
Pukul 09.00 akad nikah dimulai.
" Saya nikahkan dan saya kawinkan putri saya yang bernama Sierra Nadila Hartopo dengan Dzulfikar Dzil'auni dengan mas kawin uang sebesar lima juta rupiah dan cincin emas dibayar tunai." Ayah si gadis, yang tidak lain Pak Hartopo, mengakadkan pernikahan putrinya.
" Saya terima nikah dan kawinnya Sierra Nadila Hartopo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Sang pria menerima akad dengan gagah.
" Sah. Sah. Sah" Sorak sorai para pemuda pemudi desa yang kemungkinan adalah teman kedua mempelai meramaikan acara.
" Barokallahu lakumaa wa barokah alaikuma wa jama'a bainakuma fiil Khoir"
" Allihuma kama allafta bainakuma Adama wa Hawa. Allihuma kama allafta bainakuma 'Ali wa Fatimatazzahro......"
Meskipun tidak paham dengan apa yang dibaca oleh pak Kyai, tapi Annelyn dan Bimo ikut mengaminkan. Mengangkat kedua tangan untuk memohon kepada Tuhan, mengikuti puluhan umat Islam yang sedang berdoa paska akad nikah suci pernikahan.
" Kenapa menangis Love?, Senyum dong, sebentar lagi para sinoman akan berbaris menyajikan hidangan. Kamu siap-siap!"
Bimo mengelus rambut Annelyn, memberi semangat. Profesionalisme dalam bekerja, segetir apapun perasaan yang kita rasakan, bekerja tetaplah bekerja, semangat juang pantang mundur.
" Iya Bee, aku hanya teringat Daddy sama Mama. Kedua pernikahanku tidak dihadiri keluarga kita, Bee." Keluh Annelyn, ia menghapus air matanya yang sempat lolos, tersenyum manis pada suaminya, teman perjalanan hidupnya.
" Siapa bilang? Pernikahan keduamu kan ada aku. Om Bimo yang menuntunmu menuju altar." Sanggah Bimo menepuk dada, lantas reflek membuka lebar kedua tangannya berharap Annelyn menghabur dalam pelukannya.
" Uuhhhh so sweet." Seru Bu Tejo dan Bu Dah bersamaan.
Duo julid, si pengacau momen datang. Untung kedatangan mereka untuk membantu Annelyn dan Bimo.
" Kok lama sih Bu?" Protes Annelyn, melihat penampilan Bu Dah dan Bu Tejo
Bu Dah memakai gamis brokat merah maroon dengan kerudung merah hati dengan bordiran bunga begonia yang cantik. Sangat pas dengan aura wajahnya yang keibuan.
Sedangkan Bu Tejo, ia memakai gamis berbahan jeans yang dimix dengan katun bermotif salur kuning putih, ia juga mengenakan kerudung pashmina sifon polos berwarna merah. Bu Tejo yang lebih gaul, memang menyukai trend fashion dikalangan remaja, meskipun sebenarnya agak kurang cocok, tapi tingkat PDnya tinggi.
" Ya maklum Lyn, si Sakarin balik lagi ke rumah, ya kita temenin lah, eh taunya malah ganti baju yang lebih hot jeletot." Bu Tejo mengomel seperti biasa, ia juga menyematkan Sakarin sebagai julukan untuk Risya yang katanya cuma pencitraan saja.
" Hah kok bisa?" Annelyn pura-pura tidak tahu, padahal dia sudah menyangka hal itu.
" Dia kan ngelihat kamu yang cantik begini waktu nganterin snack bareng kita, ya langsung balik lagi lah buat ganti baju yang lebih uwuw." Celetuk Bu Dah sambil memerhatikan penampilan Annelyn.
Dilihat dari segi manapun Annelyn jelas lebih unggul dari Risya. Satu-satunya hal yang membuat Bimo membolehkan Risya tinggal sebenarnya adalah Annelyn.
__ADS_1
Ia melihat dengan matanya betapa terlukanya Annelyn saat Dimas menghianati dirinya, ia juga tahu betapa hancurnya Annelyn. Begitu juga Riska yang dikhianati suaminya karena kesalahan yang pernah Bimo perbuat, yang bahkan merambah efeknya pada Risya. Bimo hanya ingin menebus dosa. Itu saja, tidak lebih.
Para pengiring pengantin sudah kembali bersama rombongan, Annelyn mulai menata kembali hidangan, karena setelah ini masih ada sesi tamu undangan yang jumlahnya luar biasa.
Bu Tejo dan Bu Dah masih setia membantu tanpa perlu diminta.
Mereka adalah seorang teman dan juga ibu. Seorang emak-emak yang sudah sangat berpengalaman asam garam kehidupan, sejak awal mereka menyadari niat terselubung Risya. Karena merasa Annelyn masih terlalu muda dan manja, jadi mereka sepakat dalam diam, Seiya sekata satu tindakan untuk membantu sahabat kecilnya.
" Bee, aku kebelet pipis, mana tamunya banyak lagi, ini aku harus kemana ya?" Annelyn bertanya pada suaminya yang sedang sibuk menuang saus siomay.
" Kamar mandinya agak jauh Lyn, soalnya beda gedung. Itu tuh gedung sebelah." Tunjuk Bu Tejo.
" Oh ya udah, Ris kamu bisa jaga sendiri kan?" Annelyn bertanya pada wanita hamil disampingnya.
Ia memang sebal dan jengkel sama Risya, tapi bukan berarti dia membenci Risya sampai tega membiarkan wanita hamil itu kerepotan. Ia pernah keguguran, dan dia tidak ingin Risya mengalami hal yang sama. Itu sangat menyakitkan.
" Udah tenang Lyn, kan ada saya." Bu Dah berkata santai.
" Iya Bu, saya bisa kok." Risya tersenyum menanggapi Annelyn.
Annelyn bergegas meninggalkan aula, menuju gedung sebelah, dia sudah tidak tahan. Tandon air dalam perutnya sudah tidak muat. Saat ia berjalan cepat, tanpa sengaja ia menabrak seorang pria tampan dengan suara lembut. Hanif. Lelaki yang sering dimintai tolong suaminya untuk mengantar catering.
" Ya gapapa."
"Akhirnya legaaaaa"
Annelyn berjalan keluar gedung, ia melihat taman yang indah, ada kolam ikan koi dengan jembatan yang membentang di tengah kolam. Ada berbagai macam bunga yang membuat tampilan taman tampak lebih hidup dan memancarkan semangat.
Pantas saja sewa tempat ini mahal. Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan sewa gedung di kota, tempat ini menawarkan keindahan yang unik, menyatu dengan alam. Gedungnya ada dua, dengan halaman yang luas. Seperti villa saja.
Saat menyusuri taman, sepasang mata Annelyn menangkap tulis ' es degan'. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menikmati kesegaran degan hijau, yang berjejer di lapak dagangan seorang bapak-bapak di luar gerbang.
Tanpa pikir panjang, tanpa ingat untuk kembali ke ballroom, iapun melangkah menghampiri penjual es degan. Memesan satu buah es Degan, ia meminum dan memakan langsung dari kelapanya.
" Hei Hanif. Kamu sedang apa?" Annelyn menghampiri Hanif yang duduk di taman, ia masih meminum es degan.
" Saya sedang merokok Bu" Setelah kedatangan Annelyn, Hanif memilih menundukkan kepalanya. Wanita di depannya berbahaya, mengumbar hawa nafsu yang membuat kaum Adam bergejolak. Meski tanpa disadarinya.
" Bisa nggak sih manggilnya Annelyn saja! Aku masih muda Hanif!" Protes Annelyn, sedari tadi matanya tidak lepas dari menatap pergerakan Hanif yang terkesan lucu baginya.
__ADS_1
" Hehe, nggak sopan Bu. Saya saja manggil Pak Bimo Bapak."
" Kalau suamiku sih kamu panggil Pak nggak apa-apa, kalau aku jangan ya." Annelyn menawar, bahkan saat bicara Hanif masih menunduk.
" Iya Bu eh Lyn." Akhirnya ngalah juga, tapi masih nunduk.
" Nah gitu dong, btw kenapa kamu nunduk terus? Uangmu hilang?" Celetuk Annelyn mencairkan suasana yang kaku.
Dia menghampiri Hanif karena memang di luar sini hanya Hanif yang dikenalinya. Masa iya ngobrolnya kaku begini.
" Hehehe bukan Bu eh Lyn, nggak sopan, kita bukan mahram." Hanif masih menunduk.
Sebagai pria normal, pemandangan di depannya sangat menggiurkan. Apalagi di kalangan keluarganya tidak ada yang tidak berhijab. Tapi tidak ada yang tidak bisa dihindari, begitu juga nafsu. Jadi, dia lebih memilih menghindar dengan cara menunduk tidak melihat.
" Haa? Hanif ini abad berapa?" Annelyn syok bukan main. Lelaki di depannya sangat berbeda.
" Aturan agama tidak tergantung abad Lyn." Hanif dengan lembut menjelaskan.
" Iya juga ya. Kamu punya pacar?" Annelyn kepo, apa ia pria dewasa di depannya sebegitu alimnya.
" Aku takut ,nggak berani Lyn."
Hahaha. Tawa Annelyn pecah. Membayangkan perbedaan Hanif dan Meylan. Mungkinkah jiwa mereka tertukar?
" Wanita terlalu berbahaya Lyn." Hanif mengatakan sepatah kalimat.
Hahaha. Tawa Annelyn semakin menjadi. Ya Tuhan bagaimana ada pria yang begitu lucu, pemalu dan lembut begini. Sedangkan engkau ciptakan wanita penjajah kaum pria seperti saudaraku Meylan.
" Ada yang lucu?"
Suara serak seseorang menginterupsi tawa Annelyn. Ia menoleh ke belakang dan melihat suaminya dengan tangan menggantung terkepal memandang tajam kearahnya. Hanya dengan melirik, Annelyn sudah tahu apa yang akan terjadi.
Tanpa aba-aba, ia menarik pergelangan tangan Annelyn, tidak memberi istrinya waktu untuk menjelaskan.
" Bee sakit!" Bimo menyeret Annelyn, tidak memperdulikan protes istrinya.
Bahkan ia tidak tahu tangan Annelyn berdarah, tergores gelang kaca yang retak, menancap di pergelangan tangan mungil istrinya.
Sampai di tempat yang sepi, dia memandang lekat kedalam bola mata Annelyn. Khawatir, amarah dan cemburu berkobar menjadi satu.
__ADS_1