Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Cerai


__ADS_3

Annelyn POV.


Sekujur tubuhku terasa remuk redam, aku merasakan sesuatu mengalir lewat intimku. Sakit sekali, tidak main-main Dimas menghujamku sebagai pelampiasan amarah.


Bukankah seharusnya aku yang marah?


Hatiku hampa, aku ingin memeluk mama, aku ingin kembali menjadi Annelyn kecil, yang selalu digendong Om Bimo. Aku lelah, mataku berkunang-kunang dan semuanya menggelap.


_


Aroma alkohol dan obat-obatan menyeruak indra penciumanku, aku dimana?


Sekelebat memori perselingkuhan dan pelecehan itu membayang di pelupuk mata, apakah aku mati??? Oh sial. Gak lucu kan, mati karena dilecehkan suami sendiri. No no no aku nggak mau mati, sebelum Dimas menangis darah. Aku bisa mati melek kalau begini, bisa jadi kuntilanak gentayangan juga. Masa aku sih yang jadi kuntilanak, harusnya kan Tante Puspa.


Ih bocah banget si otak ku ini. Labil.


Melek nggak ya? Duh nanti kalau melek terus aku lihat neraka gimana?


Kok tiba-tiba aku mendengar suara Om Bimo, ini aku mati beneran?


Aku banyak dosa sama Daddy, Mama dan Om Bimo. Duh aku kok pengen nangis siihh..


" Lyn, kamu sudah sadar? Kamu bisa mendengarku? Lyn??" . Suara Om Bimo semakin nyata, bahkan aku bisa merasakan tangannya mengguncang pelan bahuku.


Degh..


"Lyn, bangun kamu kenapa nangis?"


Suara Meylan??


Tuh kan, aku belum mati. Hehe


Tersenyum malu aku membuka mataku perlahan, nggak lucu tau orang pingsan bangunya langsung melotot.


Om Bimo lantas memelukku, sedangkan Meylan keluar mencari dokter, aneh nggak sih, ada tombol nurse call, kok milih lari keluar. Efek panik apa keseringan nonton film ikan terbang ya??


Annelyn POV end.


***


Author POV.


Annelyn baru tersadar setelah 4 jam pingsan. Ketika Dokter mengatakan ingin bicara dengan suami Annelyn, Bimo mengaku sebagai suaminya , Dokter pun meminta Bimo ke ruangannya, karena ada hal penting yang harus disampaikan.


" Sebelumnya saya mengucapkan selamat atas kehamilan istri bapak."


Syok. Tentu saja Bimo kaget sampai hatinya terasa nyeri. Wanita yang dicintainya hamil dengan suaminya.


" Menurut pemeriksaan, kandungan Bu Alyn sudah menginjak usia lima minggu."


Jeda sejenak, dokter cantik itu menarik nafas.


" Tapi maaf, ditengah kabar gembira ini saya harus menyampaikan, bahwa kandungan Bu Alyn sangat riskan, mungkin efek pikiran dan.."


Sedikit ragu dokter menjeda sejenak pernyataannya. Bimo semakin dag dig dug, dia memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi, apalagi keadaan Alyn tidak layak disebut baik-baik saja.

__ADS_1


" sekali lagi saya minta maaf, mengenai luka di bagian intim beliau yang sangat fatal, Bapak sebagai suami harus ekstra sabar, dan selama kehamilan trimester pertama, jangan dulu melakukan hubungan suami istri. Selain karena kandungannya lemah, kondisi organ intim beliau kemungkinan baru bisa sembuh total setelah beberapa bulan. Sebab terjadi trauma pada mulut rahim beliau."


" Emmm sebagai dokter saya hanya bisa mengingatkan, hal terakhir yang bapak lakukan termasuk pelecehan, meskipun beliau istri bapak. Bapak bisa dikenakan pasal penganiayaan dan KDRT. Bahkan jika istri bapak keguguran di kehamilan ini, kehamilan berikutnya akan sangat2 sulit."


Degh.


Ya Tuhan..


Air mata Bimo menetes, bodo amat tentang Annelyn hamil anak orang lain. Hatinya begitu sakit mengetahui seberapa parah keadaan gadis kecilnya. Pertahanannya runtuh, ia hanya bisa menangis mendengarkan penjelasan panjang lebar dokter di depannya.


Dengan langkah gontai Bimo kembali ke kamar Annelyn, gadis itu tertidur lelap, padahal baru saja sadar.


" Alyn harus bedrest selama beberapa hari."


" Dia hamil, sudah 5 minggu."


Meylan yang sedari tadi bermain game di ponselnya, seketika mendongak tidak percaya. Sepupunya hamil di tengah kemelut rumah tangganya, saat berkas perceraian sudah siap tinggal menunggu waktu yang tepat.


Flash back.


Di restoran.


" Kamu serius masih mau tinggal di rumah itu?"


" Ya serius lah, rumah itu dibeli pakai uangku, mobil, dan kebutuhan keluarga lainnya juga pakai uangku. Sayangnya bukan atas namaku."


Plak,


Meylan memukul lengan Annelyn.


Dasar cewek bucin bodoh. Batin Meylan.


" Gaji suamiku 8 juta, nggak cukup untuk gaya hidup mama mertuaku dan juga dia. Setiap bulan mama minta jatah 1 juta, belum arisan keluarga perbulannya 2 juta, arisan mama sama ibu komplek perbulannya 1juta, masih ada uang pegangan untuk suamiku. Tagihan air listrik, beras, bumbu dapur, gas, lauk pauk yang maunya mewah. Gak cukup Mey.. Cicilan rumah sama mobil perbulan saja pakai uangku. " Keluh Annelyn.


Matanya berkaca-kaca, membayangkan pengorbanan untuk keluarga suaminya, yang dibalas dengan penghianatan.


" Cerai sekarang juga gapapa, Lyn. Uang segitu mah nggak ada apa-apanya dibanding uang di kartu kreditmu". Saran Meylan


"No, aku akan bercerai setelah dia gajian, dengan ATM kosong, apa yang akan dia lakukan. Hahaha .Siapa suruh dikasih hati minta jantung." Annelyn tergelak, tapi air matanya menetes, ia pun sesenggukan menangis di pelukan Meylan.


Meylan POV end


**


Author POV.


Dimas kelabakan saat tidak menemukan Annelyn di kamarnya, apalagi saat sepasang matanya melihat noda darah di kasur dan di lantai. Ia menyusuri rumah dua lantai itu sambil meneriaki nama istrinya namun tidak ada tanda kehidupan.


Dengan langkah gontai Dimas menuju kamar Puspa untuk mengambil beberapa baju ganti.


Saat akan memasuki mobil ada bapak-bapak yang memanggilnya, usianya kurang lebih 70-an.


Tetangga Dimas yang baru lewat itu memberi tahunya bahwa ia melihat Annelyn pingsan dibopong oleh seorang lelaki, memakai jas dengan tinggi kira-kira 190 cm.


" Ada juga wanita cantik yang bersama pria tadi, kulitnya putih rambutnya pendek, orangnya cantik."

__ADS_1


" Oh iya, Pak terimakasih". Dimas mencoba tersenyum ramah.


Setelah bapak itu pergi, Dimas memukul mobil, melempar tas berisi pakaian Puspa. Hatinya terbakar cemburu, pria itu pasti Narendra, laki-laki yang mencuri ciuman Annelyn, saat masih menjadi pianis, di restoran tempat dia bekerja dulu.


**


Tiga hari berlalu, Puspa pulang dari rumah sakit, Bu Rukana meminta Dimas agar menyewa pembantu untuk memasak dan membereskan rumah, sementara Annelyn belum kembali.


Dihadapkan dengan keuangan yang begitu minim, Dimas begitu pusing, kartu ATM miliknya juga tidak tahu disimpan Annelyn dimana.


Mau tidak mau Puspa harus menggelontorkan uang pribadinya, sisa harta gono gini dari mantan suaminya masih tersisa sedikit, belum lagi jatah bulanan untuk anaknya di kampung.


**


Sampai satu minggu berlalu, Annelyn pulang ke rumah. Tidak mau pulang sendiri, dia ditemani Om Bimo, Annelyn masih trauma dengan kejadian terakhir yang menimpa dirinya.


Membawa berkas perceraian, juga hasil visum agar memudahkan sidang perceraiannya.


Tok tok tok


Bimo mengetuk pintu yang terbuka sambil sebelah tangannya merangkul Annelyn.


Seorang wanita tua, yang Annelyn sendiri bingung siapa, menyapa mereka.


Belum sempat bicara, terdengar suara nyaring dari dalam rumah. Suara ibu mertuanya. " Siapa, mbok??"


Wajah ibu mertuanya murka melihat kedatangan Annelyn. Terlebih ia datang bersama laki-laki, sungguh tidak tahu malu. Batinya.


Tanpa dipersilahkan, Annelyn menggandeng Om Bimonya masuk ke dalam rumah, melewati pembantu yang baru bekerja satu Minggu.


" Menantu tidak tahu diri! Pergi dari rumah tanpa ijin suami, malah bersama laki-laki lain!". Suaranya menggelegar, menyita perhatian beberapa orang yang sedang berkumpul di ruang tengah.


Mereka adalah kerabat Puspa beserta anaknya dari desa, datang mengunjungi Puspa setelah menerima kabar kehamilan Puspa.


Dimas berjalan mendekati Annelyn, diikuti bisik-bisik dari beberapa kerabat Puspa, mereka tidak tahu Dimas sudah punya istri.


" Ternyata Mama mengakuiku sebagai menantu ya?" Sindir Annelyn.


Bimo hanya diam saja sesuai instruksi Annelyn. Keponakanya itu selalu membuat kearoganannya tak berkutik.


" Siapa dia Anne?" Tanya Dimas berusaha mencekal lengan Annelyn.


" Jangan sentuh aku, Mas! Lelaki penghianat sepertimu tidak pantas menyentuhku".


Clak


Annelyn menjatuhkan berkas perceraian di atas meja.


" Aku menceraikanmu, Mas"


" Apa-apaan ini? Setelah mendapat pria lain kamu membuangku?"


" Jangan memutar balikkan fakta, Mas. Kamu yang menghianatiku"


Keadaan menjadi hening, Puspa berjalan mendekati Bimo. Merangkul mesra lengan kokoh suaminya. Sedangkan Bu Rukana tersenyum sinis memandang menantu yang dianggapnya tidak berguna itu.

__ADS_1


" Ceraikan saja dia Dimas, lagipula wanita mandul sepertinya buat apa? Cuma numpang hidup saja. Sebentar lagi kamu kan juga punya anak dari Puspa"


Jangan lupa, like, komen dan votenya, untuk mendukung karya author.


__ADS_2