
" Bee sakit!" Bimo menyeret Annelyn, tidak memperdulikan protes istrinya.
Bahkan ia tidak tahu tangan Annelyn berdarah, tergores gelang kaca yang retak, menancap di pergelangan tangan mungil istrinya.
#####
Sampai di tempat yang sepi, dia memandang lekat kedalam bola mata Annelyn. Khawatir, amarah dan cemburu berkobar menjadi satu.
"Aku tidak suka istriku tertawa karena pria lain, egois memang, tapi kelapangan hatiku tidak seluas itu Lyn!" Bimo berkata pelan penuh penekanan.
" Aku bekerja, mencari nafkah untuk membahagiakanmu. Dan kamu dengan mudahnya tertawa haha hihi dengan pria lain!" Bimo menghela nafas panjang.
" Aku tadi hanya membeli es degan, saat aku minum di taman, aku melihat Hanif. Apa salahnya menyapa?" Annelyn membela diri.
" Jelas salah!"
" Oke fine salah. Lalu tindakan mu benar? Membawa bagian dari masa lalumu dalam rumah tangga kita?" Annelyn menodong Bimo dengan pertanyaan.
" Aku tidak ingin membahas hal itu Lyn!"
" Yasudah kalau begitu lupakan tentang Hanif. Kalau kamu bisa, kenapa aku tidak?" Annelyn sebal meninggalkan Bimo. Om Bimonya memang arogan dan semena-mena dalam masalah tertentu.
Dengan mata memerah, Annelyn melihat siluet Risya mengintip dari balik tembok. Dia berpikir sejenak, mungkinkah Risya yang memprovokasi Om Bimo? Om Bimonya sendiri bukan pria yang mudah terprovokasi, selain cerdas, dia juga penuh perhitungan, kecuali segala hal tentang Annelyn. Bimo bisa berubah menjadi monster mengerikan.
' Sialan Risya, aku harus lebih cerdas!"
**
Bimo POV.
Aku disibukkan dengan pekerjaan yang tiada habisnya, tamu undangan Pak Hartopo serempak menghadiri acara pernikahan. Saking sibuknya aku tidak menyadari istriku sudah lama ke toilet tapi belum kembali . Didorong rasa khawatirku, aku meninggalkan pekerjaanku dan menyerahkan semuanya pada duo julid.
Langkah kakiku semakin lebar saat aku berjalan menuju gedung sebelah.
" Lho Pak Bimo ngapain?"
" Aku mencari istriku."
" Oohh, tadi sih aku bertemu Bu Annelyn di taman, lagi bercanda sama Hanif, sudah saya minta untuk segera masuk, tapi katanya nanggung lagi seru-serunya."
" Ooh.."
" Yasudah Pak, permisi."
__ADS_1
Entah mengapa perasaan dikesampingkan hadir begitu mengikat hatiku, sampai-sampai rasanya mau tercekik. Aku pernah cemburu, pernah membabi buta, tapi tidak pernah seperti ini. Ingin melampiaskan segalanya, tapi pada siapa? Kekuasaan yang ku miliki terbatas. Tidak seperti dulu lagi.
Tahta di keluarga yang ku tinggalkan seolah mengejek diriku. Bagaimana tidak, dulu aku bisa meninju siapapun yang berani mendekati milikku, bahkan tidak segan-segan membiarkan anak buahku menembak kepala mereka. Lalu apa sekarang?
Aku berusaha menetralisir rasa cemburu dan keinginan untuk melenyapkan seseorang yang begitu kental. Mungkin bagi sebagian orang, aku over protective, tapi bagiku tidak. Sudah selayaknya aku cemburu, disaat aku berjuang menggapai sedikit tempat di hati Annelyn, tidak seharusnya ada orang lain yang mengusik usahaku.
Aku melangkahkan kakiku menuju taman. Dan benar saja, aku melihat istriku sedang tertawa menanggapi Hanif yang terus menunduk. Apa hebatnya Hanif sampai istriku bisa terlihat bahagia? Bicara denganku saja bawaannya emosi, cemberut dan ngambek.
Tanpa pikir panjang aku menghampiri mereka, ku tarik pergelangan tangan istriku untuk meninggalkan Hanif. Melihat penampilan istriku, bajunya yang memperlihatkan belahan dada, ditunjang tubuhnya yang aduhai. Emosi yang sedikit mereda kembali membakar otakku.
Tanpa ku sadari aku adalah makhluk paling bodoh yang pernah ada. Bukankah seharusnya aku tidak membentak istriku? Bagaimana kalau dia takut dan tidak bisa mencintaiku? Bagaimana kalau dia meninggalkanku? Berbagai pertanyaan menghantam otakku yang sempit ini.
" Bee?" Sapaan lembut menghampiri telingaku.
Sosok cantik istriku membelai lembut lenganku.
" I love you, Bee." Sebuah kalimat singkat yang terlontar dari bibirnya terasa seperti hembusan angin surga. Menenangkan, tanpa sadar aku membalasnya.
" Love you too."
Annelyn memelukku dari belakang, bisa ku rasakan detak jantungnya. Perasaan yang begitu sejuk mengalir menghangatkan bara yang membakar hatiku.
" Maaf Bee, aku salah. Seharusnya aku tidak melihat pria lain. Itu murni kesalah pahaman yang tercipta karena kecerobohanku. I'm sorry my husband." Dia mengeratkan pelukannya.
Tanpa pikir panjang, ku peluk istriku. Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Golden boys seperti diriku selalu mendapatkan apa yang ku inginkan, yah meskipun ada timbal balik yang harus ku lakukan untuk membuat orang tuaku bangga, aku tidak pernah merasakan kesulitan seperti Annelyn, soal wanita dan bersenang-senang aku bisa dikatakan sangat beruntung. Hanya cukup membuat media tidak tahu wajah asliku, aku bisa bebas bertindak semauku.
**
Author POV.
Tanpa Bimo ketahui, Annelyn tersenyum smirk, memusnahkan raut wajah polosnya.
Pelakor seperti Risya, kalau dibiarkan melihat pertengkaran suami istri, pasti akan bersorak sorai, kegirangan seperti anak kecil dibelikan ice cream.
Satu-satunya cara adalah Annelyn merendahkan hatinya, menghampiri Om Bimo yang terbakar amarah. Seratus persen yakin, hanya dengan belaian lembut dan suara sedih mendayu, Om Bimonya akan luluh lantak dibawah ketiaknya. Hehe
Dan seperti dugaan Annelyn yang belum pernah meleset, suaminya langsung membalas pelukannya dengan penuh cinta. Kalau sudah begini, pelakor bisa apa?
" Tanganmu kenapa Love?" Bimo bertanya saat mereka berjalan berdampingan, Bimo dikejutkan dengan luka yang pastinya lumayan sakit di pergelangan tangan Annelyn.
" Ini.. ini terkena gelang kaca Om." Annelyn menjawab dengan gugup, bukan karena takut, tapi dia sedang memainkan peran menyedihkan. Supaya suaminya tambah merasa bersalah dan tidak ceroboh mengulangi perbuatannya.
" Ckk sudah ku bilang jangan pakai gelang kaca. Pakai saja gelang berlian pemberianku, dijamin tidak akan patah dan melukai tanganmu." Diluar dugaannya, Bimo malah mengomel.
__ADS_1
Plak. Annelyn memukul lengan Bimo, agak keras tapi tidak sakit.
" Apaan sih Bee, harusnya aku yang ngomel. Kan gelangku patah juga karena kamu emosi tadi." Annelyn pura-pura menggerutu. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca. Ahli juga ternyata dia, bisa menjadi aktris ternama nantinya.
" Ya Tuhan, maaf sayang, apa masih sakit?" Kan benar, Om Bimo yang super cemburu, over protective dan bucin akhirnya termakan rengekan Annelyn.
" Nggak apa-apa kok Bee. Cuma agak perih." Annelyn berakting menyentuh lukanya dan meringis perih.
" Kita ke dokter ya, takutnya infeksi." Bimo semakin khawatir. Melihat darah yang keluar memang lumayan.
" Emang dikira gelangku besi berkarat?" Annelyn bermonolog.
" Ya kan aku khawatir sayang." Bimo meniup luka di tangan istrinya.
" Cuma luka begini mah upil kering!" Annelyn mengorek upil di hidungnya lalu menjentikkan upil tersebut ke muka Bimo.
" Hiih jorok banget sih. Siapa yang ngajarin?" Bimo protes menggerutu.
Bukannya menjawab, Annelyn malah tertawa meninggalkan suaminya.
Sampai di meja paresmanan, Bu Tejo menggoda Annelyn.
" Wah wah wah, pengantin barunya datang, kita mah upik abu ye Bu Dah." Bu Tejo menyenggol lengan temannya.
" Mesra-mesraan mulu Neng, kita yang disuruh kerja rodi bagai kuda." Celetuk Bu Dah dengan tangannya yang masih sibuk menuang kuah bumbu.
Hahaha, Annelyn ketawa.
" Tenang saja Bu, nanti saya kasih tips lah." Bimo muncul dari belakang Annelyn, tanpa tahu malu mendaratkan bibirnya di pipi mulus Annelyn.
" Gitu dooong." Seru duo julid. Kedua alis mereka terangkat main-main.
Annelyn melirik raut masam terpampang jelas di wajah Risya yang memang diakuinya cantik. Pantas saja laku jadi simpanan sugar daddy.
'Om Bimo nggak akan tertarik apalagi nafsu sama wanita model kamu Ris, sebentar lagi kedokmu akan ku bongkar.' Annelyn.
***
***kangen nggak sama author ??
pasti kangen lah ya...
GR banget. hehehe
__ADS_1
oh ya, maaf seribu kali maaf author lama nggak up, semoga kalian mengerti betapa susah dan sedihnya menguras otak, yang ujung-ujungnya tanpa apresiasi dari pihak N*. Level saya turun Padahal saya sudah mengikuti aturan mainnya. Bukan cuma saya saja, banyak rekan penulis lainnya yang senasib seperjuangan.
Untuk kalian semua, Terimakasih atas dukungannya. love you all***