Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Sadar dari koma.


__ADS_3

Annelyn POV.


Semasa hidup, aku banyak dosa. Surgaku tidak seindah surga yang digambarkan Mama dan Om Bimo. Aku hanya bisa berjalan tidak tentu arah, di surga yang asing ini, hanya ada hamparan padang rumput dan taman bunga, tidak ada tempat berteduh, untung tidak hujan.


Tempat ini begitu sunyi, bahkan di malam hari tempat ini sangat gelap mencekam, sampai-sampai aku tidak bisa menentukan arah berjalan. Mau meminta pertolongan juga percuma, suaraku hilang ditelan kematian ini.


Ternyata benar, mau putri konglomerat, putri pejabat, putrinya presiden sekalipun, kalau mati yang dibawa cuma amal. Harta tidak bisa menolong gaes.


Air mataku terus menetes tanpa henti, semua gara-gara Dimas, sialan memang Dimas. Sekarang dia pasti lagi asik enak-enakan sama Mak Lampir. Tidak peduli aku apalagi bayiku.


Dari kejauhan sana, aku melihat setitik cahaya, dalam pikiranku, mungkin itu surga yang digambarkan Mama. Tanpa berpikir panjang, aku berlari menuju cahaya itu, semakin lebar langkah kakiku, semakin dekat semakin jelas cahayanya.


Tiba-tiba tubuhku ditarik sesuatu, perlahan tubuhku mundur menjauhi cahaya terang tersebut, aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman yang aku sendiri tidak tahu apa. Semakin mundur masuk ke dalam ke gelapan, semakin dalam aku masuk ke suatu tempat yang lebih mirip hutan rimbun.


" I love you Lyn. I love you, ijinkan aku membahagiakanmu"


Samar ku dengar suara lirih Om Bimo.


" Aku sangat mencintaimu Lyn"


Lagi, itu benar suara Om Bimo.


Degh.. Jadi benar Om Bimo mencintaiku.


Author POV.


Hampir satu bulan, Annelyn belum sadar dari koma. Meylan sudah kembali ke luar negeri, hanya tersisa Bimo yang setiap hari selalu menunggunya siuman. Ia tidak berhenti membisikkan kata cinta, pada keponakanya, apalagi sejak kembalinya Meylan ke luar negeri, ia bisa bebas mengekspresikan perasaannya. Ia tidak perlu khawatir anak nakal itu mencurigainya.


" I love you Lyn. I love you, ijinkan aku membahagiakanmu"


Air matanya menetes membasahi jari lentik Annelyn yang kini diciuminya dengan penuh perasaan.


" Aku sangat mencintaimu Lyn".


Satu menit.


Dua menit.

__ADS_1


Bimo masih mencium tangan Annelyn.


Tiga menit.


Degh ..


Jemari lentik itu bergerak pelan, nyaris tidak terasa.


Bimo memandang Annelyn dengan penuh harapan keponakanya akan sadar.


Dan, puji syukur kehadirat Tuhan, bola mata sayu Annelyn mengerjap, perlahan terbuka.


Jantung Bimo bertalu-talu, hatinya tidak berhenti mengucap syukur. Dokter dan suster berdatangan, mulai memeriksa kondisi Annelyn.


" Ini suatu keajaiban, saat saya sendiri hampir menyerah dengan keadaan Nyonya Annelyn, Tuhan mengangkat penyakitnya dan mengembalikan jiwanya". Dokter Santo penuh haru, menatap Bimo.


" Dokter, mengapa istriku hanya diam?". Bimo bertanya khawatir, melihat tidak ada pergerakan dari Annelyn setelah sadar.


Dan ya, Bimo masih tidak tahu malu pada semua staf rumah sakit dari mulai dokter dan suster, ia sudah membohongi mereka tentang Annelyn adalah istrinya.


Penjelasan dokter membuat perasaannya lega. Selepas kepergian dokter, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, Annelyn hanya diam, mengerjapkan mata, mengangguk, tersenyum kecil ketika ditanya.


" Om". Suara lemah Annelyn yang begitu pelan, hinggap di telinga Bimo.


" Iya Lyn, kamu mau apa?" Bimo bergegas berdiri, menunggu jawaban wanita cantiknya.


" Ba bayiku?" Suara Annelyn terbata, seolah tercekat di tenggorokan, dia takut mendengar kabar buruk. Dia tidak siap.


" Dia baik-baik saja" Bimo menjawab dengan mantap, ia tidak ingin Annelyn membaca kesedihan yang terpancar dari matanya.


" Benarkah?" Ada secercah harapan kebahagiaan di bola mata indah Annelyn.


"Iya, sekarang kamu harus sembuh, harus sehat". Bimo mengelus rambut Annelyn,


Annelyn hanya mengangguk. Entah mengapa setelah terbangun dari koma, dan beberapa kepingan kejadian melintas di kepalanya, membuat dia semakin sungkan pada Bimo. Om-nya , lelaki yang dianggapnya ayah justru mencintainya layaknya pasangan kekasih. Annelyn bingung bagaimana caranya bersikap.


Entahlah, dia sudah mendengar Bimo mengatakan baby-nya baik-baik saja, tapi entah mengapa perasaannya terasa hampa. Hatinya seakan melayang jauh dari jangkauannya.

__ADS_1


" Lyn, kamu nggak pingin minum?"


Bimo bertanya, menilik berbagai macam film yang pernah ia tonton, jika ada orang yang baru sadar dari koma dia pasti minta minum.


Annelyn hanya mengangguk lemah.


Hening merayapi keadaan di ruangan itu, Annelyn mencoba terbiasa, ia tidak bisa didiamkan, apalagi mendiamkan.


" Om.. " Annelyn memandang raut wajah Bimo.


" Iya?


" Om, be_ benar cinta sa_sama aku"


God. Pertanyaan Annelyn, apa harus dijawab sekarang? Annelyn tidak tahu bahwa kakaknya Bimo, alias ayahnya Annelyn hanya anak angkat di keluarga Bagaskoro. Bisa-bisa dia(Bimo) dikatai tidak normal. Om pedofil mungkin.


Tapi, setelah dipikir-pikir, mungkin ini saatnya Bimo mengakui perasaannya, kapan lagi dia punya keberanian?


" Mau menikah denganku Lyn? Aku janji, tangan yang saat ini menggenggam tanganmu akan bekerja untuk membahagiakanmu. Om mu ini akan berusaha menjadikanmu ratu".


Mungkin, inilah lamaran paling maenstream, lamaran ter-absurd sedunia, dimana tokoh pria melamar seorang wanita di atas ranjang rumah sakit, tanpa lilin romantis, juga tanpa cincin pertunangan.


Air mata Annelyn menetes, jujur dia masih sangat mencintai Dimas. Katakanlah dia sudah bucin pada pria yang begitu tega menghancurkan hidup dan impiannya.


" Tidak perlu menjawab apapun Lyn, tekad ku sudah bulat, kita akan menikah, dan aku memberimu kelonggaran untuk belajar mencintaiku"


" I know, pasti sulit, tapi kamu punya waktu seumur hidup,"


Sedangkan Annelyn hanya mengangguk tersenyum kecil.


" Bukankah kamu ingin pergi seutuhnya dari keluarga Bagaskoro? Kita bisa pergi bersama, saling menjaga satu sama lain. Aku janji akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia"


Duuaaarrrr Brakkkk.


Bimo memukul meja saat sadar dari lamunannya, ia melihat Annelyn masih nyenyak dengan mata terpejam setelah bertanya keadaan bayinya. Salah siapa coba, si Bimo hayalannya melambung tinggi padahal Annelynnya malah asik tidur.


Aarrrgghhhhh... Bimo memijat pelipisnya..

__ADS_1


__ADS_2