Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Obrolan Buka Rahasia.


__ADS_3

" Emang apa sih yang membuat kamu ragu?" Tanya Bu Dah.


Memang ya, Bu Dah lebih peka dari pada Bu Tejo, bukan membandingkan. Keduanya sama baiknya, tapi Bu Dah lebih keibuan dan lebih bijak. Sedangkan Bu Tejo meskipun baik dan peduli, tapi dia lebih banyak bercandanya. Kurang bisa memahami situasi lah istilahnya.


" Kita ini sahabat Lyn, lagian juga kita lebih pengalaman dari kamu, kita tahu kok selama ini ada banyak rahasia dalam rumah tanggamu. Ngaku saja!" Todong Bu Dah.


Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos tapi berbobot membuat kesan tersendiri di hati Annelyn. Dia seperti melihat Mamanya dalam wujud kalang menengah ke bawah.


" Emm.. sebenarnya..". Annelyn masih menimbang. Apakah sebaiknya mengaku atau tetap merahasiakan.


" Aku dan suamiku adalah Om dan keponakan." Akhirnya dia memilih membagi sebagian beban.


" Haaa???" Kedua emak-emak kompak.


" Astaghfirullahaladzim." Bu


Tejo mengelus dada.


" Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un." Bu Dah menutup mulut tidak percaya.


" Terus terus terus." Keduanya masih saja kompak. Sepertinya mereka berdua tidak mengejude Annelyn.


" Om Bimo adalah adik Daddyku."


Jeda sejenak, Annelyn memerhatikan raut wajah sahabatnya.


" Semuanya berawal dari aku yang kabur dari rumah. Kehidupan di keluargaku sangat menjunjung tinggi tradisi, dimana anak laki-laki adalah golden boys, sedangkan perempuan terlahir sebagai pemeran dibalik layar."


" Wuih kaya layar tancep dong Lyn. Emang keluargamu penuh drama ya?" Bu Tejo menanggapi dengan candaan.


" Hiih diem dulu Bu Tejo, aku lagi serius mendengarkan Alyn cerita." Protes Bu Dah pada temannya.


" Stop!! aku terusin. Jadi, aku kabur ke apartemen sepupuku yang berada di Jakarta." Aku mulai merangkai penyampaian yang tidak membingungkan keduanya.


"Lha emang kamu sebenarnya dari mana?" Dan lagi-lagi Bu Tejo menginterupsi dengan pertanyaanya.


" Hiih Bu Tejo diem dulu!" Buy Dah sudah melotot pada Bu Tejo yang hanya cengengesan.


" Aku sebenarnya asal Surabaya Bu, aku kabur ke Jakarta. Dan Daddy menutup semua akses informasi sehingga Mama tidak bisa mencariku. Secara tidak langsung, Daddy tidak peduli denganku. Itu sebabnya Mama tidak tahu dimana diriku meskipun aku tinggal dengan sepupuku." Annelyn menjelaskan secara detail, berharap tidak ada pertanyaan lagi dari Bu Tejo.


" Wuiihh manggilnya Daddy, kaya anak gedongan wae." Sayang di sayang, Bu Tejo tetaplah Bu Tejo, meskipun isi kepalanya encer dan idenya cemerlang, tetap saja tidak mengenal situasi.


" Hiih Bu Tejo. Tak lakban bibirmu lho ya!" Bu Dah semakin geram. Dari tadi dia serius mendengarkan Annelyn bercerita.


Annelyn hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.


" Oke, lanjut ya.. Setelah berhasil kabur, aku mencari pekerjaan sambil sekolah, soalnya aku masih SMA. Beruntung sepupuku anak orang mampu, jadi uang sakunya lebih-lebih, sehingga bisa dibagi dua denganku, aku juga di terima kerja paruh waktu di cafe. Masalah keuangan, aku tidak terbebani apapun, malahan aku bisa nabung."

__ADS_1


" Ah yang bener Lyn? Emang sepupumu horang kaya seperti di novel gitu.". Bu Tejo Lagi-lagi dan akan terus lagi dan lagi seperti ini.


" Tejooo. Huustt diem!" Bu Dah menyenggol lengan Bu Tejo.


" Iya maaf kelepasan lagi." Bu Tejo menutup mulutnya.


" Lanjut nggak ceritanya?" Annelyn menawar.


" Iya dong." Seru keduanya bersamaan.


" Nah, ketika aku kerja di cafe, aku bertemu pria tampan Bu, sesuai kriteriaku deh pokoknya, usianya juga cukup matang. Singkat cerita kami pacaran, dan akhirnya menikah setelah aku lulus sekolah." Annelyn melihat ekspresi kaget di wajah keduanya, tapi tidak ada satupun yang berkomentar.


" Baru berjalan satu tahun, pernikahanku dihantam badai Bu, masalah pelakor. Jadi, suamiku terjerat cinta pertamanya yang saat itu sudah menjanda dua kali, beranak tiga pula. Akhirnya kami bercerai."


"Haaa??" Kan, mereka selalu kompak kagetnya.


" Jadi kamu jendes?" Tanya Bu Tejo lagi.


" Ya kan aku sudah nikah lagi Bu."


" Maksutnya sebelum nikah sama Bimo, kamu jendes?". Bu Tejo masih saja bertanya hal yang sudah jelas. Ceto dan Medok sekali ngomong jendes.


" Iyalah Bu." Jawab Annelyn.


" Terus?" Bu Dah masih serius.


" Sebenarnya sih selama ini Om Bimo tahu keberadaanku, tahu juga permasalahan rumah tanggaku. Jadi sebelum aku resmi bercerai, dia sudah membawaku pergi dari mantan suamiku."


" Mulanya tidak, tapi setelah aku keguguran, Om Bimo bertekad untuk menikahiku, dan membawaku kabur ke sini."


" Keguguran?" Keduanya bertanya bersamaan.


" Kamu pernah hamil?" Kini Bu Dah angkat suara.


" Iya, Dimas mantan suamiku, menjebakku sehingga aku keguguran, padahal itu bayinya."


" Kamu yang sabar Lyn."


" Yang kuat ya Lyn."


Mereka berdua memeluk Annelyn, saling menguatkan.


" Awalnya aku tidak setuju dengan ide pernikahan yang ditawarkan oleh Om Bimo suamiku, tapi setelah dia bercerita bahwa sebenarnya Daddyku adalah anak angkat di keluarga Om Bimo, akhirnya aku setuju. Belum lagi rahasia Mama, tentang aku sebenarnya.."


" Love!" Tiba-tiba suara Bimo menggelegar dari ruang tamu sampai teras belakang.


" Kamu di mana sayang?"

__ADS_1


" Aku di belakang Bee, ada apa?" Annelyn menyahuti panggilan suaminya.


" Ada penjual pempek kapal selam, kamu mau?" Tanya Bimo pada istrinya.


" Iya Bee, pesankan juga buat Bu Tejo sama Bu Dah!" Annelyn tidak lupa request untuk temannya.


" Wah bakalan kenyang Bu kita." Seru Bu Tejo bahagia.


" Hehe gak apalah, malah ngirit nggak usah makan di rumah." Bu Dah tersenyum lebar.


Annelyn hanya geleng-geleng kepala. Lalu iapun kembali duduk bersama kedua temannya.


" Terus apa yang membuat kamu ragu?" Tanya Bu Dah, pertanyaanya lebih berbobot dibanding Bu Tejo.


" Ya jelas ragu lah Bu, kalau aku telepon kakaknya Risya. Kan bisa kebongkar tempat persembunyianku."


" Kok bisa?" Buy Tejo dan Bu Dah kompak syok.


" Ya bisa lah Bu, wong kakaknya Risya kerja di perusahaan yang sama seperti Daddy. Kak Siska, kakaknya Risya kan mantan pacarnya suamiku."


" Haaa??" Keduanya syok lagi. Untung tidak punya riwayat penyakit jantung. Bisa strok kalau dikit-dikit kaget.


" Dari tadi, ha he ha he!" Annelyn mengomel.


" Namanya juga syok Lyn." Bu Dah membela diri.


" Iya daripada kita pingsan kaya Ijat." Sahut Bu Tejo mendukung temannya.


" Siapa itu Bu?" Tanya Annelyn bingung siapa Ijat.


" Temennya Upin Ipin yang nggak bisa baca, dan kalau kaget langsung pingsan. Ekkk." Jelas Bu Tejo, kepalanya Teleng sebelah, mempraktekkan orang pingsan.


Hahaha.


Mereka bertiga dengan tertawa terbahak-bahak. Melupakan suaranya menggelegar kemana-mana.


" Udah, lanjut!". Seru Bu Dah.


" Jadi, selama ini Risya itu memanfaatkan rasa bersalah suamiku pada Kak Siska." Annelyn baru memulai penjelasan. Bu Tejo sudah menginterupsi panggilan.


" Tunggu-tunggu."


" Waktu di rumah sakit, Risya pernah cerita, dia diperkosa kakak iparnya karena kakaknya tidak perawan. Ya ibaratnya minta ganti rugi. Jadi..?" Bu Tejo menggantungkan ceritanya.


Bu Dah dan Bu Tejo saling pandang, keduanya lantas menoleh pada Annelyn.


" Suamimu yang merawanin kakaknya Risya, dan suamimu merasa bersalah?" Buu Dah memperjelas semuanya dengan suara pelan

__ADS_1


" Nah itu tahu."


" Waah rumit juga ya."


__ADS_2