib yang ku lakukan di masa lalu terekspos.
Aku tidak munafik, semua anggota keluarga Bagaskoro memiliki sisi gelap masing-masing. Pembunuhan, pelecehan dan bahkan darah psikopat mengalir dalam nadi kami. Tapi tidak ada yang tahu. Semuanya tertutup rapat.
" Aduh sakit." Risya mengeluh sambil memegangi perutnya yang mulai terlihat menyembul.
" Kamu kenapa Ris?" Aku mendekatinya.
" Yasudah kamu istirahat saja dulu." Aku menyuruhnya istirahat, tidak mungkin memaksanya bekerja dalam kondisi tidak memungkinkan.
Untung semua pekerjaan yang dikerjakan Risya bisa ku handle semuanya. Kalau tidak entah bagaimana jadinya.
Pukul delapan lebih lima puluh menit semuanya baru selesai, molor setengah jam dari biasanya, itupun karena Annelyn ikut andil dalam memasak.
Aku mendekati istri cantikku yang sedang serius mengupas buah.
" Huh majikan mana coba yang rela jadi babu sedangkan pembantunya jadi nyonya."
Annelyn menggerutu, aku bisa mendengar dengan jelas suaranya, apalagi Risya yang duduk tidak jauh darinya.
" Kalau saja bukan karena rasa hormatku pada kakaknya si babu, sudah ku buang babuku di kolong jembatan." Kali ini suaranya hanya berupa bisikan. Risya pasti tidak mendengar.
__ADS_1
" Love???" Aku menegurnya dengan lembut.
" Hmm.. tahu nggak sih Bee, kamu bisa cemburu dengan Hanif hanya karena kita ngobrol. It's okay. No problem. Tapi mikir nggak sih aku juga cemburu, bukan cuma sama Risya, tapi sama kak Siska juga."
Dia berbisik di telingaku. Suaranya yang sedikit mend*s*ah membuat tubuhku meremang.
" Kamu tidak percaya padaku Love?" Aku ikut berbisik di telinganya, sambil ku kecup ringan daun telinga berhias anting emas berbentuk bunga Dahlia.
" Aku tidak percaya Risya." Ia menjawab lirih, sorot matanya melirik Risya yang tengah asyik memainkan ponselnya.
" Padaku??" Kali ini ku lingkarkan tanganku pada pinggangnya.
" 75%." Dia menjawab acuh.
" Hahaha kenapa jadi seperti diskonan sih Love?" Aku mencoba bergurau, mungkin menggodanya bukan pilihan buruk, sudah sangat lama rasanya tidak menjahili Annelyn.
" Ya kalau 100% aku tidak mungkin cemburu." Bantahnya santai.
" Emang kamu mencintaiku kok bisa cemburu??" Kali ini aku melontarkan pertanyaan yang menjebak.
" Ya iyalah!" Jawaban penuh rasa sewot ala emak-emak.
" Yakin bukan cuma di bibir?" Godaku.
Degh..
Wajahnya memerah, aku tahu dia malu. Sangat menggemaskan. Selama ini dia berkata cinta, berkata sayang, tapi aku menyadari itu tidak lebih dari perasaan tipis yang hinggap di hatinya, yang sewaktu-waktu bisa pecah tanpa sisa begitu saja. Tapi entah mengapa, kata cemburu yang diucapkannya membuat diriku merasa bangga.
" Hiih apaan sih Bee. Tauk ah gelap!" Dia menghentakkan kakinya, melangkah menuju kamar.
Hahaha.
" Ris, nanti kalau Hanif sudah datang suruh saja dia mengangkat semua yang ada di ruang tamu ya. Dia sudah tahu bagian-bagiannya." Aku berpesan pada Risya sebelum berlalu mengikuti langkah Annelyn.
" Love i'm coming." Teriakku, yang ku yakini bisa terdengar dari luar rumah.
__ADS_1
Bodo amat, yang penting bisa mendapat jatah di pagi hari. Itulah bedanya Cinta dengan nafsu di luar sana. Cinta itu enaknya bikin nagih, yang lain mah lewat, nggak ada apa-apanya. Kalau kata Annelyn mah upil kering.
...