Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Flashback.


__ADS_3

Penyelesaian, yang sebenarnya awal dari kisah hidup Annelyn dan Bimo dimulai sejak kehadiran Siska dan suaminya, Rama.


Pak RT beserta Pak RW, memutuskanaa bahwa Risya dilarang untuk menetapkan di komplek sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Disaksikan oleh Hanif dan juga Bimo, Risya dikembalikan pada keluarganya.


Siska dengan ragu, menjelaskan bagaimana sebenarnya cerita antara ia, suaminya dan Risya.


Risya adalah teman kuliah Rama, awalnya mereka saling mencintai dan menjalin hubungan. Namun, setelah setengah tahun bersama sebagai sepasang kekasih, Risya menunjukkan sifat aslinya.


Hubungan mereka semakin renggang, apalagi ketika usaha keluarga Rama gulung tikar, Risya semakin menjauh. Hingga akhirnya Rama diterima bekerja di sebuah perusahaan besar, ia bertemu Siska, wanita cantik berusia lima tahun di atasnya yang menjadi sekretaris atasannya.


Kebaikan hati dan sifatnya yang bijaksana membuat banyak pria menaruh hati pada wanita itu, termasuk Rama.


Rama tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan wanita yang sangat dicintainya.


Flashback on.


Siska, adalah asisten seorang Pram. Anak pertama dari pemilik Bagaskoro ll. Kecerdasan, ketangkasan dan kejujurannya, membuat dia yang awalnya hanya orang biasa, bisa menduduki jabatan penting di perusahaan.


Kecantikannya terkenal di perusahaan, bahkan pernah digadang-gadang akan menjadi menantu kedua keluarga kaya itu. Rama, yang waktu itu baru bekerja, dibuat terheran-heran, hampir semua orang membicarakan wanita cantik itu.


Sampai suatu ketika, saat ia pulang bekerja, ia bertemu seorang wanita cantik yang tengah berjalan kaki.


" Mbaknya mau kemana? Ini sudah malam" Rama memelankan laju motor maticnya.


Rama melihat penampilan wanita yang sepertinya baru pulang bekerja, pikirnya, mungkin wanita itu pegawai baru seperti dirinya. Sehingga mau tidak mau harus pulang lembur. Mana sekarang sudah jam sembilan malam.


Bukannya menjawab, wanita itu malah berjalan cepat.


" Mbak, saya bukan orang jahat, kebetulan saja saya melihat Mbak jalan kaki malam-malam." Rama menjelaskan.


" Rumah saya di daerah XX, kalau misalnya kita searah lebih baik mbak bareng saya."


" Ini sudah malam lho Mbak bahaya, sebentar lagi juga hujan." Rama terus saja bicara meski lawan bicaranya sedari tadi diam tak peduli.


Bukan masalah apa, wanita itu sangat cantik, tubuhnya indah, penampilannya oke. Berjalan sendirian, menunggu taxi entah sampai kapan, karena biasanya daerah ini sepi jika sudah malam. Kalau sampai terjadi apa-apa pada wanita secantik itu kan sayang, mending juga diapa-apain aja hehe. Pikir Rama sedikit konyol dan omes.


Wanita itu menatap Rama dengan pandangan selidik, namun pada akhirnya ia tetap membonceng di belakang.


" Rumahku daerah X, gang Mawar Putih, Nomor 25." Wanita itu membonceng tanpa berpegangan.


" Siiiaaaap mbak." Jawab Rama semangat, jarang-jarang bisa mboncengin cewek secantik bidadari.


" Mbak Bekerja dimana?"

__ADS_1


" Bagaskoro Group." Singkat padat dan jelas.


" Wahh kita samaan ya Mbak. Tapi kok aku nggak pernah ketemu ya, apa jangan-jangan Mbak ini pemilik perusahaan seperti yang di novel-novel gitu." Celoteh Rama sedikit bercanda.


" Haha, iya enggak lah, emang kamu pikir perusahaan itu kelas yang sempit, Bagaskoro Group itu luas, banyak bagiannya." Tak sia-sia, wanita itu tertawa ringan menanggapi humor Rama.


" Iya juga ya mbak, saya baru soalnya, mbak baru juga?" Rama gencar basa-basi. Tidak disia-siakan kesempatan ini.


" Udah lama." Wanita itu menjawab singkat.


" Btw ya mbak.. Mbak kok nggak keberatan dipanggil Mbak, biasanya cewek cenderung lebih suka dipanggil nama, Eneng lah atau Adek gitu. Hehe" Rama mencari apa saja yang bisa dijadikan bahan bicara.


" Hahaha, ya emang kamu pikir kita seumuran? Aku udah tua lho ya." Tidak disangka, jawabannya malah begitu.


" Ah masa, masih bening gitu kaya anak SMA." Rama mengeluarkan gombalan mautnya.


" Udah deh jangan ngibulin orang tua." Dulu, saat dia masih menjadi wanita muda, pasti bisa klepek-klepek.


" Yeee aku mah nggak ngibul. Tapi kalau yang dikibulin senyum-senyum manis ya aku seneng mbak." Rama melirik kaca spion, senyuman wanita cantik itu sangat manis.


Plak. Wanita itu memukul pelan punggung Rama.


" Hahaha senyummu itu lho Mbak, bisa diabetes aku." Rama masih menggoda.


" Enggak biasa aja, cuma akunya kan emang udah manis banget, jadi kalau ketambahan senyummu yang manisnya biasa ya tetap saja diabetes." Kini jahilnya Rama kumat.


" Hiihh.."


" Jangan ngambek atuh Mbak, nanti jadi asin asem kecuuttt senyumnya." Jiwa jahilnya semakin meronta, melihat lewat spion, bibir tipis itu memberengut.


" Bedanya apa asem sama kecut?" Wanita itu bertanya.


" Asem itu rasa kecut di lidah, kalau kecut itu bau ketek. Hahaha."Rama tertawa terbahak-bahak.


" Hiih jorok."


" Eeehhh mau kemana? Belok situ gang rumahku." Wanita itu menepuk-nepuk punggung Rama, pasalnya saking asyiknya bercanda, sampai kelewatan gang rumahnya.


" Ooohh iya, mbak nya asik sih, jadi lupa belok, mau saya bawa pulang saja." Celoteh Rama.


" Apaan sih bocah." Wanita itu dibuat sebal.


" Yeee saya mah udah perjaka, udah dewasa, bukan bocah lagi." Rama membela diri. Enak saja tubuh gagah tampan dipanggil bocah.

__ADS_1


" Ya tapi menurutku kamu masih bocah."


Mereka terus saja mengobrol, sampai tiba di depan rumah wanita yang tidak lain adalah Siska. Berawal dari perkenalan mereka yang singkat, mereka sering bertemu di kantor, makan siang bersama atau sekedar pulang bareng.


Hingga dua bulan setelahnya, Rama membuat hampir semua pemuda di kantor patah hati, dengan undangan pernikahannya bersama Siska. Sesingkat itu perkenalan mereka. Bahkan meskipun Rama tahu semua masa lalu Siska ia tetap dengan tulus menerima.


Di saat Risya merengek meminta balikan pun, Rama tidak menggubris, baginya Siska adalah wanita yang kebaikan hatinya tiada tanding.


Flashback off.


" Aku tidak mau pulang!! Kalian bercerai saja dulu baru aku mau pulang." Risya masih mengamuk. Dia layaknya spesies langka di bumi, sudah salah, tidak tahu malu pula.


" Dek, kakak mohon, kamu ikut pulang ya.." Siska mendekati Risya. Melihat adiknya yang sesekali meringis merasakan sakit di perutnya, membuat hati lembut Siska semakin tidak tega.


" Dasar wanita bermuka dua! Kamu itu bekasnya Bimo, malah enak-enakan menikah sama pacarku!!" Bukannya berterima kasih, Risya malah mengumpat kakaknya.


" Cukup Sya!! Aku sendiri yang memilih istriku. Selamanya dia adalah wanita yang ku cinta." Rama berdiri, menarik Siska dalam lindungannya.


" Aku masih perawan saat itu. Tapi kamu malah memilih dia, barang bekas!" Risya semakin histeris.


" Sya!! Sadar!! Aku memilih Kakakmu karena apa? Karena kamu yang labil, emosian, dikit-dikit minta putus. Kakakmu sangat menghargai hubungan, meskipun masa lalunya buruk, tapi dia baik, hatinya tulus."


" Aaaahhhhhhh aku benci kalian semua. Terutama kamu wanita manja! Kamu itu janda tapi bisa menikah dengan Bimo. Apa yang kamu incar?? Hartanya?? Dia putra konglomerat!!"


Plak!!


Suara tamparan menggema, bukan Risya, melainkan Annelyn. Pipinya perih, bibirnya sedikit robek. Ia tidak siap untuk menghindar, sama sekali tidak menyangka Risya akan menamparnya.


" Risya!!" Bimo membentak.


"Keluar dari rumahku!! Keluar!! Aku tidak sudi melihatmu lagi!! Kamu sudah banyak berbohong, sekarang kamu menampar istriku??"


Bimo menyeret Risya keluar rumah, dia tidak peduli lagi, mau wanita ular itu hamil atau tidak. Di luar, ada banyak warga berkerumun, ikut curi-curi dengar, lumayan bisa dibuat bahan gosip.


" Bim, dia sedang hamil. Jangan kasar Bim!" Rama dan Siska mencegah Bimo menyakiti Risya.


" Aku tidak mau tahu. Bawa wanita ular ini pergi." Kata Bimo acuh tak acuh.


" Pak RT, Pak RW, maafkan atas keributan yang disebabkan oleh saya sekeluarga, maaf telah mengganggu ketertiban masyarakat. Dan, terimakasih atas bantuannya." Bimo berkata lembut, dengan kerendahan hati meminta maaf kepada dua pejabat pemerintah.


" Sama-sama Pak Bimo, kami pamit pulang dulu."


Pak RT beserta Pak RW berjalan menjauhi rumah Bimo, diikuti Hanif, mereka sama sekali tidak menoleh pada sosok cantik yang sekarang awut-awutan.

__ADS_1


Kangen nggak??? kangen dong sama akuuhhh biar semangat,, jempolnya jangan lupa yaaaa


__ADS_2