
" Mau tidak mau, siap tidak siap, yang namanya kewajiban harus dijalankan Lyn, jangan terbiasa meninggalkan kewajiban." Aku melirik ekspresi wajah Annelyn yang bertambah cemberut.
Wajah kusut Annelyn tidak bisa menutupi seberapa cantiknya dia, terlebih semua pakaian yang dia kenakan selalu kekinian, trend fashion remaja.
" Dasar pedofil, tidak punya malu" Annelyn ku menggerutu tiada habisnya.
" Maksudnya?" Aku pura-pura saja tidak mengerti maksut perkataannya. Cih aku pedofil? Apa kabar dengan si sontoloyo Dimas? Dia sepertinya lebih bangkotan. Hehe
" Hmmm huuhh.. Aku, ..aku tidak bisa Om, aku malu harus melakukannya denganmu Om." Annelyn menunduk, bibirnya menjawab pertanyaannku dengan lirih, tapi telingaku bisa menangkap perkataannya dengan jelas. Aku kan tidak upilan seperti kata Meylan.
" Tapi tidak malu dengan Dimas" Entah mengapa bibirku ini lodok sekali saat cemburu. Aku lebih segala-galanya dari pria hidung belang itu, kecuali mendapat tempat di hati Annelyn, ku akui dia lebih sakti.
Hening. Sepertinya Annelyn tersinggung dengan perkataanku. Kalau sudah seperti ini, aku harus bagaimana? Apa aku harus minta maaf? . Aku jadi teringat ungkapan wanita selalu benar, lelaki selalu salah.
Saat mobil sampai di parkiran apartemen, dia turun lebih dulu tanpa meninggalkan sepatah kata bersamaku. Apa sedalam itu Dimas bersarang di hatinya?
" Lyn, tunggu dulu kita harus bicara!" Aku mencekal tangannya, saat ia berjalan cepat memasuki apartemen. Dan, Ia menepis tanganku? Aku suaminya. Apa dia lupa?
Jadilah aku mengikuti istriku memasuki apartemen, terus melangkah memasuki kamarnya.
Blammm. Oh my God. Cih anak ini keterlaluan. Baru jadi istri sebentar sudah menakutkan. Dulu saat bersama Dimas saja rela jadi babu.
Tok. Baru saja aku mengetuk pintu kamarnya, dia sudah berdiri cantik di samping pintu, sepertinya dia mengijinkanku masuk. Ya aku masuk saja.
Setelah menutup pintu, dia berjalan menuju ranjang, duduk bersila memangku bantal. Sebelumnya ini adalah kamarku, tidak ku sangka dalam sebentar saja kamar ini menjadi milikku lagi.
Seperti bunga pinjaman saja. Aku meminjamkan kamarku beberapa bulan, alhasil kamarku kembali beserta wanita cantik di dalamnya. Hahaha.
" Ngapain bengong Om?" Suara kecil membuyarkan lamunan gesrekku.
Ehm. Aku berdehem sebelum memulai pembicaraan, biar apa? biar keren lah.
__ADS_1
" Aku tahu suasana kita saat ini sudah berbeda, baru tadi pagi melamar, malam sudah jadi pasutri." Aku memerhatikan perubahan raut mukanya yang begitu kentara.
"Aku adalah suamimu. Sampai dunia jungkir balik, aku tetap suamimu." Aku terus berbicara, sedangkan dia diam, entah menyimak atau melamun.
" Iya iya, apa sih Om, basa basi, sudah seperti MC saja." Kan, jawabannya diluar ekspektasi ku.
" Ya, aku minta mulai saat ini usir Dimas dari hatimu. Itu tempatku. Khusus untukku, bukan tempat Dimas ataupun orang lain" Bicaraku langsung to the poin. Biar tidak berbelit, toh sudah malam. Masa malam pertama jagongan terus.
" Mana bisa memaksa begitu Om" Sesuai perkiraan, dia protes, aksi protesnya ini lho. Bisa berjam-jam.
" Bisa Lyn, dia akan terus berada di hatimu jika kamu tidak berniat move on" Aku mulai duduk di kasur, kedua tanganku menggenggam jemari tangannya yang ternyata sangat dingin. Bisa grogi juga dia.
" Ku mohon.." Pintaku memelas.
" Kenapa Om memaksa? Aku tidak bisa dipaksa Om! Please sabar, Om bisa mengekang ragaku tapi tidak hatiku." Meledak sudah air mata beserta unek-unek hatinya.
" Om memang suamiku, tapi masalah cinta, Om punya batasan untuk mengaturnya. Jangan paksa aku, ku mohon" Suaranya menggebu-gebu seperti suporter sepak bola saja.
Degh . Aku tersentak, kenapa dia tiba-tiba lembut begini? Tadi saja seperti singa kelaparan.
Yang ku lakukan hanya memeluknya, menggumamkan maaf. Aku tidak berniat menyakitinya, niatku tidak lebih hanya ingin dia menerimaku sebagai suaminya.
Akhirnya malam ini ku habiskan tidur saling memeluk dengan Annelyn, sesekali menepuk punggungnya. Sudah menjadi kebiasaan, jika menangis sampai ketiduran, sepanjang malam sesekali setiap bergerak, dia akan menangis dalam tidurnya.
***
Author POV.
" Om tas branded dan perhiasanku boleh ku bawa?" Annelyn bertanya sambil memasukkan pakaian ke dalam koper. Dia hanya memilih beberapa yang masih baru dan kekinian.
" Ya terserah, bawa beberapa saja." Bimo menjawab asal, dia sendiri sibuk menata pakaian dan beberapa berkas penting.
__ADS_1
" Om sudah beli rumah?" Annelyn mulai mengemasi make up-nya yang seabrek.
" Sudah"
" Bagaimana caranya supaya Daddy tidak tahu?" Sejak kemarin dia penasaran bagaimana caranya Om Bimo bertindak tanpa diketahui Daddy.
" Urusan orang dewasa, bocah mana paham" Bimo menggoda istri kecilnya.
" Huh. Kalau Om menganggapku bocah, ya gak usah dinikahi" Annelyn yang tidak suka dipanggil bocah pun terpancing.
" Kamu itu lain dari yang lain. Bocah tapi handal membuat bocah. Hahaha" Bimo tergelak dengan candaannya yang garing dan tidak lucu.
" Bisa nggak sih omongannya diayak?" Semakin sebal melihat Bimo yang cekakakan setelah menggodanya, Annelyn mendumel menatap sinis lawan bicaranya.
" Emang pasir? Hahaha" Lagi-lagi Bimo tergelak melihat tampang cemberut Annelyn.
" Ya Om bicaranya jangan vulgar dong, difilter dikit Om.." Annelyn semakin protes saja.
" Apa salahnya? Toh kamu istriku." Sebelah mata Bimo berkedip genit.
" Ya salah lah, kan Om tidak menganggapku dewasa. Jadi pembicaraan kita harus sesuai denganku yang bocah ini." Annelyn tersenyum miring, merasa menang.
" Emmm kita sebaiknya membahas kartun Upin Ipin, Sopo Jarwo, Tinkerbell, Spongebob, dan kembaranmu si Doraemon, emmm apa lagi ya" Annelyn pura-pura berpikir saat bola matanya berputar keatas seolah tengah berfikir keras.
Cup. Belum selesai, bibir mungil Annelyn mendapat Jack pot.
" Jangan banyak bicara, ayo selesaikan segera" Bimo yang sudah selesai mengemas barang-barangnya beranjak dari kamar menuju dapur, sedari tadi perutnya sudah keroncongan.
_*_
hallo gaesss, semangat jempolnya dong, biar author juga semangat up-nya.. Hayo yang tadi mikir malam pertama mau ngapain? hehe. mereka nggak ngapa-ngapain kok. Novelku ini bukan bacaan 21+. Kalau kalian mencari bacaan 21+ di novelku, kalian salah alamat, meskipun novelku membahas rumah tangga, tapi paling mentok aku pakai 18+. Soalnya bocil biasanya nekat masuk area 21+. peringatan dari author tidak dihiraukan.
__ADS_1