
" Aaaaaaass!!!" Jeritan Annelyn menginterupsi dua orang pria yang sedang bergelut di atas ranjangnya.
" Apa-apaan kalian! Hanif lepaskan tanganmu dari suamiku!"
Annelyn berjalan mendekati Bimo dan Hanif, tangannya mencengkram erat handuk kecil yang melilit tubuhnya.
" Stop Love! Masuk lagi ke kamar mandi! Aku harus menuntaskan pria kurang ajar ini!" Bimo mencekik leher lawannya yang sudah babak belur.
" Ada apa ini??" Bukannya menuruti Bimo, Annelyn malah berjalan mendekat.
" Pa pak uhk saya tidak tahu, uhk uhk saya dikunci di dalam kamar ini oleh uhk uhk Ris Risya.." Hanif dengan nafas tersengal-sengal mencoba menjelaskan kesalahpahaman. Dia difitnah.
Sekelebat pemahaman bertengger di otak Annelyn. Wanita tidak tahu malu dan tidak tahu diri itu sudah kelewatan. Ia pun pura-pura marah untuk memancing suaminya
" Oooohhh jadi wanita setengah setan itu pelakunya. Awas saja dia!" Masih memegangi handuknya, Annelyn dengan semangat berapi melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Ia ingin menghajar wanita jadi-jadian itu.
" Love stop!" Bimo turun dari ranjang, melepaskan Hanif dari cengkeramanya,
Bergegas menggendong istrinya yang mengomel hendak menghampiri Risya, dengan penampilannya yang susah didefinisikan. Andai dalam keadaan normal, dia sudah ingin melahap Annelyn. Aroma tubuhnya yang harum manis menguar.
" Aaaaa kamu mau apa Bee??" Annelyn berteriak histeris saat tubuhnya tiba-tiba melayang dalam gendongan ala karung beras. Kakinya dengan gancang menendang-nendang seperti anak kecil di culik penjahat.
Pak.
Bimo menepuk bokong istrinya, membawanya ke dalam kamar mandi.
" Diam! Tunggu di sini, ku ambilkan baju."
Bimo mendudukkan istrinya di atas wastafel. Lantas keluar mengambil baju.
Annelyn hanya bisa pasrah, bibirnya cemberut, memberengut.
Pria dewasa itu sudah tidak menemukan keberadaan Hanif di dalam kamar saat ia keluar dari kamar mandi. Tapi , dia masih mendengar cekcok antara Hanif dan Risya di ruang tengah.
Bimo masuk kamar mandi membawa dress selutut, beserta dalaman berenda warna kuning.
__ADS_1
" Kamu masih hutang penjelasan padaku. Ku tunggu di ruang tengah!" Bimo yang masih diselimuti emosi, menatap mata Annelyn dengan pandangan tajam.
Ada tiga orang yang duduk dengan hening di ruang tengah. Ketiganya menunggu sosok Annelyn keluar dari kamar. Namu yang ditunggu sama sekali tidak merasa, wanita muda itu masih saja mematut dirinya di depan cermin. Dengan telaten memakai make up tipis, wajahnya dibuat melankolis, ia juga memakai lipstick redup sedikit pucat.
Suara pintu terbuka lalu tertutup, membuat kedua orang di ruang tengah memandang sosok cantik yang baru saja keluar, kecuali Hanif yang tetap menunduk. Annelyn berjalan tenang, ia memancarkan aura kesedihan, seolah dia adalah wanita polos yang telah dirugikan.
" Bee .." Annelyn duduk di samping suaminya.
" Jelaskan!" Bimo menatap tajam Hanif, tapi siapapun tahu dia berbicara dengan istrinya.
" Setelah kamu pergi, aku berendam dengan aroma terapi kesukaanmu. Harapanku saat kamu pulang, aku bisa menyambutmu dengan penampilan yang memukau, seperti biasanya. Tapi, saat aku membuka pintu... aku melihat kalian bergelut di atas kasur, kamu masih normal kan Hanif??" Annelyn sengaja menggiring opini, berharap mampu sedikit melunakkan api cemburu di hati suaminya.
Bimo, tipikal pria yang sangat arogan bahkan sadis saat sedang cemburu. Annelyn harus berhati-hati dalam mengambil langkah.
" Masa aku harus mencurigai suamiku, ohhh bukankah tadi kamu di atas Bee?" Kini wajah Annelyn syok menatap Bimo.
Bimo melotot, begitu juga kedua pasang mata lainnya.
" Jangan aneh-aneh begitu pikiranmu Love!" Bimo menegur pelan, dia seolah terhipnotis wajah polos istrinya.
" Jangan asal nuduh kamu! Mana kuat aku hamil begini maksa kamu! Lagipula kunci pintunya ada di dalam kamar, bukan di luar.. jangan menuduhku untuk menyelamatkan perbuatanmu, Nif!" Kini Risya berdiri, ia meluapkan emosi. Seolah dia juga tersakiti.
" Stop stop!!" Bimo mencegah semuanya menjadi rumit, ia ingin mengusut kasus ini dengan kepala dingin.
Melihat wajah Hanif yang babak belur, dia rasa sudah cukup sesi brutalnya, sekarang adalah saatnya memecahkan masalah dengan kepala dingin. Apalagi ada Annelyn di sampingnya.
Sayangnya, Bimo tidak tahu, istrinya ingin masalah ini menjadi besar.
" Berarti kamu adalah biang keroknya Ris! Selama ini Hanif adalah orang yang baik, sedangkan kamu? Banyak orang menyaksikan kamu sebagai pelakor, mana hamil di luar nikah lagi, nggak tahu juga bapaknya yang mana!" Annelyn bersedekap. Ucapannya memancing api kemarahan lawan bicaranya, tapi sebisa mungkin Risya menahan amarah. Dia tidak boleh kalah.
" Pak.. saya hamil, bagaimana bisa saya... Hisk hisk .. Bu Annelyn mandi karena habis tidur dengan Hanif, buktinya Hanif seperti kelelahan, berkeringat begitu..." Air mata buaya Risya akhirnya luruh juga. Ia sebisa mungkin membela diri.
Plak plak.
Risya tidak menyangka ua tamparan mendarat di pipi mulusnya. Kedua pria yang ada di ruang tengah itu tercengang tidak percaya.
__ADS_1
" Kurang ajar kamu Ris! Dasar pelakor!! Sudah cukup aku sabar nerima kamu numpang di rumah ini. Sekarang kamu pergi sana!" Tangan Annelyn menunjuk pintu keluar.
" Ahhh...Pak.. saya tidak bersalah.. huu huu huu hisk hisk." Risya semakin terlihat menyedihkan, tapi Bimo masih merenung.
" Dasar muka tembok!! P*l*c*r tidak mutu, sudah berapa orang yang mengobok-obok kamu? Hamil saja tidak tahu siapa bapaknya. Belum pernah kena cakar kukuku ya?" Annelyn memasang kuda-kuda, seolah akan mencakar wajah cantik Risya.
" Bu! Ibu kalau selingkuh ngaku saja! Toh ibu memang tidur dengan Hanif." Kali ini Risya semakin berani. Dia tersulut emosi.
" Jaga mulutmu Ris! Jangan bicara omong kosong!" Bimo membentak Risya.
Suatu hal diluar dugaan wanita itu, Bimo memang cemburu melihat Hanif di kamarnya, tapi dia percaya istrinya adalah wanita baik-baik, wanita yang setia. Dia sendiri yang mendidik istrinya.
" Sudah sudah sudah!!" Kali ini Hanif yang dibuat pusing.
Plak.
Lagi Annelyn menampar pipi Risya. Diluapkannya amarah pada pelakor di depannya, dulu dia belum sempat membalas Puspa, setidaknya dia bisa melampiaskan amarah terpendamnya pada sosok tebal muka di depannya.
Risya yang merasa harga dirinya diinjak oleh wanita manja di depannya pun, menjambak rambut Annelyn yang selembut sutra.
Annelyn membalas hal yang sama, dijambaknya rambut Risya yang dikuncir kuda, tubuhnya yang ramping dan gesit membuat dia dengan mudah menampar lagi wajah Risya. Bahkan ia dengan sengaja meludahi wajah tidak tahu diri itu.
Bimo dan Hanif yang sedari tadi melerai, sampai kehabisan akal, kedua wanita di depannya sama-sama tidak mau melepaskan mangsanya.
" Sudah Love, dia hamil, nanti kamu dikasuskan.. Love ku mohon lepaskan dia.. " Bimo melerai, tangannya dengan sigap mengamankan tangan Annelyn yang menjambak dan mencakar.
Tapi, dia malah kena getahnya, pusaka kesayangannya terkena amukan tangan istrinya yang tidak terkendali. Sedangkan Hanif, dia tidak berani menyentuh Annelyn, dia hanya memegangi kedua tangan Risya yang meronta. Posisinya malah menguntungkan Annelyn.
" Love lepaskan dia, biar aku saja yang memukulnya, jangan sampai kamu mengotori tanganmu dengan hukum." Bimo masih membujuk sambil memegangi pusakanya yang ngilu. Aset masa depan keluarga Bagaskoro tidak boleh tumbang.
" Bodo amat, wanita seperti ini harus diberi pelajaran! Ayo !!" Annelyn dengan sentakan kuat menggulung rambut panjang Risya yang sudah tidak berbentuk.
" Aaaa tolonghh aaaaa sakiit rambutkuuu.." Risya terus mengasuh saat Annelyn menjambak rambutnya lalu menyeretnya ke luar rumah. Dia tersenyum smirk saat Risya berusaha membalas tapi tidak bisa.
Annelyn tentu saja sudah memikirkan ide ini sedari dia berhias di dalam kamar. Ia sudah sangat gatal menunggu saat Risya melakukan kesalahan, sehingga dia bisa menjambak dan mencabik-cabik dirinya.
__ADS_1
Apa Bimo masih punya waktu menyelidiki siapa dalang dari ditemukannya Hanif di dalam kamar? Tentu saja tidak. Pria dewasa itu pasti sudah bingung melihat istri tercintanya menganiaya orang. Takut istrinya terkena hukum pidana.