
Status janda.
Aku sudah berusaha menguatkan hati. Tersenyum di atas bara duka yang setiap hari ku jajaki.
Tidak semudah itu melupakan rasa cinta yang mulanya luas tak bertepi.
Akankah langit menaungi dengan hangatnya mentari?
Ataukah guyuran hujan tiada henti?
Selembar kertas yang bertorehkan puisi itu dilipat Annelyn. Baru saja akan diselipkan dalam buku, pintu kamar terbuka lebar. Bukan hasil dari dobrakan seperti di film-film, melainkan kunci cadangan sebagai jurus Bimo membuka pintu. Termasuk pintu hati istrinya.
" Love aku .."
Bimo terdiam, tidak bisa meneruskan kalimat yang sudah dirangkainya. Melihat butiran air mata mengalir membasahi pipi istri tercinta.
" Aku janda." Annelyn sesenggukan mengusap air matanya yang enggan mengering. Meleleh terus menerus, mengikuti arus hatinya.
" No. Kamu istriku." Bimo menutup pintu, lantas mendekati istrinya, berbicara dengan lembut dan pelan.
" Tapi aku nggak seperti wanitamu yang masih v*rg*n." Annelyn menunduk, Isak tangisnya semakin nyata terdengar. Rambutnya yang mulanya tertata rapi kini kusut sedikit acak-acakan.
Kemana canda tawa mereka? Dalam sekejap semuanya berubah menjadi derai air mata. Tidak ada Annelyn yang merengek manja atau memberengut kesal saat dijahili. Yang ada hanyalah sosok rapuh dengan wajah memancarkan kesedihan tiada habisnya.
Bimo tidak bisa tidak merasa sangat bersalah.
" Cinta tidak pernah mempermasalahkan semua itu Love." Bimo mendekati istrinya lagi, tangan kanannya terulur untuk menghapus aliran air mata yang seolah enggan berhenti.
__ADS_1
" Tapi tadi kamu begitu Bee." Suara Annelyn terdengar parau, tertelan Isak tangisnya yang belum reda.
" Maaf." Hanya satu kata itu saja yang terlintas dalam pikiran Bimo. Dia merasa bersalah, meskipun niatnya tidak seperti yang diduga istrinya dia tetap harus minta maaf.
Bukankah pelajaran dalam rumah tangga memang begitu. Wanita selalu benar hingga apapun yang terjadi, entah siapa yang salah dan benar, pihak pria harus siap sedia meminta maaf.
" Kenapa minta maaf?? Berarti kamu benar merasa begitu." Suara Annelyn meninggi. Pandangannya tajam menusuk.
Alamak, kenapa jadi serba serbi salahnya. Bimo membatin.
Bimo lupa hakikat wanita selalu benar dan lelaki selalu salah. Jadi, mau minta maaf model apapun ya dia harus salah. Minta maaf salah, tidak minta maaf tambah salah.
" Aku adalah janda yang tidak bisa hamil. Sedangkan Siska? Dia adalah seorang wanita berkelas yang masih virgin saat kamu menyentuhnya. Begitu membekas perasaanmu padanya, sampai-sampai adiknya juga kamu anggap adikmu." Ucap Annelyn berapi-api.
Sebelah tangannya memegang dada, melihat itu Bimo takut asma istrinya kambuh.
" Aku merasa tersisih setiap kali kamu membelanya. Mengapa semua laki-laki tidak bisa lepas dari cinta pertama? Tidakkah kamu merasa berdosa sudah membuat istrimu terluka?" Kali ini Annelyn jatuh tersungkur.
Isaknya semakin parah, berulang kali ia mengatur nafasnya.
Bimo semakin khawatir, ia bergegas memeluk istrinya. Ia yakin istrinya trauma dengan Dimas yang memilih cinta pertamanya sehingga berefek seperti sekarang.
Setelah sedikit tenang, Annelyn bangkit menyingkirkan Bimo dari mendekap tubuhnya.
" Tidak ada pria sesopan Hanif! Bahkan dia sangat menjaga matanya, dia tidak pernah menyentuh wanita. Andai .. andai kita seagama aku pasti langsung melamarnya." Annelyn membuang muka.
Ia tahu perkataannya pasti melukai Bimo, memang itu yang diharapkannya. Bimo terluka dan merasa terhina. Toh hanya ada mereka berdua di kamar ini.
__ADS_1
Bola mata Bimo membulat. Tidak habis pikir dengan apa yang istrinya ucapkan?
Hanif? Lelaki bau kencur itu mengalahkan dirinya? Hanif lelaki yang tidak modis dan jauh dari kata perfect membuat hati istrinya tertarik? Bimo mendelik sambil memegangi dadanya.
Dia tidak tahu dan tidak sadar, Annelyn sangat menyukai kepribadian Hanif yang begitu sopan dan mampu menjaga pandangan dari wanita. Annelyn tahu betul pria seperti Hanif tidak pernah icip-icip seperti halnya Bimo yang dulunya jelalatan.
" Kamu tidak berhak marah padaku Bee, memang kenyataannya Hanif selain tampan, masih muda, dia juga bukan teh celup bekas seperti dirimu." Annelyn terus saja mengompori suaminya.
Ia melancarkan aksi balas dendam. Enak saja Bimo dengan bangga mengatakan wanita yang ditidurinya masih orisinil semua. Dia harus diberi pelajaran.
" Apa enaknya teh celup bekas? Rasanya hambar. Masih mending gelas bekas, biarpun minum pakai gelas bekas celupan ratusan kali juga enak rasanya, asal tehnya berkualitas." Sarkasme Annelyn yang mengena tepat di ulu hati suaminya.
Tidak ada air mata lagi di pipinya, entah mengapa air mata itu tidak bisa keluar lagi, padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin.
" Sayang lovely, ku mohon jangan begini.. hina saja aku, kamu bebas memukul ku asal jangan menghindari ku.. aku mohon Love..!"
Bimo bersimpuh di kaki istrinya, tanpa dia tahu senyum kemenangan terpancar dari wajah devil Annelyn.
Dia tidak tahu, Annelyn menggiring suaminya untuk merasa bersalah.
Bukankah Bu Dah bilang Bimo mencintai Annelyn? Tapi dia berat hati dengan rasa bersalah. Maka sebagai pelengkap bisikan di atas bantal yang pernah dia lakukan, ia pun melanjutkan dengan aksi merasa tersakiti, terluka hingga suaminya lebih merasa berdosa pada dirinya. Cinta memang lebih buta dari rasa bersalah dan kasihan.
Buktinya Bimo sampai bertekuk lutut di bawah kaki istrinya. Pria yang selama ini emosional, licik, dominan, otoriter dan arogan dikalahkan oleh Cinta. Ia menjadi sosok lain saat bersama istrinya.
...
kangen nggak?? kangen ya sama author.. yuks dukung author jangan kendor. like vote and comen.
__ADS_1